Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 66 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

"Kalian berdua mau bermalam di sini?" tanya Fisha masuk ke dalam kamar adiknya, sambil menggendong Ezar yang belum tidur.


"Aaah, keponakan unty," seru Kaira di saat Fisha menidurkan bayi itu di kasur.


"Aktiv banget, padahal baru sebulan lebih," ucap Celi gemass.


"Kakak titip Ezar gak papa? Sebentar aja."


Mereka bertiga mengangguk.


"Hati-hati," teriak Fisha keluar dari kamar. Dia akan turun untuk mengambil dot anaknya, Kainal sudah melarangnya menyusui Ezar pake asinya, dia takut Fisha ketiduran dan membuat anaknya jatuh dari pangkuannya. Apalagi Kainal sangat tahu gimana tersiksanya istrinya, menyusui Ezar dengan cara duduk.


Sebuah tangan melingkar di pinggang Fisha. Fisha hanya tersenyum. Untung saja, Vier dan Harumi tak ada di rumah. Vier ada pekerjaan di luar kota, dan Harumi ikut.


"Sayang, Ezar mana?" tanya Kainal.


"Di kamar auntynya, lagi di kelilingi banyak cewek," jawab Fisha.


"Yaudah, Ezar berada di kamar Kaira. Boleh gak, aku buka puasa?"


Fisha berbalik badan, melingkar tangannya di leher Kainal.


"Kalau tiba-tiba nangis gimana?" tanya Fisha. Dia bukannya tak mau ngasih jatah suaminya. Namun, dia kembali takut. Udah dua bulan tak berhubungan badan, gimana gak canggung, dan merasa amatir? Tapi gimana pun, dia harus menjalani kewajibannya sebagai istri.


Kainal menggendong istrinya ke kamar, tak lupa untuk mengunci pintu agar tak ada yang menggangu buka puasanya.


Ezar sudah di susui, anak itu tak akan rewel di waktu yang lama.


Fisha mengulungkan bibirnya di saat Kainal menjajah di tubuhnya.


"Sayang cepat, takut Ezar nangis," ucap Fisha dengan wajah memerah menahan des*h*nnya.


Kainal membuka pakainnya, dan siap untuk berbuka puasa.


Fisha memeluk tubuh Kainal dengan erat, dia seperti kembali melepaskan keperawannya. Padahal, anunya cuma di jahit dikit saja, tapi Fisha merasa nyerih.


Sekitar hampir sejam, Kainal berhenti, dia tak mengeluarkan cairannya di dalam, tapi di perut Fisha. Dia masih waspada, takut kebobolan.


Kainal langsung memeluk Fisha dengan erat. Sedangkan Fisha, mencoba mengatur napasnya.

__ADS_1


"Makasih," ucap Kainal turun dari atas Fisha, dan berlari ke dalam kamar sebentar untuk membersihkan diri. Lalu mengambil Ezar di kamar auntynya.


Ternyata Ezar tertidur. Kali ini anaknya sudah mengizinkan abinya buka puasa.


Kainal mengambil dengan pelan putra kecilnya pergi dari kamar Kaira.


"Dada aunty-aunty," ucap Kainal mengwakili Ezar. Keduanya pun kembali ke kamar.


"Tidur?" tanya Fisha. Kainal mengangguk. Dia menidurkan anaknya di rank bayi.


Kainal menaiki ranjang dan mengambil tisu, membersihkan bagian tengah paha Fisha. Fisha pun tersenyum.


"Sayang kamu gak mau kb?" tanya Kainal merebahkan dirinya di samping sang istri.


"Takut kelupa," ucap Fisha.


Kainal menarik tangan istrinya ke dalam pelukan. "Makasih, ya. Udah melengkapi hidupku," ucap Kainal. "Entah mau gimana lagi, aku sangat bahagia. Kalau di antara kalian berdua ada yang terluka, aku gak tahu lagi deh, aku bakal kaya gimana," jelas Kainal.


Fisha mendongak ke atas lalu membelai pipi suaminya. "Makasih juga, kamu datang di saat aku terluka. Kamu bisa menyembuhkan lukaku. Dulu aku kira pernikahan kita gak akan lama, karena hanya sebatas perjodohan, tapi tak di sangka kita sudah sampai di tahap ini. Kita udah membuktikan cinta kita dengan hadirnya Ezar di antara kita berdua. Dia akan memperkuat hubungan kedua orang tuanya."


