Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 22 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Fisha menjauhkan tangan Kainal yang berada di atasnya. Badannya benar-benar rebuk karena suaminya sendiri, di peluk terus-terusan apa gak sakit?


"Uh,"desisnya berjalan memasuki kamar mandi. Dia akan mandi sebelum membuatkan sarapan buat sang suami dan dirinya.


Setelah mandi dia melihat jam di ponselnya. Ternyata sudah menunjukan jam 8 pagi. Dia menyimpan kembali ponselnya lalu berjalan menurungi anak tangga menuju dapur. Mereka kesiangan karena habis sholat subuh sesudah itu ngaji dan melanjutkan tidur.


Fisha tersentak kala sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Dia mendongak dan memukul pelan kepala Kainal.


"Susah masaknya kalau kamu nempel mulu!" ketus Fisha.


"Biar gini dulu," ucap Kainal menutup matanya.


Fisha membawa Kainal kesofa. "Tidurlah di sini," pinta Fisha.


"Hug dulu," rengek Kainal memayunkan bibirnya dan merentangkan tangan.


"Aelah, gini amat nikah ama bocil," sungut Fisha memeluk Kainal sebentar, membelai surai sang suami.


"Bocil-bocil gini udah berhasil jadi menantu om Altar," bisik Kainal, menggigit telinga Fisha, dan melepaskan pelukannya.


Fisha mendengus kesal, memegang telinganya dan berjalan ke arah dapur kembali. Kainal memandang kepergian istrinya dengan tersenyum nakal, dia melanjutkan tidurnya di sofa.


Fisha hanya menatap dan geleng-geleng kepala, dan melanjutkan masaknya. Setelah masak dia kembali membangunkan suaminya yang kebo.


"Kainal ayo bangun," ucap Fisha memukul pelan lengan Kainal.


Kainal mengucel matanya, beranjak bangun. Dia berjalan ke arah dapur, membersihkan wajahnya di wastafel lalu mendekati meja makan.


Fisha memperbaiki rambut suaminya yang berentakan dan melap mukanya. "Cepat makan," pinta Fisha membuat Kainal menurut.


Kainal bersing, di saat kucing putih masuk ke dalam vila. Fisha pun buru-buru mengusir kucing tersebut.


Usai sarapan. Kainal mandi dan bermanja dengan istrinya di ruang tamu.


Ting tong!


Bunyi bel membuat pasangan pasutri yang sibuk menonton di ruang tamu menoleh.


"Biar aku," ucap Kainal memakai bajunya dan berjalan membuka'kan pintu.

__ADS_1


"Paket? Paket siapa?" tanya Kainal di saat sebuah kurir memberinya sebuah paket.


"Fisha Alsha," jawab kurir tersebut. Kainal pun manggut-manggut dan menutup pintu kembali.


"Fisha, kamu pesan paket?" tanya Kainal memberikan paket itu ke istrinya.


Fisha menggeleng. "Gak," jawabnya.


"Tapo paket itu atas namamu," jawab Kainal. "Coba di buka aja."


"Kamu aja," ucap Fisha memberikan paket itu pada suaminya. Kainal pun mengambil gunting dan mengunboxing paket.


Mereka berdua terbelalak. Dan saling lempar pandang, melihat paket tersebut yang isinya lingre.


"Fisha, mau pake ini sebentar malam gak?" tanya Kainal menaik turunkan alisnya. "Mau minta makasih sama orang yang mengirim paket ini."


Fisha mendengus kesal. "Gak mau." Fisha menggeleng, dia merasa aneh kalau memakai pakain terbuka seperti itu.


"Ok," jawab Kainal menyimpan paket itu di atas meja dan fokus kepada ponselnya.


Fisha memperhatikan Kainal sekilas lalu fokus kepada telivisi, gak ada yang ingin memulai pembicaraan.


Fisha beranjak dari sana membawa lingre dan bekas plastik yang akan ia buang ke tong sampah, lalu menaiki kamar.


Dia menutup kamar, dan mulai memakai pakaian itu. Dia melihat tampaknya di cermin.


"Ini penjualnya kekurangan kain?" tanya Fisha memutar badannya. "Inimah, cuma nutupin bokong aja," ketus Fisha ingin mengganti kembali pakaian itu. Namun, tiba-tiba tubuhnya melayang terlempar ke ranjang.


"Kainal," pekik Fisha ingin bangun, tetapi Kainal malah mengkukungnya di bawah.


