Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 26 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Kainal sampai di rumah bersamaan dengan mertuanya. Kainal tersenyum dan menyalimi ayah mertuanya lalu berjalan bersamaan memasuki rumah.


"Gimana lancar?" tanya Altar.


Kainal mengangguk. "Lancar kok, pah," jawab Kainal. Mereka berpisah di saat menaiki anak tangga.


Altar menuju kamarnya sedangkan Kainal menuju kamar sang istri.


Lelaki itu membuka pintu dan tersenyum memandang istrinya yang berada di atas ranjang, sudah tertidur nyenyak. Dia melepaskan sepatunya dan berjalan ke arah lemari, mengganti pakaian dengan pakaian tidur.


Kainal menoleh dan tersenyum melihat istrinya bangun dan memandangnya. Dia ikut menaiki ranjang, ikut memasuki selimut.


"Kenapa bangun?" tanya Kainal membelai surai sang istri.


"Nunggu kamu," jawab Fisha mengesekan hidungnya dengan hidung sang suami.


"Udah ayo lanjut tidur," pinta Kainal memejamkan matanya sambil memeluk sang istri.


Fisha malah tak memejamkan mata. Apa suaminya itu tidak menyadarinya? Dia ingin suaminya menciumnya dulu sebelum tidur.


"Kenapa?" Kainal kembali membuka matanya. Fisha masih menatapnya denga cemberut.


Kainal menepuk jidatnya lalu menyium pipi, bibir dan terakhir kening. Dia selalu melakukannya tiap malam sebelum tidur. Mungkin istrinya sudah terbiasa dengan itu semua, makanya menunggu.


"Udah ayo tidur, aku ngantuk banget," bisik Kainal memeluk istrinya erat. Namun, di saat memegang pinggang Fisha, Kainal seakan aneh.


Fisha sudah memejamkan matanya. Kainal mendongak membuka selimut tersebut.


Kainal menelan susah payah salvinnya. Istrinya saat ini benar-benar menggoda, hanya memakai lingrei.


"Fisha," ucap Kainal pelan menepuk pipi sang istri. "Masa kamu tidurnya cepat, banget!" gerutu Kainal.


"Sayang ayo bangun," bisik Kainal. Namun, Fisha berbalik badan membelakinginya.


"Apa mungkin tadi dia memang ngode? Tapi akunya aja yang kurang mengerti?" Kainal mengacak rambutnya furstasi dan kembali tidur memeluk istrinya dari belakang. "Pleas pleas." Kainal benar-benar ingin ngereog.


Kainal meraba tubuh istrinya. "Fisha," rengek Kainal.


Fisha pun akhirnya membuka matanya kembai, dia membalikan badannya, menatap Kainal.


"Kenapa berpakaian seperti ini?" tanya Kainal.


"Tadi panas banget, AC tiba-tiba mati," keluh Fisha. "Makanya aku ganti baju, dapat pakaian ini. Mungkin pakaian ini bisa mengurangi panas, makanya aku pake," jelas Fisha jujur.

__ADS_1


"ini ACnya nyala juga," timpal Kainal.


"Y-ya baru sekarang nyalanya, aku suruh perbaiki sedikit ama Ataar."


"J-"


"Aku pake selimut!" jawab Fisha.


"Kan katanya kepanasan."


"Iyakan Ataar perbaikinya cuma sebentar, aku bisa tahan dikit," jawan Fisha.


Kainal memicingkan matanya lalu mengangguk. "Kenapa gak di ganti saat Acnya udah nyalah?"


Fisha mendengus kesal. "Kok kamu cerewet banget? Lagian aku juga malas ganti-ganti pakaian, pakaiannya sudah berada di dalam koper semua. Emang kenapa kalau aku berpakaian gini tidur? Kamu gak suka? Emang haram di lihat suami?"


Kainal buru-buru menggeleng. Keburu istrinya salah paham, mending dia mengalah duluan.


"Yaudah ya, gak kok." ringis Kainal. Dia memeluk pinggang Fisha.


Fisha mencubit lengan Kainal dengan kesal. "Auh ah, gak usah peluk-peluk," ketus Fisha menjauhkan tangan Kainal.


"Kok gitu sih!" Kainal menempelkan kembali badannya ke arah Fisha.


"Kainal!" pekik Fisha. "Aku-aku, gak bisa bernapas," teriak Fisha memukul lengan suaminya.


"Yaudah, kita main sekali? Siapa suruh pakai, pakaian gini!"


Kainal bangun, lalu menatap istrinya dari atas, seperti harimau yang ingin melahap bangsanya


"Aku belum jawab iya!" kelit Fisha saat Kainal mengkukung badannya.


"Bodoh amat," bisik Kainal. Mulai melakukan aksinya. Fisha hanya pasrah, ini juga salahnya.


