
Kainal bersiap-siap untuk bertemu dengan adik iparnya. Fisha yang heran, malam ini suaminya rapi sekali.
"Mau kemana kamu?" tanya Fisha berdiri dari tepi ranjang.
"Mau keluar sebentar dulu sayang, gak papakan?"
"Mau ngapain?" tanya Fisha lagi. "Jangan-jangan kamu mau selingkuh?
Kainal langsung menggeleng keras. Dan menjitak kepala istrinya. "Otaknya sembarangan aja."
"Terus mau kemana? Kamu gak boleh pergi."
"Sebentar aja sayang, aku cuma mau ke supermarket."
"Bohong ih, lihat pakaian kamu rapi banget. Aku ikut," jawab Fisha.
Kainal mendorong istrinya ke dinding dan menyium bibirnya dengan brutal.
"Kai-" Fisha sangat sulit berbicara. Dia menaroh tangannya di leher sang suami.
Sekitar beberapa menit. Kainal melepaskan ciumannya.
"Udah ya, aku cuma sebentar," ucap Kainal. Mengecup singkat leher istrinya.
"Jangan lama-lama ya," ucap Fisha. Kainal pun hanya mengangguk.
Fisha menyium tangan Kainal. "Cepat pulang," pinta Fisha.
Kainal berdehem. Dia keluar dari kamar, di tangga ia berpapasan dengan ayahnya.
"Mau kemana kamu malam gini?" tanya Vier. Kainal yang tadinya bermain ponsel menaikan pandangannya
"Mau keluar sebentar, yah," jawab Kainal. Dia mencium punggung tangan ayahnya dan berlari keluar dari rumah.
Sesampainya di sebuah cafe. Kainal melihat adik iparnya sudah menunggu, dia pun mendekatinya.
Ataar menaikan pandangannya dan menyuruh kakak iparnya itu duduk. Mereka pun berbincang, di waktu yang sedikit lama.
Kainal sudah mendapatkan telfon empat kali dari sang istri membuat Ataar menyuruhnya pulang saja.
"Pulanglah kak, gue sudah mengatakannya. Semoga lancar."Ataar menepuk pundak iparnya dan berdiri memakai jaket kulitnya.
"Makasih," jawab Kainal. Ataar mengangguk.
Singkat cerita, Kainal kembali pulang, di ambang itu sudah terlihat Fisha sedang melipat tangan di depan dada, melihatnya turun dari motor.
"Ngapain di tatap gitu?" tanya Kainal memperbaiki rambutnya yang berantakan.
"Katanya cuma sebentar," ketus Fisha. "Mau pamer pesona di luar sana?"
__ADS_1
Kainal menggeleng. Dia memberikan kantong plastik ke arah Fisha. "Tadi katanya ngidam itu? Aku ngantri tau," dusta Kainal.
Fisha mengambil kantong plastik itu dan menyium aroma khas martabak. Bumil itu tersenyum ke arah Kainal.
"Makasih mas suami. Peka banget sih," seru Fisha mengandeng tangan Kainal ke ruang tamu di mana ada adik iparnya yang sedang mengerjakan tugas.
"Kenapa gak di kamar aja ngerjain tugasnya?" tanya Kainal.
Kaira mendongak. "Berisik," jawab Kaira. Benar kamarnya dan kamar Kainal tuh sangat berdekatan, takada peredam suara. Sehingga Kaira bisa mendengar suara kakak ipar dan kakaknya itu. Apalagi kalau tengah malam.
Fisha mengambil piring di dapur dan menaroh martabak dan jus di dekat Kaira.
"Setelah selesai cepat naik ke kamar, udara dingin," pinta Fisha.
Kaira mengangguk. "Makasih, kak," ucap Kaira. Kedua pasangan itu pun menaiki kamar kembali.
"Di makan martabaknya," seru Kainal duduk di dekat istrinya.
Fisha mengambil sepotong martabak dan menyuruh suaminya buka mulut. Kainal pun membuka mulutnya, menerima suapan yang di berikan Fisha.
"Enak?" tanya Fisha.
Kainal mengangguk. "Lebih enak kalau makan pake bibir kamu," ucap Kainal menyimpan martabak istrinya dan mulai memajukan wajahnya ke wajah Fisha.
Fisja refleks menjauhkan wajah Kainal. "Gak sekarang Kainal, aku mau makan dulu," ketus Fisha memakan dengan lahap martabaknya.
"Yaudah habisin cepat, aku mau hug." Kainal menggayungkan tangannya depan belakang. Seperti bocah yang sedang meminta duit pada ibunya.
