
Fisha menunggu di luar ruangan, ruangan operasi belum terbuka. Dia begitu khawatir dengan suaminya.
Dia mengusap air matanya, Altar duduk di samping sang putri dan mencoba menenangkannya.
"Pah." Fisha mendongak dan memeluk Altar, menangis sejadi-jadinya di sana. "Kainal bakal baik-baik aja kan? Dia tak akan pernah meninggalkanku bersama Ezar."
"Iya dia akan baik-baik saja," ucap Altar. Padahal saat ini dia juga sedang gusar.
"Aku takut, pah," balas Fisha.
Pintu ruangan terbuka membuat mereka langsung beranjak berdiri.
"Dokter gimana keadaan suamiku?" tanya Fisha dengan tangan yang bergetar.
"Operasinya berjalan dengan lancar, peluru yang berada di dalam bagian perutnya sudah bisa di keluarkan. Namun..."
"Namun apa, dok?" tanya Fisha sudah memegang tangan sang dokter.
"Pasien mengalami koma, walau begitu. Masih ada sedikit harapan dia akan bangun dari koma," ucap dokter.
Setelah mengucapkan itu dokter kembali masuk untuk memindahkan pasien ke ruangan VVP yang sudah di pesan oleh Vier.
Altar memegang putrinya yang hampir tumbang. Fisha menghela napas dan melihat suaminya keluar dari ruangan operasi yang akan di pindahkan ke ruangan rawat.
Fisha mengenggam tangan suaminya, wajah yang pucat namun begitu tak mengurangi kadar kegantengannya.
Sesampainya di ruangan, Fisha memeluk tubuh Kainal dan menangis di sana.
"Jangan terlalu mengganggu pasien, tapi anda bisa mengajaknya berbicara dengan hal positif."
Fisha menoleh lalu mengangguk, dia duduk di samping brankar suaminya, dia genggam tangan itu.
"Kainal, kamu harus bangun, kamu gak kasihan Ezar dan aku? Anak kita nangis terus," ucap Fisha mencium dengan lembut punggung tangan yang lemas itu.
"Sakit banget ya? Ayo bangun, kita kasih pelajaran orang yang buat kamu seperti ini," ucapnya lagi.
"Kamu gak maukan aku menangis? Makanya ayo bangun. Kamu bilang kamu akan selalu ada di sisiku, aku membutuhkan mu."
Fisha melap air matanya dan beranjak dari sana. Dia memperbaiki posisi selimut yang di pakai suaminya. Dia mengciup pucuk kepala itu lalu keluar dari ruangan.
Dia baru ingat dengan anaknya, bayi itu pasti membutuhkannya untuk menyusu.
"Ayah, aku titip Kainal ya. Fisha mau kembali dulu," sahutnya.
"Kamu tunggu di sini saja, Ataar pergi untuk mengambil Ezar.
__ADS_1
Fisha menghela napas lalu mengangguk, dia duduk di kursi lalu meremas jarinya sendiri.
Saat Ataar datang menggendong Ezar, Fisha berdiri dan mengambil ahli putranya.
"Umimi," ucap Ezar memeluk leher uminya. "Nen."
"Iya sayang, maafin umi ya. Umi gak kasih kamu nen," ucap Fisha membawa anaknya ke dalam ruang inap abinya.
"Abih," panggil Ezar menunjuk abi yang tertidur di brankar.
Fisha di sofa lalu membuka resleting gamisnya, dan memberinya asi. Dengan rakus Ezar mengisapnya.
Dia membelai rambut anaknya. Dia meringis di saat Ezar mengingit punyanya. Dia memukul bokong anaknya.
"Umi gak ngasih, kalau kamu gigit!" tegas Fisha mengancam.
Ezar melepaskan isapannya lalu mendongak menatap uminya. Dia menempelkan tangan mungilnya di mulut Fisha lalu menggeleng.
"Abih," teriak Ezar memberontak dari gendongan uminya dan mengangkak ke arah brankar abinya.
"Abih," panggil Ezar, Fisha mengusap air matanya lalu mendekati putranya.
Fisha menggendongnya. "Abi lagi tidur, jadi Ezar gak boleh ribut ya? Dengerin kata umi," ucap Fisha mencium pipi putranya dan membawanya keluar dari ruangan.
