
Fisha mengambil gambar kedua semestanya yang sedang tidur untuk di jadikan kenangan-kenangan.
Dia mencium bibir Kainal dan mencium pipi Ezar yang tidur menghadap ke arah dada Kainal.
Fisha tak bosan-bosannya memandang momen ini, dia berharap ini, lama berlalu. Dia meraih kepala suaminya dan mengusapnya lembut.
Entah sadar atau gak, Kainal melingkarkan tangannya di pinggang Fisha.
"Gak usah pura-pura tidur, aku tau kamu udah bangun," ucap Fisha menjauhkan tangan anaknya yang berada di wajahnya sendiri.
Kainal mendongak ke atas lalu tersenyum. "Tau banget sih istri aku. Gemass deh," ucap Kainal.
Kainal menundukan sedikit kepala istrinya dan mengecup bibir yang membuatnya candu itu.
Ezar yang sudah berumur enam bulan itu bangun dan menatap keduanya.
"Umimi," ucap anak itu, Fisha pun terkekeh, dia menyuruh suaminya bangun dari pangkuannya dan beralih mengambil anaknya.
"Umimi," ocehnya menggoyangkan kedua kaki dan tangannya. Dia turun dari pangkuan uminya dan memukul wajah Kainal menggunakan tangan mungilnya.
"Umimi, Bii," teriak Ezar membuat Kainal menutup telinganya.
"Jangan sayang, lepasin Abinya," ucap Fisha mengambil anaknya, Kainal pun mengerucut lalu beranjak bangun.
"Kenapa di pukul abinya?" tanya Fisha.
"Bii," teriak Ezar lagi. Hanya kata umimi dan bii yang dia tahu.
Ezar mengoceh tak jelas, di saat dia di bawa ke dalam kamar mandi untuk di mandikan.
Buk!
Kainal yang mengikut dari belakang, di layangkan mainan bebek sehingga mengenai wajah tampannya.
"Aduh," ringis Kainal memegang hidungnya yang sakit.
Ezar hanya tertawa keras, lalu beralih menyembunyikan wajahnya di tengkuk leher sang umi.
Bayi itu tertawa di saat Fisha menurunkannya di bathub kecil kusus untuknya.
"Umimi." Ezar memberikan mainan bebeknya yang satu kepada sang umi.
__ADS_1
"Satunya mana?" tanya Fisha menyirami tubuh mungil anaknya menggunakan air hanget.
"Bii," ucap Ezar.
Kainal datang dan menaroh mainan bebek itu di dalam bathub sang anak.
"Kenapa ada di kamu?" tanya Fisha menyuci wajah bantal suaminya menggunakan air.
"Tanya aja sama anakmu," jawab Kainal ketus.
Sang pelaku hanya tertawa tanpa suara, dan menggerakan tangannya sehingga air yang berada di bathub tumpah ke lantai, bahkan Fisah dan Kainal sedikit basah.
"Anak siapa sih ini? Nakalnya," ucap Fisha mencium pipi Chubby putranya.
"Biii."
Anak itu menangis di saat melihat Kainal memeluk Fisha dari belakang sambil menguncir rambutnya.
"Bii!" teriak Ezar. "Umimi."
Fisha menyuruh suaminya berhenti lalu membisikan sesuatu. "Udah ya ngalah dulu, sebentar kita mandi bareng," bisik Fisha. Kainal pun mengangguk dan beranjak keluar dari kamar mandi.
Usai memandikan baby Ezar, sudah wangi dan tampan. Fisha membawanya keluar dari kamar untuk memberikan anaknya ke grandmanya.
Fisha dan Harumi terkekeh.
"Fisha titip dia dulu ya, bunda."
Harumi mengangguk. Fisha pun berjalan kembali ke kamar, di mana suaminya sudah menunggu untuk mandi bareng.
Kainal tertidur terlantang di atas ranjang tanpa busana, membuat Fisha menelan salvinnya.
"Ka-inal," panggil Fisha membuat suaminya menoleh dan bangun.
"Sudah aku katakan, yang sopan manggilnya. Masa sama suami manggilnya nama? Nanti kalau Ezar ikutan manggil nama gimana?"
