
Kainal sangat sibuk dengan urusan kantor, sehingga lupa memberi kabar pada istrinya yang berada di rumah.
"Ayah apa masih ada meeting?" tanya Kainal pada ayahnya.
Ayah Vier mengangguk. "Iya ada, ini meeting dengan Revandra grup, meeting penting. Ayah ada urusan dengan mertuamu, jadi tolong kau wakili ya? Bersikaplah dengan baik," jelas Vier pada putranya.
Kainal berdecak. "Jam berapa? Apa aku gak bisa istirahat sebentar aja? Aku ingin membantu Fisha beres-beres barang untuk di bawa ke rumah," ucap Kainal.
"Pergilah setelah meeting. Ayah tau kau sudah kangen dengan istrimu. Payah banget." Vier geleng-geleng kepala. "Makan sianglah dulu,"pinta Vier keluar dari ruang kerja.
Kainal menghela napas, dia duduk di kursi ayahnya. Dia mengecek laporan. Pintu terbuka.
"Permisi, pak," ucap si sekertaris membawa berkas di tangannya menaroh di meja.
Kainal menoleh sekilas, lalu menurunkan kembali pandangannya. Di saat pakaian sekretaris itu sangat terbuka apalagi badannya membungkuk kearahnya untuk mengarahkan berkas yang harus di tanda tangani.
Kainal berdehem, menjauhkan sedikit kursinya. Dia mendatangani setiap berkas.
Tiba-tiba sekertaris itu mengesekan badannya ke jas Kainal. Namun, badannya di tarik ke belakang.
Kainal menoleh. Dan langsung tersenyum. "Fisha," seru Kainal melihat istrinya.
"Pakai pakaian yang benar. Ini terlalu terbuka apalagi kedua gunung mu terlihat jelas. Berpakaianlah dengan sopan saat bekerja. Ini tempat kerja bukan tempat mencari jodoh, atau mengoda suami orang atau pria. Tadi suamiku tak nyaman," jelas Fisha. Dia menatap Kainal dan menyuruh cepat-cepat mendatangani berkas.
Sekertaris itu pamit keluar di saat Kainal sudah mendatangani seluruh berkas.
Kainal senyum memandang istrinya yang cemberut menyimpan paperbang di atas meja.
"Kenapa senyum-senyum? Senang di gituin? Pantas aja gak ngasih kabar, orangnya lagi mandang yang kaya begituan di kantor," cibir Fisha.
"Ciee cemburu." Kainal malah meledek istrinya. "Kenapa di bawain makanan?"
"Kamu gak ngasih kabar, takut kamu terlalu sibuk dan lupa makan."
__ADS_1
"Romantis banget," ejek Kainal.
"Aku kesini bukan nyempatkan ini iya! Hanya kebetulan. Tadinya papah menyuruhku membawa berkas ini, jadi aku sekalian bawain makan buat kamu. Takut sibuk dan lupa makan." Fisha memberikan berkas yang dia pegang pada suaminya.
Kainal geleng geleng kepala saja. Dia beranjak berdiri dan menarik istrinya ke sofa sambil membawa paperbang berisi makanan.
"Suapin aku ya!" pinta Kainal.
"Makan sendiri, aku mau pulang," tolak Fisha.
"Kepala aku pusing, Fish, kerjaan yang di berikan ayah terlalu banyak membuatku lelah," keluh Kainal. Dia memperlihatkan wajah lelahnya pada sang istri berharap Fisha luluh.
Fisha mengambil makanan di dalam paperbang. "Ayo buka mulut!" perintah Fisha. Kainal pun tersenyum dan langsung menerima suapan istrinya.
"Enak," puji Kainal. "Sayang kita ke rumah ayah besok aja deh. Kayanya aku akan lembur hari ini. Cepatlah tidur, gak usah nunggu aku," sahut Kainal.
Fisha mengangguk. Baguslah, bukan tak ingin kerumah mertua. Namun, dia masih sedikit canggung bertemu dengan mertua dan adik iparnya. Bahkan akan seatap. Ingin rasanya Fisha meminta pada suaminya tinggal di apartemen sementara waktu saja. Dia tau keluarga suaminya sangat baik. Justru itu yang membuatnya sungkan dan canggung. Sudah di pastikan ibu mertuanya tidak membiarkannya bekerja keras di rumah, yang akan membuatnya tidak enak hati.
