Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 78 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Keadaan Kainal sudah membaik, dia bahkan sudah kembali pulang ke rumah. Udah bisa mengajak anaknya bermain.


Mereka pun tak tinggal lagi bersama di rumah orang tua. Kainal membeli rumah, hasil tabungannya dulu yang memang dia simpan untuk membeli rumah. Walauapun rumah itu tak semewah rumah orang tua dan mertuanya, tetapi bagi Fisha, itu lebih dari cukup. Mempunyai tempat tinggal aja udah syukur.


"Abi," panggil Ezar berlari ke arah abinya yang sudah rapi untuk berangkat ke kantor.


Kainal menggendong putranya menuju ruang makan. Di mana istrinya sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.


"Pagi, sayang." Kainal mencium pipi Fisha dengan lembut dan duduk di kursi.


"Abi," panggil Ezar lagi membuat Kainal menoleh kebawah.


"Abi, Ejal ikut eljal, ya."


"Ezar masih kecil, belum bisa ikut abi kerja. Nanti kalau Ezar udah besar, abi akan mengajari Ezar untuk kerja ok? Ezar di rumah temanin umi. Kasihan umi kalau sendiri."


Ezar mengangguk.


Fisha tersenyum, dia menuangkan nasi ke piring suaminya.


Ezar merentangkan piringnya, ke arah Fisha. Dia meminta untuk di isikan juga. Fisha terkekeh dan menuangkan nasi ke piring putranya.


"Aci, umi." Ezar tersenyum.


"Sama-sama, sayang."


Ezar mencium punggung tangan abinya. Begitupun yang di lakukan Fisha.


"Hati-hati, mas," ucap Fisha. Fisha memang sudah mengganti nama panggilan untuk Kainal, dia juga berjanji akan memanggil 'mas' kalau Kainal sadar.


"Jangan bukain pintu, kalau itu bukan aku dan orang yang tak kamu kenal, ya? Kalau kamu ingin sesuatu telfon aku," peringat Kainal.


Fisha hanya mengangguk. Kainal pun memasuki mobilnya, dia melajukan mobilnya di saat Fisha sudah masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.


"Umi, tenapa umi cama Ejal ndak culu kelual cama abi?" tanya anak itu.


"Karena dunia luar jahat, sayang. Kita ikutin aja ya? Kita jalan-jalan keluar rumah, kalau abi di rumah." Tanpa banyak tanya Ezar mengangguk. Dia berlari ke sofa lalu menyuruh Fisha menyalahkan tv.


"Hole tayo," seru anak itu lompat-lompat di saat siaran tv menampilkan tontonannya.


"Hey tayo, hey tayo. Dia is ecil amah, eh tayo." Ezar menyanyi mengikuti lagu yang di janjikan di tv.


Saat lagu itu sudah berhenti, Ezar duduk dengan enteng di sofa lalu fokus menonton.


Fisha gemass sendiri melihat tingka putranya. Yang sangat aktif.


"Umi, tayo icu. wanal meyah."


"Itu warna biru, sayang."

__ADS_1


"Wanal, biyu?" tanya Ezar, Fisha mengangguk. Ezar beralih duduk di pangkuan uminya.


"Wanal meyah, icu ani."


Ezar terus berbicara dengan cerewetnya, Fisha hanya iya-iya aja.


Fisha mendongak kebawah, ternyata putranya sudah tertidur di pangkuannya. Fisha pun mengangkatnya tubuh Ezar naik ke kamar.


Setelah menidurkan Ezar, Fisha masuk ke dalam kamar mandi. Untuk mengambil pakaian kotor mereka bertiga, untuk di cuci.


Sebenarnya mereka ada mesin cuci, tapi Fisha mencucinya dulu menggunakan tangan lalu memasukannya ke mesin cuci untuk di keringkan. Menurutnya, kalau cuci di mensinya masih ada daki yang menempel. Dan pakaian belum terlalu bersih.


Beginilah keseharian Fisha, lagian dia juga bosan kalau tak bekerja di rumah. Padahal Kainal sudah meminta untuk memperkerjakan pembantu, tapi Fisha melarang suaminya.


Usai menjemur pakaian, Fisha kembali membersihkan semua sudut rumahnya, rumah itu tak terlalu luas dan besar. Namun, mempunyai dua lantai.


"Capek juga, iya, tapi kalau tidak di bersihkan bakal kotor dan jorok. Lagian lebih capek duduk seharian."


