Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 73 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Tangan Fisha bergetar, dia memegang tangan suaminya.


"Ka-mu udah sadar," seru Fisha melap air matanya. Dia buru-buru menekan tombol darurat.


Dokter datang bersama dengan satu suster. Mereka langsung memeriksa Kainal, Fisha tak henti-hentinya berucap syukur.


Selesai di periksa dokter pergi dari sana, dia mengatakan kalau kondisi Kainal sudah membaik.


Fisha mendekati brankar Kainal. Kainal tersenyum tipis memandang istrinya. Namun, dia merubah ekspersinya menjadi datar.


"Kenapa kamu kurus sekali?" tanya Kainal. "Apa kamu kurung makan?" tanya Kainal.


Fisha mengangguk-angguk. Kainal memegang pipi istrinya.


"Maaf ya, karena aku badan kamu gak ke urus gini," ucap Kainal.


Fisha mengangguk, dia memeluk suaminya dengan erat, Kainal pun membalasnya.


"Kamu tahu gak gimana aku menunggumu?" tanya Fisha. "Ezar terus mencari abinya, Ezar udah 2 tahun."


"Aku koma berapa lama, sayang?" tanya Kainal.


"Satu tahun empat bulan."


Kainal melepaskan pelukannya, dan memandang wajah istrinya. "Kamu sering nangis?" tanya Kainal.


"Aku nangis, karena kamu."


"Maaf. Dan terima kasih juga udah masih menunggu aku, mungkin kalau orang lain sudah meninggalkanku pergi."


"Aku bukan orang yang seperti itu, Kainal, banyak orang yang mengatakan kamu tak akan sadar lagi, tapi aku yakin kamu akan sadar demi aku dan Ezar," ucap Fisha. "Jangan tinggalin aku lagi ya, cukup sampai di sini saja. aku capek."


"Maaf buat kamu menunggu, seterusnya aku akan bersamamu dengan Ezar."


Fisha kembali mengangguk. Dia mencubit lengan Kainal sehingga lelaki itu meringis kesakitan.


"Kok di cubit?" tanya Kainal.


"Gak papa cuma mastiin aku mimpi atau gak, tadikan aku tidur."


Kainal tersenyum. "Kamu gak mimpi." Kainal menyuruh istrinya duduk di kursi. "Setiap hari kamu datang ke sini?" tanya Kainal.


"Gak juga, kemarin aku gak ke sini karena Ezar minta untuk tidur berdua jadi aku pulang dulu."

__ADS_1


Fisha terus senyum, dia terus mengenggap erat tangan Kainal. Seakan tak membiarkan lelaki itu pergi lagi.


Dia menelfon keluarganya, dan mereka semua datang. Dan terharu, akhirnya Kainal sudah sadar. Mereka sangat menanti kesembuhananya.


"Abi," seru Ezar.


Kainal tersenyum, dia memeluk putranya. Dia sedikit sedih tak melihat putranya tumbuh dewasa, tak melihat putranya belajar jalan.


"Abi udah angun, umi ndak angis lagi," seru anak itu melepaskan pelukannya. "Ejal mayah cama abi, oalnya ikin umi Ejal angis mulu," ucap anak itu melipat tangannya di depan dada lalu memayunkan bibirnya, seperti sedang ngambek pada abinya.


Kainal serta yang lain terkekeh, mereka jadi gemass dengan Ezar.


"Umi ada gak ya, yang kangen sama abi? Anak abi mana umi?" tanya Kainal pada Fisha.


Belum sempat Fisha menjawab Ezar sudah menyela.


"Ejal." Ezar menaikan tangannya. "Ezal anaknya abi, Ejal unggu au."


"Maafin abi, ya."


Ezar mengangguk. "Ejal maapin abi, api angan tidul eyus, kacian umi angis, Ejal uga."


Vier langsung mengambil ahli cucunya dan menciumnya dengan brutal, anak itu selalu membuat orang-orang gak tahan dengan kegemassannya.


Altar tertawa keras mendengar cucunya, dia mengambil ahli Ezar dari Vier.


"Lo bau," ledek Altar pada Vier.


"Glandpa Uga au, cama aja," ucapnya. Sehingga Altar bungkam dan kini giliran Vier yang ngakak brutal.


Ezar turun dari gendongan Altar dan berlari ke arah Kaira.


