Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 64 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Vieara mengerutkan keningnya. "Mau bicara apa?" tanya Ara.


Ataar memggeleng dan menyuruh Ara kembali duduk saja.


Ara hanya menurut, dia duduk bersama dengan Ataar.


Sekali-kali Ara mencuri pandangan ke arah Ataar yang menatap kedepan seperti sedang menghapal sesuatu.


"Ataa-"


Ataar berdiri dan kembali menyuruh Ara mengikutinya berdiri.


"Aku mencintaimu," ucap Ataar.


Deg!


Dadak Ara seketika sesak mendengar ucapan Ataar barusan.


"Apa? Mau ngukapin ke orang special? Lalu ngetesnya ke aku?" tanya Ara.


Ataar buru-buru menggeleng. Dia meraih tangan Ara. "Mungkin ini tak seromantis apa yang di lakukan lelaki lain, tapi percayalah aku benar-benar mencintaimu. Maaf, karena selama ini sudah membiarkanmu mengejarku terlalu lama. Aku cuma tak ingin kamu mempunyai pasangam sepertiku. Namun, sepertinya sekarang aku berubah pikiran. Hati tak bisa di paksa, kamu mecintaiku, begitupun dengan aku. Maaf kalau selama ini aku terlalu mengikuti egoku tidak dengan hatiku. Jadi..."


"Jadi apa?" tanya Vieara dengan penasaraan, karena Ataar menjeda ucapnnya. Dia menengangkan badannya. "Jadi apa?" tanya Ara sekali lagi. Ataar hanya diam belum mengeluarkan satu pata pun.


"Jadi, kalau kamu tak mengharapkanku lagi, tak masalah. Lagian aku cuma mengungkapkannya, tidak untuk di terima kok. Keputusanmu ada benarnya, kini aku yang akan mengeja-"


Ara mencubit pergelangan tangan Ataar. Sehingga lelaki itu meringis.


"Sakit, gak?"


Ataar mengangguk. Ara langsung berhamburan memeluk Ataar dengan sangat erat.


Saat ini dia sangat bahagia, akhirnya penantiannya telah usai dan berhasil mendapatkan apa yang dia mau. Dia mengejar Ataar secara unggal-unggalan semenjak sekolah dasar (SD)


"Jadi?"


Ataar melepaskan pelukannya dan mengecup tangan Ara.


"Kamu mau menjadi pendamping hidup aku? Aku akan menunggumu sampai kamu lulus sekolah."


Tanpa menunggu lama, Ara langsung mengangguk.


Ataar tertawa lalu mengangkat tubuh Ara. Ara langsung memegang leher Ataar agar tak jatuh.


"Aku mencintaimu, Ataar," teriak Vieara.


"Aku juga mencintaimu," balas Ataar.


Ataar menurunkan Ara, dan menarik tangannya berlari ke arah pantai. Suasana mendukung, karena sunset


"Ataar aku capek," ucapnya berhenti dan cemberut di tempat.


Ataar menoleh kebelakang dan berlari kembali ke dekat Ara.


"Handsome," gumam Ara melihat senyuman Ataar yang terpencar. Baru hari ini Ara melihatnya tersenyum.


Terasa mimpi baginya, dia tak menyangka akan mendapatkan pujaan hatinya.


"Ayo."

__ADS_1


"Kemana?" tanya Ara.


"Ikut aja," ucap lelaki itu


💗💗💗💗💗


Seminggu setelah melahirkan, Fisha sudah pulang. Dia masih berada di rumah sang mertua.


Saat ini Ezar lagi rewel-rewelnya membuat Fisha nyaris menangis, karena Ezar bangun tengah malam dan tak mau tidur.


"Sayang, tidur dong. Umi juga mau tidur," bujuk Fisha, walaupun anaknya itu belum mengerti.


"Jangan nangis lagi, ya?"


Fisha menggendong anaknya kesana, kemari.


"Abi," panggil Fisha membangunkan Kainal yang tidur seperti kebo.


Kainal mengejapkan matanya dan menatap ke depan. Kainal beranjak bangun dan mengambil ahli Ezar.


"Tidurlah, Ezar biar aku yang jaga," ucap Kainal.


"Gak papa?" tanya Fisha.


"Gak papa sayang," ucap Kainal.


Fisha pun menaiki ranjang dan tidur lelap.


Kainal menidurkan anaknya di samping Fisha. "Belum ngantuk anak abi?" tanya Kainal. "Kuat banget begadangnya, kenapa?"


