Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 80 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Evan membaca dengan perlahan isi kertas itu. Matanya memerah membacanya.


"Sialan,"pekik Evan. "Jadi selama ini, gue di tipu?" tanya Evan pada dirinya sendiri.


Sudah dia katakan, dia tak melakukan apapun pada Ilona waktu itu. Ilona hanya membiusnya hingga pingsan.


"Bajingan." Dia mengepal tangannya, sampai kuku-kukunya menjadi putih.


Tak terbayangkan, selama ini dia memberi nafkah kepada anak yang bukan anak biologisnya. Rumah mewah serta lainnya, di saat hidup Ilona menikmatinya, itu semua miliknya.


Pintu ruangannya kembali terbuka, masuklah kedua temannya. Vier dan Cakra.


"Kenapa, lo?" tanya Vier meletakan segelas kopi di depan Evan.


"Ini apa?" tanya Cakra ingin mengambil kertas itu. Namun, Evan mengambilnya lebih dulu.


Keduanya mengerutkan kening, ada apa ini? Tumben sekali pria itu.


"Itu apasih?" tanya Vier.


Evan menggeleng, menyimpan kertas itu ke dalam laci.


"Bagaimana kita mendapatkan anak Aksa?"


"Entahlah, gue pusing. Kita tidak memilih sesuatu yang bisa kita tahu anak Aksa yang mana? Suruh aja Aksa bangun dari kuburnya dan suruh dia mencari anaknya," jawab Vier. "Hari ini, Kainal dan Fisha dan cucuku lagi liburan. Gue udah menyiapkan beberapa orang untuk mengawasi mereka selama liburan."


"Van, lo mikirin apaan sih? Dari tadi melamun mulu. Gak dapat jatah dari Kiara?" tanya Cakra, sehingga mendapatkan tampolan dari sang empuh.


"Lo pasti ada masalah, kan?" tanya Vier. "Jujur sama kita, Van. Dari kemarin gue lihat lo diam mulu."


Evan menghela napas, apa dia memberi tahu sahabatnya saja?


Sekitar lama berpikir akhirnya Evan mengeluarkan kertas itu lalu memberikannya pada kedua sahabatnya.


Mereka berdua pun membacanya dengan teliti. Awalnya mereka tak mengerti dengan hasil tes DNA ini. Namun, di saat Evan menjelaskannya dengan intel. Mereka mulai mengerti, mereka sedikit kaget.


"Jadi selama ini... lo nyembunyiin, hal sebesar ini?" tanya Vier.


Evan hanya menunduk. 24 tahun, dia menyembunyikan hal ini kepada semua orang. Dan hari ini dia baru menceritakannya pada kedua sahabatnya.


"Alya? Bukannya Alya yang di katakan sering membully Fisha di saat kuliah? Dia juga yang pernah di curigai!"

__ADS_1


"Telfon Altar dan Kendra, suruh mereka berdua datang ke sini!" perintah Cakra.


Vier pun menelfon kedua sahabatnya, yaitu Altar dan Kendra. Mereka akan mendeskusi hal ini. Bahkan, Xaviel dan daddynya ikut dalam diskusi tersebut.


"Ada yang punya fotonya, Alya?" tanya Altar, Xaviel angkat bicara. Dia membuka ponselnya dan mencari foto Alya.


Dia menyimpannya di meja, agar semua melihat foto Alya.


Disisi lain, ada keluarga kecil yang sedang berbahagia. Sebenarnya Kainal ingin ikut dan megatahui perkembangan tentang anaknya Aksa. Namun, ayah dan papa mertuanya melarangnya, lebih baik dia menjaga Fisha dan Ezar.


"Piyuh." Ezar main dengan abinya dengan pistol main-mainan.


"Umi, tolong Ejal,"teriak Ezar berlari ke arah uminya. Kainal mengejarnya dari belakang.


