Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 42 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Kainal memeluk Fisha dari belakang yang sedang sibuk membuka kado yang di berikan.


"Ini punya siapa?" tanya Fisha pada suaminya.


"Kayanya dari Devon," jawab Kainal. Fisha manggut-manggut, Devon memberinya cadar dan kerudung sama seperti hadiah Saifara.


Fisha tertuju ke kotak berukuran kecil. Dia menarik kotak tersebut.


"Ini punya siapa?" tanya Fisha lagi, tapi kali ini Kainal menggeleng tak tau.


"Perasaan tadi aku gak lihat kado ini deh," gumam Fisha. "Buka nanti aja, aku mau buka yang lain dulu," lanjut Fisha.


"Kainal tangannya jangan nakal," peringat Fisha di saat tangan suaminya itu mulai nakal.


Kainal terkekeh masih tetap di posisinya. Memeluk Fisha dari belakang yang sibuk membuka hadiahnya.


"Wah boneka, sayang lihat deh lucu," seru Fisha pada Kainal. Kainal hanya mengangguk.


"Lucu kaya kamu," sahut Kainal.


Fisha tersenyum, melanjutkan membuka kado.


"Coba buka hadiah dari papa dan umi dulu sayang," ucap Kainal.


Fisha mencari hadiah yang di berikan kedua orang tuanya. Kado yang paling besar di antara yang lainnya.


"Itu sini coba!" perintah Fisha menyuruh suaminya mengambilkan kotak besar itu.


Fisha membuka kado tersebut dan terkejut. Dia menutup mulut di saat melihat peralatan bayi di dalam sana.


"Aaa, lihat ini." Fisha mengambil baju bayi yang sangat imut. Membayangkannya saja dia udah gemass, apalagi dia sudah melihat sang buah hati yang memakainya.


"Jadi kebayangin sayang, kalau anak kita nanti pake baju lucu ini," seru Fisha pada suaminya. Kainal mengambil baju itu dari Fisha.


"Kok aku ingin cepat-cepat ya dedeknya keluar?"


"Sabar ya abi." Fisha mengusap paha Kainal.


Di saat kado telah usai di buka semua. Fisha malah melupakan kado satunya yang dia ingin buka terakhir.


Kainal tersenyum memperhatikan istrinya memulai membuka kado darinya.


Fisha mentap Kainal dengan tatapan bingung. Kainal hanya tersenyum.


"Kita mau berlibur di perdesaan benaran, yang banyak pepohonan?"


Kainal mengangguk. "Aku diberi tahu Ataar, kamu pengen banget jalan-jalan kedesa. Jadi aku udah mutusin setelah wisuda akan membawa istriku ini jalan-jalan, lihat persawaan, pergunungan. Kamu suka kan?"

__ADS_1


Dengan berbinar Fisha mengangguk. Dia memeluk erat tubuh suaminya.


"Perasaan kamu dan Ataar gak akrab,. tapi itu gak penting. Yang penting tuh. Ini hadiah paling-paling indah," ucap Fisha mencium pipi Kainal agak lama.


"Bilang apa dulu?"


"Makasih suamiku sayang, cintaku." Fisha mengunyel pipi Kainal. "I love you," bisik Fisha.


"Too I love you more," balas Kainal. "Coba kamu pakai bantal ini, siapa tau nyaman."


Fisha menggeleng. "Lebih nyaman kalau tidur di lengan kamu sambil di peluk," ucap Fisha membuat Kainal terkekeh.


"Siapa yang ngajarin ngegombal?" tanya Kainal. Fisha menggeleng.


"Aku gak gombal, itu emang benar kok," jawab Fisha.


"Sayang," panggil Kainal.


Fisha yang sedang membereskan semua pembungkus kado berdeham.


"Author gak akan pisahin kitakan?" tanya Kainal. Sehingga Fisha menoleh.


"Masa author jahat lagi?"


"Jangan suudzon," ucap Fisha menaroh jari telunjuknya di bibir sang suami.


Fisha tertawa dia menaiki ranjang. "Berdoa aja ya, semoga authornya baik hati, mana tega authornya pisahin kita. Dia juga salting tau kalau nulis part kita," ucap Fisha.


Kainal tidur di pangkuan Fisha, menatapnya dengan lekat. Entah mengapa perasaannya menjadi cemas, seakan bakal terjadi sesuatu yang besar, tapi semoga apa yang dia cemaskan tidak terbukti benar.


