Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 24 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Hari terus berlalu. Kainal dan Fisha sudah kembali ke jakarta dua hari yang lalu. Mereka berada di kediaman Altar saat ini.


Kainal menggendong Fisha menaiki ranjang. "Kita main sekali lagi ya?"


Fisha menggeleng. "Kamu gak takut sakit?"


Kainal menggeleng. "Sekali aja," pinta Kainal.


"Nanti lagi, turun ah. Aku mau bantu umi buatin sarapan. Kamu cepatlah mandi, hari ini kamu akan ke kantor ayahkan?" Fisha menyuruh suaminya pindah dari atasnya.


"Hug aja," pinta Kainal dengan wajah manjanya. Fisha pun memeluk suaminya.


"Manja," cibir Fisha mengesup lembut rambut suaminya. "Mau makan apa?" tanya Fisha.


"Apa aja," jawab Kainal.


"Besok kita udah ujian," ucap Fisha.


Kainal mendongak. "Besok?" tanya Kainal membuat Fisha mengangguk.


"Cepat banget, aku masih mau tidur pagi sama kamu. Buatin cucu buat mereka."


"Dih, buatin cucu. Semalam aja pake pengaman," ketus Fisha.


"Aku gak pake pengaman ya semalam!"


"Iyakah?" tanya Fisha berpikir. Kainal mengangguk. "Ok bangun ih."


Kainal pun bangun dari atas Fisha. Dia akan mandi untuk kekantor ayahnya. Sementara Fisha membereskan tempat tidur yang berantakan.


Tok tok!


Suara ketokan pintu membuat Kainal cepat-cepat mengancing kembali bajunya. Dia beranjak untuk membuka pintu kamar.


"Siapa?" tanya Fisha.


"Umi," sahut Kainal menutup pintu kembali. "Cepat turun katanya buat sarapan."


"Tukan, kamu kan," ketus Fisha memberikan suaminya handuk, menyuruhnya masuk ke dalam kamar mandi.


Fisha mengerucut bibirnya. "Yang bersih mandinya, jangan buru-buru," teriak Fisha.


Fisha pun memainkan ponsel suaminya. Hanya membolak-balikan layar. Menurutnya tak ada yang asik di ponsel tersebut. Dia menyimpan kembali, lalu mengikat rambutnya, memakai kerudung dan cadar.


Dia menutup kembali pintu kamar lalu turun dari tangga, menuju arah dapur.

__ADS_1


"Umi," pekik Fisha mengambil ahli yang di bawa uminya.


"Umi duduklah, biar Fisha yang menyiapakannya," perintah Fisha mengomeli uminya.


"Suamimu mana?" tanya umi Aisha.


"Lagi mandi, mih," jawab Fisha. "Ataar dan apah udah di bangunin?" tanya Fisha membuat uminya mengangguk.


"Mereka lagi siap-siap."


Fisha mengangguk. Dia mendengar teriakan Kainal memanggil namanya. Fisha pun kembali menaiki kamar.


"Pasangkan," pinta Kainal. Fisha pun memasangkan dasi sang suami. Lalu mengiringkan rambutnya.


"Ayo cepat turun," ucap Fisha.


Mereka pun turun bersama menuju meja makan. Kainal tersenyum ke arah mertua dan adik iparnya.


Fisha memberikan nasi ke piring suaminya. Ikut duduk di samping Kainal.


"Kainal," panggil Altar membuat Kainal mendongak dan menatap mertuanya.


"Mau ke kantor ayahmu?" tanya Altar. Kainal mengangguk.


"Iya, pah," jawab Kainal.


Ataar berdiri saat menerima pesan masuk. Mereka semua yang melihat Ataar menjadi bingung.


"Kamu mau kemana? Habisin dulu sarapanmu," sahut Fisha pada adiknya.


"Ada urusan osis kak. Aku harus datang cepat, nanti aku akan sarapan di sekolah aja bareng temanku," jawan Ataar menyalimi uminya dan mencium pipi sang umi dan Fisha.


Dia pun menyalimi Kainal. Di saat geliran Altar, dia hanya berucap pelan pada papahnya. "Demi umi," ucap Ataar pelan. Altar pun mengulurkan tangannya, Ataar buru-buru menyiumnya lalu pergi dari sana.


Fisha hanya geleng-geleng.


"Gak papa," bisik Kainal pada istrinya.


Kainal sudah tau tentang masalah mertuanya dan adik iparnya.


