Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
55 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Altar sudah sejam di dalam ruangan sang anak. Ataar benar-benar bahagia melihat papanya. Air matanya terus mengalir.


Papanya membacakan berbagai surat Al-Quran.


Ataar berucap pelan. "Papa," ucapnya nyaris tak terdengar.


Merasa anaknya selalu memperhatikannya, pria itu mendongak ke atas.


Ataar tersenyum. Pintu di buka, seorang dokter dan satu suster yang mendampingi dokter tersebut.


Altar menyingkir membiarkan dokter tersebut memeriksa Ataar.


Dokter tersebut melepaskan alat pernapasan Ataar. "Sudah membaik."


Usai memeriksa Ataar, dokter itu pamit keluar dari ruangan.


"Papa," ucap Ataar pelan. "Papa."


Ataar diam sesaat di saat papanya tak merespon ucapannya. Dia meremas sprei.


"Ja-ngan pukul Ataar." Ataar menyilangkan kedua tangannya sehingga Altar menoleh. "Sakit, pah. Jangan pukul Ataar," teriak Ataar entah mengapa. Lelaki itu seakan takut di pukuli. Padahal Altar tak sama sekali menyentuhnya.


"Ataar," panggil Altar. Ataar menggeleng keras, dia tidak menyuruh pria itu maju.


"Badan Ataar sakit, jangan pukul Ataar lagi." Lelaki itu menangis dan menggeleng. Yang dia lihat saat ini papanya memegang cambokan di tangannya.


"Ataar mohon, biar Ataar sembuh dulu. Badan Ataar masih sakit, kalau papa mau, tunggu Ataar sembuh ya." Suara Ataar seperti sedang membujuk.


Ataar menggeser badannya, dia hampir saja jatuh, tapi dengan cepat Altar memeluk putranya.


"Papa."


"Iya, maafin papa. Nak," ucap Altar. Ataar memukul kepalanya sendiri membuat Altar menghentikan anaknya.


"Ataar gak mimpi? Dulu Ataar sering mimpi gini. Jadi Ataar gak mau ketipu lagi."


"Kamu gak mimpi, ini nyata nak."


Deg!


'Nak' Kata yang selalu dia tunggu keluar dari mulut papanya.


"Jangan bohong."


"Papa gak bohong." Altar meraih tangan anaknya dan mengecupnya.


Ataar memegang tangan papanya yang banyak bekas luka basah.


"Papa?"

__ADS_1


Altar menunduk. "Tangan inilah yang membuatmu seperti ini. Maafin Papa, mungkin ini tidak cukup dengan apa yang kamu rasakan." Altar meraih pisau di atas nakas, dan menyuruh anaknya mengiris tangannya.


Dengan tangan bergetar, Ataar melempar pisau itu lalu memeluk papanya.


"Aku sayang Papa, aku mau di hug Papa."


Hati Altar kembali sesak di saat Ataar mengucapkan kata 'hug' Kata itu sering kali Altar dengar disaat Ataar masih kecil. Setiap kali dia pulang kerja, dia akan berlari meminta hug kepadanya. Namun, bukannya mendapatkan pelukan dia malah mendapatkan tamparan dan air dingin yang di siramkan ketubuhnya.


Fallback on!


"Papa, mau hug," teriak Ataar kecil sambil lompat-lompat kegirangan, merentangkan tangannya.


Plak!


"Jangan harap kamu mendapatkan pelukan dariku!" tegas Altar malah berjongkok dan mencubit keras pipi Chubby Ataar.


Ataar tersenyum. Dia mengira papanya menyayanginya, karena menyubit pipinya. Dia sering melihat kakaknya di perlakukan seperti itu. Bedanya di saat melakukannya pada Fisha, Altar sangat lembut beda saat ini sangat keras dan kasar.


"Makasih, Papa," seru Ataar memeluk papanya. Namun, langsung di dorong sangat keras oleh Altar sehingga Ataar terjungkal kebelakang.


Ataar meringis, papanya menaiki anak tangga. Dia memegang belakang pinggangnya yang terbentur di sisi sofa.


"Aku di peluk Papa, tapi kenapa dia nyingkilin aku? Apa aku bau? Tapi gak papa, yang penting Ataal tau gimana lasanya di peluk papa." Anak usia 6-tahun itu tersenyum.


"Semalam Papa memukul lengannku, tadi buk gulu nanya tangannya kenapa. Aku bilang jatuh. Takut buk gulu malah."