"Aku berdo'a tak ada musibah yang kita dapatkan. Aku tak ingin kamu dan Ezar terluka, aku ingin kita bertiga akan selalu bersama."


"Jangan tinggalin aku, Nal. Apapun keadaannya. Aku memohon kamu jangan berpaling. Kamu bilang ke aku, Kalau ada yang membuat tubuh ini membosankan di matamu. Aku akan memperbaikinya, jangan menghadirkan duri dalam keluarga kecil kita. Maaf... Aku percaya kamu tak akan seperti itu, tapi aku takut."


Fisha langsung berhamburan kepelukan Kainal. Dulu dia berpikir akan membangun rumah tangga bersama dengan Xaviel, lelaki yang sangat dia cintai dahulu sampai dia menunggu lelaki itu lima tahun lebih, menyelesaikan S2nya di Amerika.


Fisha tak pernah menyangka, Xaviel akan menyakitinya, mengingkari janji yang dia buat, walaupun Xaviel berhubungan dengan Alya bukan dasar cinta melainkan dasar kasihan, tapi udah terlanjur hati Fisha hancur. Di saat hatinya hancur dan ingin menutup hati rapat-rapat, Kainal datang mendobrak pintu yang hampir Fisha gembok mati.


Kainal menutupi tubuh mereka menggunakan selimut. Tubuh Fisha yang tidak memakai sehelai benang pun membuat darah dalam tubuh Kainal berdesir hebat.


Fisha memukul tangan Kainal yang memegang sesuatu.


Kainal menghisap leher jenjang Fisha sampai memerah.


"I love you, my wife," bisik Kainal.


"I love you to, my husband," balas Fisha tersenyum, lalu mulai menutup matanya perlahan, hari ini mungkin anaknya memberinya celah untuk tidur lebih cepat.


Keesokan paginya, Kainal lebih dulu bangun dari pada Fisha, dia yang menggendong putranya.

__ADS_1


"Sayang bangun." Kainal membelai rambut istrinya dengan lembut. "Ezar mau menyusu," lanjutnya.


Fisha membuka matanya perlahan, dia merentangkan kedua tanganya untuk meluruskan otot dan sendi. Dia beranjak bangun, dan mengambil ahli tubuh Ezar untuk di susui.


Ezar menyusu dengan rakus, mungkin terlalu lama mendapatkannya.


Kainal mengikat rambut istrinya, agar tak mengenai wajah cantiknya. Dia mencium sekilas bibir ranum itu.


Ezar melepaskan asi Fisha lalu menangis membuat mereka berdua saling menoleh.


"Kenapa nangis? Abi cuma cium aja, kok," ucap Fisha menyusui anaknya kembali. Ezar membalikan kepalanya ke samping, dan menaroh tangannya di mulut.


"Ngambek kayanya, uminya di cium," ucap Fisha terkekeh.


Ezar menggerakan kaki dan tangannya, bayi itu sangat aktiv sekali.


Fisha menidurkan Ezar di ranjang yang mengoceh tak jelas.


Kainal menarik tangan istrinya dan menyium bibir itu dengan agak dalam.


Fisha menaikan tangannya memegang pundak Kainal, sedangkan tangan Kainal memegang tengkuknya.


Mereka melepaskan ciuman masing-masing di saat Ezar menangis.


"Biar aku yang mengajaknya jalan-jalan, kena matahari. Kamu mandi dulu."


Fisha mengangguk, Kainal pun membawa putranya keluar dari rumah untuk di jemur.


"Biar sehat, ya. Nak," ucap Kainal di saat Ezar menutup matanya.


Bayi itu menguap membuat cepat-cepat Kainal menutup mulut kecil itu menggunakan telunjuknya.


Kaira datang membuat Ezar kaget dengan sedikit panggilannya yang berteriak.


"Ai!" ucap Kainal mengangkat tubuh bayinya. "Lain kali jangan teriak-teriak. Uminya lagi mandi."


Kaira mengangguk. Dia jadi merasa bersalah membuat keponakannya menangis.


Fisha yang baru datang, sudah mandi dan rapi menghampiri mereka.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Fisha mengambil ahli tubuh putranya yang menangis.


"Maafin Kaira, kak." Gadis itu menunduk, takut kakak iparnya itu marah.


__ADS_2