
Fisha hanya diam, belum menjawab pertanyaan Kainal barusan. Melihat Fisha terdiam Kainal mendongak.
"Udah ayo tidur, besok kita kuliah," sahut Kainal mencium pipi istrinya. Melepaskan pelukannya, dan mulai menutup mata menghadap keatas.
Fisha menatap manik mata suaminya. Mungkin kah Kainal merasa dia masih mencintai Xaviel? Entah dia juga belum tau perasaannya saat ini. Yang jelas dia sudah sangat nyaman bersama Kainal.
"Kainal," panggil Fisha. Kainal kembali membuka matanya lalu menoleh. "Peluk," pinta Fisha.
Kainal memiringkan kembali badannya lalu memeluk istrinya.
"Jangan bahas dia lagi Kainal, aku gak suka. Kamu akan menunggu jawabannya nanti, tapi tidak sekarang," ucap Fisha. Kainal hanya mengangguk, walaupun saat ini dadanya sesak. Di saat tau istrinya masih mencintai lelaki lain bukan dirinya, tapi dia tak ingin egois. Fisha bisa memilih jalannya sendiri, dia sudah berjanji untuk mengajari Fisha agar mencintainya. Dia tidak akan memaksa istrinya mecintainya kalau bukan dia sendiri yang terpengaruh.
"Aku tidak memaksamu untuk menjawabnya, tapi kamu pasti tau gimana perasaanku sekarang," balas Kainal. Fisha terdiam mendengar ucapan Kainal, apa dia egois?
"Kamu gak egois Fisha, jangan menganggam dirimu itu egois. Kamu gak egois."
"Maaf," ucap Fisha. Kainal menggeleng.
"Jangan minta maaf. Kita udah saling janji, akan menjalani hubungan umum suami istri."
Fisha menghela napas lalu mengangguk.
"Fisha," panggil Kainal. "Kalau misalnya aku pergi dari kamu, terus ada dia yang kembali menyembuhkan lukamu. Apa kamu akan kembali ke dia?" tanya Kainal.
"Kamu ngomong apasih? Kamu berniat meninggalkan ku?" tanya Fisha.
Kainal menggeleng keras. "Aku cuma bertanya. Misal saja, kalau aku pergi dari kehidupan kamu. Terus dia kembali, apa kamu masih menerimanya?"
Fisha sedikit diam. "Yang kamu tanyakan tidak akan terjadi Kainal. Kamu gak akan pergi, dan dia tidak akan kembali. Kita yang akan melangkah bersama."
Kainal tidak mengeluarkan kata lagi, dia menutup matanya memulai melelapkan dirinya ke alam mimpi. Sedangkan Fisha masih membuka matanya, dia masih memikirkan ucapan Kainal barusan.
Fisha mengusap rambut suaminya. "Sudah kupikirkan, mungkin aku mencintamu. Bukan dia lagi, jadi tolong jangan tinggalkan aku. Jangan merelakanku untuk bersamanya, karena itu akan membawaku kembali ke masa aku terpuruk. Aku tidak akan melupakan perbuatannya. Dan aku tidak akan pernah lupa perbuatanmu selama ini Kainal. Dia melukaiku, kamu yang datang menyembuhkannya. Lantas mengapa aku masih mencintainya dan tidak mencintaimu? Hanya orang bodoh yang tidak bisa jatuh cinta dengan lelaki sepertimu. Mungkin aku termaksud wanita paling beruntung bisa mendapatkan mu? Apa kamu juga berpikir begitu?"
Fisha berucap dalam hati terus-menerus, sampai kantuk datang. Dia ikut terlelap bersama dengan Kainal.
Keesokan paginya bukan Fisha mengalami mual di pagi hari, saat ini gantian Kainal.
Fisha melilitkan selimut di tubuhnya dan berlari memasuki kamar mandi sambil membawa segelas air.
__ADS_1
"Huek..."
Dia memijat tengkuk leher Kainal dan menyuruhnya minum.
Kainal mendongak tersenyum tipis mengambil segelas air itu. Menenguknya sampai habis tak tersisa.
"Kamu mandilah, aku tunggu di luar. Kita akan segera berangkat kuliah."
Fisha mengangguk. Dia mengambil handuk dan berjalan memasuki kamar mandi.
