
"Lucu," gumam Ataar melihat kata-kata yang terselip di dekat kotak bekal. "Jangan sama gue, gue anaknya pembawa sial."
Ataar meraih ponselnya karena berbunyi. Ada pesan dari papanya.
Ataar mengira kalau papanya mengiriminya pesan untuk memberikannya selamat, tapi dugaannya salah. Ternyata dia kembali di suruh datang keruangan kerjanya.
Ataar menghela napas. Dia membuka laci dan menelan sebiji obat, lalu berdiri pergi dari kamarnya.
"Bukannya papa keluar kota? Apa gak bermalam ya?" tanya Ataar.
Ataar membuka kenop pintu ruang kerja papanya. Ataar menunduk.
Altar berdiri dari duduknya sudah memegang cambokan di tangannya. Dia menatap nanar ke arah Ataar, entah mengapa di saat melihat anak itu rasanya dia terus ingin memukulinya.
Plak!
"Arkkk," teriak Ataar ambruk ke lantai di saat Altar memukul lututnya.
"Papa sakit," keluh Ataar pada papanya. Tangannya dia silangkan ke atas.
Altar berjongkok, memegang pipi putranya. Ataar menatap papanya dengan wajah kesakitan.
Bruk!
Altar meniju rahang Ataar sehingga di bibir remaja itu mengeluarkan darah segar.
Baru kali ini papanya memukulnya di aerah wajah, biasanya hanya di aera badan agar uminya tidak bertanya.
Altar membuka baju kaos yang terlilit di tubuh Ataar. Kini lelaki itu tidak memakai atasan.
"Arkk." Ataar kembali menjerit di saat cambokan papanya kembali melayang.
__ADS_1
Anak itu hanya bisa menutup mata. Setiap cambokan yang di berikan terasa begitu sakit, bukan hanya cambokan, makian pun Ataar dengar.
"Papa sakit," aduh Ataar mencoba menahan tangan papanya. "Ataar capek, Ataar gak sekuat besi, pah. Tubuh Ataar berdaging bukan berbesi, ini sakit," keluh Ataar mencoba melawan. Dia tidak ingin terus-terusan di perlakukan seperti ini.
Brak!
Altar membanting tubuh Ataar sehingga anaknya batuk-batuk mengeluarkan banyak darah.
Altar menoleh di saat mendengar suara benda jatuh. Altar terkejut melihat istrinya berdiri di ambang pintu.
Aisha terdiam, melihat apa yang tadi dia dapatkan. Aisha yang tadinya ke ruangan Altar untuk membawakan pria itu segelas kopi, tapi malah ini yang dia saksikan.
Air mata Aisha lolos jatuh dari sudut matanya melihat anaknya tertidur di lantai dengan darah segar mengalir di pipi dan mulutnya. Badan yang terdapatkan banyak luka.
Aisha berlari ke arah putranya. Dia menidurkan kepala putranya di pahanya.
"Umi, kenapa umi ke sini?" tanya Ataar sempat-sempatnya. "Gak papa umi. Jangan menangis, Ataar baik-baik saja. Umi gak boleh menangis, Ataar gak akan kuat kalau umi menangis. Jangan menangis umi." Lelaki itu menggeleng menghapus air mata uminya.
Aisha melepaskan Ataar dan berdiri. Wanita itu tanpa pikir panjang menampar pipi suaminya dengan sangat keras.
Altar memegang pipinya yang baru saja di tampar. Pria itu hanya terdiam.
"Apa kamu lakukan kak?" tanya Aisha dengan suara yang di tinggikan. "Ternyata begini perlakuanmu, apa ini? Kamu menyiksanya."
"Dia anak pembawa sial, Aisha!"
Plak!
Tamparan kembali melayang di pipi Altar. "Jaga mulutmu, dia anakku. Aku yang mengandungnya selama sembulan bulan, aku yang melahirkannya. Dia anaknya Aisha, dia bukan anak pembawa sial," teriak Aisha.
