
Altar mengetokan tangannya di pembatas sofa, setelah mendengar penjelasan sahabatnya.
"Apa mungkin, rencana Aksa?" tanya Altar kepada sahabatnya.
"Ini hanya dua, Tar. Antara Aksa dan gadis yang sering membully Fisha di kampusnya."
"Membully? Maksudnya?"
Vier memperbaiki gaya duduknya. "Ini gue di beri tahu Kainal, di saat Kainal belum satu kampus dengan Fisha, Fisha sering kali di bullyi oleh temannya."
Altar mengepal tangannya mendengar ucapan Vier. "Sialan, kok gue gak tahu kalau anak gue sering di bully?"
Vier hanya menggeleng. Dia juga baru mengatahuinya dari sang anak.
"Tapi yakali, hanya membully antar kampus membuat gadis itu ingin meneror Fisha dah Kainal? Apa dia tak takut?"
"Entahlah, mungkin bukan hanya bullyin untuk senang-senang, tapi ada niat tersembunyi di belakang itu."
"Siapa nama gadis itu?" tanya Altar.
Vier mencoba mengingat gadis yang di sebutkan Xaviel dan Kainal di saat apartemen kala hari itu.
"Al-ya, kalau gak salah sih."
"Alya?"
Vier mengangguk-nganggukan.
"Namanya tak asing."
"Iya, nama Alya pastilah nama Alya tuh bukan dia aja. Gilak aja lo."
Altar berdecak kesal. "Ya, gue tahu!"
"Alya katanya mantan pacarnya Xaviel, teorinya nih. Alya membenci Fisha, karena Fisha dan Xaviel dahulunya sangat dekat, atau bersahabat. Dia tak ingin Xaviel mendekati Fisha. Terbilang fakta lagi, ternyata Xaviel menjadikanya seorang pacar, hanya ingin melindunginya. Menepati janji kepada sang mendiang ibunda Alya. Yang jelasnga juga, Xaviel mencintai Fisha, tapi Fisha mencintai putraku."
"Teori apaan teori, formal amat nyet," celetuk Altar.
"Bodoh, gue cuma nyampein apa yang gue dapat."
"Dari mana asal-usul gadis itu? Telfon Kendra dan Cakra, suruh cepat datang untuk mencari identitasnya."
Vier buru-buru menelfon kedua temannya itu, untuk datang ke rumahnya.
"Salah satu aja sih, kita juga gak tahu siapa sebenarnya? Kalau memang itu ulah Alya, mungkin dia tak sendiri. Dan kalau itu ulah Aksa, kita buru-buru menyelesaikanya. Lo tau bagaimana liciknya Aksa, walaupun sering kali kalah dari kita, tapi rencananya sangat susah di tebak."
__ADS_1
Altar menyungar rambutnya kebelakang, baru saja menyelesaikan konflik antaranya, sang istri dan anak. Kini ada lagi.
Saat kedatangan Kendra Cakra mereka kembali membahas tentang masalah ini. Cakra harus meninggalkan meetingnya untuk hadir berkumpul dengan sahabatnya, kalau menyangkut masalah Fisha, dia akan meninggalkan pekerjaannya, Cakra sudah menganggap Fisha sebagai putrinya, apalagi dulu dia ingin sekali menjodohkan Fisha dengan Ufik yang umurnya terlalu muda bagi Fisha. Apalah daya, di kalah gercep oleh Vier.
Begitu pun dengan Kendra, dia ingin sekali menjadikan Fisha sebagai menantunya. Dia ingin Fisha dan Devon, tapi dia juga di kalah oleh Vier. Devon di kalah oleh Kainal, bukan begitu juga. Dia udah kalah paling belakang, karena dinding terlalu tinggi untuk menjadi besan Altar.
Sedangkan Evan, hanya melihat saja. Anaknya seorang perempuan, dia juga ingin menjadikan Fisha sebagai menantunya, tapi mau gimana? Dia mempunyai Celi. Dia berencana menjodohkan Celi dan Ataar dengan cara yang sehat.
"Lo benaran, gak ngabarin Evan?"
"Evan lagi di luar kota."