Ezar hanya menguap dan menggoyangkan kaki dan tangannya.


Bayi itu hanya tersenyum tipis.


Sekitar pukul 02.45 waktu setempat, Ezar tertidur. Kainal benar-benar nyut-nyutan menemani sang putra.


"Akhirnya," ucapnya.


Kainal menidurkan bayinya di rank bayi, tak lupa untuk memasangkannya kelambuh agar tak ada nyamuk yang menggigit tubuh putranya. Dia menaiki ranjang dan memeluk Fisha.


"Udah tidur?" tanya Fisha berbalik badan ke arah sang suami.


Kainal menarik tangan Fisha dan memeluknya. Dia mengangguk.


"Makasih ya, udah bantu tidurin Ezar," ucap Fisha.


"Itu udah kewajibanku, kamu udah mengurusnya pagi dan malam."


Fisha menarik tubuh suaminya dan memeluknya dengan erat, membelai rambutnya.


Keesokan paginya. Ezar di mandikan grandmanya, bayi itu hanya enteng tanpa menangis rewel saat di mandikan.


"Ganteng banget cucu grandma." Dengan senang, Harumi membolak-balikan bayi mungil itu.


Usai memandikannya, Harumi membawanya ke ranjang miliknya. Saat ini, bayi itu udah di ambil pagi-pagi sekali. Bahkan, orang tuanya aja belum bangun dari tidurnya.


Vier ikut menaiki ranjang mendekati cucunya yang tanpa sehelai benang pun.


"Sudah segar," seru Vier mengusap pipi Ezar.

__ADS_1


"Jangan di usap, mas," tegur Harumi datang membawakan pakaian cucunya.


"Orang tuanya tahu, kalau kamu udah ambil anaknya pagi-pagi gini?" tanya Vier.


"Ini udah gak pagi-pagi amat, tadi udah aku bawa jalan-jalan keluar rumah, biar kena matahari. Kalian aja yang lama bangun," jawab Harumi memaka'kan bedak cucunya.


Sedangkan di kamar orang tuanya Ezar, sepasang suami istri itu masih tidur sambil berpelukan. Efek mengantuk, karena menemani Ezar bengadang. Dan bisa-bisanya bocil itu udah keluyuran


Fisha meringis, kedua gunungnya terasa nyerih. Dia membuka matanya perlahan, dan melepaskan pelukan Kainal.


Dia mendekati rank di mana Ezar tidur. Namun, dia terkejut karena anaknya tak ada di sana.


"Kainal," panggil Fisha mengguncang tubuh suaminya. Kainal membuka matanya.


"Kenapa, sayang?" tanya Kainal.


"Ezar mana?" tanya Fisha.


Kainal beranjak bangun dan mendekati rank bayi. Seketika dia ikutan panik, tak mendapati putranya.


Buru-buru dia berlari keluar kamar dan menuju kamar orang tuanya.


Tok tok!


"Ayah, Ezar hilang. Yah," teriak Kainal membuat kedua orang tuanya tertawa.


Kainal begitu panik, apalagi saat ini baru saja membuka matanya. Bahkan, masih berwajah bantal.


"Bukain, mas. Kasihan mereka."


Vier pun berdiri untuk membuka'kan pintu buat anaknya.


"Ayah, Ezar hilang."


"Ha?"


"Ezar gak ada di kamar," ucapnya.


Oek oek!


Di saat mendengar tangisan bayi, Kainal menyosor masuk melihat putranya berada di ranjang bersama sang bunda.


Kainal menghela napas lega, mendapati anaknya di atas ranjang.


"Kalian bikin kami panik aja!" ketus Kainal.


"Kalian aja yang tidur terlalu nyenyak. Bunda gak tega bangunin untuk sekedar minta izin."


Fisha ikut berlari memasuki kamar mertuanya. Dia ikutan bernapas lega melihat putranya enteng di ranjang.


"Ya Allah, sayang." Fisha mendekati Ezar.


"Maafin bunda ya, bikin kalian panik."


"Fisha beri asi dulu, ya." Fisha ikut menaiki ranjang dan mengambil putranya.


Kainal dan Vier memilih untuk keluar dari kamar. Di wajah ayah baru itu masih terpancar kepanikan.


"Anak umi gak bilang kalau di ambil glandma, hem? Bikin khawatir, umi dan abi aja," ucap Fisha.

__ADS_1


Bayi itu hanya tersenyum tipis membuat Harumi gemass dan langsung menyiumnya bertubi-tubi. Sehingga Ezar menangis.


__ADS_2