"Ayo tanggung jawab," bisik Kainal. Fisha menutup wajah Kainal menggunakan tangan.


"Gak mau," tolak Fisha. "Aku udah mandi, bentar malam aja. Aku mau jalan-jalan keluar," ucap Fisha tersenyum.


"Bentar aja pleas."


"Malam janji," ucap Fisha memberi jari kelingkingnya pada Kainal.


"Janji iya?" Fisha mengangguk. Kainal pun pindah dari atasnya dan menyuruh Fisha mengganti pakaiannya.

__ADS_1


Usai mengganti pakaian mereka keluar dari Vila niat berjalan-jalan. Kainal menyewa sepeda. Mereka naik sepeda mengelilingi pantai.


Fisha memeluk pinggang Kainal. "Hahaha." Fisha tertawa keras.


"Pegangan sayang," teriak Kainal. "Eh... Keceplosan."


Fisha malah tertawa dan memeluk Kainal erat, takut jatuh. "Iya sayang," bisik Fisha membuat Kainal oleng dan berhenti.


"Kenapa?" tanya Fisha tanpa merasa bersalah.


"Coba di ulang lagi," pinta Kainal. Fisha menggeleng.


"Gak mau," tolak Fisha.


Kainal menoleh kiri, kanan. Di sana sepi membuatnya langsung menyium bibir Fisha yang ketutup cadar.


"Kalau mau ngucap tuh, kasih aba-aba," ketus Kainal menurunkan Fisha dari sepeda lalu mengenggamnya berjalan di pasir putih.


"Kainal, mau gulali." Fisha menunjuk penjual gulali. Kainal pun berlari ke penjual gulali.


"Yang besar punyaku," sungut Fisha mengambil gulali paling besar yang di pegang Kainal.


"Ini punya kamu semua, aku gak suka." Kainal memberi semua gulali itu pada istrinya membuat wanita itu berbinar.


💗💗💗💗💗💗


"Kamu tau gimana rasanya Xaviel?" tanya Alya pada lelaki di depannya. " Bersama dengan lelaki, tapi lelaki yang kita temani malah memikirkan cewek lain? Kamu memang selalu ada buatku, tapi pikiran mu berada di Fisha bukan di aku. Kamu tau gimana rasanya feeling lonly?"


Xaviel terdiam.


"Aku tau Xaviel, kamu mau sama aku karena suruhan bundaku. Kamu hanya menepati janji bundaku, aku gak butuh kasihan mu. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku hanya ingin di sayangi bukan di kasihani. Bunda sudah pergi jauh, kini tinggal aku sendiri. Semuanya sudah di ambil, bahkan kamu aja pergi Xaviel," teriak Alya.


"Maaf," ucap Xaviel menunduk.


"Kata maafmu tidak bisa membuat rasa sakitku sembuh," balas Alya. "Aku membencimu. Pantas aja setiap aku buat kesalahan terang-terangan kamu bahkan tak marah. Karena rasamu bukan cinta, tapi kasihan tentang hidupku, hidupku sudah hancur. Jangan menambahnya," tegas Alya dengan air mata terus mengalir di sudut matanya.


Xaviel ingin menghapus air mata gadis itu. Namun, di tepis kasar oleh Alya.


"Dunia hanya mengenalku sebagai orang jahat, tapi tidak ada yang mengerti perasaanku gimana. Semuanya datang hanya untuk menyakiti. Apa dunia tahu? Hidupku lebih hancur dari pada hidup Fisha. Fisha wanita sempurna siapa sih yang gak ingin berada di posisinya? Dicintai hebat dengan lelaki yang katanya mencintaku, di cinta oleh keluarganya, di cintai oleh suaminya. Aku ingin hidup Fisha, aku ingin takdirnya!" tegas Alya. "Aku ingin menjadi Fisha, kamu kasihan sama aku? Gak usah beri aku cinta palsu. Cukup berikan takdir Fisha kepadaku. Aku akan memaafkanmu, di saat hidup dan takdirnya berpindah kepadaku."

__ADS_1


"Itu tidak mungkin, Alya. Jangan seperti ini!"


Alya tertawa sangat keras. "Ok, aku akan membiarkan Fisha hidup bahagia bersama suaminya beberapa hari. Pembaca akan tau di mana ujung kebahagiaannya akan berakhir. Seorang Alya akan memusnahkan kebahagiaannya. Aku dan Fisha akan sama rata nantinya." Alya tersenyum devil.


__ADS_2