"Hati-hati di jalan!" peringat Kainal. "Kesini bareng sopirkan?" tanya Kainal.
Fisha mengangguk. "Kamu kalau capek istirahat sebentar. Jangan berlarut dalam pekerjaan, jangan karena perkerjaan terlalu banyak. Kamu malah lupa sholat."
"Mana mungkin aku lupa." Kainal menggeleng. Dia menyium kening dan mata istrinya lalu tersenyum.
Kainal mengantar istrinya sampai di lobby kantor. Para karyawan memandang mereka dengan baper, karena bergandengan tangan dengan mesra. Apalagi dengan tatapan Kainal pada Fisha.
Mereka bahagia, karena Fisha sangat rama menyapa mereka semua. Tidak bersikap arogan pada karyawan mertuanya.
"Mang, hati-hati di jalan ya!" peringat Kainal. Fisha menyalimi punggung tangan suaminya dan melambaikan tangan pergi dari sana.
Kainal tersenyum dan berjalan kembali ke dalam kantor. Dia tersenyum pada karyawan.
"Ayo semangat bekerja," seru Kainal.
__ADS_1
"Asiap, pak." Mereka semua menaikan jempolnya dan kembali ke pekerjaan masing-masing.
💗💗💗💗💗💗
Kainal menoleh dan langsung berdiri disaat orang penting yang di katakan ayahnya telah datang. Kainal duduk kembali dan tersenyum tipis.
"Maaf, pak Revandra tidak bisa menghadiri meeting hari ini. Jadi saya yang menggantikannya," ucap orang tersebut yang tak lain ada Xaviel.
Kainal dan yang lain mengangguk. Mereka pun memulai meeting dengan baik.
Kainal salaman dengan Xaviel. "Terima kasih pak Xaviel. Semoga perusaha kita bekerja sama dengan baik," ucap Kainal.
Xaviel mengangguk. "Pasti." Xaviel tersenyum.
Kainal mengode memohon, karena ponselnya berdering di atas meja. Xaviel sempat melihatnya sekilas. Lelaki itu menghela napas. Dia tahu yang nelfon adalah Fisha, karena jelas nama yang terpasang my wife
Kainal izin pergi dari sana sebentar untuk berbincang dengan sang istri.
Xaviel memandang Kainal yang senyum-senyum. Hubungan Kainal dan Fisha pasti berjalan dengan bahagia. Pikir Xaviel.
"Aku ikut senang kalau kau bahagia, Fisha. Teruslah seperti ini, maaf bukan aku yang menjadi sumber kebahagiaanmu lagi. Semuanya sudah di pindahkan ke Kainal. Aku berharap Kainal tidak menyia-nyiakan kepercayanku, aku hanya ingin kau bahagia."
Kainal kembali dan ikut duduk. Mereka berbincang bukan berbincang karena bisnis, tapi hanya sekedar berbincang hal random.
Yang lain sudah pada pamit. Kini tinggal Kainal dan Xaviel. Kainal ingin berucap. Namun, Xaviel mendualinginya.
"Kainal saat ini kita sudah keluar dari kata bisnis." Xaviel memperbaiki duduknya. "Gue ingin minta sesuatu."
"Sesuatu apa?" tanya Kainal.
Xaviel diam sesaat lalu berucap. "Jaga Fisha buat gue. Jangan pernah lo menyakitinya, gue percaya sama lo jangan menyia-nyiakan kepercayaan gue ya? Gue relakan Fisha buat lo, ku berikan peranku dulu yang menjaganya kepadamu. Fisha sahabat gue, kami bersahabat sudah sangat lama. Fisha orangnya periang, dan sederhana. Dia seorang gadis yang sempurna di mataku. Bahkan di matamu. Cukup gue yang pernah membutnya terluka, lo jangan."
Kainal mengangguk. "Tanpa lo beritahu, gue akan menjaga istriku. Gue ga berjanji untuk tidak menyakitinya di suatu saat nanti, karena dunia ini tidak ada yang pasti kedepannya, tapi lo gak perlu takut. Insya-Allah atas berkat Allah. Gue tak akan membuatnya terluka. Terima kasih sudah mengingatkanku," balas Kainal. Xaviel tersenyum. "Bagaimana pun lo tetap sahabat Fisha, lo ingin yang terbaik buat sahabatmu, terima kasih, akan ku jaga dia seperti mana kau menjaganya dulu. Gue izin mengambil hakku darimu. Xaviel."
__ADS_1