
Kembalinya Fisha dan Kainal ke indonesia, mereka langsung berpindah apartemen.
Kini Kainal menemani istrinya ke rumah orang tuanya. Fisha baru ingat kalau adiknya menyimpan sebuah buku di lacinya.
Kainal merinding memasuki kamar Ataar, kamar itu bernuasa serba hitam. Mungkin Ataar sangat menyukai kesunyian.
Fisha mencari buku itu di laci. Dan dia mendapatkannya, Fisha menutup mulutnya. Gambaran yang di gambar adiknya sewaktu kecil masih di simpan rapi bahkan di jadikan sampul buku.
Dengan keyakinan diri, Fisha membuka buku itu perlahan. Baru halaman pertama yang di baca sudah membuatnya nangis tak karuan.
Dada bumil tersengat-sengat membaca tulisan tangan adiknya. Kainal menyuruhnya berhenti, tetapi Fisha masih ngeyel untuk membaca buku itu terus sampai habis.
Kainal memeluk istrinya erat.
"Kainal." Fisha menatap ke atas, dadanya semakin perih.
Kainal ikutan menintihkan air matanya. Dia juga sempat membaca buku harian Ataar. Sakit, pasti sakit banget.
"Udah ya, jangan nangis lagi, kasihan dedeknya," bujuk Kainal menggigit gigi bawahnya menahan air matanya agar tak jatuh.
Kainal membawa istrinya itu keluar dari kamar ataar. Sebisa mungkin dia akan menghibur sang istri.
"List kemauan Ataar?" tanya Fisha mendongak ke atas.
"Insya-Allah itu semua bisa tercapai." Kainal tersenyum mencoba membujuk istrinya berhenti menangis.
"Kainal apa kamu ingin memenuhi keinganan pertama Ataar?" tanya Fisha.
Kainal mengangguk. "Aku akan melakukannya, dia akan melihat kakaknya bahagia, aku akan selalu membuatnya bahagia, tapi itu tidak akan terpenuhi kalau kamu nangis gini, bukannya dia ingin melihat kakaknya bahagia? Kenapa nangis? Seharusnya harus kuat dong, biar terpenuhi."
Fisha berhenti menangis dan memeluk suaminya dengan erat.
Suara langkah kaki membuat Fisha melepaskan pelukannya. Dia melihat papanya turun dari kamarnya dan berjalan ke dapur, badan yang tak diurus.
"Papa," panggil Fisha sehingga pria paruh baya itu menoleh.
"Papa mau apa?" tanya Fisha.
"Papa mau makan," jawab Altar tak berani menatap putrinya, dia hanya fokus mencari mie instan untuk pengganjal perutnya.
__ADS_1
"Jangan makan mie instan, gak baik buat kesehatan," cegah Fisha mengambil mie itu dari papanya. Dan menyuruh papanya itu duduk di kursi saja.
Fisha menyiapkan makanan buat papanya makan. Altar hanya diam, menunduk. Dia benar-benar malu dengan putrinya.
"Papa makanlah, sudah makan papa mandi," ucap Fisha. "Fisha harus pergi, hari ini. Hari Fisha chek kandungan."
Altar hanya mengangguk bata-bata. Fisha pun pergi dari sana.
Gimana pun jahatnya seorang ayah. Fisha tidak akan pernah membenci papanya, dia tahu papanya salah, tapi sebagai anak dia juga tak tega melihat papanya seperti tadi.
"Sudah chek kandungan, bumil mau kemana lagi?" tanya Kainal memasangkan sabuk pengaman untuk istrinya.
"Langsung pulang aja," jawab Fisha menatap keluar jendela.
Kainal menghela napas lalu melajukan mobilnya menuju klinik kandungan.
💚💚💚💚💚💚
Usai chek kandungan Fisha yang baik-baik saja. Mereka kembali ke apartemen milik Kainal.
"Kamu gak ke kantor?" tanya Fisha mengusap rambut suaminya yang sedang tidur di pangkuannya.
Mereka baru saja usai sholat bersama, dan kini Kainal sedang bermanja-manja dengan istrinya.
"Dedek," panggil Kainal di depan perut istrinya. "Mau cepat ketemu abi gak sayang?" tanya Kainal.
