
Kainal memakai'kan hoodie istrinya. Cuaca sangat dingin di bali, dia tak ingin istrinya kedinginan.
"Sini tasnya aku yang bawa," pinta Fisha. Namun, Kainal melarangnya.
"Kamu diam aja," tolak Kainal. Fisha pun mengandeng lengan Kainal menunggu taksi datang.
Saat taksi telah sampai mereka pun menaikinya, menuju vila yang telah di sewa oleh Ayahnya.
Sesampainya di vila mereka mendiam sejenak, menunggu makanan tiba. Setelah makan mereka pun ingin berjalan-berjalan keluar vila.
"Kamu pake hoodienya, biar aku yan memakai cardingan. Pakaianku juga tebal jadi gak bakal kedinginan tau," ucap Fisha. Kainal pun memakai hoodienya dan mengandeng tangan Fisha ke pantai dekat vila
Fisha melepaskan tangan Kainal dan berlari sehingga kerudungnya beterbangan kebelakang. Kainal ikut berlari, menangkap tubuh Fisha. Memeluknya dari belakang. Suasana sangat mendukung, ombak pantai yang membasahi kaki mereka, serta angin yang menerpa wajah sepasang pasutri tersebut.
Kainal menaroh dagunya di bahu Fisha. Fisha memegang tangan Kainal yang melingkar di pinggangnya.
"Walaupun kita belum saling mencintai, tapi kita harus berjanji untuk mempertahankan pernikahan ini iya? Mungkin kata ayah dan papah benar. Cinta akan datang seiring waktu," ucap Fisha. Kainal hanya menganggukan kepalanya. "Kita sudah menjadi suami istri. Di waktu pernikahannya kita, kita saling berjanji untuk bersama dan saling terbuka. Aku harap kamu terbuka sama aku, katakan kepadaku kalau ada yang membuatmu terjanggal. Begitupun denganku, aku akan terbuka kepadamu. Kita harus saling membiasakan keadaan. Menjalani hubungan umum suami istri."
Kainal sekali lagi mengangguk. "Di saat kita mempunyai masalah, tolong ya kita selesaikan dengan baik-baik? Saling menjelaskan."
Fisha membalikan badannya dan memeluk Kainal. Dia mengangguk. "Insya-Allah atas izin Allah," ucap Fisha.
Kainal memasukan tangannya di balik cadar Fisha, dia menangkup pipi istrinya. Mengecup dengan lama kening istrinya.
Dari kejauhan, ada seseorang, yang melihat kedua pasangan. Xaviel tersenyum kecut melihat Fisha bahagia dengan orang yang tepat bukan bersamanya.
"Kita tidak di takdirkan bersama. Maaf, penantianmu terbuang-buang sia-sia karenaku. Kamu pasti sangat kecewa, maafkan aku. Mungkin kata maaf tidak cukup untuk menembus kesalahanku kepadamu," lirih Xaviel. Lelaki itu ikut menerbangkan dirinya ke bali hanya untuk melihat Fisha dan Kainal. Xaviel belum sepenuhnya percaya pada Kainal. Walaupun bukan dia yang menjadi pasangan Fisha, tapi dia tak ingin sahabatnya itu memilih pasangan yang salah.
Samar-samar Fisha melihat punggung Xaviel yang pergi dari sana. Senyuman Fisha mulai menurun.
"Pada nyatanya, kita tidak di takdrikan bersama Xaviel. Kita hanya di takdirkan untuk menjadi sahabat bukan menjadi pasangan seumur hidup. Penantian yang berlalu, itu bukan salahmu, tapi salahku. Aku yang menunggumu jadi jangan merasa bersalah, ini bukan salahmu. Aku hanya tak memahami takdir. Aku sudah menemukan kebahagiaanku, itu bukan kamu, tapi dia seorang lelaki yang datang di saat hatiku sedang hancur. Dia Kainal Viermahes kadirja,"batin Fisha. "Walaupun begitu, kamu tenang saja. Aku masih menjadi sahabatmu, aku tak akan melupakan kisah persahabatan kita. Itu akan selalu di kenang, sekarang mari berjalan di arah yang berbeda. Aku dengan takdirku, kamu dengan takdirmu," lanjut Fisha tersenyum. Dia melepaskan pelukannya dari Kainal. Menatap suaminya dengan senyuman yang mengembang.
"Sekarang tujuanku, hanya ingin hidup bersama dengan keluarga kecilku, kelak. Aku, Kainal dan anak-anak kami nantinya. Sudah terbukti bahwa Allah sudah mengatur yang terbaik untuk hambanya."
