
Fisha menangis di balik pintu, dia menolak tawaran di jodohkan kembali. Kenapa tidak? Suaminya cuma koma bukan tiada, kenapa harus di gantikan?
Altar terus mengetuk pintu kamar anaknya, mencoba mrmbujuk. Altar hanya ingin anaknya bahagia kembali, sudah setahun Kainal koma, apa lantas lelaki itu akan sembuh? Ezar sudah tumbuh dewasa, Altar tak ingin cucunya di hina tak mempunyai sosok ayah.
"Please, pah. Fisha gak mau, Fisha masih mempunyai suami," ucap Fisha membuka pintu kamar, air mata yang terus mengalir di sudut matanya.
"Nak, cobalah memgerti, Kainal sudah setahun koma dan tak ada tanda-tanda dia akan sadar. Apa kamu gak kasihan dengan anakmu?"
"Ezar mempunyai abi, abinya lagi proses sembuh. Lagian apa Ezar akan menerima lelaki lain sebagai abinya, pah?" tanya Fisha. "Suami Fisha belum tiada, pah. Dia di rumah sakit, dia juga ingin sembuh dari sana. Kenapa kalian semua egois?"
"Gimana di saat aku menerima perjodohan ini, Kainal sadar? Apa yang harus kalian ucapkan? Gimana kalau dia membenciku?"
Altar terdiam, apa yang di ucapkan putrinya ada benarnya.
"Fisha mohon, Fisha ingin menunggu suami Fisha. Fisha yakin, dia akan sadar. Dia masih mengingat aku dan Ezar, dia bisa sembuh."
"Fisha gak mau di jodohkan, Fisha mencintai suami Fisha, Fisha masih menjadi istri orang. Apa pantas seorang istri menikah lagi di saat masih menjadi istri sah seorang? Apa papah gak tahu dosanya apa? Fisha gak mau mendapatkan dosa yang besar pah. Andai Fisha seorang pria, bisa saja Fisha menikah demi Ezar, tapi Fisha seorang perempuan. Hanya bisa mempunyai satu teman di akhirat kelak yang akan membimbingku."
"Umi," panggil sebuah bocah 2 tahun berlari ke arah mereka berdua.
Fisha buru-buru menghapus air matanya, lalu tersenyum ke arah putranya, dia menggendong tubuh putranya yang mulai tumbuh dewasa itu.
"Umi, umi angis?" tanya Ezar memegang pipi uminya. "Gandpa, jangan uat umi Ejal angis," ucapnya ke arah Altar.
"Umi ayo macuk, ndak papa. Incle di ual ndk oyeh jadi abi Ejal, abi Ejal di umah akit."
Fisha mengangguk. Anaknya itu memang pandai sekali, dia memahami uminya saat ini. Dia cepat mengerti apa yang terjadi.
"Gandpa, Ejal ndk au puyah abi bayuh, Ejal punyai abi."
__ADS_1
Altar menghela napas, dia memegang kepala cucunya, memgecup keningnya lalu mengangguk. Altar pergi dari sana, Fisha pun membawa putranya masuk.
"Ezar bobo, ya?"
Ezar mengangguk. Fisha pun menidurkan dengan pelan putranya di ranjang.
"Umi, angan angis lagi. Ejal ndk uka, kayo umi angis," ucap anak itu memesan pada uminya, kalau dia tak suka uminya nangis. Dia memegang tangan uminya dan memejamkan matanya.
"Gimana umi gak nangis, sayang? Kamu membutuhkan sosok seorang ayah. Umi gak tahu harus buat apa lagi, sayang. Umi ingin menyerah untuk menanti abimu, tapi selalu saja ada kamu yang menguatkan umi, kamu bukti cinta kami. Setiap melihatmu dan kenangan dulu, umi yakin abi akan sadar dan berkumpul seperti dulu." batin Fisha. "Untungnya, Kainal menitipkan kamu untuk menemaniku."
Fisha ikut menaiki ranjang, dua hari ini dia tak ke rumah sakit, karena Ezar ingin tidur bersamanya. Besok dia akan kembali ke rumah sakit untuk menemani suaminya, membersihkan badan suaminya itu.
