Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 63 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Kainal dan Fisha menghela napas. Para keluarga hebohya datang semua.


"Cucucu." Aisha berlari dan mendekati brankar Fisha.


"Umi boleh ambil?" tanya Aisha meminta izin, kalau tak di izinin pun bodoh amat.


"Papa lihat, lucu banget," seru Aisha kepada sang suami.


"Coba dong, papa yang gendong," ucap Altar. Aisha yang awalnya sulit memberikan bayi tampan itu pada suaminya, tapi mau tak mau Aisha memberikannya.


"Halo sayang, aku grandpa mu yang paling dermawan," ucap Altar.


"Jangan percaya," sahut Vier.


"Sirik aja lo, lo lihat ada gak yang mirip lo?" tanya Altar.


Vier mendekati sahabatnya dan menunjuk bibir cucunya. Seraya tersenyum bangga.


"Cuma itu doang."


"Yang penting ada, dari pada lo gak ada," ketus Vier.


Altar mencibikkan bibirnya dan membawa cucunya agak menjauh dari Vier.


Bayi itu menangis membuat Altar panik. Evan datang dan mengambil ahli bayi itu.


"Udahlah, dia gak mau sama lo. Dia cuma mau sama Grandpa Evan, yakan Nak?" tanya Evan menimbang bayi itu kemana-kemari.


"Eh ketupat gosong, gak usah ngasut cucu gue, lo," ketus Altar mencoba mengambil cucunya dari Evan.


Fisha memegang tangan suaminya, dia menyuruh mengambil putranya, dia takut di saat mereka mempeributkannya. Bayinya tak sengaja jatuh.


Kainal yang tahu kode istrinya mendekati kedua pria itu. Dia memgambil bayinya.


"Kasian anak aku, nanti dia udah trauma sebelum dewasa," ucap Kainal mengambil anaknya dan membawanya ke istrinya.


Para bapak-bapak kece menghela napas.


"Kalian udah memberinya nama?" tanya Kiara istrinya Evan.


Hanya Evan yang datang kali ini, kedua sahabatnya sedang sibuk. Mungkin akan datang besok atau sebentar.


"Ezar Faruq Khattab," jawab Kainal.


"Artinya?" tanya Harumi.


"Laki-laki yang sangat berharga dan menjadi pengkhotbah tentang pembeda kebaikan dan keburukan kehidupan," jawab Fisha. Mereka memang sudah menyiapkan nama di jauh-jauh hari. Untuk anak laki-laki atau perempuan.


"Di panggil apa nih?"


Fisha dan Kainal saling memandang satu sama lain."Ezar."


Mereka semua mengangguk pelan.

__ADS_1


"Halo Ezar, ini unty sayang. Selamat datang di dunia tipu-tipu, jangan cepat besar ya sayang. Banyak cobaan," bisik Kaira.


"Bisikin apa untuk anakku?" tanya Kainal.


"Gak ada, kepo banget. Inikan urusankan ku dan keponakanku. Rahasia kita berdua yakan, sayang?"


Kaira mencium pipi Ezar dengan gemass.


Mereka mengobrol terlalu lama, sampai Evan dan sang istri izin pamit pulang. Begitu pun dengan kedua orang tua Fisha.


"Kami pamit, ya," ucap Aisha mencium pucuk kepala anaknya.


"Kainal, jaga anak dan istrimu."


Kainal mengangguk. Sedikit lama kepergian sang mertua, kedua orang tuanya pun izin untuk pulang besok akan ke sini lagi.


Fisha menyuruh Kaira tinggal, agar ada yang menemaninya mengobrol di saat Kainal sedang pergi sebentar. Lagian pula, Kaira tak ingin pulang, ingin terus bersama dengan Ezar.


Kaira mengusap lembut pipi Ezar di atas rank bayi. Dia sangat gemass dengan keponakannya.


Kainal mencium bibir istrinya sekilas dan tersenyum.


"Sayang, benar aku tadi takut banget melihat kamu di persalinan. Aku takut terjadi apa-apa kepada kalian berdua.


"Aku merasa sakit banget, tapi bahagianya tak ada tanding, bi."


Kainal mengangguk. Kainal memeluk istrinya, karena sang adik sedang fokus dengan anaknya. Jadi dia tak takut peluk-pelukan maupun cium ciuman dengan sang istri.


"Sayang, asi kamu membanyak," ucap Kainal memperhatikan gunung istrinya. "Nyerih ya?"


