
Niat Kainal ke markas sang adik ipar untuk berancanakan sesuatu.
Dia sedang di ikuti oleh seseorang, cara tahu orangnya siapa. Kainal membiarkan seseorang itu mengikutinya, di perapatan dekat markas geng motor Ataar. Ataar dan anggotanya akan membuat jebakan kepada sang peneror.
"Sayang, kayanga kita di ikuti, deh sama motor di belakang," bisik Fisha memeluk erat pinggang Kainal.
"Jangan khawatir," ucap Kainal mengusap punggung tangan Fisha.
"Kainal, kita pulang aja yok," ucap Fisha.
"Kenapa? Gak papa ih. Mungkin mereka anggota geng motornya Ataar" ucap Kainal. "Jangan menoleh kebelakang sayang," tegur Kainal. Fisha pun bersembunyi di punggung Kainal.
Brum-brum!
Motor itu melaju dengan cepat di depan Kainal, sehingga Kainal kaget dan merem mendadak motornya.
Belum kelima orang itu mendekati Kainal dan Fisha, dari belakang Kainal terdapat banyak anggota geng motor Ataar yang mengembahkan bruman motor masing-masing.
Kelima orang yang berpakaian tertutup itu seketika panik. Mereka berbalik kebelakang, ternyata sama saja. Saat ini mereka telah di kelilingi puluhan bahkan ratusan anak geng motor.
"Sial," umpat salah satu di antara mereka.
Sebuah mobil masuk kepertengahan mereka. Kelima pria berbadan kekar keluar dari mobil itu, yang tak lain adalah Ataar dan keempat temannya.
"Papa, Ayah," sahut Fisha.
"Sial, kita masuk ke perangkat yang mereka buat. Gimana ini? Kita bisa saja lolos dari sini, tapi tidak dari tangan bos. Bos akan membunuh kita saat mereka mengenali dan membuka topek ini."
Altar dengan arogannya mendekati mereka, tetapi salah satu dari mereka meraih pistol di sakunya.
Dor!
Belum sempat salah satu di antara mereka melepaskan peluru di pistol Kendra sudah melepaskannya lebih dulu, sehingga mengenai kaki seseorang itu.
Keempatnya langsung saja menaikan pistolnya. Bersama dengan Altar dengan keempat temannya. Mereka langsung berperan pistol.
Beberapa anggota geng motor berlari ke arah Fisha dan Kainal.
Kainal memeluk tubuh istrinya, dan membawanya ke markas Ataar yang sudah dekat di sana.
"Kainal," panggil Fisha memeluk tubuh suaminya.
"Iya, gak sayang."
Di luar sana hanya terjadi tembak-tembakan. Kelima peneror itu terjatuh dan kalah.
Altar dan keempat temannya berusaha membuat mereka mengaku. Namun, mereka rela babak belur dari pada memberi tahu.
"Ok, kami kasih tahu," ucap mereka pada akhirnya, di saat Altar ingin menarik pistolnya.
"Cepat katakan!" ucap Altar.
"Aksa dan anaknya," ucap mereka.
"Anaknya?" tanya Kendra, dia bingung apa maksud orang itu. Bukannya Aksa sampai sekarang belum menikah.
__ADS_1
Mereka berlima mengangguk-angguk.
"Antar kami ke tempat bos mu itu," pinta Altar.
Mereka menggeleng. "Tidak, kami akan di habisi," tolaknya.
"Gak usah takut, ada kami," ucap Cakra. Mereka berlima pun saling pandang.
Akhirnya sekian lama berpikir mereka mengangguk.
Belum sempat untuk pergi dan bubar dari sana. Vier mendapatkan telfon dari nomor tak di kenal.
"Tunggu-tunggu, ada yang nelfon," ucap Vier sehingga mereka semua berhenti.
π±"Halo?"
π±"Kalau lo ingin istri, anak dan cucu lo aman. Lepaskan anak buah gue, atau mereka terluka?" tanya seseorang di balik telfon tak di kenal itu.
π±"Sial, siapa ini?" tanya Vier.
Terdengar suara ketawa di seberang sana. π±"Lo gak perlu tahu, yang terpenting yang lo pilih yang mana?"