"Sini mau peluk," ucap Kainal.


Fisha mendekati suaminya memeluknya dengan erat, mereka tidur di ranjang tanpa melepaskan pelukan masing-masing.


"Aku mencintaimu," bisik Kainal mengelus rambut Fisha yang sudah tertidur. "Separuh ragaku udah ada di kamu, Fish. Ini kenyataan, benar, kamu duniaku. Kalau kamu gak ada di sampingku, duniaku ikut berhenti," jelas Kainal.


"Pokoknya kalau kamu pergi, aku akan ikut bersamamu. Di manapun kamu pergi. Pegang kata-kataku ya Allah," ucap Kainal. "Aku hanya ingin bersama dengan istriku, semoga seterusnya kami hidup bahagia. Jangan adakan bencana berat di dalam keluarga kecil kami. Aku hanya ingin melihat istri dan anakku. Aku ingin hidup bersama mereka, jangan pisahkan kami bertiga."


Kainal menyelimuti Fisha. Dia perlahan melepaskan pelukan istrinya, dia masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu. Calon ayah itu akan berdzikir untuk menenangkan pikirannya.


Kainal mencium puncuk kepala istrinya singkat, dan melebarkan sejada di karpet. Lelaki itu mulai berdzikir. Suaranya sangat lembut dan merdu, siapapun yang mendengarnya akan terlena dan kagum.


"Allaahumma antas salaamu wa minkas salaamu wa ilaika ya’uduus salaamu fa hayyinaa rabbanaa bis salaami wa adkhinal- jannata daaras salaami tabaarakta rabbanaa wa ta’aalaita yaa dzal jalaali wal ikram."


Karena suara suaminya, Fisha terusik dan membuka matanya. Dia tersenyum dan memperhatikan suaminya berdzikir. Dia berlari menurungi ranjang dan perlahan mendekat memeluk sang suami dari belakang.


Kainal tersenyum dan memindahkan istrinya kepangkuan.

__ADS_1


"Kenapa bangun, aku menggangumu?" tanya Kainal mencium pipi istrinya.


Fisha menggeleng. "Suara kamu merdu banget," puji Fisha. Kainal hanya tersenyum.


"Masy-Allah. Aku berdzikir pikiranku gak tenang sayang."


"Yaudah lanjut berdzikirnya, aku akan memperhatikanmu," ucap Fisha turun dari pangkuan Kainal.


Kainal pun melanjutkan berdzikirnya. Fisha senantiasa memperhatikan suaminya itu.


Usai berdzikir Kainal menoleh. Dan merentangkan tangan, Fisha langsung berhamburan kepelukan Kainal.


"Mau bobo?" tanya Kainal. Fisha menggeleng.


"Aku belum ngantuk," jawab Fisha.


Kainal merapikan sejada dan mengajak istrinya ke balkon, dia mengambil selimut untuk menutupi badan mereka.


"Lihat bintangnya indah banget." fisha menunjuk bintang paling bersinar dari yang lain.


"Indah kaya kamu," bisik Kainal memeluk erat Fisha dengan erat.


Mereka sama-sama menghirum udara dengan rakus. Mereka memperhatikan jalan raya, melihat mobil dan motor berlalu lalang.


"Kainal kamu bintang yang itu...." Fisha menunjuk bintang yang bersinar. "Dan aku bintang yang di sana."


"Hemm...." Kainal menikmati suasana, dengan ocehan istrinya.


Kainal mengambil ponselnya dan menarohnya di sela dinding.


Fisha berpose di saat sadar kamera. Kainal hanya tersenyum dan menyium pipi istrinya.


"Coba kamu bisa bikin love kaya gini?" tanya Fisha membentuk tangannya seperti love.


Kainal ikut mempergerakan apa yang di buat istrinya.


"Coba di sambung."


Mereka tertawa di saat berhasil membentuk love utuh.


Fisha melepaskan tangannya. Sehingga Kainal berekting sakit hati.


"Uh." Lelaki itu memegang dadanya lalu geleng-geleng sehingga istrinya tertawa melihat komuknya. "Hati aku hilang sepotong." Kainal menaroh tangannya yang berbentuk love di dadanya.


"Iss." Fisha berdesis. "Hati tuh di sini...."


"Di sini sayang! Cepat di sambung, baterainya hampir habis." Kainal makin melemahkan dirinya.

__ADS_1


Fisha pun menaroh potongan love ke dada Kainal. Sehingga kembali utuh.


__ADS_2