Makan malam tiba, Ataar di kunci di dalam kamar. Hanya di beri sepotongan roti.


Brak!


Altar mendorong keras tubuh kecil itu. Sehingga terjungkal kebelakang.


"Makan atau ku ambil?"


"Tapi Ataal belum makan dari tadi Papa, Papa gak beri Ataal makan. Ataal lapal."


Plak!


Altar menampar dengan sangat keras pipi putih itu.


"Kenapa Papa tampal Ataal? Kenapa setiap hari Papa tampal Ataal?"


Brak!


Altar kembali mengunci kamar itu.


Di dalam, Ataar memegang perutnya yang sakit. Papanya benar-benar tak memberinya makanan yang membuatnya kenyang.


Ceklek!

__ADS_1


Pintu kembali terbuka membuat anak kecil itu menoleh. Ternyata kakanya dengan membawa sepering nasi dan ayam kecap kesukaan sang adik.


"Ayo makan," ucap Fisha. Menuntut adiknya duduk di sofa.


Ataar berbinar, dan melahap makanan yang di berikan Fisha.


Fisha menatap adiknya begitu dalam. Sebutir mening jatuh di pipinya, buru-buru dia menghapusnya.


Fisha terkejut di saat papanya datang. Dan melempar piring yang di pangku Ataar.


Ataar yang asik makan, mendongak ke atas. Fisha berdiri dan menunduk.


"Siapa yang nyuruh Fisha beri dia makan?" tanya Altar.


Fisha menunduk sambil memainkan tangannya. "Ataar belum makan. Dia juga lapar Apah, Ataar manusia bukan boneka, dia juga bisa lapar, lagian kenapa kalau Fisha beri adik Fisha makan? Lagian makanan di atas meja masih banyak. Kasihan kalau gak di makan," jelas Fisha berani.


Dia menarik adiknya. Dia bukan takut di pukul, karena itu tidak akan mungkin. Papanya tidak akan memukulnya, tapi akan memukul Ataar.


"Papa!" teriak Fisha. "Aku benci sama Papa, kalau Papa memukul adik Fisha, Fisha benci Papa." Fisha memeluk adiknya dengan erat.


Altar mengurungkan niatnya, dia menurunkan tangannya kembali dan keluar dari kamar.


Fisha menghapus air mata Ataar. "Kamu masih mau makan? Kakak ambilin lagi? Tunggu ya!" Fisha ingin pergi dari sana, tapi pergelangan tangannya di pegang.


"Jangan, aku udah kenyang, kak. Kakak di sini aja," pinta Ataar.


"Kakak, Papa gak sayang Ataal ya? Kenapa Papa sering memukul Ataal? Padahal Ataal gak buat salah apa-apa."


"Papa sayang, kok, sama Ataar," dusta Fisha.


Fallback of


"Akhirnya list aku terwujudkan," gumam Ataar dalam hati. Ini yang dia tunggu-tunggu sedari dulu mendapatkan pelukan dari papanya. "Papa tulus? Papa gak di paksa kan?"


Altar buru-buru menggeleng. "Papa tulus, benaran tulus. Gak di paksa," jawab Altar. "Listmu terwujudkan, apa kamu ingin mengwujudkan permintaan Papa?"


Ataar melepaskan pelukannya. "Mau Ataar pergi? Ataar akan mengwujudkan keinginan Papa, Ataar akan pergi jauh."


Altar menggeleng. "Tidak! Bukan itu."


"Terus apa?" tanya Ataar.


"Kamu sembuh, papa mau kamu sembuh," jawab Altar.


Ataar terdiam sesaat. "Ataar capek, pah. Boleh gak Ataar ingkar keinginan Papa kali ini? Ataar benar-benar capek."


Altar terdiam seribu bahasa, dia menyesali perbuatanya pada sang anak. Dia benar-benar menyesal.


"Kamu gak boleh ingkari keinginan Papa, Papa sudah melengkapi listmu bukan? Jadi lengkapi juga list Papa."

__ADS_1


"Papa keluar, kamu harus istirahat." Usai mengatakan itu, Altar melepaskan baju sterilnya dan keluar dari ruangan.


Ataar menatap papanya yang keluar dari ruangan. "Ataar gak janji, Ataar capek. Penyakit Ataar gak bisa sembuh."


__ADS_2