__ADS_1
Fisha menyuruh Kainal ikut duduk di sampingnya. Fisha menaroh kepalanya di bahu suaminya menatap lurus ke depan. Di mana ombak berdatangan membasahi kaki mereka berdua. Mereka tertawa dan saling memandang. Kainal mencium mata istrinya dengan lembut dan mengusap bahu sang istri.
"Kita balik yuk, nanti kamu masuk angin," ucap Kainal. Fisha menoleh dan merentangkan tangannya. Kainal menggendong istrinya ala bayi koala kembali ke vila.
Sampainya di Vila, Fisha membuatkan teh angat untuk suaminya dan dirinya.
Kainal berada di kamar mengerjakan urusan kantor yang ayahnya kirimkan. Ayahnya sebenarnya tak ingin merepotkan anaknya yang sedang bulan madu, tapi urusan ini hanya Kainal yang bisa membantunya menyelesaikan.
Fisha masuk ke dalam kamar, menyimpan nampan yang dia bawa di samping suaminya yang sibuk pada laptopnya.
Kainal melirik sekilas lalu tersenyum. Fisha menatap Kainal. Suaminya itu benar-benar tampan apalagi saat ini memakai kacamata.
"Kamu gak capek? Sana tidur duluan aja," ucap Kainal memberhentikan kerjaannya dan meminum teh yang dibuatkan Fisha.
"Aku gak capek, kok," jawab Fisha mengambil teh angetnya dan meminum sedikit demi sedikit. Sebenarnya dia ngantuk, tapi dia menunggu Kainal selesai bekerja.
Ponsel mereka berdua berdering bersamaan. Kainal mengambil ponselnya begitupun dengan Fisha.
Fisha menggeleng. "Kamu lagi kerja biar aku terima, biar gak bosan," ujar Fisha.
"Yaudah, mau-mau kamu aja."
Fisha bergabung ke panggilan video bersama dengan anak-anak lain.
📱"Wah, kak Fisha gabung," seru Celi.
📱"Siapa yang ngundang?" tanya Kaira cemas.
Fisha berdehem. 📱"Gak suka nih, kalau aku ikut? Yaudah deh aku matiin," sahut Fisha pura-pura ngambek.
📱"Eh... Gak gitu kak. Kan kakak lagi bulan madu, gak enak kita menganggukan," ucap Saifara.
📱"Gak papa, gak ganggu kok," jawab Fisha. Dia mengarahkan kamera ke arah Kainal, Kainal pun memberikan wajah jeleknya ke arah kamera sehingga dapat teguran dari Fisha.
__ADS_1
📱"Kak Fisha, di sana Kainal gak macam-macam kan?" tanya Tofik pada Fisha.
📱"Satu macam aja, Tof," teriak Kainal menyela. Dia menutup laptopnya, lalu nongol di kamera.
📱"Udah malam, gak buatin kami keponakan?" tanya Ufik.
📱"Woi, anjir," seru mereka semua mendengar ucapan Ufik.
Kainal dan Fisha tertawa. 📱"Kalian ini, pada mikir gituan. Tunggu aja," jawab Kainal.
Fisha hanya mencibikan bibirnya pada suaminya sehingga mereka semua tertawa.
📱"Ayoloh Kainal, gak dapat jatah," sungut Tofik dan Devon tertawa.
📱"Eh kalian bertiga bisa gini gak?" tanya Kainal. Dia mengangkat tubuh istrinya ke ranjang, dan memeluknya dengan erat. "Gak bisa ya? Kasian," ledek Kainal.
📱"Alah, sombong banget jadi orang," cibir mereka bertiga.
Fisha tertawa melihat wajah mereka bertiga yang kelihatan kusut.
📱"Udah dulu ya," ucap Fisha sehingga mereka manggut-manggut, Fisha pun keluar dari obrolan video.
Kainal beranjak bangun, menutup pintu kamar, dan melompat menaiki ranjang memeluk tubuh istrinya dengan posesif. Tak lupa melepaskan cadar istrinya.
Sedangkan Fisha, mematikan lampu kamar dan membuka ponselnya.
"Kainal, pernikahan kita udah tersebar sampai di kalangan kampus iya?"
Kainal mengangguk. "Iya."
"Aku takut."
"Eh kenapa?" tanya Kainal mendongak. "Jangan takut ada aku, orang di kampus tak ada yang berani berbuat macam-macam pada istriku," ucap Kainal mencium pipi Fisha.
__ADS_1