Fisha menuju dapur dan mengeluarkan sebotol air dingin, dia mengambil gelas lalu duduk di kursi meminum air itu.


Dia mengipas wajahnya. Bahkan menaroh botol itu di wajahnya.


Saat asiknya merilekskan diri. Ponsel Fisha berdering, ternyata suaminya memulai panggilan video . Lantas saja suaminya itu menghubunginya, karena waktu makan siang.


📱"Asslamualaikum," ucap Kainal.


📱"Walaikumsslam."


📱"Gak ah, aku gak pake kerudung. Aku juga belum mandi, masih kusam."


📱"Coba di lihatin wajahnya, sayang. Gak ada orang kok, aku masih di kantor. Aku gak keluar makan, cuma pesan makanan aja."


Fisha pun membalikan kameranya. Terlihat wajahnya.


📱"Kamu kok makin menggoda kalau lagi di kuncir rambutnya? Mana pake daster lagi, sepertinya aku akan pulang cepat untuk memakanmu."


📱"Mulutnya!"


Kainal hanya terkekeh gemass, melihat wajah istrinya di tengkuk.


📱"Ezar mana, sayang?" tanya Kainal.


📱"Lagi tidur."


📱"Iyaudah deh, mas tutup dulu ya? Gak usah nunggu aku pulang." Kainal memonyokkan bibirnya, Fisha pun mengerutkan keningnya.


Fisha tertawa, karena baru nyadar apa yang di maksud suaminya. Dia pun mencium layar ponsel, terus buru-buru mematikan sambungannya duluan.


Malah Fisha yang memerah pipinya. Dia beranjak dari sana, menuju kamar, untuk menemui putranya yang tidur.

__ADS_1


🐰🐰🐰🐰🐰🐰


Malamnya, Fisha sengaja tak menyiapkan makan untuk Kainal, karena Kainal berpesan kalau dia akan lembur.


"Umi, abi beyum ulang?" tanya Ezar yang di pakaian baju tidur.


"Abi belum pulang masih kerja, kamu bobo dulu aja, besok ketemu abi. Besok abi libur kita akan jalan-jalan. Ezar mau?"


"Au umi." Ezar tidur di ranjang sambil memeluk boneka Spongebobnya.


Fisha mengelus lembut rambut anaknya, memastikan Ezar sudah tertidur. Dia beralih ke balkon.


Ia, melihat mobil memasuki perkiraan rumah, yang tentunya mobil sang suami.


Fisha berlari menurungi anak tangga, dan memeluk suaminya. Dia mengambil tas dan jas Kainal.


Mereka berjalan bersama menaiki kamar. Dengan Kainal memeluk pinggang istrinya.


"Capek? Mau aku buatin susu?" tanya Fisha melepaskan dasi suaminya.


"Gak usah, kasih jatah aja," ucap Kainal.


"Kamu gak capek?" tanya Fisha mencoba mengindari kemauan suaminya.


"Gak capek."


"Gimana kalau Ezar bangun?" tanya Fisha lagi.


"Kita di kamar sebelah," jawab Kainal.


"Sama aja, nanti Ezar bangun dan mencari kita?"


"Yaudah kita di sofa."


"Tap-"


"Kita pakai, selimut. Ezar gak akan melihat kita kalau lampu mati. Lagian Ezar kalau bangun tengah malam cuma minta minum terus tidur lagi."


"Kita di kamar sebelah, saja," ucap Fisha pasrah pada akhirnya.


Kainal pun menaroh dengan pelan, jas dan tasnya di ranjang. Dan menggendong istrinya keluar kamar, dia sengaja tidak menutup pintu, takut Ezar bangun.


Kainal menidurkan dengan pelan Fisha ke ranjang, dia melepaskan semua pakaian mereka, dan memulai aksinya.


"Pelan-pelan!" peringat Fisha. Dia menggigit bibir bawahnya berusaha untuk tidak mengeluarkan suara lucnuknya, tapi malah Kainal yang mengeluarkannya, di saat mereka sudah menyatuh.


Usai bercintaan, mereka kembali ke kamar. Ternyata Ezar terbangun saat kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar.


"Abi, aus," ucap Ezar. Kainal pun mengambilkan anaknya minum.

__ADS_1


"Abi, tenapa lehel abi meyah-meyah?" tanya Ezar.


__ADS_2