Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
53 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Fisha tidak mau lepas dari badan Kainal, kemana pun lelaki itu pergi, Fisha akan nempol di sana.


Kainal tidak mempermasalakan itu, karena memang dia tak ingin istrinya itu jauh darinya. Tidak terus-terus membicarakan ingin bekerja.


Bumil yang tadinya tak ingin ikut ke kantor, kini sudah ingin. Bahkan, ikut Kainal meeting pun dia ikut. Untungnya para klan Kainal maklum, dia ngira kalau ini ngidamnya si bumil, padahal ini kemauan bumil sendiri.


"Sayang mau itu," bisik Fisha pada suaminya, saat melihat nanas di diatas nampang.


"Gak boleh, sayang. Kamu lagi hamil," balas Kainal tersenyum kepada klan.


Fisha cemberut sambil memainkan jemari Kainal. "Yaudah, aku mau pulang," pinta Fisha.


Kainal yang sibuk berbincang masalah pekerjaan, melirik sekilas.


"Bentar lagi sayang, kamu capek?" tanya Kainal. "Sandar aja sini." Kainal menepuk pundaknya.


Fisha berulang kali menghela napas, karena bosan menunggu suaminya yang tak henti-hentinya mengobrol pada rekan bisnisnya.


Sekitar empat jam, akhirnya mereka memutuskan mengakhir perbincangan, para klan sudah mulai pergi, Kainal menoleh ke samping melihat istrinya sudah tidur di bahunya.


"Lucu banget sih istri aku, kaya bocil ikut ayahnya ke mana-mana," gumam Kainal, memperbaiki tubuh istrinya lalu menggendongnya keluar dari cafe.


Dengan pelan-pelan dia menidurkannya di kursi penumpang.


Kainal mencium singkat kening istrinya yang ketutup kerudung.


Dia mendiam sesaat lalu melajukan mobilnya ke apartemen.


Sesampainya di apartemen dengan pelan-pelan Kainal menidurkan istrinya di ranjang.


Dia melepaskan jas dan kemejanya, dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Usai mandi, dia membuka laptopnya sambil mengiringkan rambut yang basa, badan yang masih berlemuran air.


Kainal melirik sekilas ke arah ranjang, tidur istrinya sudah tak bisa seperti dulu yang leluasa berbalik badan, kini dia berbadan dua membuatnya sulit bergerak.


Calon abi itu berdiri dan mengambil bantal kusus penyaman buat orang hamil. Dia menyimpannya di bawah badan sang istri.


Setelah merasa Fisha sudah nyaman, Kainal memakai pakaiannya dan memutuskan untuk ke dapur. Akhir-akhir ini, Kainal melarang Fisha untuk memegang alat dan bahan dapur, hingga mencuci pakaian. Kainal lah yang akan melakukannya, lebay, tapi Fisha merasa beruntung juga.


Saat ini lelaki itu sedang menggoreng daging, karena merasa daging itu belum waktunya di balik, Kainal memilih bermain game.


"Huk...." Kainal batuk-batuk, dia menoleh lalu membulat, melihatnya daging yang dia goreng sudah angus.


"Woi, dagingku gosong," seru Kainal menyiram wajan menggunakan air.


"Kainal ada apa itu?" tanya Fisha membuat Kainal menoleh.

__ADS_1


Kainal menyengir, seperti ketahuan makan gula pasir punya emaknya. "A-nu."


Belum sempat menjawab, Fisha menghampirinya dan melihatnya wajan sudah gosong.


"KAINAL!" teriak Fisha dengan kuat, sehingga Kainal terperanjat kaget, dia bahkan melompat saking terkejutnya mendengar teriakan istrinya.


"Begini kalau ngeyel mau masak, untung aja ini dapur gak kebakar, niatnya mau masak, tapi otaknya di game," omel Fisha melirik ponsel suaminya Di atas meja.


"Maaf," ucap Kainal pelan, sambil menunduk.


"sikat sampai bersih, hitam-hitamnya harus jadi putih!"


"Yah, itu udah gak bisa jadi putih, sayang," ucap Kainal.


"Kata siapa? Kalau gak bisa putih, ya di putuhin," ketus Fisha. "Dalam satu jam, itu belum bersih. Jatah kamu sebulan di skor."


Kainal terbelalak. Dia bergegas mengambil wajan itu ke wastafel dan menyikatnya dengan kuat.


"Ayo bersih," gumam Kainal menyikat terus wajan tersebut.