"Yaudah di peras aja sayang, Ezar juga udah kenyang nyusunya," saran Kainal.


"Sakit Nal kalau di pencet," ucap Fisha.


"Mau abi bantu?" tanya Kainal membuat pipi Fisha merona.


"Ih, ada Kaira lo!"


Kainal terkekeh. "Bercanda sayang, tapi kalau gak di peras akan sakit. Bentar ya, abi cariin botol dulu di suster."


Fisha mengangguk. Kainal pun keluar dari ruangan. Selimut yang di berada di badan Fisha, nyaris basa semua karena asinya.


"Ezar, kamu gak mau nyusu sayang? Punya umi nyerih banget," gumam Fisha merasakan perih lumayan.


Kainal kembali keruangan membawa botol.


"Caranya gimana?" tanya Fisha.


"Biar aku bantu?"


Fisha mengangguk. Kainal sedikit mendekat kearah sang istri dan mencoba memeras, menurunkan asi istrinya ke dalam botol.


"Tahan ya sayang, kalau gak di keluarin juga semakin perih. Abi udah nawarin buat bantu kamu malah nolak."

__ADS_1


"Diam deh, kamu cerewet banget," ketus Fisha.


Ezar menangis membuat Fisha sedikit bernapas lega. Kainal mengambil tubuh anaknya dan memberikannya pada istrinya.


Fisha bangun dan mendudukan bayinya di pangkuan. Fisha sedikit lega. Anaknya begitu pengertian.


Ezar menyusu dengan lahap. Wajahnya sangat gemas.


"Pelan-pelan pak sopir," seru Kaira kepada keponakannya yang mengisap asi uminya dengan rakus dan cepat.


Hati Ezar 'Dih punya-punya gue, lo yang sewot.'


💗💗💗💗💗💗


Vieara terkejut di saat ada yang merangkulnya dari belakang. Gadis itu sedang berada di pantai, dimana tempat itu sering kali di kunjungi oleh Ataar dan dia terus saja mengikut lelaki itu. Vieara sangat merindukan Ataar, lelaki yang dia kejar sampai sekarang.


Vieara menoleh dan terkejut. Dia mendorong badan yang merangkul pundaknya.


"Lo siapa? Mirip banget sama Ataar." Vieara memukul kepalanya, dia mencoba menyadarkan dirinya kalau itu hanya khayalannya saja. "Siapapun sadarkan, aku," ucap Vieara.


"Ra, gue Ataar," jawab Ataar.


"Dih gak! Lo bukan Ataar," celetuk Vieara berdiri dan ingin pergi. Namun, Ataar cepat-cepat menghentikannya.


Viera dengan berusaha mengatur napasnya, karena lelaki itu memeluknya dari belakang.


"Gue Ataar, maafin gue," bisik Ataar tepat di telinga Vieara, sehingga gadis itu merinding.


"Kamu kemana aja? Kamu gak tahu, aku menunggumu di saat kamu mengirimiku pesan ingin bertemu. Aku menunggumu seharian di sini."


Ataar melepaskan pelukannya dan menyuruh Vieara menatap ke arahnya.


"Maaf gue mengingkari janji, tapi benar itu gak sengaja."


Vieara menghapus air matanya, entah mengapa dia seakan merasakan kekecewaan bercampur rindu dan senang bisa kembali bertemu dengan Ataar.


"Kamu kemana aja?" tanya Ara. "OK, aku tahu jawabanmu. Aku tak akan mengejarmu lagi," ucap Vieara berbalik badan dan ingin melangkah pergi, tapi tangannya kembali di tarik.


"Maaf, sebelumnya gue di Australia sedang berobat," ucap Ataar.


"Berobat? Badboy kaya kamu bisa sakit?" tanya Vieara ambigu.


"Lo Kira, Badboy gak bisa sakit?"


Vieara perlahan menyentuh kedua pipi Ataar. "Kamu sakit apa?" tanya Ara.


"Gue gak bisa memberitahu lo. Yang jelas aku ke austalia untuk berobat."


Vieara mengangguk. "Kamu mau bertemu dengan ku karena apa?" tanya Ara.


Ataar langsung meraih tangan Vieara. "Ak- Maksudnya gue."


Are mengerutkan keningnya. "Apa?"

__ADS_1


Ataar mengusap telinganya yang memerah, entah mengapa dia sangat sulit mengatakanya. Padahal dia sudah menghafal kata-kata yang akan dia ucapkan pada Vieara. Namun, tiba-tiba saja dia lupa.


__ADS_2