
Kainal menggendong istrinya ke kamar, karena di saat di jalan Fisha tertidur.
Dengan hati-hati dia menidurkan istrinya di ranjang. Tak lupa melepaskan cadar dan kerudung yang di gunakannya.
Dia memandang dengan intens wajah istrinya. Dia menghela napas. Ponselnya berdering, Kainal pun langsung menerima telfon dari adik iparnya. Baru kali ini Ataar berani menelfonnya.
Tak ingin membuat istrinya terusik dia mengobrol dengan adik iparnya di balkon kamar. Entah apa yang di katakan Ataar.
"Makasih, kalau begitu kita bertemu besok ya," ucap Kainal. Ataar berdehem di sebarang arah. Usai menelfon dia kembali ke kamar.
Kainal memilih mandi, karena merasa gerah. Sekalian sholat adzar.
Setelah mandi dia turun untuk mencarikan makan untuk istri dan dirinya. Di rumah hanya ada dirinya dan Fisha, orang rumah belum pada pulang.
"Nanas," gumam Kainal, dia menyembunyikan nanas tersebut, takut istrinya tiba-tiba menginginkan buah tersebut.
Calon ayah itu menghela napas. Dia membuka internet apa saja yang bumil bisa makan.
Dia membuka kulkas, mengeluarkan bahan masakan. Dia akan memasak untuk istrinya, tanda permintaan maaf dia sempat marah kepadanya tadi di kampus, sehingga membuatnya menangis. Dia memotong wortel, dan bahan yang lainnya. Di saat makanan itu jadi, dia tersenyum.
"Semoga rasanya tak megecewakan," gumam Kainal. Dia kembali membuat susu hangat buat istrinya, dan membawa nampan ke kamar.
Fisha masih tidur. Kainal terpaksa membangunkannya, karena wanita itu harus sholat.
"Sayang kamu makan dulu, yok," bisik Kainal mengusap pipi istrinya. "Aku udah masakin, makan keburu dingin."
Kainal mengecup singkat pipi tersebut. Dan menyuruhnya bangun, Fisha mengejapkan matanya. Menguceknya lalu menatap suaminya.
"Ayo cuci muka, dan segera laksanakan sholat adzar, waktunya hampir habis."
Fisha mengecup singkat bibir suaminya lalu berlari memasuki kamar mandi. Kainal yang mendapatkan serangan mendadak sekita membeku di tempatnya.
Kainal memegang bibirnya dan tersenyum. Dia udah seperti orang bodoh, tak henti-hentinya tersenyum.
Fisha duduk di sofa di saat telah selesai sholat. Dia memandang masakan suaminya.
"Gemass banget, ada lovenya di atas," ucap Fisha berbinar. Dia memotret makanan tersebut.
Kainal menahan tangan Fisha yang ingin mengambil mangkok tersebut.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Fisha.
"Aku yang suapin, panas soalnya," jawab Kainal, ia mengambil mangkok itu. Mengaduknya, meniup lalu menyodorkannya ke arah mulut sang istri.
Dengan perlahan Fisha menerima suapan Kainal. Dia menaikan jempol.
"Enak," puji Fisha menerima suapan Kainal lagi.
Merasa tak percaya dengan jawaban Fisha. Kainal menyicipi masakannya sendiri.
"Enak kan? Aku gak bohong," imbuh Fisha. Membuka mulutnya kembali, Kainal pun kembali menyuapi istri cantiknya.
"Gak lagi buat skripsi?"
"Bentar malam aja, aku malas," jawab Fisha. Kainal melap nasi yang berada di bibir istrinya.
"Sini aku yang suapin kamu," pinta Fisha mengambil mangkok itu. "Kamu pasti juga belum makan. Aku udah kenyang."
Kainal dengan antusias membuka mulutnya lebar-lebar, menerima suapan demi suapan yang Fisha berikan. Setelah makanan habis. Mereka pun minum, perut mereka sudah benar-brmar kenyang.
"Minum susunya dulu!" perinta Kainal. Menyodorkan segelas susu ke arah Fisha. Fisha mengambilnya dan menurut menghabiskan susunya.
"Kenyang dong," jawab Kainal ikut mengusap perut istrinya.
Kainal merapikan rambut istrinya kebelakang telinga. "Ibu dedek cantik banget, sampai buat ayah tergila-gila," puji Kainal memandang Fisha dengan tersenyum.
