Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
33 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Kainal mendudukan istrinya kembali ke sofa. Dia menghapus air mata istrinya. "Udah ya nangisnya, nanti bayinya nanti cengeng," bujuk Kainal.


Fisha mengangguk.


"Kamu harus percaya, Ataar itu bisa jaga dirinya sendiri. Dia seorang lelaki, dia harus kuat. Kakaknya ajak kuat, masa adiknya gak?"


Fisha tertawa dan memeluk suaminya kembali. Kainal mengusap punggung istrinya.


"Udah ya." Kainal mencium bibir istrinya. "Kamu mau apa?"


Fisha menunjuk buah yang di bawakan adiknya. "Kupasin aku apel," ucap Fisha.


Kainal mengambil apel itu lalu mengupasnya untuk sang istri. Dia menarohnya di atas piring mangga.


"Manis?" tanya Kainal. Fisha mengangguk.


"Kainal ayo jalan-jalan," ajak Fisha. "Aku bosan di rumah."


"Mau jalan-jalan di mana?" tanya Kainal.


"Terserah di mana, yang penting ayo jalan-jalan," jawab Fisha.


"Tunggu ya, aku pake baju dulu," ucap Kainal. Dia mengambil bajunya di pojok sofa dan memakainya, dia mengambil kunci mobilnya di laci.Tak lupa mengambil cardigan Fisha serta kerudung dan cadarnya.


Usai bersiap. Kainal mengenggam tangan istrinya keluar rumah, sampai ke dalam mobil.


"Apa Tuan putri siap melaju?" tanya Kainal. Fisha menaikan jempolnya dengan tersenyum. "Ok dayangmu akan mengantar Tuan putri, untuk jalan-jalan, agar tuan putri dan anaknya tidak bersedih," lanjut Kainal membuat Fisha tertawa melihat komuk suaminya.


"Udah ayo jalan."


Kainal melajukan mobilnya menyusuri kota jakarta yang padat


"Kainal, aku mau beli itu." Tunjuk Fisha di saat melihat penjual cimol.


Kainal memberhentikan mobilnya di tepi jalan. Dan turun membelikan cimol untuk istrinya.


"Jagung manis aja, gak usah di kasih balado," peringat Kainal.


Tukang cimol itu mengangguk. Menyiapkan.


Kainal memasuki mobil kembali. Memberikan cimol itu ke arah istrinya.


"Makasih suami bocil," ucap Fisha memakan cimol tersebut dengan lahap.


"Bocil-bocil gini udah pintar bikin bocil," ketus Kainal melajukan kembali mobilnya. "Mau apa lagi tuan putri?"


"Mau sate," jawab Fisha. Kainal pun mencari penjual sate di pinggir jalan.


Setelah mendapatkan sate Kainal membelikan untuk istrinya dan kembali menaiki mobil.


"Harum banget," ucap Fisha melahap satenya.


Kainal menatap istrinya dan tersenyum, melap bibir yang terkena kacang sate. Dia membuka'kan air minum buat istrinya.

__ADS_1


"Kita keponpes dulu yok," ajak Fisha.


Mereka pun menuju ponpes milik kakek Fisha. Sesampainya di sana mereka di sambut anget para santri.


"Kak Fisha," ucap mereka bersama.


Fisha tersenyum dan menerima uluran tangan para santriwati untuk di salimi. Dia menaikan jempolnya kepada santri.


"Kiay ada?" tanya Fisha. Salah satu santriwan mengangguk.


"Ada kak."


Fisha mengangguk. Dia menyuruh santri tersebut kembali ke aktivitasnya.


Dia menuju rumah Ndalem bersama sang suami. Di sana ada juga bunda Harumi yang membantu para Ndalem mengurus santri. Bunda Harumi pasti sangat sulit untuk meninggalkan pondok pesantren itu di mana dia besar di sana. Sampai Vier melamarnya.


"Asslamualaikum," ucap mereka berdua membuat para Ndalem yang sibuk menyiapkan makan buat anak santri menoleh.


"Walaikumsslam, ning Fisha." Mereka semua tersenyum ke arah mereka.


"Bunda." Keduanya menyalami tangan bunda Harumi.


"Kiay mana?" tanya Fisha.


"Di atas," jawab Ndalem. Fisha pun menaiki rumah kayu kokoh tersebut.


"Hati-hati," peringat Kainal. Ndalem tersenyum kearah Kainal. Kainal pun membalasnya.


"Asslamualaikum, opah."


