Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 62 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Hari terus berlalu, kini usia kandungan Fisha sudah memasuki bulannya. Tentang masalah penororan, sudah tak mereka dapatkan beberapa bulan terakhir ini. Mungkin, Altar dan lain sudah mengetatkan pengawasan membuat seseorang itu susah mencapai tujuannya.


Walaupun begitu, mereka masih waspada. Jangan sampai musuh tiba-tiba menyerang.


Kini bumil tengah berbaring di ranjang, kakinya membengkak, karena kehamilannya. Hal itu tak lumput dari Kainal, lelaki itu santiasa berada di samping istrinya untuk memijat kaki pegal dan bengkak itu.


"Sakit?" tanya Kainal.


Fisha menggeleng. "Hanya sedikit," jawab Fisha. "Udah jangan di lanjutin, kamu pasti capek baru pulang kantor, sana mandi biar segar."


Kainal beranjak berdiri dan mendekati istrinya. Fisha pun mencium bibir Kainal sekilas.


Lelaki itu tersenyum dan gemass dengan istrinya sendiri.


"Abi, mandi dulu ya sayang. Kamu gak boleh rewel!" peringat Kainal mencium perut Fisha dan mengambil handuk yang berada di sandaran ranjang.


Fisha tersenyum menatap suaminya yang sudah memasuki kamar mandi.


"Kok, aku deg-degan," gumamnya memegang perutnya yang sebentar lagi akan kempes itu. "Umi pasti akan rindu saat mengandungmu, sayang, tapi umi juga bahagia sebentar lagi. Umi akan bertemu dengan anak umi," ucap Fisha.


Tiba-tiba saja, perut Fisha seakan mules. Dia beranjak diri, mencoba berjalan-jalan di dalam kamar.


"Duh, kok kaya gini? Ini gak biasanya aku rasain," gumam Fisha di saat punggungnya sangat pegal.


"Kainal," panggil Fisha. "Perut aku mules," rintih Fisha mengobrak pintu kamar mandi.


Kainal yang baru saja selesai pakai sabun, langsung saja memakai bokser dan celananya serta handuknya lalu buru-buru membuka pintu kamar.


"Eh, kenapa sayang?" tanya Kainal.


"Perut aku mules Kainal, kaya mau pipis," jawab Fisha mencengkram kuat lengan Kainal.


"Ka-mu, duduk dulu. Aku pake pakaian." Kainal mendudukan istrinya di sofa dan buru-buru berpakaian. Dia pun memakai'kan istrinya kerudung dan cadar.


Bodoh, kalau rambutnya acak-acakan saat ini.


"Kainal aku gak kuat please," teriak Fisha. Kainal pun langsung menggendong istrinya keluar dari kamar.


Vier dan Harumi berdiri di saat melihat Kainal menggendono Fisha dengan keadaan panik.


"Perutnya sakit," jawab Kainal berlari keluar rumah. Vier pun mengekor di belakang putranya.


Vier menyuruh Kainal menemani Fisha di belakang. Dia yang akan menyetir.


Harumi berlari menaiki kamar anaknya kembali untuk mengambil peralatan yang sudah di siap dari jauh-jauh hari.


Dia mengetok pintu Kaira.

__ADS_1


"Kenapa bunda?" tanya Kaira.


"Cepatan, ayo cepat." Harumi menarik tangan putrinya sebelum gadis itu bertanya.


"Bunda, aku gak pake kerudung dan cadar," ucap Kaira membuat Harumi berhenti dan menyuruh Kaira segera kembali ke kamar untuk siap-siap.


Sesudahnya siap-siap, Harumi menyuruh anaknya mengantarnya ke rumah sakit di mana Fisha di bawa.


"Ngebut dong, gimana kalau bunda gak dengar suara tangisan cucu bunda?" tanya Harumi menyuruh anaknya ngebut membawa motor.


"Bunda, kita bisa mendengarnya setiap hari," ketus Kaira. Sebenarnya ini dia sudah mengebutnya di atas rata-rata bundanya aja yang merasa lambat. Walaupun dia juga ingin mendengar suara tangisan pertama keponakan pertamanya, pewaris utama Viergroup dan Geutamagroup.


Di lain sisi Fisha tengah berjuang mengeluarkan bayinya di tuntut oleh sang suami.


Bumil itu seberusaha mungkin menjerit. Kainal mencium pucuk kepala istrinya.


Fisha melipat bibirnya dan mencakar lengan Kainal. Bahkan menarik rambut lelakinya.


