
Saat telah sampai di rumah, Kainal pun segera mandi, karena terus di ejek sang istri bau nasi basih.
"Kok masih busuk sih? Kamu mandinya gak benar ya?" tanya Fisha.
Kainal menyium dirinya sendiri, tapi perasaan badannya bau sabun.
"Gak sayang," protes Kainal menggeleng.
"Huek." Fisha berlari memasuki kamar mandi. Dia menyuruh suaminya keluar kamar.
"Kamu busuk," ketus Fisha menutup kamar. Kainal menggaruk belakang kepalanya, merasa heran dengan istrinya itu.
"Kaira," teriak Kainal menurungi anak tangga. Bukan adiknya yang dia dapat, tapi bunda dan ayahnya.
"Kayanya ada di dapur," ucap bunda Harumi. Kainal pun buru-buru kedapur.
"Kenapa?" tanya Kaira.
"Coba cium baju kakak," pinta Kainal memajukan badannya. Kaira yang heran pun maju dan menyium aroma baju kakaknya. "Gimana busuk gak?"
Kaira menggeleng. "Gak," jawab Kaira.
Kainal manggut-manggut dia mendekati orang tuanya, duduk di samping sang bunda. Menaroh kepala di bahu bundanya.
"Kenapa? Mana Fisha?" tanya Vier. "Kamu meninggalkannya sendiri di atas? Kalau terjadi-jadi apa-apa gimana?"
"Gimana-gimananya, dia nyuruh Kainal keluar dari kamar."
"Kok bisa?" tanya kedua orang tuanya. Kainal pun memberi tau orang tuanya.
"Kasihan, ini baru awalnya. Kamu harus sabar, orang hamil emang kaya gini. Bentar lagi juga dia akan memanggilmu."
Kaira membawa teh anget dan kopi ke meja dan ikut duduk di sofa. Memainkan ponselnya.
"Kainal," panggil seseorang yang tak lain adalah Fisha yang turun dari tangga.
Mereka semua menoleh. Kainal berdiri dan ingin menghampiri istrinya. Namun, Fisha menyuruhnya berhenti. Bumil itu maju dan mencium sedikit aroma tubuh suaminya.
Fisha memutar badan Kainal. Orang tua dan Kaira hanya menahan tawa aja.
Kainal menelan ludahnya susah payah, takut istrinya masih menganggapnya bau.
Tapi tanpa di sangka bumil itu malah tersenyum. "Udah gak bau," ucap Fisha.
Kainal mengusap perut istrinya. "Ada-ada aja sih, buat ayah ketar ketir," ketus Kainal cemberut.
Mereka bertiga yang ada di sana berdehem keras. Sehingga Fisha menjauhkan badan suaminya.
__ADS_1
"Yaudah deh, ayo kita balik ke kamar," ajak Kainal menggenggam tangan Fisha, menaiki kamar kembali.
"Ayah anaknya mau di hug," ucap Fisha di saat telah di kamar.
"Anaknya atau ibunya?" tanya Kainal mendudukan istrinya di tepi ranjang.
"Dua-duanya," jawab Fisha tersenyum sambil merentangkan tangannya.
"Ayo sholat, isya." Kainal melepaskan pelukannya. Dan beranjak berdiri memasuki kamar mandi untuk berwudhu.
Fisha ikut berdiri dan membuka lemari menyiapkan alat sholat.
Usai berwudhu mereka melakukan aktivitas yang memang sangat wajib di lakukan bagi umat muslim. Yaitu sholat lima waktu. Sepasang suami istri tersebut sholat bersama.
Setelah sholat, Kainal menjatuhkan kepalanya kebelakang, tepat di pangkuan istrinya.
Fisha pun mengusap lembut surai suaminya. Dia menatap manik mata suaminya yang benar-benar indah. Wajah yang tampan membuat siapa pun tak bosan untuk memandangnya.
Kainal memainkan ponselnya. Bermain game, sambil mendengar istrinya mengaji.
"Harus di panjangkan," ucap Kainal. "Nah kalau yang di sini sedang aja, gak panjang, tapi jangan di pendekin juga. Biar cara bacanya itu benar, dan indah di dengar." Kainal kembali mengoreksi cara baca istrinya.
"Kamu harus perhatikan tanda bacanya, ada huruf mati dan ada huruf yang harus di sambungkan."
Fisha mengangguk mendengar ucapan suaminya. "Nanti aku perbaiki lagi." Kainal mengangguk.
Fisha beranjak berdiri, mengambil Al-Quran. Kainal ikut bangun menghadap istrinya.
