Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 56 ~Penantian Sprang Gadis~


__ADS_3

Kainal memeluk dari belakang istrinya yang sedang berada di balkon kamar, Fisha yang fokus menghirum suasana malam sempat kaget, tapi langsung tersenyum.


"Di sini malam-malam, mana cuma pakai daster mini. Nanti kalau masuk angin gimana?" tanya Kainal. Memakai'kan istrinya cardigan yang dia bawa.


"Aku senang, akhirnya Papa dan Ataar baikan. Semoga tak ada lagi kendala."


"Aamiin," ucap Kainal mencium tengkuk leher istrinya.


Fisha duduk di pangkuan suaminya, dan menggalungkan tangannya di leher.


"Aku gak sabar ketemu Ataar. Aku senang banget-banget, akhirnya dia sembuh juga. Aku berharap Papa kali ini ikhlas tidak terpaksa," seru Fisha.


Kainal tersenyum, memperhatikan istrinya mengoceh, dia ikut senang kalau istrinya itu senang.


"Kapan kepulangan mereka ke indonesia?"


"Katanya Ataar masih butuh dokter psiketer. Dia masih sering mengingat kejadian yang membuatnya hancur. Dia sering berteriak tidak jelas dan memohon agar tak di pukul." Fisha menghela napas. "Kamu tahu, dulu dia begitu tersiksa, aku gak bisa membantu dia, Nal. Setiap kali aku ingin membantunya, Papa akan memukulinya, tak memberinya makan. Menyiramnnya air dingin, tapi bisanya Ataar yang di perlakukan seperti itu menganggap kalau itu kasih sayang yang berbeda. Aku sering kali membohonginya, kalau Papa sebenarnya sayang sama dia makanya di gituin."


"Aku gak becus jadi kakak?"


Kainal memeluk istrinya. "Siapa bilang kalau kamu gak becus jadi kakak? Bukannya, Ataar sangat menyayangi kakaknya ini?"


"Kainal, di suatu saat nanti kalau misalnya badai menerjang hubungan kita. Jangan pernah salahin anak yang tak berdosa ini, ya?"


Fisha memegang perutnya yang sudah membesar. Bumil itu menghela napas. "Jadilah suami baik, ayah yang baik. Dan lelaki yang baik, jangan kamu tiru Papa aku. Dia memang suami yang baik, lelaki yang baik, tapi tidak dengan perannya seorang Ayah. Papa terlalu egois, dan sedikit mengambil kesimpulan."


"Dulu Papa sangat menantikan anak keduanya itu Ataar. Papa tak henti-hentinya memperingati umi harus menjaga bayi yang di kandung. Walaupun waktu itu aku masih berusia 5-Tahun, tapi aku ingat jelas itu semua. Di waktu persalinan, angin badai yang menerjang kami. Oma Marwan meninggal dunia di waktu bersamaan umi berjuang melahirkan Ataar, dan hal yang mengunjungkan lagi. Umi di nyatakan koma, karena kehabisan darah. Waktu itu umi butuh Papa, tapi papa berada di ruangan mayat oma, sehingga dia lupa kalau umi sedang menunggunya. Dari situlah, Papa membenci Ataar, dia mengatakan itu semua atas kelahiran Ataar. Dia menganggap Ataar, anak pembawa sial." Fisha menjelaskan pada suaminya, dia ingin suaminya tahu.


Kainal mengusap bahu istrinya. Dia menangkup kedua pipi Fisha. "Aku tidak akan berbuat seperti itu," ucap Kainal.

__ADS_1


Fisha memeluk Kainal dengan erat, menangis sejadi-jadinya di sana.


"Udah ya nangisnya, yang terpenting Ataar saat ini udah membaik. Ataar dan Papa udah membaik, semoga setelah ini. Ataar mendapatkan kebahagian ."


Fisha mengangguk sambil melap air matanya sendiri.


"Yaudah ya, bumil harus bobo." Kainal menggendong istrinya masuk ke dalam kamar, menidurkannya di ranjang.


Fisha tersenyum dan menarik Kainal mendekat ke arahnya.


Cup!


Fisha mencium bibir Kainal sekilas lalu menutup matanya. Menikmati usapan yang di berikan Kainal kepadanya.


"Goodnight cintaku," gumam Kainal mencium pucuk kepala istrinya.