Vier dan yang lain mendengar suara tangisan Ezar sangat keras.
π±"Sialan, lepaskan mereka," teriak Altar.
"Lepaskan, anak buah gue terlebih dahulu," ucapnya.
"Sial."
Vier dan Altar pergi dari sana bersama beberapa orang anggota geng motor Ataar.
Altar menyelinap masuk lewat dari jendela.
"Umimi." Altar dengan jelas mendengar suara tangisan Ezar yang memanggil umi dan abinya secara pergantian.
Bahkan orang yang menyekapnya, membentaknyan sehingga anak itu semakin kenceng, Altar dan Vier merasa kesal, cucunya sampai muntah-muntah.
Dor!
Altar menembak salah satu kaki penjahat yang sedang menggendong dengan brutal cucunya.
Dor!
Penjahat yang termasuk bosnya Itu refleks melepaskan peluru ke arah Altar. Namun, dengan ahlinya, Altar pun refleks menghindar.
"Sialan, Aksa," gumam Vier menembak orang yang telah berada di sisi anak dan istrinya.
Harumi dan Kaira pun berlari ke arah Vier.
"Kalian gak papa? Ada yang terluka?" tanya Vier memeluk kedua ratunya.
Vier melepaskannya dan berjalan ke arah orang yang mengambil cucunya.
Dor!
__ADS_1
Vier memegang dadanya yang terkena peluru. Altar dan istri, anaknya terkejut.
Vier mengeluarkan cairan merah dari mulutnya. Namun, dia sekuat tenaga menuju cucunya yang menangis bahkan sudah muntah.
Dengan kekuatan yang di paksa, Vier melepaskan pelurunya ke arah pria botak yang menembak dadanya tadi.
Vier pun berlari menangkap tubuh cucunya. Ezar menangis di dalam gendongan Vier.
"Umimi," gumam Ezar menyembuhnyikan wajah di tengkuk leher grandpanya.
"Ada Grandpa di sini, sayang," ucap Vier.
Dor!
Vier hampir saja kena tebak. Namun, ada seseorang yang menghalanginya.
"Kainal," teriak mereka, di saat Kainal ambruk tak berdaya.
"Kenapa dia bisa ada di sini?" tanya Altar pada dirinya sendiri.
"abihh." Ezar memberontak dari gendongam grandpanya di saat abinya tak berdaya di lantai.
Dor!
Dor!
Dor!
Altar menembak Aksa dengan begitu brutal. Di kepala, kaki dan bahkan matanya.
Dor!
βDia menembak kedua anak buah Aksa. Dan berlari ke arah menantunya.
Vier memberikan Ezar ke Kaira yang berada di sana, lalu mendekati putranya. Altar dan Vier mengangkat tubuh Kainal ke keluar dari rumah.
Fisha yang posisinya memaksa untuk ikut kembali ke rumah, memastikan keadaan anaknya malah melihat suaminya di angkat keluar dengan darah yang terus mengalir.
"Kainal," teriak Fisha, mendekati suaminya. "Kainal," gumam Fisha dadanya naik turun.
Ataar menarik tangan kakanya, dan langsung memeluk kakaknya, yang memberontak.
"Udah, kita akan ke rumah sakit. Kakak harus kuat," ucap Ataar mengajak kakaknya naik ke atas motornya.
Sebelum Fisha pergi, dia mendekati putranya yang terus menangis memanggil abinya.
"Umimi," ucap Ezar merentangkan tangannya untuk di ambil.
"Kamu sama aunty dulu ya, umi mau ke rumah sakit. Tenang ya, abi akan baik-baik saja." Fisha mencium bertubi-tubi putranya lalu mendekati sang adik.
Ataar mengantar kakaknya ke rumah sakit di mana Kainal di bawa oleh Altar dan Vier.
Sesampainya di rumah sakit, Fisha langsung berlari masuk, dia seperti orang kebingungan yang mencari ruang darurat di mana, sampai salah satu suster memberi tahunya.
Fisha pun berlari ke ruangan darurat tersebut sesudah berterima kasih pada suster.
__ADS_1
Fisha langsung melihat di kaca sedikit di luar ruangan. Kainal telah di tangani dua dokter dan dua suster.
Altar mendekati putrinya dan memeluknya.