Fisha membuka Al-Quran dan mencari halaman surat tersebut. Setelah mendapatkannya, dia pun membacanya.
"Laisa liwaq‘atihā kāżibah(tun)." Fisha membaca ayat kedua surat tersebut.
^^^tidak ada seorang pun yang (dapat) mendustakan terjadinya.^^^
"Ayo tajwidnya di perhatiin dulu," ucap Kainal menyela bacaan istrinya.
Fisha pun kembali membaca sambil memperhatikan tajwidnya.
Kainal tersenyum. "Udah lumayan, tapi belajar lagi. Gak papa, perlahan-lahan akan bagus. Semangat sayang."
Fisha mengangguk. Dia memeluk suaminya. Kainal pun mencium kening istrinya.
Fisha mendongak dan tersenyum. Kainal membalas senyumananya sambil menaroh dagunya di kepala istrinya.
"Udah-udah ayo kita tidur, dedeknya dan ibunya harus istirahat," ucap Kainal melepaskan muneka yang di pakaia sang istri. Membereskan semua bekas sholat mereka.
Sebelum tidur mereka bersih-bersih dulu. Sikat gigi dan yang lainnya.
__ADS_1
"Mau dinas malam?" tanya Kainal berbisik menatap istrinya di cermin.
Fisha mendongak dan memegang pipi suaminya. "Emang mau?" tanya Fisha.
Lelaki itu mengangguk. Jelas Kainal maulah, yakali kucing di kasih ikan bakal nolak.
"Yaudah bentar ya," ucap Fisha. Kainal pun hanya menurut. Dia menunggu di ranjang, menunggu istrinya itu siap-siap.
Kainal tersenyum dan merentangkan tangannya. Fisha ikut menaiki ranjang, tak lupa mematikan lampu kamar.
Mereka pun melakukan percintaan. Yang beberapa hari ini, membiarkan Kainal berpuasa, menahan diri. Mereka kali ini lebih hati-hati. Fisha hamil muda, banyak efek negatif yang akan mereka dapat kalau bermain seperti hal sebelum kehamilan terjadi.
Kainal hanya bermain sebentar, karena takut kalau berlama-lama akan berpengaruh pada janin Fisha. Lelaki itu mencium kening istrinya turun ke hidung dan terakhir di bibir sekilas. Dia menutupi badan istrinya yang polos menggunakan selimut.
Fisha malah mengerucutkan bibirnya membuat Kainal bingung.
"Kenapa?" tanya Kainal.
"Mainnya kok cuma sebentar?" tanya Fisha merasa kecewa. Merasa nanggung.
"Ingat sayang, saat ini kamu sedang hamil. Kita gak boleh terlalu lama bermain, takut dedeknya kenapa-napa gimana?"
Fisha yang tadinya kesal, langsung menggeleng. "Dedek gak boleh kenapa-napa!"
Kainal mengsejejerkan badannya dengan perut sang istri. Menyium agak lama perut rata itu.
"Perbaiki posisimu, nanti badan kamu sakit." Fisha menarik tangan suaminya. Kainal kembali ke bantalnya, dia berali kedalam pelukan Fisha yang adem dan nyaman.
"Udah dewasa ya, suami bocilku," gumam Fisha menepuk punggung suaminya.
Kainal mendongak. "Udah ya, gak baik ledek suami sendiri. Lagian umur kita gak beda jauh kok. Aku bukan bocil."
"Jadi kamu gak mau jadi bocil aku gitu?" tanya Fisha. Kainal seketika menggeleng, mendengar aura beda dengan pertanyaan istrinya.
"Aku bocilnya kamu," ucap Kainal pasrah. Dari pada bumil itu marah, mending dia memilih mengalah.
"Besok potong rambut," peringat Fisha, menyisir rambut suaminya menggunakan tangan. "Lihat ini, rambut kamu panjang banget."
Kainal hanya manggut-manggut di dalam pelukan istrinya. "Usai pulang kuliah ya? Kamu yang nemani aku, aku gak suka, di sana banyak transgender," jelas Kainal.
Fisha mengangguk. "Kainal," panggil Fisha.
"Kenapa sayang?"
"Kamu cinta gak sama aku? Aku nanya, soalnya aku kan udah hamil anakmu."
"Astaga, kamu lupa di hari pernikahan kita aku udah bilang aku cinta kamu," jawab Kainal. "Nah gimana kalau aku nanya balik pertanyaan itu ke kamu?"
__ADS_1
Fisha sedikit terdiam. Dan beberapa detik langsung manggut-manggut perlahan. "Aku juga cinta sama kamu dan anak kita."
"Udah gak ada rasakan sama dia?" tanya Kainal.