
Fisha dan Kainal sudah berberes untuk berangkat ke australia. Kini di antar ayah Vier dan yang lain. Altar tak ada, pria itu mungkin masih berusaha mencari keberadaan Aisha dan Ataar.
"Hati-hati, Kainal jaga istrimu," peringar bunda Harumi. "Sampai di sana jangan lupa ngasih kabar."
Mereka mengangguk. Mereka pun melambaikan tangannya dam mulai mendorong koper ke tempat penerbangan.
Di atas pesawat Kainal menyiapkan bantal di bagian belakang istrinya agar tak pegal.
"Baik banget sih suami aku," ucap Fisha mengsandarkan dirinya kebelakang.
Kainal memakai'kan istrinya itu selimut agar tak kedinginan. Orang lain yang berada di pesawat itu jadi baper melihat pasangan bucin tesebut.
"Mas kamu gak mau seperti lelaki itu?" tanya mbak-mbak di sana.
"Kau ini," ketus suaminya melanjutkan tidurnya. Mbak itu pun cemberut.
Pramugari datang dan membawakan sebuah pesanan yang di suruhkan oleh Kainal.
"Makasih," ucap Kainal. Pramugari itu mengangguk.
"Sama-sama, kalau butuh sesuatu lagi. Kalian bisa langsung menghubungi kami dengan tombol yang sudah di sediahkan," ucap pramugari itu pergi dari sana.
Kaina melahap burger tersebut. Istrinya sudah tidur, sehingga dia bisa makan. Lelaki itu benar-benar lapar, bundanya hanya menyiapkan makanan sehat buat menantunya tanpa memikirkan anaknya.
"Kainal," panggil Fisha membuka matanya. Kainal yang sedang fokus melahap burgernya menoleh.
Bumil itu memandang burger tersebut. "Mau," gumamnya.
Kainal memberi istrinya burger yang hanya dia makan sepotong.
"Kalau masih mau kamu ambil yang ini aja."
"Kamu?" tanya Fisha.
Kainal fokus minum dulu. Usai minum dia pun membalas ucapan Fisha.
"Udah kenyang, sayang. Kamu makan aja," dusta Kainal, padahal dia masih ingin melahap burgernya, tapi demi sang istri dia bisa menahannya.
"Gak papa?" tanya Fisha. Kainal mengangguk.
"Gak papa." Kainal membalikan badan istrinya. "Makanlah, aku akan melindunginya."
Fisha pun membuka cadar yang dia gunakan. Memakan burger dengan posisi menghadap ke arah dada suaminya.
__ADS_1
Fisha menyuruh Kainal ikut menggigit burger tersebut. Kainal pun hanya menurut membuat Fisha tersenyum.
Sekitar 12 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di negara australia yang di kenal juga negara terbesar.
Kainal menyalahkan ponselnya dan segera menghubungi Genta, adik sepupu istrinya. Tak tunggu waktu lama Genta datang membawa mobil milik abinya.
Genta berniat mengajak mereka pulang dulu ke rumah, tapi Fisha rewel untuk langsung menuju rumah sakit aja, dia sangat ingin bertemu dengan adiknya.
Sesampainya di rumah sakit mereka bergegas ke ruangan Ataar di rawat. Di depan ruangan ada umi Aisha.
"Umi," panggil Fisha sehingga wanita paruh baya itu menoleh.
"Fisha."
Fisha berlari memeluk uminya.
"Ad-ik mu Fisha, dia...." Aisha menangis di dalam pelukan anaknya. "Adikmu koma Fisha, sebelum dia tak sadar, dia terus memanggil namamu dan papamu."
Kedua dada wanita itu merasa sesak. Fisha melepaskan pelukannya.
"Fisha terlambat?" tanya Fisha. "Kenapa umu tidak memberitahu Fisha bahwa umu membawa Ataar pergi?"
"Umi shock, nak, umi tidak pernah terpikirkan bahwa papamu memperlakukan adikmu seperti ini. Di setiap kali umi mendapatkan luka di bagian lengan adikmu. Anak itu terus mengatakan ulah balapan, dan bisa-bisanya umi percaya,"ucap Aisha.
