
Usai pangsitnya habis. Fisha tidur di pangkuan suaminya. Mendengar suaminya itu sholawat dengan sangat merdu.
Karena sholawat Kainal membuat istrinya itu tertidur di pangkuannya. Dia menyium pipi istrinya dan menggendongnya ke ranjang.
Setelahnya dia keluar dari kamar untuk menemui bundanya, memintakan obat pereda mual. Sudah empat kali Fisha terus mual.
"Bunda," teriak Kainal. Namun, tak ada sahutan malahan adiknya yang datang.
"Bunda ke ponpes," sahut Kaira.
Kainal manggut-manggut. "Dek, ada obat pereda mual gak?"
"Emang kenapa?" tanya Kaira.
"Fisha dari tadi mual, kakak jadi khawatir. Makanan yang dia makan keluar semua jadinya," jawab Kainal. Kaira berlari mendekati laci dan mengeluarkan sebutir obat.
"Suruh kak Fisha minum ini aja," pinta Kaira. Kainal mengangguk. Dia berjalan ke dapur mengambil segelas air untuk istrinya dan kembali ke kamar untuk nyimpan obat serta air itu.
Ting tong!
Kaira berlari membuka'kan pintu dan menyeringai. "Dih gak nerima tamu gue, kalian pada pulang gih," usir Kaira pada teman-temannya yang tak lain adalah Saifara dan Celi di ikuti dengan ketiga teman Kainal.
"Pelit banget lo, gue datang kesini bukan buat lo kok, tapi pengen ketemu kak Fisha," ketus Celi.
"Kak Fisha sakit jadi-"
"KAK FISHA SAKIT?" tanya mereka semua.
"Gak usah teriak, gue gak tuli kali," timpal Kaira membuka pintu lebar-lebar menyuruh mereka masuk.
"Jangan terlalu ribut ya, kak Fisha tidur. Bentar gue sholat dulu." Kaira berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Lo yakin, kak Fishakan sakit. Gimana sih?"
"Tapi yang nyuruh, kak Fisha sendiri ege," kelit Devon. "Nah lihat chatnya." Devon menaroh ponselnya di atas meja.
Mereka pun melihatnya secara bersama-sama. "Owh Kainal ulang tahun?"
Celi menampilkan kepala ufik. "Bukan njir."
"Terus apa?" tanya Ufik.
"Gak tau juga, tapikan hari ini bukan hari ulang tahun Kainal. Mungkin ada kejutan lain?"
Devon mengangguk. Saat Kaira telah selesai sholat mereka mengajak gadis itu kehalaman belakang rumah.
"Ada apasih?" tanya Kaira.
"Gini tapi lo jangan bilang-bilang ya! Kak Fisha nyuruh kita siapin acara di halaman belakang, pokoknya dekor yang bagus, tapi kita cuma ngasih tahu lo. Lo jangan beri tahu tante om, dan Kainal. Ini rahasia kita bertujuh aja," jelas Celi.
Kaira mengangguk. "Kok harus di sembunyiin?"
Mereka menaikan bahu tak tau. Mereka juga hanya di suruh.
Mereka semua dengan tenang, tanpa keributan menyelesaikan tugas yang diberikan Fisha.
__ADS_1
"Cocok lo jadi tukang kuli bangunan, Tof," seru Kaira.
"Mata lo peyak," ketus Tofik memaku.
"Mata gue ada dua," sela Devon ikut nimbrung pembicaraan.
"Stt, jangan ribut. Jangan sampai Kainal dengar dan gagal," tegur Ufik.
Mereka kembali fokus. Mereka istrirahat sebentar lalu melanjutkannya. Sekitar satu jam, semuanya mereka pun selesai.
Hari mulai sore, para anggota keluarga akan berkumpul.
"Semuanya sudah selesai?" tanya Devon. Mereka berlima mengangguk.
Mereka pun mengirim pesan pada Fisha kalau tugas mereka telah selesai. Kini tinggal menunggu para orang tua datang. Fisha mengundang papah dan uminya serta sahabat papahnya yang lain untuk hadir kerumah.
"Gue penasaraan banget," sahut Kaira.
"Iya gue juga," balas mereka bersama.
Fisha membangunkan suaminya karena hari mulai sore. Kainal membuka matanya lalu bangun.
"Udah jam berapa ini?" tanya Kainal mengucek matanya dan melihat jam dinding. "Udah sore."
"Kamu cuci muka dulu, sekalian mandi sore. Aku akan menyiapkan makan malam."