Keesokan paginya, sebelum pergi. Dia menyiapkan sarapan untuk anaknya, yang masih tidur di kamar.
"Ara, kaka titip anak kakak, ya? Jangan bosan dan risih untuk merawatnya. Kakak minta tolong ke kamu, hanya kamu yang bisa merawat anak kakak. Kalau kakak menyuruh umi, umi sudah tua. Dia sudah tak sanggup untuk mengurus cucunya yang aktif seperti Ezar."
Ara mengangguk dan tersenyum, Ara dan Ataar memang belum mempunyai momongan. Mereka memang menundanya untuk memiliki, bukan tak ingin mempunyai seorang anak, tapi Ataar berpikir merawat Ezar dulu lebih baik. Mereka akan menunggu Kainal sadar, agar keluarga sang kakak bisa bahagia dan mereka juga akan mempunyai anak. Lagian umur Ara masih terlalu muda untuk mengandung, Ara masih ingin kuliah melanjutkan S2nya begitupun dengan Ataar.
Sepeninggalan Fisha, Ara ikut bermain bersama dengan Ezar.
"Ara, lo duduk aja. Nanti capek."
"Yee, incle ucin," ledek Ezar sehingga keduanya melotot mendengar ucapan bocah itu.
"Eeh, yang ngajarin siapa?" tanya Ara.
"Ejal, iat di utub unty."
"Kan kamu, udah di bilang Ezar tuh di download tin yutuh kids supaya gak tau kata-kata kaya gitu," ketus Ara pada suaminya. Ataar memang selalu memberi Ezar nonton, kalau anak itu tak ingin tidur dan ia pengen bermanja dengan istrinya.
__ADS_1
Ataar mengambil keponakananya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Saat ini keduanya sudah pisah rumah dengan orang tua Ataar, mereka tinggal di apartemen. Dan Ezar terus meminta untuk tinggal bersama mereka, katanya seru punya banyak mainan dan makanan.
Di lain sisi di tempat Fisha yang sudah berada di rumah sakit, tengah melap badan suaminya memakai handuk basah.
"Kamu seperti ini aja, masih tampan," gumam Fisha melap inti wajah sang suami.
Fisah duduk di kursi dekat brankar, dia akan memakan sarapannya lalu akan membaca surat-surat pendek di depan suaminya.
Wanita itu semakin kurus, kurang makan. Dia bisa tahan 24 jam berada di samping brankar itu, biasa papahnya atau ayah Vier yang akan mengingatkannya makan atau mengirimkannya gofood.
Fisha meraih tangan suaminya, lalu menciumnya agak lama bahkan dia memainkan jemari itu agar tak bosan. Cukup melihat suaminya, Fisha akan betah di sana.
Pintu ruangan terbuka, ternyata Vier dan istrinya. Fisha pun berdiri dan menyambut kedua mertuanya.
Harumi memeluk sang menantu.
"Gak papa." Harumi menepuk pundak Fisha. Fisha menganggu-angguk.
Vier mendekati brankar anaknya, Kainal belum ada tanda-tanda Kainal akan sadar.
Dia mengelus kepala anaknya.
Setelah lama di sana, akhirnya keduanya pamit pulang. Mereka tak sekuat Fisha untuk berada di ruangan itu.
"Jangan lupa makan, kamu juga butuh gizi. Kalau Kainal sadar dan melihat bentuk tubuhmu yang seperti ini, dia akan mengomelimu terus-terusan. Kamu kurus sekali, bunda akan sering mengirimkan makanan untukmu, tiap waktu."
Fisha tersenyum lalu mengangguk.
"Bunda dan ayah mau ke apartemen Ataar, ingin bertemu cucu."
__ADS_1
"Hati-hati," peringat Fisha, kedua mertuanya pun pergi dari sana.
Fisha kembali ke arah brankar. Dia duduk di kursi mengenggam tangan Kainal, dia sadar kalau tangan yang dia pegang sedikit bergerak, wanita itu mendongak ke atas, dia melihat mata suaminya yang terpejam bergerak.