
Sore harinya Saifara dan Celi berpamitan pulang. Bunda Harumi, ayahnya Vier juga sudah kembali, sudah ada yang akan menjaga Kaira.
"Apa Fisha gak nyaman di sini?Kenapa dia ingin pindah?" tanya bunda Harumi pada putranya, yang sedang meminta izin untuk berpindah ke apartemen.
Kainal menggeleng keras. Sehingga kedua orang tuanya saling memandang.
"Terus kenapa?"
"Fisha nyaman tinggal di sini kok, yah bund, tapi istri Kainal orangnya gak enakan. Apalagi kami udah berkeluarga, seharusnya kami sudah tinggal sendiri. Fisha gak maksa kok pengen pindah, ini juga kemauan aku. Emang sebaiknya kami tinggal berpisah dengan kalian. Kainal akan usaha membeli rumah untuk kami tinggal, hanya sementara waktu di apartemen," jelas Kainal.
Bunda Harumi memandang suaminya. Sebenarnya dia tak rela, di saat menantu dan anaknya itu pergi dari rumah, tapi yang di katakan anaknya ada benarnya.
Vier mengusap pinggang istrinya mencoba menenangkan.
"Lagian kami akan sering datang berkunjung di sini," ucap Kainal lagi.
"Biarin ya, mereka juga udah berkeluarga. Mereka mempunyai privasi. Biarin mereka melangkah dengan jalan mereka," bujuk Vier pada istrinya. Harumi terdiam, dia memandang lekat wajah sang putra.
Wanita paruh baya itu mengangguk. "Yaudah gak papa, tapi kamu harus jaga menantu bunda. Kamu juga jaga diri, selalu datang ke rumah ya," sahut wanita itu pada akhirnya.
Kainal langsung mengangguk mendengar ucapan bundanya.
"Ya bunda, bunda tenang saja. Lagian Fisha akan bosan di apartemen kalau hanya sendiri, kalau Kainal lagi kerja. Fisha akan ku ajak ke sini untuk menemani bunda."
"Fisha mau?" tanya Harumi.
"Mau dong, masa gak mau? Siapa tau dia juga yang minta untuk ke sini ketemu bunda dan Kaira, Fisha bukannya tak ingin tinggal di sini bunda, tapi dia ingin mencoba tinggal bersama dengan Kainal aja. Dia juga takut merepotkan bunda."
"Padahal dia gak ngerepotin bunda, tapi yasudahlah. Gak papa," ucap Harumi.
"Makasih bunda," imbuh Kainal. Dia pun beranjak berdiri dan meninggalkan kamar kedua orang tuanya. Menuju kamarnya.
Kainal memasuki kamarnya dan tersenyum memandang istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Fisha menoleh ke arah Kainal. "Apa yang di katakan ayah dan bunda? Apa mereka tidak setuju?"
Kainal mengangguk. Fisha pun menghela napas, dia membuka lemari mengeluarkan baju tidurnya.
"Yaudah gak papa," ucap Fisha.
"Bercanda sayang, mereka izinin kok. Besok kita akan pindah," seru Kainal menangkap tubuh Fisha dan memangkunya di tepi ranjang.
"Bentar ih, aku mau pakai baju dulu," tukas Fisha ingin melepaskan pelukan suaminya.
__ADS_1
"Biar aku yang pakaikan," pinta Kainal melepaskan handuk yang di pakai Fisha.
"Kainal," pekik Fisha, di saat tangan Kainal malah memegang bagian sensitifnya.
"Biar aku aja, lama pake bajunya kalau kamu. Keburu masuk angin," ketus Fisha ingin beranjak dari pangkuan Kainal.
"Aku pakaian, aku bilang!"
"Yaudah cepatan, aku ke dinginin," balas Fisha menggigil. Sehingga Kainal buru-buru memakai'kan istrinya pakaian.
"Maaf ya," ucap Kainal menyium tengkuk leher Fisha. Dia menyuruh Fisha beranjak dari pangkuannya.
"Sini ikat rambutnya," pinta Kainal. Fisha memberikan ikat rambutnya lalu berbalik belakang agar Kainal bisa mengikat rambutnya.
"Harum banget," ucap Kainal menghirum aroma shampo yang di pakai Fisha.