"Kamu jelek," ucap Fisha menjauhkan badan Kainal. "Semoga aja dedeknya mirip aku bukan kamu," ketus Fisha tiba-tiba merasa kesal pada Kainal.
Kainal mengangak mendengar ucapan istrinya. "Kalau mirip aku gak salah, kan aku yang buat," ucap Kainal.
"Gak boleh mirip!" tegas Fisha memayunkan bibirnya. "Kamu iyain aja kenapa? Kesal banget aku lihat muka kamu, pengen cakar," ketus Fisha gemass memberi tatapan tajam ke arah Kainal.
Kainal hanya menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal.
"Kamu kenapa jelek banget?" tanya Fisha. "Kok aku kesal lihat muka jelek kamu itu." Fisha menunjuk Kainal.
Kainal menarik napas dan membuangnya. "Kainal harus sabar ok," batin Kainal menyemangati dirinya sendiri. Dia tersenyum ke arah Fisha.
"Gak usah senyum, kamu jelek," ketus Fisha. "Sana cuci muka." Kainal pun dengan malas memasuki kamar mandi, mencuci wajahnya.
__ADS_1
"Kok makin jelek? Kamu bukan suamiku ya?"
Kainal melotot. "Aku suamimu sayang," ucap Kainal.
"Suami aku gak jelek kaya kamu," ketus Fisha.
"Coba perhatiin baik-baik." Kainal menatap Fisha lebih dekat. Sehingga Fisha menahan tawanya.
Kainal cemberut. "Kamu ngerjain aku ya?" tanya Kainal. Fisha tergelak lalu buru-buru menggeleng melihat tatapan tajam Kainal.
"Umi," teriak Fisha di saat Kainal mengelitiknya. "Kainal ih, aku kan cuma bercanda," seru Fisha tertawa.
"Candanya gak lucu, masa aku di bilang jelek," ketus Kainal. Fisha tersenyum dan memegang kedua pipi suaminya.
"Ganteng kok, ganteng banget malahan. Nanti kalau anaknya cowok, dia harus mirip abinya. Bukan mirip dari fisik, tapi hatinya juga," jelas Fisha. Kainal tersenyum.
Kainal ikut memegang pipi Fisha. "Kalau anaknya cewek, dia juga harus seperti ibunya. Sederhana, periang, ceria. Dan sholeha," ucap Kainal. Fisha mengangguk keras.
Mereka saling berpelukan.
"Kainal jangan tinggalin Fisha ya, aku sayang Kainal. Kamu gak boleh pergi dari Fisha," ucap Fisha melepaskan pelukannya. "Harus janji kita harus tetap sama-sama." Fisha mengulurkan jari kelingkingnya.
Kainal mengangguk. Dia menautkan jari kelingking mereka. Dan tersenyum.
"Kita akan tetap bersama. Di dunia maupun di akhirat kelak, Kita akan berjalan beriringan, aku akan mengenggam tanganmu. Insya-Allah sampai ke tempat yang indah."
Fisha mengangguk. "Aku sayang kamu," ucap Fisha memeluk Kainal lagi. Kainal pun membalas pelukannya.
"Aku mencintamu, sangat mencintamu Fisha. Aku ingin dirimu. Kamu di takdirkan untuk jadi milikku. Tak apa kalau orang mengatakan, Kainal adalah orang yang obsesi."
"Kamu boleh obsesi, tapi jangan terlalu," balas Fisha memegang pipi suaminya. "Kalau aku boleh? Bisa gak, kamu milikku seorang."
"Aku milikmu seorang, begitupun dengan kamu, kamu milikku seutuhnya. Apapun yang ada di aku itu milikmu," ucap Kainal.
Fisha menintihkan air matanya. Kainal pun menghapusnya.
"Kok uminya dedek nangis?" tanya Kainal menghapus air mata Fisha.
"Aku gak nyangka aja, aku bisa bertemu dengan lelaki kaya kamu. Ternyata ada yang lebih baik dari sebelumnya, aku kira cintaku habis di sana. Ternyata yang benar cintaku habis di kamu," ucap Fisha. Dia memegang kedua tangam Kainal. "Maaf kalau bukan kamu lelaki yang aku cintai pertama kali, tapi aku janji di depan kamu, dedek dan Allah. Kamu yang terakhir. Aku mencintaimu, lupakan masalah lalu. Mari memulainya dengan yang baru."
__ADS_1
Kainal tersenyum, dan mengangguk. Dia memeluk istrinya erat.