"Unty, Ejal angen," ucap bocah itu. Kaira menggendong keponakannya. Ezar pun mengalungkan tangannya di leher Kaira yang tertutup kerudung. "Eli ainan, yok," ajak Ezar.


"Wah, kamu rayu unty, cuma mau mainan?" tanya Kaira, Ezar mengangguk. Sehingga mereka semua tertawa.


"Kata gdanma, unty gak di umah alena agi cali uang, jadi unty alus eliin Ejal ainan. alau ndak, Ejal cuma cayang incle Atal."


Mendapatkan ancaman, Kaira langsung membawa keponakannya keluar dari ruangan, untuk membawanya beli mainan.


"Danda, umi abi." Ezar melambaikan tangannya, di saat pintu mulai tertutup.


Semuanya pun akhirnya pulang, tersisa cuma suami istri itu. Kainal masih perlu perawatan beberapa hari baru bisa benar-benar pulang.

__ADS_1


Fisha sedang menyuapi suaminya makan, Kainal terus mengenggam tangan Fisha.


"Kamu tau gak? Aku sudah berpikir kamu akan meninggalkanku sendiri," ucap Fisha. "Tapi kamu melawan masa kritismu."


"Tujuanku belum tercapai, aku belum membahagiakan keluarga kecilku," ucap Kainal. Dia mengambil ahli mangkok yang sedang di pegang Fisha menarohnya di nakas.


Kainal menyuruh Fisha mendekat, tanpa banyak tanya Fisha hanya menurut.


Lelaki itu menaikan cadar Fisha lalu menyium bibirnya, bahkan memagutnya dengan lembut. Fisha yang sudah tak lama melakukan itu seakan kembali mencari pernapasan dan tidak membalas ciuman Kainal.


Kainal lebih mendekatkan leher Fisha, Fisha pun memukul pelan bahu Kainal, dia kesulitan bernapas. Bukannya melepaskan Kainal makin menjadi-jadi memainkan lidahnya di dalam mulut Fisha.


"Hem," desis Fisha.


Kainal memegang pinggang istrinya, dengan kekuatannya yang lemah ke atas brankar. Dia masuk ke dalam kerudung Fisha, dan menyesap leher jinjang istrinya, yang sudah sangat lama Dia rasakan.


Fisha hanya memejamkan matanya.


Suara ketukan pintu membuat Kainal melepaskan ciumannya, wajah Fisha jadi memerah seketika, dia menutup kembali cadarnya dan turun dari brankar lalu memperbaiki penampilan. Dia menyuruh orang itu masuk.


Kainal meraih gelas berisi air putih di atas nakas. Dia meminumnya.


Ternyata orang yang mengetuk dan yang mengangguk mereka sedang lepas rindu, adalah Xaviel dan keluarganya.


Sekarang Xaviel bukan hanya sahabatnya, tapi juga sodara adik iparnya, keduanya semakin mendekat untuk menjadi keluarga.


Xaviel datang bersama dengan kedua orang tuanya. Saat ini Xaviel belum mempunyai kekasih, lelaki itu bentah sendiri.


Daddynya sudah beberapa kali mengenalkannya dengan seorang gadis. Namun, Xaviel menolaknya terus-menerus.


Xaviel sudah tak menaroh harapan dan cinta lagi pada Fisha, dia lebih memilih untuk menjadikan Fisha menjadi sahabatnya dan sebagai kerabat dekat.


Fisha dan Kainal menyambut hangat keluarga dari istri adiknya itu.


Kainal tersenyum. Dia juga sudah tak menganggap Xaviel sebagai saingannya, menurutnya Xaviel bukan orang yang seperti yang dia pikirkan. Dulu dia sedikit terhasut oleh Alya, tapi sekarang dia sudah tak akan menuduh seseorang tanpa bukti.


"Alhamdulilah, lo sadar juga. Jadi gini, sahabat gue kembali mempunyai suami, dan tak jadi janda muda," ucap Xaviel bercanda. "Padahal gue udah nunggu, jandanya, eh malah gak jadi." Xaviel memasang wajah sedihnya. Kainal langsung meninju perut lelaki itu.


"Jangan harap, dan tak semudah itu perguso."


"Orang yang buat lo kaya gini udah wasslam," ucap Xaviel. "Dia meninggal dunia, di saat om Altar menembaknya."


Kainal sedikit terkejut mendengarnya.

__ADS_1


"Kini kita perlu mencari anaknya."


__ADS_2