Usai sarapan Kainal pamit untuk ke kantor ayahnya.


"Aku pergi ya!" pamit Kainal mencium kening Fisha agak lama


Fisha mengangguk. Dia mencium punggung tangan suaminya. "Hati-hati," peringat Fisha.

__ADS_1


Kainal berdehem. Dia menoleh masuk ke dalam rumah, mertuanya tidak ada di sana. Dia menaikan sedikit cadar istrinya, menyium agak lama bibir pink yang sudah menjadi candunya.


Fisha memukul pelan tangan suaminya. Buru-buru menurunkan kembali cadarnya.


"Sana pergi." Fisha melambaikan tangannya. Di saat suaminya sudah keluar dari gerbang, dia pun kembali masuk ke dalam rumah.


Dia harus beres-beres. Saat Kainal telah pulang, mereka akan ke rumah orang tua Kainal. Tinggal di sana.


💗💗💗💗💗💗


Ataar memasuki kelas dengan cara menendang pintu. Dua laki-laki sedang menganggu seorang gadis, menoleh dan terkejut dengan kedatangan Ataar.


Mereka seketika kaku melihat Ataar. Mereka melepaskan gadis itu.


"Ataar," teriak Vieara memeluk lengan Ataar dengan menangis.


Ataar menepis tangan Vieara lalu maju. Dia menarik kerah seragam salah satu cowok tersebut.


"Berani lo ganggu gadis yang datang pagi lagi. Habis lo berdua di tangan gue. Ingat lo bisa keluar dari sekolah ini karena perbuatan kotor yang kalian perbuat." Ancam Ataar. "Pergi cepat atau kalian di skor."


Kedua cowok tersebut pergi dari sana. Ataar menarik tangan Vieara duduk kembali di kursinya.


"Ngapain lo datang jam segini? Lo udah tahu sekolah masih sepi di jam segini!" omel Ataar memakaikan Vieara cardigannya kembali.


Vieara menunduk. "Aku cuma pengen ketemu kamu cepat-cepat. Kamu akan sibuk dengan urusan osis karena sebentar lagi orang ujian, dan pergantian osis," jawab Vieara dengan air mata membasahi pipinya.


"Gak usah nangis," ketus Ataar.


Vieara melap air matanya menggunakan ujung cardigannya. Dia merengok tas ranselnya mengeluarkan sebuah bekal.


"Kamu pasti gak sarapan di rumah gara-gara aku minta tolong cepat datang. Ini buat kamu aja," seru Vieara tersenyum.


Murid sudah pada berdatangan. Ataar mengambil bekal tersebut sehingga Vieara tersenyum, tapi senyumannya pudar saat Ataar memberikan bekal itu pada murid cowok yang memasuki kelas.


Gadis itu menghela napas. Ini bukan pertama kalinya di perbuat seperti ini oleh Ataar.


Dia membuka tasnya, dia mengeluarkan sebuah paperbang. Ataar pasti akan sibuk dan gak sempat sarapan di kantin. Jadi paperbang yang isinya roti berbentuk love, serta sebotol air lucu akan ia berikan.


Dia menulis surat di kertas dan memasukanny di paperbang. Dia tidak memberikan paperbang tersebut secara terang-terangan tapi rahasia. Vieara akan memberikan ke teman Ataar. Untungnya teman Ataar bisa di ajak kerja sama setiap hari membuat Vieara senang di saat Ataar memakan isi paperbang dengan senang. Berpikir temannya yang selalu memberikannya, alasan dari teman adiknya yang selalu memberikannya bekal roti.


Vieara tersentak saat teman bangkunya mengejutkannya. Temannya itu duduk di sampingnya seraya berkata. "Sampai kapan lo ngejar Ataar?"


"Sampai gue berhasil mendapat hatinya. Sampai gue menjadi pacar dan teman hatinya," jawab Viear. Temannya menghela napas dan geleng-geleng.


"Kainal sering menolak lo secara terang-terangan. Dan bisa-bisanya lo masih menyukainya. Cowok bukan Ataar doang."

__ADS_1


"Tapi yang kaya Ataar cuma satu," jawab Vieara. "Dia sering menolak pemberianku karena terlalu gengsi."


"Gengsi atau risih? Lo gak bisa membedakan gengsi dan risih? Gue cuma pengen yang terbaik buat lo beb," jelas Cindi.


__ADS_2