"Atur napas dulu, Mama," ucap dokter.


Fisha mengatur napasnya. Dia menoleh ke Kainal, Kainal pun melap kening istrinya yang di penuhi keringat.


Fisha kembali menjerit. Sehingga tangisan bayi terdengar seisi ruangan.


"Alhamdulilah, anaknya tampan," ucap dokter tersenyum.


"Terima kasih, sayang," bisik Kainal menintihkan air mata. Dia tidak menyangka dia sudah menjadi seorang ayah.


Fisha menutup matanya secara perlahan. Mungkin efek kecapean.


"Eh, sayang...." Kainal menepuk pipi istrinya. "Sayang kamu kenapa?" tanya Kainal menguncang tubuh istrinya.


"Dokter istri saya kenapa, dok?" tanya Kainal merasa panik.


Dokter yang asik membersihkan bayi Fisha dan Kainal menoleh. Dia mendekat dan memeriksa Fisha.


"Gak papa Tuan, dia cuma pingsan. Sebentar lagi sadar. Biarkan dia beristirahat, " ucap sang dokter. "Tuan bisa mengadzani putra anda."


Suster itu memberikan bayi mungil ke arah Kainal. Dengan tangan bergetar, Kainal mencoba mengambil putra kecilnya.


Kainal meneteskan air mata, dia mencium hidung sang anak. Dan membisikan adzan di telinganya.


Tak henti-hentinya. Ayah baru itu mengucapkan terima kasih.


"Tuan, kami akan memindahkan ibunya ke ruang rawat."


Kainal mengangguk. "Siapkan ruangan VVIP, dok."

__ADS_1


Dokter itu mengangguk. Setelah memakai'kan Fisha pakaian yang di siapkan rumah sakit.


Dokter bahkan menyuruh suster untuk menyiapkan cadar dan kerudung buat Fisha. Dia tahu ibu baru itu berpakaian tertutup.


Kainal menggendong putranya keluar dari ruangan. Vier dan Harumi yang berada di luar ruangan langsung mendekati Kainal.


Kainal menyuruh mereka menjauh dulu, biarkan istri dan anaknya berada di ruang rawat VVIP.


"Ya Allah, mas. Kita udah jadi nenek dan kakek," ucap Harumi melihat putranya menggendong cucu pertamanya.


Sesampainya di ruang rawat, Vier mengambil ahli cucunya dari Kainal.


"Ayah, hidungnya mirip aku," seru Kaira melihat keponakannya.


Vier dan Harumi hanya terkekeh. Wajah bayi itu walaupun masih merah, udah di lihat lebih mirip ke ibunya. Hanya bagian tertentu yang mirip ke Kainal ataupun keluarganya.


"Mirip Fisha banget," ucap Harumi mengambil ahli cucunya. "Ganteng banget sih cucunya grandma," ucap Harumi gemas mencium hidung merah bercapuran putih itu.


Bayi itu menggoyangkan badannya kiri-kanan, tanda-tanda akan menangis.


Harumi pun berdiri dan menimbang cucunya. Fisha sebelum sadar, kalau bayi itu nangis udah di pastikan akan minta menyusu.


Kainal hanya tersenyum melihat kedua orang tuanya dan adiknya bahagia saat ini. Dia beralih menatap Fisha sejenak.


Tangannya membelai rambut istrinya. "Entah aku berterima kasih pake gaya gimana lagi. Kamu benar-benar memberiku segalanya."


Beberapa menit berlalu, kini Fisha telah sadar. Pertama-tama dia di beri minum dan menyuruh menyusui putranya.


Bayi itu mengisap susu Fisha dengan rakus, seakan haus banget.


"Aduh pelan-pelan sayang. Nanti kamu keselek," seru Fisha.


Kainal masih santiasa di samping Fisha.


"Makasih," ucap Kainal.


Fisha tersenyum lalu mengangguk. "Iya sayang."


Bayi mungil itu berhenti menyusu, dan melepaskan milik Fisha.


Fisha pun menutup susunya dan mengusap-usap dengan lembut kepala putranya.


"Mirip kamu," ucap Kainal.


"Hahaha, tapi ada yang mirip kamu juga," jawab Fisha.


Bayi itu memperlihatkan senyumnya sedikit membuat Fisha menutup mulutnya.

__ADS_1


Pintu terbuka terlihat segerombolan orang memasuki ruangan sehingga kedua pasangan tersebut menoleh.


__ADS_2