Fisha langsung menyium punggung tangan yang sudah keriput itu.


"Kesini bareng siapa, nak?" tanya Nando Kiay.


"Bareng, suami Fisha."


"Di mana dia?"


"Dia ada di bawa, opa duduklah. Opa gimana kabarnya?"


Kiay Nando mengangguk. "Baik nak, adikmu baik-baik aja? Opa dengar dia masuk rumah sakit, tapi opa lagi di surabaya hari itu gak bisa datang."


"Baik-baik aja kok opa."


Kiay Nando memegang bahu cucunya dengan tangan bergetar efek sudah tua pastinya. "Panggilkan suamimu, untuk opa," pinta Kiay.


Fisha mengangguk dia beranjak pergi untuk memanggil Kainal. Mereka pun masuk ke dalam kamar Kiay Nando.


Kiay menyuruh cucunya keluar. Dia ingin berbicara berdua dengan menantunya. Fisha pun hanya menurut, dia turun untuk membantu para Ndalem.


Kainal mencium tangan pria paruh baya itu. "Gimana kabar opah, baik?" tanya Kainal basa-basa.


Kiay mengangguk. "Kamu anaknya Harumi, mantan santri dulukan?"

__ADS_1


Kainal mengangguk. "Iya opa, aku juga anak teman om Altar."


Kiay Nando memikir. "Yang mana itu?"


"Vier, opa tau?"


"Vier? Siapa Vier?" tanya Nando Kiay." Owh opa ingat, dia sering datang kerumah bareng temannya yang lain, mengambil mangga di depan rumah opa."


Kainal yang tidak tau hanya mengangguk. "Iya itu."


Kiay manggut-manggut. Dia memegang bahu Kainal. "Jaga cucu opa ya, jangan sampai kamu melukainya. Dia cucu kesayangan opa."


Kainal mengangguk. "Iya opa."


"Dulu kedua mertuamu pernah bertengkar, karena kesalah pahaman. Kalau kalian sedang salah paham, jangan mengambil langkah yang salah ya? Misalnya istrimu berbuat salah, dan itu membuat kamu marah jangan terlalu ya memarahi cucu opa. Opa gak melarang kamu gak marah sama istrimu, tapi jangan membentak atau bermain tangan. Cukup menjelaskan dan menasehatinya, sudah sepantasnya kamu manasehati istrimu kalau dia salah, kamu boleh marah sedikit saja, tapi ingat jangan sampai membentak dan main tangan. Opa selalu menyebut kedua kalimat itu, karena opa gak suka."


Kainal yang teliti mendengar kakek istrinya itu berbicara hanya mengangguk mengerti. Walaupun cara bicaranya sedikit berbelit-belit, tapi Kainal tau maksudnya.


"Pasti opa, pegang janji Kainal. Kalau Kainal sampai melukai dan membentak istri Kainal, Kainal sanggup menanggung apapun yang opa, om Rigel dan papah akan lalukan kepadaku."


"Opa pegang janjimu. Bahagiakan cucu opa, jadikan dia ratu sesudah ibumu."


Kainal kembali mengangguk. "iya opa, tanpa opa katakan. Kainal akan melakukannya."


"Kalau begitu, Kainal izin pulang ya opa."


Kiay Nando mengangguk. "Pergilah."


Kainal membuka pintu kamar dan menemui Fisha.


"Sayang kita pulang yok," ajak Kainal.


Fisha menoleh. "Aku belum pamit sama opa."


"Udah aku pamitin," balas Kainal.


"Kami pergi mbak," pamit mereka.


Di jalan hanya ada keheningan. Fisha pun memulai percakapan dengan sang suami.


"Tadi kamu sama opa, ngobrol apa? Lama banget perasaan."


Kainal melirik sekilas ke arah Fisha. "Ngobrol santai aja, kaya biasa. Opa cuma manesahati aku," jawab Kainal.


Fisha manggut-manggut.


"Kamu belum habisin sate kamu, habisin gih."


Fisha menggeleng. "Udak gak mau. Kalau kamu mau makan aja nanti di rumah."


Kainal mengangguk. Dia fokus menyetir tanpa menoleh kearah Fisha.


Fisha menarik napas lalu membuangnya. Dia merasa menahan sesuatu.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Kainal melirik sekilas.


Fisha menggeleng. "Sampai rumah, kamu langsung mandi ya, kamu busuk bau nasi basih," ucap Fisha menatap keluar jendela mobil.


__ADS_2