"Kamu koma gara-gara dia Aisha. Gara-gara kamu melahirkan dia, kakak merasa kehilangan kamu selamat empat tahun."
__ADS_1
Aisha dengan kasar memegang lengan suaminya untuk melihat Ataar.
"Kakak lihat, apa anak ini tahu kalau dia yang bersalah? Apa kakak benaran menuduhnya ini semua terjadi karenanya?" tanya Aisha. "Lihat kak, dia anak kita. Dia tidak sama sekali memahami masalah waktu itu, dia bukan anak pembawa sial. Itu semua sudah menjadi takdir Allah. Ais pikir kakak menjaga anak kita sangat baik, kukira di saat aku koma. Kamu menyayanginya, kamu kan yang ingin dia lahir di dunia? Bukan ke inginannya."
"Mungkin kalau dia tahu kehidupannya bakal jadi seperti ini. Anak ini tidak mungkin akan menerima lahir di dunia. Aku yang mengandungnya, aku yang bertarung nyawa untuk melahirkannya di dunia, dan bisa-bisanya kamu menyiksanya."
"Kakak gak tau gimana rasanya aku mendengar detang jantungnya berdetak. Aku tidak menyangka suamiku sendiri berbuat seperti ini. Aku kira dia menyayangi putri dan putraku dengan adil, ternyata di antara mereka ada yang tidak merasakan ke adilan. Kalau awalnya aku tau kamu seperti ini, aku akan pergi membawa anakku jauh darimu. Lagian kalau terus bersamamu anakku akan tiada di tangan papa kandungnya sendiri."
Aisha menepis tangan Altar yang memegang lengannya. Dia memampah tubuh anaknya keluar dari kamar.
Altar menatap kepergian istrinya. Dia mengacak rambutnya dengan kasar, dia melempar apapun yang dapat di lempar di sana.
Aisha menyuruh sopir mengantar mereka berdua ke rumah sakit. Mang ujang sempat terkejut, tapi tanpa bertanya, dia buru-buru membawa majikannya ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Aisha cepat-cepat menyuruh dokter menangani anaknya. Untungnya dokternya adalah mommynya Xaviel, Gracel. Sehingga dengan buru-buru anak itu cepat di tangani.
"Mang ujang aku boleh minta tolong?" tanya Aisha pada sopirnya.
"Minta tolong apa Neng Aisha?" tanya mang ujang.
"Tolong mang Ujang suruh bibik membereskan pakaianku dan pakaian Ataar, lalu kalau sudah di bereskan tolong di bawa ke sini, kalian juga jangan memberi tau kak Altar kalau aku membawa Ataar ke sini. Mang harus sembunyi-sembunyi membawa koper kami ke sini, jangan sampai dia tahu. Kalau dia bertanya aku di mana, tolong mang kasih aja jawaban asal-asalan," jelas Aisha. "Maaf merepotkan mang ujang, tapi ini untuk Ataar. Aku tak ingin anakku seperti ini lagi. Kalian pasti tau gimana posisinya menjadi seorang ibu."
Mang ujang manggut-manggut. Tanpa bertanya-tanya, dia buru-buru kembali ke rumah. Setelah itu dia kembali lagi ke rumah sakit, membawa dua koper.
"Makasih mang," ucap Aisha.
"Kalian akan kemana?"
"Kami akan pergi ke australia, tolong mang jangan memberi tahu siapa-siapa, cuma mang ujang yang tahu dan bibik. Kalau ada orang lain yang tahu selain kalian berdua, berarti mang cepu, aku tidak akan menganggap mang lagi sebagai pamanku kalau sampai mang memberi tahu siapa pun," jelas Aisha mengancam.
Mang ujang langsung menggeleng. "Gak akan Neng."
__ADS_1
Setelah merasa Ataar baik-baik saja, Aisha segera memesan tiket penerbangan mereka ke australia secepatnya agar Altar tak bisa menemukan mereka. Dia memutuskan semua apa yang bersangkutan tentang pria kejam itu. Bahkan ponselnya dia hancurkan, agar tak ada yang bisa menghubunginya serta melacaknya.