
Kainal menyuruh istrinya duduk menunggu. Dia sedang membakar ikan bakar, karena kemauan Fisha.
Fisha hanya memperhatikan suaminya itu sibuk mengipas ikan yang di bakar. Dia berdiri lalu mendekati Kainal, rambutnya terlalu beratakan.
Lelaki itu mendongak ke arah Fisha dan terdiam. Melihat Fisha merapikan rambutnya. Dia tersenyum, memeluk pinggang Fisha. Mengecup singkat bibirnya.
"Kenapa gak pake cadar, hem?" tanya Kainal. "Aku gak mau iya, wajah istriku di lihat penjaga vila.
Kainal mengenggam tangan Fisha masuk ke dalam rumah sambil membawa ikan bakar.
"Biar aku yang buat sambelnya," pinta Fisha. Namun, Kainal menyuruhnya duduk dengan tenang, akhirnya mau tak mau dia duduk.
Dia hanya memperhatikan suaminya yang menyiapkan makan malam dengan serius. Senyuman terkurir di bibirnya.
"Tampan," ucap Fisha menatap kedepan.
"Iya tau," sahut Kainal menaroh ikan bakar serta nasi kedepan istrinya.
Fisha pun tersadar dan membuang wajah ke arah lain.
"Ayo buka mulut," pinta Kainal menyuapinya pakai tangan. Fisha pun menerimanya.
"Kamu gak jijik?" tanya Fisha membuat Kainal menggeleng.
Mereka pun makan bersama dengan satu piring berdua. Kainal menyuapi Fisha dan sebaliknya pun begitu.
Usai makan malam Kainal mengajak istrinya sholat Isya. Setelahnya mereka bersantai di ruang tamu.
Kainal memeluk Fisha dengan posesif, sikap manjanya kembali lagi.
"Fisha, janji tadi pagi?"
Fisha pura-pura tidak mendengarnya membuat suaminya mendengus kesal.
"Fisha," panggil Kainal kembali. Namun, Fisha tidak merespon dia fokus keponselnya.
Kainal pun mengambil jurusnya. Dia menatap Fisha tepat di depannya membuat istrinya itu tak bisa menahan senyum.
"Kainal!" ketus Fisha.
"Dosa tau ingkar janji," rengek Kainal mereog di dalam pelukan Fisha.
"Emang aku tadi janji apa ya?" tanya Fisha pura-pura lupa. Namun, raut wajah Kainal langsung datar membuatnya tertawa. "Iya-iya, tapi nanti ih," jawab Fisha.
"Sekarang!" tegas Kainal memeluk Fisha. Fisha pun menaroh dagunya di kepala sang suami.
"Yaudah ayo." Fisha pun pasrah.
Kainal menengakan badannya lalu menggendong istrinya itu ke kamar. Di jalan, Kainal tak tinggal diam, diam memagut bibir pink istrinya sampai di kamar.
__ADS_1
Fisha tersenyum menangkap tubuh suaminya, memeluknya dari bawah.
"Pelan-pelan, iya," peringat Fisha pada suami brondongnya itu.
Kainal pun hanya manggut-manggut seperti bocah, sehingga Fisha tak tahan melihatnya dan menguyel pipinya.
"Gini amat punya suami bocil," ledek Fisha tertawa, tapi Kainal hanya memasang wajah datarnya.
Mereka pun melakukan percinta yang kedua kalinya. Sesuai janji, Kainal bermain dengan lembut sampai usai percinta.
Kainal mencium mata istrinya agak lama lalu turun dari tubuhnya.
"Kamu tidur, gih." Kainal merapikan rambut istrinya yang berantakan.
Fisha mengangguk, dia memeluk Kainal dengan erat. Dan mulai melelapkan dirinya ke alam mimpi.
Kainal menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang sama-sama polos. Dia mengambil ponselnya di atas nakas, bermain game dengan Devon yang online di dalam game tersebut.
Karena suara ribut Kainal berteriak memanggil nama Devon membuat Fisha yang tertidur pulas, terusik.
Kainal yang panik menyimpan ponselnya lalu menepuk bahu istrinya agar tidur kembali. Barulah dia melanjutkan bermain gamenya sampai larut malam.
🎮"Kainal, Kainal lo belum tidur?" tanya Devon.
🎮"Gak," jawab Kainal.
🎮"Jago banget lo."
🎮"Sombong amat lo."
🎮"Haruslah," jawab Kainal. "Pelukan kok sama bantal, pelukan tuh mah bini. Makanya cepat nyusul supaya gak terus-terusan penasaraan." Kainal kembali meledek Devon, lelaki itu hanya mendengus.
