Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 65~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Bruk!


Kainal meringis, saat tubuhnya terjatuh ke lantai. Apalagi saat ini, dia tak memakai sehelai benang pun. Niatnya buka puasa, karena hari ini Ezar sudah berumur satu bulan sepuluh hari.


Bukannya mendapatkan buka puasa, dia malah di dorong oleh sang istri, di sebabkan Ezar tiba-tiba saja menangis.


"Kenapa, anak umi tiba-tiba, bangun sih?"


Fisha mencium hidung mancung Ezar dan menimbangnya ke mana-kemari, tanpa sadar kalau saat ini tulang ekor suaminya hampir retak. Bahkan, abinya Ezar susah untuk berdiri dari sana.


Ezar menjadi rewel. Bayi itu menangis sangan kencang membuat kedua orang tuanya khawatir.


Kainal buru-buru berdiri dan memasang kembali celananya, dan buru-buru mengambil ahli putranya.


Dia menepuk perlahan bokong sang anak, dengan berjalan memutari kamar.


Grandma dan grandpanya yang mendengar tangisan cucunya langsung berlari ke kamar sang anak.


Untungnya, pakaian Fisha belum kebuka hanya Kainal.


Harumi yang datang, dan langsung mengambil ahli cucunya, dan mencoba menenangkannya.


"Kainal, Ezar kenapa?" tanya Fisha tidak tega melihat anaknya terus menangis.


"Ezar udah kamu beri asi?" tanya Vier membuat menantunya mengangguk.


Beberapa menit kemudian, akhirnya Ezar berhenti menangis, tapi tak tidur. Kainal hanya bisa bersabar, kali ini sepertinya dia tak jadi buka puasa, karena ulah anaknya.


"Ezar, kamu mau mengerjai abi?" tanya Kainal, di saat anaknya itu tak berhenti menyusu.


"Sabar, abi," ucap Fisha.


"Aku udah sabar sayang, mau sesabar apa lagi?"


"Mau gimana lagi? Kamu ingin memarahi anakmu? Bukan aku kan yang tak ingin memberimu," ucap Fisha.


Kainal hanya menghela napas lalu merebahkan badannya, dia memegang tangan mungil putranya, sehingga Ezar berhenti menyusu dan menatap ke arahnya.


Fisha menidurkan anaknya di dekat Kainal. "Kayanya, kamu ada saingan baru, sayang."


Kainal mengangguk. Kali ini saingannya anak sendiri lagi.


Di saat Ezar udah tidur, begitupun dengan sang abi yang menunggu anaknya tidur, malah ikutan tertidur.


Fisha memakai'kan suami dan anaknya selimut, lalu dia beranjak ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.



Sesudahnya, dia menatap suami dan anaknya yang tidur begitu lelap. Dia mencium pucuk kepala Kainal lalu beralih ke Ezar.


"Rumahku," ucap Fisha.


Kainal membuka matanya dan berbalik, dia tersenyum mendapati istrinya.


"Ganggu, ya?"


Kainal menggeleng. Dia beranjak bangun, memeluk Fisha dengan mata yang memerah, menahan air mata.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Fisha mengusap lembut rambut Kainal, yang sedang memeluk pinggangnya.


"Kangen," jawab Kainal.


Fisha memegang kedu pipi suaminya, dan menyuruhnya mendongak ke atas.


"Maaf, ya. Aku gak bisa bisa ngasih hakmu, padahal hari ini kamu udah bisa melakukannya. Bokongnya masih sakit?"


Kainal menggulungkan bibirnya, seperti ingin menangis. Bahkan, matanya sudah berkaca-kaca.


"Gini amat, punya dua bayi."


"Mau hug."


Kainal mengambil anaknya, dan menidurkannya di rank bayi.


"Abi mau manja-manja dulu, kamu jangan ganggu." Usai mengatakan itu, dia kembali ke atas ranjang, dan memeluk istrinya.


"Mau apa?" tanya Fisha. "Besok aja, ya? Aku capek banget."


Kainal menghentikan aksinya yang ingin membuka pakaian yang di gunakan Fisha.


"Besok aja, ya?" tanya Fisha membujuk. Kainal hanya menganggu, tak mungkin juga mereka melakukannya di saat keadaan seperti ini.


💗💗💗💗💗💗💗💗


Keesokan paginya, keluarga kecil itu, jalan-jalan keluar rumah. Saat ini, Fisha akan ke Mall bersama dengan suami dan anaknya.