Kainal mengangguk, dia membuka pakaiannya lalu berjalan memasuki kamar mandi.
Karena merasa sudah aman. Fisha pun turun ke lantai bawah. Dan menuju halaman belakang rumah.
"Gimana?" tanya Fisha baru saja datang. Mereka berenam menoleh lalu menaikan jempol masing-masing.
Fisha menyuruh mereka mendekat dan membisikan sesuatu. Mereka pun kaget dan ingin heboh, tapi Fisha melarangnya.
"Kalian jangan ada yang gatal mulutnya!" Mereka semua manggut-manggut.
"Sayang," teriak Kainal. Fisha pun berbalik dan sedikit berlari menuju dapur.
"Omaygat," seru mereka menutup mulut.
"Kaira mana? Aku cari di kamarnya gak ada," ucap Kainal.
"Aku habis buang sampah," sahut Kaira menyengir.
💚💚💚💚💚💚
Mereka semua merasa bingung lantaran Fisha tak sama sekali memberi tahu mereka apa-apa atas kumpulan yang di adakan.
"Ini ada apasih? Terus Fisha kemana?" tanya Kiara.
"Kainal di mana istrimu?" tanya ayahnya.
"Gak tau, pah."
Celi menggoda di balik pintu, mereka pun semua berdiri dan ikut ke halaman belakang.
__ADS_1
"Ini kenapa lampu di halaman belakang mati?" tanya Vier. "Kaina kamu nyalahin lampu," perintah Vier.
Kainal pun menurut, dia menyalah lampu halaman belakang. Saat lampu menyalah. Para oang tua serta Kainal terkejut.
"Wait?"
"Ini semua rencana kak Fisha."
Mereka semua duduk di kursi yang di siapkan. Bahkan di atas meja sudah tertara beberapa sajian makanan.
"Atas rangka apa ini?" tanya mereka.
Fisha tersenyum. "Gak ada rangka apa-apa, aku hanya ingin kalian berkumpul. Walaupun sudah berkeluarga bukannya tetap harus saling silaturahmi?"
Mereka mengangguk.
Kainal memandang istrinya, Fisha yang di tatap menaikan alisnya.
"Kok bahagia banget?" tanya Kainal.
Fisha menarik tangan Kainal meninggalkan tempat tersebut.
"Ada apasih sayang?"
"Ini kado buat kamu." Fisha menyodorkan kotak berbentukan kecil.
"Atas rangka apa ini?" tanya Kainal berbisik, mengambil kotak tersebut.
Fisha menggeleng, mengayungkan tangannya. "Coba di buka," pinta Fisha.
Kainal yang bingung pun. Mulai melepaskan tali pita di kotak tersebut.
"I-ni artinya..."
Fisha mengangguk. "Iya," jawab Fisha manggut-manggut.
"Benaran aku bakal jadi ayah?"
Fisha kembali mengangguk. Dia mengeluarkan hasil ceknya kedokter. "Sebenarnya pas kamu sedang kerja, aku merasa gak enak badan. Dan banyak perubahan. Aku coba-coba beli tespeck, ternyata aku hamil, tapi aku gak yakin. Akhirnya Aku coba lagi periksa ke dokter di saat bunda sedang ke ponpes dan Ai ke sekolah. Dan itu benar."
Kainal langsung memeluk istrinya dan berteriak hesteris. Sehingga para orang tua kaget.
"Ada apa?" tanya Bundanya.
Kainal tersenyum haru. "Bu-nda," seru Kainal dengan tangan bergetar dia memperlihatkan pada mereka benda yang sedang dia pegang.
Vier dan Altar yang melihat itu langsung berdiri dari duduknya. Dan langsung merebutkan benda tersebut di tangan Kainal.
"Cih, gue dulu," ketus Altar.
"Guelah, ini anak gue yang bikin."
"Tapi kalau gak ada anak gue, anak lo gak bakal dapat hasil," timpal Altar.
Evan mengambil benda itu dari tangan Kainal lebih dulu. "Anjay padahal gue belum tua-tua banget, tapi bentar lagi jadi kakek. Perasaan tampak gue masih kaya anak Sma, deh."
__ADS_1
"Najis," cibir Cakra.
"Dih gak sadar diri lo, gue yang awet muda," timpal Kendra merebut benda itu. "Devon, kapan nyusul nak?" tanyanya pada sang anak. Sehingga Devon yang sedang makan tersedak sehingga mienya keluar dari hidung.