Satu jam berlalu, Fisha kembali menghampiri suaminya.


"Udah selesai?" tanya Fisha sehingga Kainal menoleh.


"Udah," jawab Kainal memberikan wajan yang sudah bersih.


"Kenapa?" tanya Kainal dengan wajah polosnya membuat Fisha gemass.


"Wajahmu sayang, mirip opet," jawab Fisha tertawa dan berjalan ke pintu apartemennya, karena bel berbunyi. Mungkin pesanannya sudah datang.


Kainal buru-buru membersihkan wajahnya di wastafel.


"Sayang, cepat. Aku lapar," teriak Fisha membuat Kainal berlari.


Brak!


"Arkkk," teriak Kainal membuat Fisha berlari menghampirinya.


"Sayang! potnya jadi rusak," ketus Fisha malah kasihan dengan pot bunga yang dia taroh di perbatasan antara depur dan ruang tamu. Menjadi penghias.


"Hanny, kening aku yang sakit kepetok pot bunga kamu itu," ucap Kainal.


Fisha yang tadinya berjongkok memperhatikan pot bunganya yang hancur. Lantas menoleh.


Bumil itu menepuk jidatnya. "Astaghfirulllah," ucap Fisha berdiri dan memegang kening suaminya yang terdapat luka. Bahkan sedikit berdarah.


Dia menuntut suaminya ke sofa ruang tamu. Lalu berlari menggambil kotak p3k.

__ADS_1


"Aw," ringis Kainal memeluk pinggang Fisha dengan erat.


"Jangan terlalu erat," peringat Fisha. "Makanya jalan tuh lihat-lihat."


Selesai mengobati, mereka akhirnya makan, sesudah melewati begitu banyak drama, drama kepetok, daging gosong dan wajan gosong.


"Kenyang?"tanya Kainal, Fisha mengangguk memeluk Kainal.


"Kita sholat adzar dulu, yok," ajak Kainal, mereka pun ke kamar untuk melaksanakan sholat adzar.


"Kainal, ayo jalan-jalan. Mau?" tanya Fisha.


"Mau jalan-jalan, di mana?" tanya Kainal mengikat cadar istrinya.


"Di luar apartemen, olahraga sore," jawab Fisha. Kainal mengangkat istrinya turun dari ranjang.


"Tadi aku lihat di luar ada penjual somay, jadi kita jalan ke sana. Sekalian olahraga."


"Yaudah, ayo kita lessgo." Kainal meraih tangan Fisha dan beriringan keluar dari apartemen.


"Sayang, kamu tadi lihat gak. Di apartemen sebelah kita, orangnya aneh," ucap Fisha mendongak.


"Aneh? Aneh kenapa?" tanya Kainal.


"Aneh aja," jawab Fisha. "Tadi pagi juga waktu kamu mandi. Ada yang bunyiin bel, dan pas aku buka, gak ada orang, tapi aku melihatnya box, tapi aku takut mrngambilnya jadi aku biarkan aja di luar, setelah kita ke kantor box itu hilang. Aneh kan?"


Kainal memandang istrinya sekilas lalu menatap ke depan. "Mungkin orang iseng doang, sayang," ucap Kainal tersenyum. Padahal saat ini was-was, dia akan kembali membicaraknnya dengan Xaviel.


Fisha melepaskan tangan Kainal dan berlari lebih dulu ke penjual somay.


"Sayang, hati-hati," peringat Kainal ikut berlari menangkap tubuh istrinya.


"Hahaha, panik gak, panik gak?" tanya Fisha tertawa terbahak-bahak. Kainal hanya memutar bola matanya jengah.


"Jangan kaya gitu lagi, gak lucu," ketus Kainal.


"Kan Fisha bukan pelawak," ucap Fisha.


"Kamu tuh ya kalau di bilangi, gimana tadi Kalau tiba-tiba ada pengendara yang bawanya kencang?


"Kan ini pinggir jalan," balas Fisha.


"Udah jangan melawan lagi, cukup diam! Ngulangin, aku hukum!" tegas Kainal dengan suara menekan. "Awas aja."


"Ya, pak suami," ucap Fisha hormat. Kainal yang tadinya kesal jadi meredah melihat istrinya.


"Kamu tuh ya, buat aku gak bisa marah sama kamu," ucap Kainal.

__ADS_1


Fisha tersenyum dan mulai memesan somay yang dia inginkan.


__ADS_2