
Mereka semua kembali memperhatikan foto Alya, memang dari sekilas gadis itu mirip sekali dengan Aksa.
"Mirip,"ucap mereka semua.
Mereka niat sesaat saling berpikir satu sama lain. Tiba-tiba saja mereka saling menatap.
"Alya anak Aksa?" tanya mereka bersamaan. Seakan kontak mereka semua menyambung.
"Lah bisa jadi, kenapa kita gak kepikiran?" tanya Evan. "Lagian akhir-akhir ini Alya tak ingin keluar dari rumah. Apa mungkin ada sangkutannya dengan ini?"
"Gimana kalau kita mengatahuinya, tes DNA? Gimana caranya?"
Mereka nampak berpikir satu sama lain. Gimana mereka akan tes DNA kalau saat ini Aksa telah tiada.
"Harumi," sahut Kendra membuat mereka semua menoleh ke arah pria itu, termasuk Vier, karena Kendra menyebut nama istrinya. "Harumi adalah sepupu kandung Aksa, Aksa dan Harumi satu gen yang sama, mempunyai darah satu dari Ayah mereka. Lihat saja walaupun hanya bersepupu mereka sedikit mirip. Lagi pula golongan darah Harumi dan Aksa sama kan? Sedikit lemah untuk membuktikannya, tapi mencoba tak mengapa?"
Vier pulang ke rumah, untuk menemui sang istri. Dia akan mengambil sehelai rambut istrinya.
"Sayang," panggil Vier masuk ke dalam kamar. Ternyata wanita itu sudah tertidur. Vier mendekati istrinya mengecup singkat kening dan bibirnya, walaupun umur sudah tua. Vier tak mengurangi kasih sayangnya pada sang istri. Bahkan romantis pun mereka masih seperti anak muda.
"Mas, kamu udah pulang," ucap Harumi membuka matanya, yang pertama dia lihat wajah tampan suaminya, pria tampan ymempunyai kumis tipis-tipis.
"Mas ganggu tidurnya?" tanya Vier membantu istrinya bangun.
__ADS_1
Harumi menggeleng. "Maaf ya gak tunggu mas pulang, aku ngantuk banget jadi aku tidur duluan," ucap Harumi. "Kamu juga pulangnya kemalaman gini, lembur iya?"
Vier menggeleng membuat Harumi mengerutkan keningnya. Kalau tak lembut kenapa pria itu lama pulangnya.
"Terus?" tanya Harumi.
"Mas di kantor Evan, lagi bahas tentang kasus anaknya Aksa, saat ini cuma anaknya yang bisa menanggung hukuman atas perbuatan ayahnya," ucap Vier.
Harumi mendengar ucapan suaminya sambil melepaskan dasi yang Vier pakai.
"Terus gimna mas? Apa ada peningkatan? Sudah hampir dua tahun. Namun sedikit pun kalian tak mendapatkan hasil apapun. Atau jangan-jangan Aksa memang gak punya anak. Gimana dia mempunyai anak kalau hobinya masuk keluar penjara mulu?"
Vier menghela napas, apa yang di katakan Harumi ada benarnya, tetapi dia ingin membuktikan saran dari Kendra.
"Buat apa, mas?" tanya Harumi.
"Buat tes DNA," jawab Vier.
"Maksud mas?"
Vier berdiri dari sana dan memeluk istrinya dari belakang.
"Jangan salah sangka dulu, yang kamu pikirkan salah. Niat mas ingin meminta sehelai rambutmu, untuk melakukan tes DNA dengan seseorang yang kami curigai."
__ADS_1
"Terus kok malah ke aku, sih?" tanya Harumi tak mengerti.
"Makanya dengerin penjelasan mas dulu, sayang," ucap Vier. "Kamu dan Aksa bersepupu kandung. Ayah kalian bersaudara, ibu kalian juga bersaudara. Jadi kalian pasti punya hubungam begitu dekat oleh Aksa. Awalnya mas juga gak yakin dengan ucapan Kendra, tetapi mungkin saja kamu bisa. Hanya kamu harapan kami satu-satunya, sayang."
Harumi menghela napas."Walaupun aku tak yakin, yaudah mas. Kamu bisa mengambil rambutku untuk tes DNA, ini juga demi keluarga anak kita. Aku tak ingin lagi mereka dalam bahaya."
"Makasih sayang." Vier mengecup singkat bibir ranum istrinya.
"Kenapa gak di ambil mas?" tanya Harumi.
"Besok aja, sayang," ucap Vier. Dia mengganti pakaiannya lalu menaiki ranjang, Harumi pun ikut menaiki ranjang. Lengan Vier yang menjadi bantalnya. Begitulah yang membuarnya nyenyak dan sebaliknya pun begitu dengan Vier nyenyak saat memeluk istrinya.
Keesokan paginya, Vier sudah mengambil rambut istrinya. Dia dan Evan akan bertemu di klinik.
Sesampainya di sana, dan mereka sudah bertemu.
"Mana?" tanya Evan, Vier memberikan botol kecil, Evan pun mengambilnya dan memasuki klinik.
Sesudahnya dia keluar dari ruangan. Mereka akan tunggu hasilnya selama seminggu.
"Semoga dengan ini berhasil," ucap Vier di angguki oleh Evan.
Evan masih menyembunyikan ini semua pada Alya, bersikap biasa layaknya seorang ayah pada putrinya.
__ADS_1