
Fisha dan Kainal saling menatap, lalu kembali menatap Ezar. Kainal tersenyum.
"Ini di gigit semut," jawab Kainal.
Ezar memicingkan matanya, lalu memegang leher abinya.
"Mang cemut, bica uat meyah-meyah, ya? cemutnya, besal ndak. Abi?" tanya Ezar.
Kainal menggaruk belakang kepalanya, apa yang harus dia katakan pada anaknya? Bagaimana ini, dia takut salah jawab.
"Gak tau, mungkin semutnya sebesar umimu," ucap Kainal asal, sehingga mendapatkan cubitan kecil di pinggangnya.
Fisha menarik tubuh putranya, lalu menyuruhnya tidur cepat.
"Gak tidur, besok Ezar gak usah ikut jalan-jalan. Iya kan, abi?"
Kainal mengangguk. Melihat itu, Ezar buru-buru menutup matanya. Mereka pun terkekeh, Kainal mencium pipi putranya lalu beranjak tidur di samping Fisha.
cup!
Kainal mencium bibir Fisha singkat, lalu memeluk wanitanya dari belakang. Sedangakn Fisha sibuk mengusap punggung putranya.
"Sayang, udah tidur?" tanya Kainal. Fisha berdehem, dia menaikan selimut mereka, dia membalikan badannya ke arah Kainal.
__ADS_1
Kainal pun dengan manja, menyembunyikan wajahnya di dada sang istri.
"Aku sayang, kamu," ucap Kainal mendongak dan mencium bibir Fisha berulang kali.
Fisha refleks menjauhan wajah Kainal.
"Udah berapa hari gak sikat gigi? Napasmu bau," tuduh Fisha. Sehingga Kainal cemberut.
Bukannya sadar diri, Kainal malah mengigit bibir bawah Fisha, sehingga Fisha memikik kesakitan.
"Sakit!" tegas Fisha memukul dada Kainal.
Kainal menahan pergelangan tangan istrinya. Dia tersenyum, menyepitkan anak rambut Fisha ke telinga.
"Besok-besok, pake maskulinnya itu lagi ya. Harum soalnya," ucap Kainal menghirup leher istrinya yang memakai maskulin favoritnya.
"Besok mau jalan-jalan ke mana, ham?" tanya Kainal mendongak.
"Ke pantai, Ezar pengen lihat ombak katanya," jawab Fisha.
Kainal mengangguk. Besok dia akan membawa anak dan istrinya keluar rumah, seharian. Selama dia sadar dari koma, dia tak membiarkan keduanya keluar tanpa dia temani.
Ezar tak pernah mengenal dunia luar, bahkan tak mempunyai teman. Mereka tinggal di perumahan, jadi kurang orang yang akan keluar rumah, untuk sekedar menyapa para tetangga aja enggak. Keluar rumah, hanya hal perlu. Di perumahan itu juga, kebanyakan orang sibuk.
__ADS_1
"Ezar ingin ke rumah, unclenya. Katanya di sana banyak teman."
Kainal menghela napas. Dia jadi merasa bersalah kepada anaknya, yang seharian di kurung di rumah. Dia mempunyai teman main, kalau Kainal pulang kerja. Itu aja, biasanya ketiduran menunggu abinya pulang.
"Mas salah gak sih? Mengurung kalian berdua di rumah? Ezar pasti bosan tak memiliki teman. Aku malah membawa kalian ke tempat sunyi ini."
Fisha refleks memegang bibir suaminya. Dia menggeleng dengan keras, bertanda membantah ucapan sang suami.
"Mas, kamu melakukan ini ada alasannya kok, aku mengerti. Aku juga trauma dengan dunia luar, kalau tak ada kamu yang menemaniku, aku tak berani keluar. Banyak orang jahat di luar sana, yang berusaha mencelakai kita. Apalagi saat ini anak om Aksa belum di temukan. Aku takut. Bahkan aku masih was-was, aku rasa hidup kita belum tenang kalau dia belum ke tangkap. Semoga ayah, Papa, Xaviel dan yang lain segera menemukannya."
"Tapi aku yakin, suamiku bisa melindungiku, buktinya, dulu kamu rela tertembak demi melindungi Ezar dan ayah."
Kainal menaroh telapak tangan istrinya ke pipinya. Namun, Fisha malah masuk kedekapan Kainal.
"Kamu tahu, aku udah pernah merasakan di titik kehilangan. Waktu itu aku benar-benar berpikir. Gimana nantinya, gak ada kamu." Fisha menangis di dalam pelukan Kainal dengan sesengukan.
Setahun, kalian bayangin aja. Menunggu orang koma dalam setahun, apalagi semua orang mengatakan kalau suaminya mustahil untuk sadar. Mana ada orang bertahun koma, akan selamat? Tetapi dengan kukuhnya, Fisha yakin suaminya akan sadar. Dia ingat gimana uminya dulu koma bertahun-tahun, bukan hanya setahun, tapi lebih dari itu. Uminya bangun dari koma di saat Ataar berusia tujuh tahun. Jadi berapa umi Aisha koma? Dan sekarang wanita itu sehat yang siap menantikan cucu dari Ataar saat ini.
Di sisi lain ada Evan yang menunggu suruhannya mengambil hasil tes DNA. Sungguh, saat ini pria itu deg-degan menantikan hasilnya. Otaknya mulai kemana-mana memikirkan sesuatu.
Pintu ruangannya terbuka, masuk seorang pria berpakaian formal sepertinya. Ternyata itu sekertarisnya, orang yang dia suruh mengambil hasilnya.
Dengan sopan, sekertarisnya memberikan kertas itu kepada Evan. Evan pun menerimanya.
__ADS_1
Sebelum membuka dan membaca kertas itu, Evan menghela napas.
Di saat sudah yakin, dia membuka perlahan kertas tersebut.