Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 68 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Ezar menangis, karena sang abi ingin berangkat ke kantor.


"Bii," teriak Ezar memberontak di gendongan uminya, dia ingin turun dan pergi ke gendongan abinya.


"Umimi." Bayi itu menatap uminya dengan air mata yang terus jatuh.


"Abi berangkat ke kantor dulu ya, biar Ezar bisa punya mainan bebek."


Ezar menggeleng. Kainal yang ingin memasuki mobil jadi tak tega, dia mendekati putranya lalu menggendongnya.


Bayi itu pun diam seketika, dia sesengukan di dalam pelukan abinya.


Kainal mengajak anaknya masuk ke dalam rumah, Fisha pun ikut dari belakang.


"Abi cari uang dulu, ya?" tanya Kainal membujuk Ezar seraya menghapus air matanya.


Ezar hanya menyembunyikan wajahnya di tengkuk leher Kainal.


"Rewel banget," ucap Fisha melap ingus Ezar. "Nanti dia juga berhenti nangisnya, pergilah kamu akan terlambat meeting." Fisha ingin mengambil ahli Ezar. Namun, anak itu kembali menangis.


"Ya, abi gak akan pergi," ucap Kainal melepaskan jasnya dan memberikannya kepada sang istri. Dia duduk di sofa dan memangku bocilnya.


Ezar mendongak ke atas lalu tersenyum, menempelkan tangannya di mulut Kainal.


"Biii," ucap Ezar. "Biiih," panggil Ezar memberikan tangannya ke Kainal.


"No." Ezar geleng-geleng kepala. "Bii, no."


Kainal tersenyum lalu mengangguk. "Iya no."


"Dada dulu sama abi," ucap Fisha mengangkat tubuh Ezar.


"Dadda." Ezar melambaikan tangannya. Namun, di saat Kainal menarik jas dan ingin memakai'nya, anak itu menangis. "Biii," jerit Ezar.


Ezar memukul wajah uminya. "Umimi, bii."


"Kenapa umi di pukul?" tanya Fisha melap wajahnya.


"Bii," teriak Ezar memberontak di dalam gendongan uminya.


"Udah, kamu pergi saja. Dia nangisnya sebentaran doang," ucap Fisha.


Ezar menutup mulut uminya lalu menggeleng. "No, umimi, no!" tegas Ezar.


Ezar menangis kejar sehingga dia muntah cairan putih membuat Fisha panik, begitupun dengan Kainal yang ingin keluar dari rumah.


Kainal pun langsung mengambil putranya, lalu menenangkannya.


"Abi gak akan pergi, abi di sini jangan nangis. Ya," bujuk Kainal membersihkan mulut Ezar. "Ganti pakaianmu, biar aku yang jaga."


Fisha mengangguk, dia pun berlari ke kamar untuk mengganti pakaian.


Harumi yang berada di dapur, berlari ke arah Kainal.


"Anakmu kenapa?" tanya Harumi.


"Rewel bunda," jawab Kainal mengusap punggung anaknya agar tenang.


Fisha kembali dan mengambil putranya.

__ADS_1


Ezar tak ingin ke pelukan Fisha, dia masih ingin bersama dengan abinya. Entahlah, anak itu tiba-tiba rewel ingin bersama abinya.


"Yaudah, kita ke kamar," ucap Fisha. Kainal mengangguk dia membawa anaknya ke kamar untuk di bersihkan.


"Bii, no," ucap Ezar.


"Iya, no. Abi gak akan pergi," jawab Kainal menidurkan anaknya di ranjang.


Ezar berusaha untuk bangun, dan duduk.


Kainal berbalik badan dan menidurkan anak nakal itu kembali, Ezar menjerit karena tak ingin tidur.


"Ganti baju dulu, baju kamu basah," ucap Kainal. Ezar pun hanya enteng di gantikan bajunya.


"abih," panggil Ezar tiba-tiba sehingga membuat Kainal terkekeh.


"Siapa mau makan?" tanya Fisha membawa bubur ke kamar.


Ezar merentangkan tangannya. "Cah, Mam," ucap Ezar.


"Abi siapa sih yang mau, mam?" tanya Fisha ke Kainal.


"Anak abi." Kainal menggendong putranya. Ezar pun menggerakan kaki dan tangannya.


"Cah, mam." Ezar membuka mulutnya. Anak itu muda di berikan makan, beda dengan bayi lainnya yang biasanya rewel dan tak mau buka mulut.


"Tumben Ezar nangis di tinggal kamu kerja," ucap Fisha.