Kain mengeluarkan buku yang harus dia bawa untuk ke kampus.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka keluarlah Fisha memakai handuk sebatas lutut. Kainal hanya menoleh sekilas lalu tersenyum. Dia kembali menyusun bukunya.
Fisha menatap heran dengan suaminya yang biasanya cerewet, kini jadi diam. Bahkan biasanya, sering menggodanya di saat berpakaian kini tidak menoleh sedikit pun ke arahnya, dia hanya fokus dengan ponselnya.
Usai bersiap. Mereka turun bersama, Fisha membantu mertuanya mengangkat makanan di meja. Mereka pun makan bersama.
"Kami pamit," ucap mereka bersama.
Harumi hanya menaikan bahunya gak tahu masalah anak dan menantunya.
Di dalam mobil cuma ada keheningan. Fisha tidak memulai percakapan begitupun dengan Kainal. Sesampainya di kampus mereka berpisah.
Fisha menatap kepergian suaminya. Hari ini sikapnya sangat beda, apa mungkin masalah semalam? Apa Kainal marah kepadanya?
Di saat jam istirahat, Fisha menunggu suaminya di kantin. Tidak cukup waktu lama Kainal datang dan memasan makanan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Kainal.
"Terserah, kalau aku minta makan seblak apa kamu bakal ngasih? Gak kan," jawab Fisha. Kainal pun memasan yang menurunkannya apa yang harus di makan istrinya.
Mereka pun makan bersama. Kainal hanya diam, cuma sekali-sekali dia mengeluarkan suara di saat Fisha tersedak makanan.
"Kalau makan hati-hati," peringat Kainal. Melap bibir istrinya dan menyuruhnya minum.
💚💚💚💚💚💚💚
__ADS_1
Saat pelejaran usai, Kainal menunggu istrinya di lobby. Sedangkan Fisha berada di dalam kelas, di tahan oleh Alya dan teman-temannya. Fisha memegang perutnya, takut Alya dan teman-temannya ingin berbuat sesuatu kepadanya.
"Owh, lo hamil?" tanya Alya. Fisha hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Alya.
"Aku mau keluar, Kainal sudah menungguku di lobby," sahut Fisha.
"Bentar dulu, dong," ucap temannya Alya menahan Fisha di pintu keluar kelas.
"Mau kalian apasih?" tanya Fisha kesal. Dia memejamkan matanya di saat Alya mendekatinya.
"Gue minta maaf," ucap Alya mengulurkan tangannya. Fisha membuka matanya dan menatap Alya dengan tatapan intens.
"Kami juga. Maaf kita selalu membully lo, tapi sekarang kita janji, kita tak akan membully lo lagi atau mahasiswa/siswi lain."
Fisha berdehem. Akhirnya mereka memperbolehkan Fisha lewat, dia berlari koridor kelas. Karena merasa aneh dengan sikap mereka. Saking paniknya dia tidak memperhatikan ternyata lantai di depannya licin.
"Aw," teriak Fisha. Dia memejamkan matanya. Namun, dia membukanya kembali, saling tatap dengan Kainal yang menangkap tubuhnya.
"Kenapa lari-larian? Kamu tau lantainya licin? Kalau kamu jatuh gimana? Gimana dengan anakku nanti?" tanya Kainal dengan emosi.
Fisha hanya menunduk, menahan air matanya. Kainal berdecak dan memegang dagu istrinya.
Fisha pun saling menatap mata dengan suaminya. Air matanya lolos jatuh.
"Kenapa nangis?" tanya Kainal. Fisha mengecekkan tangisnya, dia merasa takut dengan Kainal. Padahal dia hanya ingin mengindar dari Alya dan teman-temannya.
"Aku minta maaf," ucap Kainal memeluk istrinya berusaha menenangkannya.
Fisha sesengukan. Cadarnya mulai basah, karena menangis.
"Maaf tadi aku berlari, karena takut Alya dan teman-temannya berbuat rencana untuk menyalakaiku dan anak kita, apa aku salah?"
Kainal terdiam sejenak. Ternyata tanpa sadar, tadi dia memarahi istrinya yang panik.
"Kamu gak salah, aku yang cepat emosi," jawab Kainal memasukan tangannya di balik cadar Fisha. Melap air mata istrinya.
Dia menggenggam tangan Fisha dan membawanya keparkiraan, menuju pulang ke rumah.
"Udah ya nangis," bujuk Kainal mencium pucuk kepala Fisha. Dan fokus menyetir.
__ADS_1