"Kamu suka?" tanya Fisha, Kainal langsung mengangguk. "Ok, aku akan sering memakai shampo ini."
Fisha berbalik dan tersenyum ke arah Kainal. "Hug." Fisha merentangkan tangannya. Kainal langsung menangkap tubuh istrinya dan menggendongnya dari depan.
"Terbuktikan? Aku gak bocah lagi, aku kan kuat," ucap Kainal membuat Fisha mendongak dan melihat ke arahnya.
Bumil itu menggeleng. "Kamu masih bocil, bocil ya tetap bocil, mau kamu kuat atau gak ya tetap bocil," seru Fisha.
"Lagian lucu sih."
"Emang kamu mau aku juga gigit?" tanya Kainal.
Fisha menggeleng. Namun, Kainal menggigit pipinya, bukan sakit yang di rasakan Fisha melainkan geli.
"Udah ih, kamu terlalu lama. Aku cuma sebentar kok!"
"Gemass sayang," ujar Kainal.
"Dedek lihat abimu, jahat," aduh Fisha sambil mendongak ke bawah.
"Dedeknya kejipit, sayang," ucap Kainal menurunkan istrinya dari gendongan.
"Maaf ya, lagian umi sama abi mau bucin dulu. Kamu harus sabar."
Kainal berjongkok di hadapan Fisha. Dia mengoleskan obat anti nyamuk ke kaki istrinya.
Fisha hanya tersenyum dan mengusap rambut suaminya. "Baik banget sih suami aku, cuncwit sekali," seru Fisha.
__ADS_1
Lelaki itu mendongak ke atas dan membalas senyuman Fisha. "Dulu aku udah sering lihat ayah giniin bunda, terus aku berpikir juga. Nanti kalau aku udah nikah, Kainal juga ingin memperlakukan istri Kainal seperti yang di lakukan ayah biar romantis," jelas Kainal.
"Ayah bucin banget ya sama bunda?" tanya Fisha. Kainal mengangguk.
"Bahkan aku belajar dari ayah, gimana jadi suami yang bucin pada pasangan. Ayah itu sangat sayang sama bunda, ayah gak bisa marah sama bunda. Palingan kalau ayah ingin marah, dia memilih menangis dari pada memarahi bunda. Jadi gak ada heran lagi'kan, kalau suami kamu ini bisa bikin kamu melow."
Fisha mengangguk. "Pantas aja ada lelaki kaya kamu, ayah aja seperti itu. Makasih ya, kamu rela les pribadi ke ayah demi membuatku senang," balas Fisha.
Kainal kembali berdiri. "Apapun untuk membahagiakanmu, aku tak masalah," ucap Kainal menarik tangan istrinya untuk duduk. "Gak boleh terlalu banyak duduk, nanti kakinya pegal."
Dia menaikan kaki Fisha ke pahanya.
"Mau jadi jasa pijat keliling?" tanya Fisha.
Kainal menggeleng. "Gak neng, mas cuma layanin neng Fisha seorang."
"Atas rangka apa ya mas?" tanya Fisha.
"Gak tau sih neng, nanti mas di marahi sama suami neng."
"Suami aku galak ya mas?"
Kainal mengangguk. "Galak banget neng, dia akan mukul seseorang kalau ada yang berani menganggu istrinya," jelasnya.
Fisha menutup mulutnya. "Nanti mau di gaji berapa mas jadi pijat pribadi aku?"
"Gampang neng, cukup di kasih anu aja tiap malam."
"Gimana ya mas, tapi itu jatah suami saya. Kalau dia marah gimana?"
"Gak papa neng, nanti aku yang jadi suami neng aja," balas Kainal dengan centil.
"Udah-udah," sahut Fisha menurungkan kakinya. Dan memilih tidur di pangkuan Kainal.
"Jadi neng mau gak jadi istri mas?"
"Kalau suami aku marah gimana?"
"Gak akan marah kok neng."
"Yaudah deh, sini hug." Fisha memeluk pinggang Kainal, menyembunyikan wajahnya di perut lelaki itu.
Kainal tersenyum, dan mengpuk-puk kepala Fisha. "Nyaman?" tanya Kainal.
__ADS_1
"Nyaman," jawab Fisha mendongak sebentar lalu kembali ke tempat semula. Kainal memperbaiki posisinya agar lebih nyaman.