Kendra dan Cakra beroh saja, dan kembali fokus dengan tujuan pembicaraan. Mereka juga ingin Kainal ada, untuk memasukan pendapat. Mau gimana pun, Kainal adalah suami Fisha, tapi Kainal saat ini tengah menjaga Fisha di manapun bumil itu berada.
Di sisi lain di ruang tamu.
"Kak, kalau anak lo udah lahir. Nanti langsung jalan?" tanya Ataar ambigu membuat mereka tertawa mendengar pertanyaan yang di lontarkan lelaki itu.
Pletak!
Fisha menjitak kening adiknya sedikit keras sehingga lelaki itu mengeruntuk.
"Kok di jitak sih kak? Awas aja anaknya juga galak kaya maknya."
"Iya lagian kamu sih, kamu kira anak kakak apaan? Langsung bisa jalan?"
"Udah lah, ngomong sama kamu bikin gila aja."
Ataar terkekeh dan mengusap perut kakaknya. "Kalau udah keluar dari perut makmu, harus kaya gue, iya?"
"Eh mulutnya, harus kaya aku!" sela Kaira celetuk.
"Dih, guelah! Gue paket lengkap!"
"Dih, gue juga paket lengkap." Kaira ikut jongkok di depan perut Fisha. "Nanti ikutin sifat unty ya, sayang? Jangan ikutin sifat kulkas jalan di samping unty. Bahaya, nanti gak ada yang suka," sindir Kaira.
Ataar mencibikkan bibirnya ke arah gadis itu.
"Bodoh ah." Ataar beranjak dari sana dan duduk di samping sang umi.
Kecuali Ataar dan Kaira, semua yang ada di ruang tamu terkekeh.
"Lihat sayang, kamu belum lahir aja udah di rebutin gimana kalau udah lahir? Apa gak Sakit kepalamu, nak?" tanya Kainal sehingga membuat mereka tertawa.
"Kak, gue udah punya cerita sendiri, tapi lihat readers bucin. Gak ada yang mampir buat like, komen. Kasihan auhtornya udah susah ngarang, malah gak rame. Authornya juga jahat, masa gue gak di promiskan kaya kakak. pilih kasih banget." Ataar mengeluarkan isi hatinya yang sudah di pendam sejak lama.
__ADS_1
"Sabar. Yakinlah, kamu anak lanang yang paling author sayang."
"Sayang, tapi di siksa? Macam mana tuh jadinya."
"Udahlah gak usah sedih, terima aja nasibnya. Lagian ini cuma dunia novel."
"Walaupun dunia novel, ceritaku bisa membuat para readers banjir air mata."
Mereka terkekeh. Emang benar adanya apa yang di katakan lekaki itu barusan.
"Ayo di makan dulu," ucap Harumi.
Ataar dan Aisha mengangguk.
"Papamu belum turun juga, hari mulai sore. Kita juga akan singgah ke rumah opah mu."
Fisha menatap suaminya. Kainal yang tahu mengangguk, dia pergi dari sana untuk memanggil sang mertua.
Tok tok!
Kainal mengetuk pintu ruangan papanya membuat para orang tua menoleh.
"Pah, di panggil umi," ucap Kainal dengan sopan. Bagaimana pun, mereka para orang tua.
"Bilangin, papa akan turun sebentar lagi."
Kainal pun meninggalkan tempat itu, kembali ketempat istrinya.
Kedatangan Altar, mereka pamit pergi, karena terlalu malam ke rumah Kiay Nando.
"Hati-hati, ya," peringat Fisha.
Mereka mengangguk.
"Kasih tahu gue kabarnya," ucap Altar kepada Vier. Vier pun mengangguk.
Kepergian keluarga Fisha, bumil itu di antar ke kamar, karena hari mulai sore. Keluarganya sangat lama di sana, tapi menurut Fisha masih kurang.
"Kenapa sayang?" tanya Kainal yang habis mandi dan duduk di tepi ranjang.
Fisha menggeleng. "Kayanya gak cukup aja ketemu mereka, padahal mereka kan udah sampai sore di sini."
Kainal beranjak berdiri dan memeluk istrinya dari belakang, yang sedang duduk di kursi depan cermin.
"Nanti kalau keadaan membaik, kita nginap di sana," ucap Kainal mencium pipi Fisha.
__ADS_1
"Janji?"
Kainal mengangguk. "Iya, aku janji."