"Iy aku juga heran, sayang," jawab Kainal. "Tak biasanya dia seperti ini."


"Udahlah mungkin Dia mau dekat kamu aja dulu."


Kainal mengangguk dia merebahkan tubuhnya di ranjang sambil memperhatikan dua dunianya.


"Sayang kok di pukul?" tanya Kainal.


"Mam," jawab Ezar memberi tangsn kotornya ke arah uminya.


Fisha menggeleng. "Ezar makan aja, umi udah makan," kata Fisha.


Kainal beranjak bangun dan memeluk istrinya dari belakang, tak lupa untuk menngisap leher jenjang itu.


Fisha menoleh kesamping dan mengecup bibir Kainal dengan singkat.


Telfon Kainal membuat Kainal menoleh ke nakas. Dia menelan salvinnya dalam-dalam, ayahnya menelfon di pastikan akan di ceramahi.


📱"Asslamualaikum, yah. Kenapa?" tanya Kainal.


📱"Walaikumsslam, kamu di mana?" tanya Vier balik bertanya.


📱"Di rumah, yah," jawab Kainal. Kain udah deg-degan akan di marahi.


📱"Udah gak usah ke kantor, kamu di rumah aja," ucap Vier.


📱"Tapi kenapa, yah?"


📱"Peneror itu kembali," jawab Vier.


Kainal memijit pelipisnya, pantas Ezar menangis dan tak membiarkan abinya, karena anak itu mempunya intsik akan terjadi sesuatu.

__ADS_1


"Baik, yah. Kainal akan di rumah," ucap Kainal menyimpan ponsenha kembali.


"Ada apa?" tanya Fisha.


Kainal menggeleng, dia kembali memeluk Fisha sehingga Ezar mengeplak tangan abinya.


"Abiih," teriak bayi itu.


"Sayang, lepasin," pinta Fisha.


"Sayang, sebentar malam abi dapat jatahkan?" tanya Kainal.


"Kalau anakmu cepat tidur," jawab Fisha menjauhkan tangan Kainal di aera sensitifnya.


Plak!


Fisha menampar pipi Kainal yang ingin menyosor menyiumnya.


"Pipi aja, sayang," ucap Kainal mengecup berulang kali pipi sang istri.


Malamnya, sesuai dugaan Kainal. Anaknya tidur lebih dulu membuatnya mendapatkan jatah.


"Mau jalan-jalan?" tanya Kainal yang sedang menatap lekat wajah istrinya. Dia membelai rambutnya.


"Jalan ke mana?" tanya Fisha menyuruh Kainal melepaskan pelukannya.


"Cari angin, lama loh kita gak berduaan, pengen berdua sama kamu seperti masa-masa dulu. Lagian Ezar lagi tidur, nanti suruh Kiara yang jaga dia."


Fishaa bangun dari tidurnya, dan turun untuk memungut pakaiannya.


Kainal hanya memperhatikan Fisha dengan tubuh polosnya.


Dia mamakai pakaian baru lalu merias wajahnya. Dia melirik sang suami yang terus memperhatikannya.


"Katanya mau jalan? Kok belum siap-siap?" tanya Fisha heran.


Kainal menghela napas, dan bangun dari sana lalu memeluk istrinya dari belakang.


"Bentar ya," bisik Kainal beralih memasuki kamar mandi.


Fisha berdiri lalu mendekati putranya yang tertidur pules di ranjang.


Dia membersihkan tempat tidur yang di tempati bercinta dengan sang suami, dan menyalahkan pewangi ruangan.


Kainal dari belakang memakai'kan jaket istrinya. Fisha pun berbalik dan tersenyum, wanita itu memperbaiki rambut Kainal.


Mereka bergandengan keluar rumah, Kainal menuju kamar sang adik, dan menyuruhnya ke kamar untuk menjaga Ezar.


Tanpa membantah, atau menolak. Kaira beranjak untuk menjaga sang keponakan.


Fisha menghibur udara dengan segar. Dia memeluk Kainal dengan erat.


Kainal pun tersenyum, dan melajukan motornya dengan pelan, untuk istrinya menikmati udara malam. Dia baru membawa istrinya seperti ini.


Fisha Menaroh dagunya di pundak Kainal.


"Suka?" tanya Kainal, Fisha pun mengangguk-angguk. Dia mencium leher Kainal yang terdapat tanda merah.


"Nakal," sahut Kainal. Fisha pun terkekeh.

__ADS_1


"Sayang," panggil Fisha. Kainal hanya berdehem.


"Mau ke markas Ataar?" tanya Kainal.


__ADS_2