Ezar langsung memeluk uminya, tetapi ternyata uminya pengkhianat, Fisha malah menyerahkannya pada Kainal.


"Umi, culang." Ezar cemberut.


"Maaf ya, kali ini umi berpihak ke abimu dulu."


Ezar tertawa geli, di saat Kainal mengelitiknya. Fisha tersenyum melihat pemandangan di depannnya.


Kainal membuktikan, mencapaikan list milik Ataar. Dia ingin melihat kakaknya bahagia. Walaupun, ada insiden koma setahun.


"Umi, tolong," teriak Ezar berusaha melepaskan pelukan abinya. "Umi."


Fisha menggelitik perut Kainal, sehingga pelukannya pada Ezar terlepas. Ezar pun tertawa.


Usai bermain di pantai, mereka singgah makan dulu di restoran sebelum ke hotel dekat pantai itu.


"Jangan terlalu makan itu, sayang," peringat Kainal melap bibir istrinya. Fisha sangat suka acar kol.


"Ini enak lo, mas. Mau coba?" tanya Fisha ingin menyuapi Kainal. Namun, cepat-cepat lelaki itu menahannya lalu menggeleng.


"Gak mau. Itu kecuk sekali sayang, nanti perut kamu kenapa-napa," ucap Kainal.


"Gak kenapa-napa, sayang," balas Fisha melanjutkan makannya.


"Umi, ini apa namanya?" tanya Ezar.


"Itu kepiting. Ezar gak boleh makan. Ezar elergi kepiting."

__ADS_1


"Ejal mau mie," seru Ezar.


Kainal pun mengopor mienya ke piring sang anak. Ezar pun menikmati mie itu.


"Enak?" tanya Kainal membuat mereka berdua mengangguk. "Ezar suka jalan-jalan kaya gini?" tanya Kainal lagi.


"Cuka abi, Ejal cuka," jawab Ezar berseru. Dia mencium pipi kedua orang tuanya dan tersenyum.


"Anti, jalan-jalan lagi ya, abi?"


Kainal mengangguk. Dia ikut senang kalau keduanya bahagia.


Saat mereka bertiga telah selesai. Mereka menuju hotel yang dekat di sana. Ezar udah tidur di gendongan Kainal.


Dengan pelan, Kainal menidurkan dengan pelan anaknya. Lalu menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Kainal, memegang kedua pipi istrinya.


Fisha menggeleng. Dia memeluk Kainal. "Mas, kayanya kali ini kita gak bisa melakukannya dulu."


"Kenapa, sayang?" tanya Kainal.


"Aku datang bulan, mas."


"Jadi mas harus puasa tujuh hari?" tanya Kainal.


Fisha mengangguk. "Iya mas, gak papakan? Kamu sanggupkan puasanya? Cuma seminggu kok, biasanya juga kurang dari itu, kok."


Kainal mencium kening istrinya. "Yaudah gak papa, sayang. Aku bisa kok, ini bukan salah kamu juga," ucap Kainal mencoba menenangkan pikiran istrinya, agar tak merasa bersalah. "Sana kamu tidur."


Fisha menurut, dia menaiki ranjang. Sebelum Kainal ikut menaiki ranjang. Dia memilih untuk melepaskan pakainnya dulu.


Kainal menarik ke atas selimut mereka berdua, lalu memeluk istrinya.


"Sayang, cup dulu," pinta Kainal.


Fisha pun mencium bibir suaminya singkat, lalu beralih memeluknya. Mereka pun tidur dengan nyenyak, dengan saling berpelukan.


Di sisi lain, tepatnya di kantor Evan.


"Eh bentar..." Vier memperhatikan foto Alya. "Kalau di lihat-lihat, dia mirip Aksa gak sih? Apa saya saja yang merasa begitu?" tanya Vier. Dia memakai bahasa formal, karena anak Revandra dan Xaviel di sana yang merupakan rekan bisnis mereka.

__ADS_1


__ADS_2