Kainal mengambil bantal guling, dan menarohnya di bawah perut sang istri. Dia menelan salvinnya, di saat daster sebatas lutut istrinya tertarik ke atas. Dia melihat jelas paha mulus milik Fisha.


"Iyakk!" celetuk Fisha menutupi selimut pahanya membuat Kainal menatapnya dengan senduh. "Jangan ngadi-ngadi, sayang. Kemarin kamu udah dapat, ya."


"Sekali lagi, gak bisa?"


Fisha menggeleng. Si bumil pura-pura menguap, dan mulai menutup matanya, tapi tidak sengaja dia melempar tangannya pas di tengah-tengah paha Kainal. Fisha yang menyadarinya seketika menjauhkan tangannya.


"Sayang, kamu udah membangunkannya. Kalau gak mau dia rewel, beri asupan," rengek Kainal.


"Please, aku capek banget. Lain kali aja ya sayangku."


Kainal mengerucut bibirnya.

__ADS_1


"Hug aja ya? Besok aku kasih janji."


Kainal yang tadinya cemberut langsung tersenyum. "Janji?


Fisha mengangguk. "Janji."


Kainal tidur di samping sang istri. Fisha pun memiringkan badannya, dan menyuruh Kainal mengusap perutnya dari belakang.


💚💚💚💚💚


"Kamu sekarang di mana, Taar? Kamu mengingkari janjimu. Aku sudah menunggumu kala hari itu, kamu mengajakku untuk bertemu, tapi bukannya datang, kamu malah tak ada kabar," gumam gadis cantik yang menatap foto lelaki yang dia cintai. "Walaupun panah kau tancapkan di hatiku, tapi pada dasarnya, aku masih mencintaimu. Padahal aku tahu, kamu tak akan pernah membalas perasaanku. Cinta di khianati itu sakit, apalagi cinta sendiri. Kamu tak sama sekali membalas pesankku dari seminggu yang lalu. Kamu di mana? Apa kamu baik-baik aja? Apa kamu jadi kuliah LN?" tanya Vieara. "Kalau itu benar, aku akan menunggumu. Walaupun nant ku pastikan pernantianku sama seperti endnya dengan kak Fisha, tapi gak papa. Coba tak mengapa, mungkin saja ada keajaiban? Di dunia ini tak ada yang tak mungkin. Contohnya, nanti Ataar akan datang kepadaku kalau dia juga menyukaiku." Gadis itu tersenyum dengan semua pikiran yang dia buat-buat untuk menghibur diri sendiri.


Di sisi lain ada Ataar yang sudah berada di rumah Rigel. Keadaannya sudah membaik, jadi dia berniat akan pulang ke Indonesia secepat mungkin. Dia ingin bertemu dengan gadisnya.


Hidupnya akan lengkap di saat dia sudah menyatakan perasaannya dengan gadis yang dia sukai. Persetan, kalau gadis itu sudah tak menyukainya.


"Umi, kita balik lusa ya?" bujuk Ataar.


Umi Aisha menatap suaminya. Altar mengangguk.


"Gak enak juga, kita udah terlalu lama di sini. Merepotkan bang Rigel dan kak Julita."


"Baiklah, tapi kamu benaran udah membaik?" tanya Aisha yang memegang tangan anaknya yang masih sedikit loyo.


Ataar mengangguk. "Aku udah membaik umi, Ataar mau tidur di kabar Ataar. Ataar kangen, kangen sama kak Fisha juga." Ataar berjawab dengan jujur.


Terlihat jelas dari raut wajah Ataar sangat bahagia. Kenapa tidak? Papanya udah menerimanya, kedua orang tuanya sudah baikan. List keinginannya hampir tercapai hanya satu yang belum, entah dia bisa atau tidak. Yang jelas saat ini dia sedang merasa bahagia.


"Makasih," ucap Ataar tersenyum kepada kedua orang tuanya. "Makasih, sudah membuat Ataar bahagia."

__ADS_1


Altar dengan ragu memegang kepala anaknya dan membelainya. "Seharusnya Papa yang makasih sudah mau menerima maaf Papa."


"Papa adalah Papa Ataar, kesalahan Papa udah Ataar maafkan sebelum papa meminta maaf," ucap Ataar pada papanya.


__ADS_2