"Sayang," panggil Kainal.


Orang-orang yang lewat, biasa mengusap pipi Ezar sekilas, karena gemas.


"Lucu anak abi, makanya semua orang gemass," seru Kainal mencium pipi putranya.


Usai berbelanja, mereka mampir dulu ke rumah grandpa Altar.


Aisha berlari mengambil cucunya yang berada di gendongan Fisha.


"Papa, lihat siapa yang datang," seru Aisha berlari kecil ke arah suaminya yang berada di ruang keluarga.


Altar tersenyum dan berdiri, mendekati cucunya yang berada di gendongan Aisha.


"Enteng banget." Gemass Altar mencium bertubi-tubi pipi Ezar.


"Jangan di cium mulu, merah pipinya grandpa," tegur Fisha.


Ezar hanya menggoyangkan kaki dan tangannya dan tersenyum ke arah grandpanya.


Mereka semua tertawa membuat Ezar kaget dan menangis.


"Astaga, maaf ya. Cucunya grandma," bujuk Aisha membawa cucunya pergi dari sana.


Dia akan membawanya ke kamar Ataar, yang belum bangun sampai jam segini. Anak itu pulang larut malam.


"Ayo kita gangguin om kamu, dia gak mau bangun dari tadi. Kamu harus bangunin dia, ya?"


Aisha membuka pintu kamar putranya, dan berjalan masuk. Dia duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Dan menidurkan Ezar di atas badannya. Air liur Ezar membasahi tubuh kekar itu, apalagi goyangan Ezar membuat lelaki itu terusik.


Ataar mengejapkan matanya dan menatap ke arah langit-langit kamar.


"Eh, ada tuyul," ucap Ataar spotan.


"Tuyul-tuyul, dia cucunya umi!" tegas Aisha.


Ataar beranjak bangun, dan menggendong keponakannya. Baru ingin di cium, Ezar menangis membuatnya panik.


Aisha mengambil buru-buru cucunya dari gendongan Ataar.


"Dia tahu, kalau omnya mau taik kuda," sindir Aisha. Buktinya di saat gendongannya, Ezar terdiam.


Ataar mengerucut bibirnya lalu mencium wajah Ezar dengan brutal. Sehingga bayi itu menangis kencang.


"Ataar," teriak Aisha melempari anaknya dengan bantal sofa.


Ataar pun menghindar dan masuk ke dalam kamar mandi, setelah membuat anak kakaknya menangis.


"Kasihan cucu aku, pipinya jadi memerah."


Ezar hanya mengoceh tak jelas, mungkin maksudnya, memerahi Ataar yang menciummya dengan brutal sehingga pipinya memerah.


Kainal dan Fisha begitu lama di sana, Ataar menyuruh kakaknya bermalam di sana, sehari saja, tapi Kainal ada kerjaan yang penting membuatnya tak bisa mengikuti kemauan adiknya.


Ezar membalikan badannya ke arah leher sang abi, di saat Ataar mendekatinya.


Dia menangis melihat uminya, Fisha pun mengambil putranya.


Fisha memasukan Ezar di dalam kerudungnya, untuk menyusuinya.


Usai menyusui, mereka berdua izim untuk pergi. Ataar masih ingin bersama dengan keponakannya, tapi harus di pisahkan.


"Dada." Aisha melambaikan tangannya di Kainal sudah ingin melajukan mobilny pergi dari sana.


Di perjalanan Ezar tertidur sampai mereka di rumah. Anak itu memang biasanya tidur pagi, begadang malam."


kelima teman Kaira datang ke rumah. Ezar sepertinya sudah capek di perlakukan seperti ini.


"Ya Allah, lucu banget," puji Devon.


"Von lo nonis, njir."


"Astaghfirullah, puji Tuhan," ucap Devon.


"Udah deh, Dev. Terserah lo."


"Celumbak."


"Pantas Tof dia Ketawa. Muka lo miri pulu-pulu,"celetuk Celi.


"Sialan, lo. Gue nih badut."


"Emang boleh sebadut ini?" tanya Kaira.


"Badut tuh buat menghibur, gimans Zar?" tanya Saifara pada Ezar yang bel tahu apa-apa, bahasa mereka pun Ezar tak mengerti.

__ADS_1


__ADS_2