Usai bercintaan. Mereka pun tidur bersama dengan lelap sampai pagi datang.


Keesokan paginya mereka berangkat kuliah bersama. Mereka tidak menyembunyikan hubungan, karena pernikahan mereka memang sudah tersebar.


Fisha berusaha biasa-biasa aja di kampus, walaupun mahasiswa maupun mahasiswi selalu membicarakan tentang dirinya, ada juga yang menilai dirinya tak cocok dengan Kainal.


Fisha agak kesal, kenapa urusan pribadi orang selalu saja diurusi? Apa membicarakan urusan pribadi orang bisa membuat beras di rumah mereka bertambah? Pikir Fisha.


Setelah selesai ujian mata pelajarannya. Dan sekarang waktunya pulang. Fisha menunggu suaminya di lobby kampus.

__ADS_1


Tiba-tiba teman Alya datang. Mereka menyapa Fisha dengan ramah, tidak seperti dahalu yang selalu memberikannya tatapan sinis. Entah ada apa dengan mereka, tapi Fisha menghiraukannya.


"Aneh," gumam Fisha.


 Tidak menunggu waktu lama. Suaminya datang sambil membawa buku tebal di tangannya.


"Gimana ujiannya susah?" tanya Kainal pada sang istri. Menggandeng tangannya keluar dari kampus.


"Dikit aja," jawab Fisha. "Ujian susah dikit, yang susah tuh gimana caranya tidak mendengarkan bisikan orang tentang kita?"


"Sabar ya, kalau ada yang bicara udah melewati batas. Beri tau aku, aku akan menemui orang itu dan memberinya peringatan. Sebentar lagi kita udah mau tamat, tahan sebentar lagi ya?"


Fisha mengangguk. Mereka berdua pun pulang ke rumah, mereka beres-beres untuk berpindah ke rumah orang tua Kainal hari ini.


"Udah gak ada lagi?" tanya Kainal. Fisha mengangguk, dia memeluk boneka rubanya.


Fisha menyalimi uminya. "Umi Fisha pergi ya? Nanti Fisha akan sering-sering berkunjung ke sini kalau Kainal ada luang waktu, kami akan sering mampir dan menginap," ucap Fisha memeluk uminya.


Umi Aisha mengangguk. "Jaga diri ya! Jangan buat Kainal terlalu repot di sana," peringat sang umi.


"Sampaikan ke Ataar dan apah. Jangan lupa makan. Umi harus tegas pada Ataar, jangan suruh dia malas-malasan. Suruh rapikan kamarnya. Peringati buat papah, jangan terlalu banyak bekerja sehingga lupa makan, lemburnya di kurangi. Umi juga, jaga kesehata, ada bibik yang akan membantu umi, jangan bekerja yang berat-berat di rumah! Minta bantuan Ataar kalau umi butuh sesuatu!" Pesan Fisha pada uminya.


Aisha tersenyum lalu mengangguk. Dia terharu. Serasa waktu begitu cepat, sehingga tak terasa anaknya sudah sedewasa ini. Bahkan akan membangun keluarga sendiri bareng dengan suaminya. Padahal dulu dia masih menggendongnya, mengajarinya berjalan, mengucapkan kata yang benar. Manesehatinya. Mengajarnya tentang apa itu mandiri, tentang agama. Dia bangga ajarannya dulu tak sia-sia.


"Kainal aku titip putri umi padamu, jangan buat dia nangis!" peringat umi Aisha. "Umi akan menjewer telinga mu sampai putus kalau anak umi mengadu kalau kamu menyakitinya!" tegas Aisha.


Kainal mengangguk sambil meringis mendengar ancaman mertuanya.


"Kami pergi ya umi. Kainal izin mengambil putri umi," ucap Kainal. Umi Aisha mengangguk.


"Pergilah cepat, sebelum umi mengambil kembali putri umi," ketus Aisha tertawa.


Fisha melambaikan tangannya sebelum mobil melaju keluar dari gerbang.


Fisha menghela napas. "Aku benar-benar tidak menyangka, sudah saatnya berpisah dengan keluargaku, dan akan membangun keluarga kecil bersamamu," ucap Fisha lirih pada suaminya.


Kainal yang sedang menyetir menoleh ke arah istrinya, dia genggam tangan lentik Fisha.


"Kita semua akan tetap bersama, hanya beda tempat tinggal saja. Jangan sedih, setiap hari libur, kita akan berkunjung ke sini," balas Kainal mengenggam tangan istrinya.


Fisha mengangguk. "Kainal tolong singgah di tokoh buku!" pinta Fisha.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aku ingin membelikan buku novel buat, Ai," jawab Fisha.


__ADS_2