Fisha ikut duduk di sisi ranjang, Kainal pun memeluknya dari belakang.
"Aku gak bisa Kainal, gak terbiasa manggil mas."
"Yaudah gak papa, aku gak maksa," ucap Kainal melepaskan pelukannya. "Padahal pengen banget kamu manggil aku mas bukan nama, seperti yang di lakukan bunda ke ayah, tapi mungkin kamu yang lebih dewasa dari pada aku, emang suami yang lebih muda tuh gak bisa di panggil dengan sebutan gitu? Aku gak maksa."
__ADS_1
"Mau mandi atau gak? Nanti Ezar menangis," ucap Kainal mengambil handuk di sisi ranjang dan memberikannya kepada sang istri.
Fisha mendongak ke atas mengambil handuk itu, Kainal berjalan lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi. Kainal sangat tahu Fisha malu di lihatin buka pakain, padahal Kainal sudah melihatnya sering.
Setelah membuka semua pakaiannya, Fisha ikut masuk ke dalam kamar mandi.
Kainal yang sedang mengisi air ke dalam bathub menoleh.
"Kamu marah?" tanya Fisha.
Kainal mendekati istrinya lalu memegang kedua pipi yang menahan tangis itu.
"Aku gak marah," ucap Kainal. "Lagian itu hanya masalah sepele, gak perlu di bawa serius." Kainal menghapus air mata istrinya dan menuntutnya masuk ke dalam bathub.
Kainal memeluk Fisha dari belakang, memberi sabun dan memandikan istrinya.
Fisha hanya diam dan menoleh kebelakang.
"Aku bukannya gak mau manggil kamu dengan sebutan itu, aku cuma tak terbiasa dan merasa aneh aja, tapi kamu tenang saja seiringnya waktu aku akan terbiasa. Aku tak akan memanggilmu dengan sebutan nama di depan Ezar," jelas Fisha memegang tangan suaminya.
Kainal hanya mengangguk. "Gak usah di bahas itu, kita fokus mandi aja." Kainal membalikan tubuh istrinya menghadapnya.
"Jangan merasa bersalah, ok? Itu gak kewajiban kok, emang terlalu aneh memanggil dengan sebutan mas."
Fisha memeluk tubuh kekar Kainal. Dia menangis di sana.
"Aku takut."
"Takut kenapa?" tanya Kainal.
"Kemarin aku nonton drama, terus peran laki-lakinya manis banget memperlakukan si peran perempuan, tahu-tahunya laki-lakinya selingkuh, karena si perempuan gak mau ikutin keinganan laki-lakinya. Aku takut kamu seperti dia, aku tak mengikuti mu memanggil mas dan kamu memilih untuk cari wanita lain di luar sana yang bisa menuruti kemauan kamu."
"Kalau kamu memang niat mencari, jangan sembunyiin dari aku! Bawa dia ke rumah, nanti aku layanin dengan hormat, tapi aku kasih kue buatan Kaira yang bisa membuat orang mules tujuh hari tujuh malam. Terus setelah itu, aku suruh botakin kepala kamu sama Ezar. Nanti aku potong sosis panjangmu, terus kasih makan selingkuhan mu. Biar mampus sama-sama."
Fisha mengoceh begitu panjang, sedangkan Kainal meringis mendengar ocehan istrinya.
"Gak mungkin sayang, istriku cantik gini masa mau cari istri baru? Yang kaya kamu susah di dapatkannya, yakali aku lepas begitu saja. Tidak ya! Cari yang kaya kamu di dunia ini, sampai ke ujung planet mars pun aku tak dapat. Bisa-bisa aku gak bisa jalan karena di gebuk sama keenam pawang kamu," ucap Kainal. Keenam pawangnya itu. (Altar, Vier, Kendra, Evan, Cakra dan Ataar)
Fisha tersenyum lalu memukul dada Kainal dengan bertubi-tubi.
"Sayang, aku kan gak selingkuh. Kenapa kamu udah kdrt aja?"
__ADS_1
"Kamu nyebelin, pantas aja Ezar gak suka sama kamu," jawab Fisha memberi sabun di wajah suaminya.
.