Kainal pun ikut naik ke ranjang dan memeluk Fisha dengan posesif.
"Kainal," panggil Fisha.
"Kenapa?" tanya Kainal.
"Itu anu, tapi jangan tersinggung ya?"
Kainal mendongak menatap manik mata istrinya. "Emang apa? Kamu mau apa?"
"Ayo kita pindah ke apartemen," ucap Fisha. "Aku gak bermaksud gimana. Aku suka kok tinggal di sini, tapikan kita sudah berkeluarga. Seharusnya kita harus tinggal berdua aja. Aku juga kasihan dengan Kaira yang harus belajar di luar, karena suara kita terdengar ke kamarnya. Apalagi di saat kita berhubungan, dia pasti dengar suara aneh. Kita pindah ya? Kamu boleh ngomong dulu sama ayah."
Kainal memandang wajah Fisha. Menepis rambut yang menutipi wajah tersebut. Dia mengangguk. "Nanti aku coba tanya ayah," jawab Kainal.
Fisha mengangguk. "Temanin aku buat skripsi dulu," pinta Fisha.
Bumil itu beranjak bangun, mengambil tasnya di atas meja belajar.
Kainal memeluk Fisha dari belakang yang sibuk menulis skripsi.
Sekali-kali Fisha menoleh dan mencium bibir Kainal dan melanjutkan belajarnya.
__ADS_1
"Kamu udah buat tesismu?" tanya Fisha. Kainal mengangguk.
Fisha melepaskan pelukannya. Membalikan badan ke arah Kainal. Dia menyodorkan kertasnya.
"Sebagai suami yang baik boleh dong." Fisha memperlihatkan wajah gemassnya. "Nanti sebagai hadiahnya, aku kasih...." Fisha membisikan sesuatu pada Kainal.
Kainal tersenyum miring. "Gak bohongkan?" tanya Kainal. Fisha mengangguk.
Karena istrinya mengyakinkan. Kainal mengambil kertas hvs tersebut.
"Kamu yang sebut ya, kita beda jurusan." Fisha mengangguk. Kainal mulai menulis skripsi istrinya.
"Coba ambil laptopnya dulu!" perinta Kainal.
Fisha menurut. Dia turun dari ranjang mengambil laptop Kainal.
Dengan iseng Fisha memakaikannya kacamata. "Makin Ganteng kalau pake kacamata."
Kainal menggigit pipi Fisha dengan gemas lalu melanjutkan pekerjaannya. Fisha tidur menghadap ke atas memperhatikan suaminya mengerjakan skripsinya.
"Jangan di tatap mulu, tahu kok suami kamu ini gantengnya gak manusiawi," ucap Kainal mengambil kertas yang di pegang Fisha.
Wanita itu berdehem dan mengalikan pandangannya ke arah lain. Kainal yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.
"Geer banget jadi orang," cibir Fisha.
Kainal tertawa kecil. Sehingga Fisha melirik sekilas, tapi kegeeran Kainal emang nyata.
"Gak usah ganteng-ganteng bisa? Mau tebar pesona?" tanya Fisha ketus. Dia melepaskan kacamata Kainal, dan tidur kembali, tapi tak sanggup memandang Kainal kembali. Dia membuang pandangannya ke arah lain.
"Terus di hilangkan gantengnya gimana dong?" tanya Kainal.
"Ya gak tahu, pikir aja sendiri," jawab Fisha melipat tangannya di depan dada.
Kainal hanya geleng-geleng dan terkekeh. "Nah udah, nanti di jilid bareng sama punyaku aja. Yang lain sudahkan? Tinggal yang ini?"
Fisha mengangguk. "Makasih banyak loh, sayangku." Fisha menyium inci wajah Kainal.
Kainal membereskan buku-buku Fisha dan laptopnya dia taroh di atas meja.
"Janjinya mana?" tanya Kainal kembali menaiki ranjang. Sambil menaik turunkan alisnya.
"Ja-nji apa?" tanya Fisha.
"Janji tadi."
Fisha menyengir. "Gak harus malam inikan? Kan kemari udah, masa mau lagi," ucap Fisha mencoba membujuk Kainal.
Kainal memayunkan bibirnya. "Gak mau tahu, harus malam ini!"
__ADS_1
"Gimana kalau terjadi ap-apa sama dedeknya?" tanya Fisha panik di saat Kainal menidurkannya di ranjang. "Kainal besok aja pleass." Si bumil memperlihatkan wajah malasnya.
"Gak lama kok," balas Kainal. Fisha pun pada akhirnya mengalah.