Vier mengangguk dia mengambil cucunya.
"Ayah dan Papa pulang aja, udah malam juga. Nanti biar aku yang di sini, kalian jaga anak Fisha aja."
"Kalau kamu ingin pulang bilang ya, Ayah atau bunda akan menggantikanmu."
Fisha mengangguk. "Ayah baik-baik aja?"
Vier mengangguk. "Iya, ayah gak papa. Pelurunya gak masuk kok. Soalnya ayah pake pengaman."
Akhirnya hanya Fisha yang berada di sana. Fisha tertidur di samping brankar suaminya sambil menggengam erat tangannya. Hari mulai larut sehingga Fisha tertidur di saat asik bicara di depan Kainal yang entah menangkap atau tidak.
Hari demi hari, Fisha masih sanantiasa ke rumah sakit. Bahkan bisa di bilang dia berpindah tempat di sana. Dia pulang hanya untuk menyusui Ezar lalu kembali lagi ke rumah sakit.
Kini sudah 4 bulan Kainal koma, dan tak ada tanda-tanda bahwa lelaki itu akan bangun dari komanya.
Saat ini Fisha sedang melap tubuh Kainal menggunakan Kain basah. Setiap hari Fisha akan membersihkan seluruh badan suaminya.
"Kamu kapan sadarnya? Aku menunggumu, kamu tak kangen denganku dan Ezar? Apa kamu gak capek tidur mulu?" tanya Fisha. "Ezar sekarang sudah bisa jalan, dia udah gak mengasi tapi udah makai dot. Dia sangat pandai berucap, dia terus mencarimu. Aku sampai kehabisan kata untuk membohonginya."
"Jangan kamu buat aku menunggu lagi begitu lama, kamu tahu kan gimana rasanya menunggu? Kalau boleh kamu bisa memberiku harapan untuk bisa mengyakinkan kalau kamu akan pulih."
__ADS_1
"Kamu pernah bilang, kamu tak akan melukaiku tak akan meninggalkanku."
"Ayo bangun demi aku," ucap Fisha menangis sampai tangan Kainal basah karena air matanya. "Aku capek Kainal, aku gak sanggup mengurus Ezar hanya sendiri."
"Banyak lelaki yang datang untuk mengganti posisimu, tapi aku masih menunggumu. Maka bangunlah ku mohon."
Fisha menghapus air matanya di saat suster masuk ke dalam ruangan.
Suster itu akan memeriksa perkembangan Kainal.
Suster itu tersenyum ke arah Fisha. "Anda benar-benar hebat, setiap hari akan menemani pasien berbicara. Teruslah berbicara hal yang positif. Dia bisa mendengarnya dan segera sadar.
Fisha tersenyum lalu mengangguk. Se peninggalan dokter, Fisha kembali duduk dan mencium punggung tangan Kainal.
"Ayo Fisha, demi kesembuhan suamimu," ucap Fisha. "Walaupun orang selalu mengatakan tak ada harapan lagi buat dia sembuh. Kamu harus yakin, dia akan sembuh."
Pintu ruangan terbuka, seorang anak kecil berlari ke arah Fisha.
"Umih," panggil anak itu yang tak lain adalah Ezar, bocah satu tahun.
Fisha mengangkat tubuh mungil itu. "Bareng siapa ke sini?" tanya Fisha.
"cnle tal," jawab Ezar kalau dia ke sini bareng Ataar.
"Terus Uncle Ataarnya apa?"
"Ual," jawab Ezar lagi. "Abih bobo iyus," ucap Ezar memandang abinya.
"Umi, cenapa abih bobo iyus?" tanya Ezar.
"Kan abi capek cari uang buat Ezar."
"Epi, abih ndak bobo di umah, cenapa di umah akit?" tanya Ezar. "Acian abih, cape eljal, tapi ndk bobo di umah," omel balita itu.
"eljal apa?" tanya Fisha.
"Itu umi, eljal cali uan buat eli nen Ejal," jawab Ezar.
"Kerja, sayang," ucap Fisha.
"Cama aja."
"Ezar ke sini ketemu umi?"
Ezar menggeleng. "Ejal mau etemu abi."
__ADS_1