🎮"Emang rasanya gimana?" tanya Devon.
🎮"Enak, terus...." Kainal berhenti berucap karena Devon menyuruhnya berhenti.
🎮"Cukup gue muak."
🎮"Lah tadi yang ingin tahu siapa?" tanya Kainal ketus. Mereka pun fokus ke permain game kembali.
🎮"Tumben tuh anak dua gak ikut login," ucap Kainal kembali membuka suara.
🎮"Ufik menghilangkan kacamata hitam mamanya, makanya ponsel, ps, komputernya di sita semua."
🎮"Lah Tofik?" tanya Kainal.
🎮"Owh dia cuma ikut-ikutan, katanya sebagai kembaran yang baik hati."
🎮"Eh, gue keluar iya. Bini gue bangun," ucap Kainal.
__ADS_1
🎮"Lah, najok. Baru juga main," ketus Devon. "Yaudah, bay."
Kainal mematikan ponselnya, menarohnya di atas nakas.
"Kenapa belum tidur?" tanya Fisha mengucel matanya melihat jam dinding sudah menujukan pukul dua dini hari.
"Gak ngantuk," jawab Kainal.
"Tadi ngobrol sama siapa?" tanya Fisha lagi. Ia mengambol ponsel Kainal dan menyalahkan alarm.
"Devon." Kainal memeluk balik istrinya dengan erat. "Anunya gak sakitkan?"
Fisha mengangguk. "Hem..." Fisha mendesis karena Kainal memeluknya terlalu erat.
"Maaf heheh, soalnya enak," sungut Kainal nyengir membuat Fisha memukul keningnya pelan.
"Jangan kdrt dong," imbuh Kainal.
"Udah malam, tidur," ketus Fisha seperti sedang menidurkan anaknya saat ini.
Mereka pun tidur dengan saling berpelukan satu sama lain.
Subuhnya, Fisha membangunkan suaminya untuk sholat.
"Kainal, ayo bangun." Fisha memukul pelan pipi sang suami. "Makanya, jangan tidur terlalu malam,"ketus Fisha menarik tangan Kainal untuk bangun, lalu buru-buru menutupi badannya menggunakan selimut.
"Kita mandi junub dulu?" tanya Kainal menggelengkan kepalanya.
Fisha berdehem. "Kamu duluan aja, aku akan menyiapkan alat sholat.
"Mandi bareng aja sayang, biar gak makan waktu. Lagian gak papa, janji kita cuma mandi, aku tidak akan buat macam-macam."
Fisha diam sesaat lalu mengangguk. Kainal pun menggendong istrinya ke dalam kamar mandi. Mereka mandi wajib bersama dan keramas terus melaksanakan sholat.
Fisha memakaikan peci ke kepala suaminya. Sedangkan Kainal memperbaiki mukena yang di pakai sang istri. Mereka pun melaksanakan sholat subuh dengan baik.
Usai sholat subuh, Fisha menyium punggung tangan Kainal dan menyium pipinya. Kainal pun membalas dengan menyium kening dan bibir sang istri.
Kainal menidurkan dirinya di paha Fisha. Dia mendongak dan tersenyum. Mereka tidak menyangka akan jadi seperti ini. Itulah kehendak pencipta.
Mereka bahkan tidak memikirkan akan bersama. Mereka hanya manusia yang baru saja bertemu dan di jadikan pasangan.
"Aku mencintai Fisha Alsha," batin Kainal memandang paras cantik yang sedang dia tatap saat ini, yang tak pernah dia sangka akan menjadi miliknya. Fisha miliknya hanya miliknya seorang. Ini bukan obsesi, tapi kenyataan kalau Fisha di takdirkan untuk jadi miliknya bukan milik lelaki lain.
"Kamu milikku," ucap Kainal.
"Aku milikmu?" tanya Fisha membuat Kainal mengangguk. Fisha tersenyum lalu ikut mengangguk. "Iya aku milikmu," jawab Fisha.
"Terus aku milikmu gak?" tanya Kainal.
__ADS_1
Fisha memegang dagunya menggunakan jari telunjuk. Mempergayakan, berpikir. "Mungkin aja. Kainal milik aku," jawab Fisha mengunyel pipi suaminya dengan gemasss. Sehingga Kainal memayunkan bibirnya, dan menggigit tangan Fisha.
Dulunya kami hanya orang asing yang saling bertemu dan pada akhirnya saling memiliki. ~Kainal~