"Mau dong, abi, tapi Sabar ya. Dedek belum terlalu besar, tunggu tujuh bulan lagi abi," jawab Fisha.
Kainal terkekeh. Dan masih asik mencium perut istrinya sambil memeluk pinggang Fisha.
Sedangkan bumil sibuk membelai surai suaminya. Mereka belum beranjak dari tempat sholat mereka.
"Sayang aku belum nyangka, aku udah mempunyai bocil," sahut Kainal. "Berarti aku kuat dong?" tanya Kainal.
Fisha hanya berdehem mendengar ocehan suaminya yang mirip sekali cewek itu.
"Sayang coba di bacain anaknya surat yusuf atau surat maryam."
Kainal mengangguk. Dia membaca surat yang di sebutkan istrinya tepat di tengah perut Fisha. Surat yusuf, bagus untuk di bacakan untuk orang hamil. Agar besar harapan sang anak akan mewarisi kesempurnaan yang di miliki nabi yusuf saat sudah lahir. Kita wajib selalu membacakannya do'a-do'a ataupun sholawat untuk sang buah hati walaupun dia masih berada di dalam kandungan sang ibu.
"Merdu banget sih suara suami aku," ucap Fisha mencium pucuk kepala Kainal.
__ADS_1
"Mau ke ranjang?" tanya Kainal. Fisha mengangguk.
Kainal pun beranjak bangun dan menggendong istrinya ke ranjang.
"Abi pijatin kakinya umi?" tanya Kainal. Fisha mengangguk.
Kainal pun melepaskan mukena Fisha lalu menaikan sedikit daster yang di gunakan istrinya.
"Sayang, aku mau kerja," ucap Fisha tiba-tiba. Kainal menoleh dan langsung menggeleng keras.
"Tidak!" tegas Kainal. Lelaki itu masih sering berbincang dengan Xaviel, nyawa istrinya masih dalam bahaya saat ini, dia tak ingin istrinya itu sendirian, walaupun dari jarak jauh ada beberapa anak bawahan Xaviel yang memantau Fisha. Namun, begitu dia juga takut mereka ceroboh dalam menjaga istrinya, hatinya tak tenang kalau istrinya itu jauh darinya.
Apalagi di saat tahu bahwa yang menjebaknya di cafe saat itu adalah Alya. Dan Alya mengancamnya untuk menghancurkan kehidupannya.
Xaviel yang tadinya memantau Alya seketika kehilangan jejaknya, gadis itu sudah tak tahu di mana saat ini membuat Xaviel dan juga Kainal tetap waspada terutama waspada tentang Fisha. Serangan satu-satunya, Alya akan menyerang Fisha.
Bukan takut, hanya saja mereka berdua tahu bagaimana liciknya seorang Alya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Fisha melihat wajah suaminya seketika menjadi cemas.
"Gak, pokoknya kamu gak boleh pergi kerja. Besok kamu akan ikut ke kantor bersamaku," ucap Kainal.
"Kenapa? Aku mau di rumah aja," jawab Fisha.
"Gak sayang kamu harus ikut aku ke kantor. Jangan membantah, aku gak suka kamu membantah," jelas Kainal berdiri dari sana, memasuki kamar mandi.
Fisha hanya mendengus, dia merasa ada yang tak beres dengan sikap suaminya.
"Dia kenapa? Setiap kali aku membicarakan tentang pekerjaan, dia berubah sikap," gumam Fisha.
Kainal kembali keluar dari kamar mandi. Dia mendekati lemari untuk mengganti pakaian.
Fisha menoleh di saat suaminya itu sibuk membuka pakaiannya.
Kainal menoleh dan tersenyum, dia menaikan satu alisnya. Fisha mulai merasa tak enak, dia pun menatap ke arah lain.
Dia terkejut, di saat telinganya terasa hangat. Dia menoleh dan langsung memegang dadanya yang hampir copot, Kainal berdiri tepat di dekat telinga. Bahkan mereka nyaris ciuman.
"Kamu ih, hampir jantung aku copot," ketus Fisha mengatur napasnya yang memburu.
Kainal hanya terkekeh. Calon abi itu menaiki ranjang.
__ADS_1
"Kenapa gak lanjut pakai pakaiannya?" tanya Fisha. Kainal memeluk istrinya dan menaik turunkan alisnya, sehingga Fisha menghela napas pasrah.