"Jadi kalian semua sudah tahu?" tanya Aisha menatap mereka.
Fisha menunduk lalu mengangguk. "Bukan begitu umi. Kita semua di larang Ataar, dia memohon agar kami tidak memberitahu umi. Dia tak ingin melihat kedua orang tuanya bertengkar hanya karena dirinya."
Aisha kembali menangis dengan pundak yang naik turun.
Fisha kembali membawa uminya ke dalam pelukannya. "Umi udah, Ataar gak suka melihat umi seperti ini. Ataar akan membenci dirinya sendiri di saat melihat umi menangis, dia tak ingin kita menangis umi. Jadi jangan menangis, ayo kuat. Dia aja kuat, masa kita gak bisa kuat demi dia?".
Cadar Aisha mulai basa karena tangisan. "Maafin umi, sayang. Kamu harus bangun ya? Umi sama kakakmu menunggumu, kamu sumber kebahagiaan kami," lirih Aisha.
"Umi kita makan dulu, yok, umi juga harus makan. Biar kuat mendukung Ataar sembuh,"bujuk Fisha mengambil seporsi makanan yang di berikan suaminya.
Bumil itu menyuapi uminya makan. Aisha yang juga belum makan sedari malam, menerima pemberian putrinya.
"Kalian udah makan?" tanya Aisha pada menantu dan anaknya.
Kainal mengangguk. "Kami sudah makan, umi makanlah," sahut Kainal.
Mata mertuanya itu benar-benar memerah dan bengkak, karena menangis bukan hanya itu mungkin juga efek kurang tidur. Aisha sering kali di suruh pulang oleh abang dan kakak iparnya, tapi wanita itu masih kukuh untuk berada di sana.
__ADS_1
"Kita pulang, ya, ke rumah om Rigel?" tanya Fisha.
"Tapi..."
"Dokter akan memberitahu kita di saat ada perubahan tentang keadaan Ataar."
Umi Fisha diam sesaat lalu mengangguk. "Yaudah, kita pulang."
Fisha tersenyum. Dia menyuruh suaminya untuk mengambil barang-barang uminya.
"Alhamdulillah, akhirnya tante mau pulang juga," sahut Genta membuka'kan pintu mobil untuk mereka.
Mereka pun menuju ke rumah abang umi Aisha, Rigel.
Aisha mengusap perut anaknya yang sudah mulai menonjol. Fisha hanya terkekeh.
"Itu nenek sayang," ucap Fisha. Aisha terkekeh, tak lama lagi dia akan menjadi seorang nenek. Bakal ada yang memanggilnya dengan sebutan 'nenek'.
'Nenek mau cucuc,' Aisha mengelitik di saat mendengar kata itu.
"Kandunganmu baik-baik aja?" tanya Aisha. Fisha mengangguk.
"Alhamdulillah, baik umi. Mertua Fisha sering kali mengurus Fisha dengan baik."
"Baguslah, sayang. Umi ikut bahagia, semoga kamu selalu di lindungi bersama dengan cucuku."
Fisha hanya mengangguk. Mereka pun sampai di tujuan.
Talita sudah menyambut mereka dengan hangat. "Akhirnya Kamu ingin pulang juga," sahut Talita membantu Kainal membawa koper.
"Makasih, tante," ucap Kainal. Talita hanya mengangguk.
"Bawa umimu ke dalam kamar Fisha, biarkan dia istirahat," pinta sang tante.
Fisha pun hanya menurut. Talita menyiapkan air anget buat keponakanya dan adik iparnya.
Di lain sisi ada seorang pria yang merasa furstasi di dalam kamarnya. Altar bagaikan monster yang menghamburkan barang di dalam kamar itu.
"Aisha kamu di mana," teriak Altar, menidurkan badannya di lantai. Dadanya terasa nyeri.
"Jangan sekarang," gumam Altar memegang dadanya. "Jangam sekarang ku mohon."
Pria itu berusaha menahan rasa sakit di dadanya. Dia membuka laci dan mengambil dengan buru-buru obat di dalam laci tersebut.
__ADS_1
Dengan tangan yang bergetar dia buru-buru menelan lima butir obat berbagai macam. Dia menidurkan badannya di atas ranjang.