
Fisha menyuruh putranya tak boleh nempel terus bersama dengan unclenya, soalnya unclenya udah milik orang. Pasti gak enak di posisi Vieara yang perhatiannya harus di bagi, walaupun terlihat biasa-biasanya, tapi coba ngertiin sedikit.
"Kami pulang ya, kak," pamit kedua pasangan itu. Fisha tersenyum lalu mengangguk.
"Unty, unty sayang ndak cama Ejal?" tanya Ezar tiba-tiba pada Vieara.
Vieara dan Ataar saling memandang lalu menatap Ezar.
"Menurut Ezar, unty sayang gak sama Ezar?" tanya Ara balik.
"Mdak tahu, unty," jawab anak itu geleng-geleng. "Ata umi, Ejal ndak boyeh cama kalian telus, akut ganggu unty cama cnle."
Ara terkekeh ternyata kakak iparnya pengertian dan gak enakan, padahal dia senang bersama dengan Ezar. Ezar juga bocah yang tak rewel menurut Ara.
Ataar dan Ara sudah resmi berstatus suami istri 3 bulan yang lalu.
"Iya, kamu gak boleh ganggu cnle sama unty," sahut Ataar sehingga Ezar menatapnya bingung.
"Tenapa?" tanya Ezar.
"Iya soalnya cnle mau bikin teman buat Ezar," jawab Ataar sehingga mendapatkan cubitan kecil dari Ara.
"Apasih ngomongnya, Ezar anak kecil," celetuk Ara pada suaminya.
"Cala buat teman ta manya?" tanya Ezar. "Ejal au ikut ong."
Mereka berdua memilih diam, kalau mereka terus menjawab pertanyaan Ezar yang di luar nalar, akan semakin panjang.
Sesampainya mereka di rumah, Ezar berlari ke arah grandma Aisha yang berada di pintu. Ezar dan Fisha pindah ke rumah orang tuanya, karena dia tak enakan harus tinggal di rumah mertuanya yang posisinya tak ada suaminya di sana.
Walaupun di larang untuk pindah, Fisha memohon kepada kedua orang tuanya, jadi mau tak mau kedua mertuanya mengiyakan.
"Cucu grandma," seru Aisha menangkap tubuh cucunya.
"Ndma, ndma tahu ndk? Ezal bis etemu abi."
Aisha mengangguk dan membawa cucunya masuk ke dalam rumah, tak lupa untuk memanggil menantunya.
"Acian abi ndma, dia apek eljal jadi bobo iyus di umah akit. emi beyi nennya Ejal, abi ayus eljal."
Aisha mencium pucuk kepala cucunya, dia tak tahu harus membalas apa ucapan cucunya itu.
"Ndma, Ejal antuk. Ayo bobo," ucap anak itu. Aisha pun menggendong Ezar ke kamarnya.
"Ndma, Ejal nanti mau bobo cama umi dan abi."
Aisha mengangguk. "Yaudah, Ezar bobo sama grandma dan grandpa dulu, ya?"
Ezar mengangguk, dia memperbaiki posisi tidurnya lalu mulai menutup matanya. Aisha memandang wajah Ezar yang lucu. Dia berharap menantunya secepatnya sadar dan melihat Ezar tumbuh dewasa.
__ADS_1
"Ara, tungguin," ucap Ataar.
"Kamu lama," ucap Ara berhenti di anak tangga di saat suaminya menekuk bibirnya.
Sesampainya di kamar, Ataar memeluk istrinya dengan erat di atas tempat tidur.
"Ataar jangan erat-erat dong meluknya," ucap Ara.
"Gue kangen, Ra."
"Kangen apasih, setiap hari ketemu."
"Kangen main itu." Ataar mendongak. "Ayo main."
"Main apa?" tanya Ara tak mengerti.
"Gak peka, kita mainnya jumat lalu loh."
"Main apasih? Sumpah aku gak ngerti maksud kamu. Kita sering main, main ludo, main tiga demensi."
"Ih kok lo malah bongkar yang itu? Nanti readers ketawain gue."
"Kan emang benar gitukan? Kamu sering ngajakin aku main gituan."
"Ara, mau itu."
"ih, ngomong yang jelas Ataar. Ada permainan baru lagi?"
Ara beroh. "Nah gitukan bagus, yang jelas."
"Terus gimana mau gak?" tanya Ataar.
Ara mengangguk. "Kamu memang udah berhak dapat, kok."
Ataar beranjak ke atas istrinya mencium bibir mungil itu. Ataar memang manja dan akan mode kucing di saat bersama dengan Ara, berbeda di saat percintaan dengan istrinya dan bersama dengan temannya.
Ara menepis tangan Ataar yang mengenggam jemarinya. Dia beralih menggalungkan tangannya di leher Ataar.
Ataar melepaskan ciumannya lalu Mencium leher jengjang Ara.
Di saat pakaian mereka sudah sama-sama terlepas, Ataar pun memulai aksi bikin teman buat Ezar.
Sejam usai percintaan, Ataar turun dengan rambut yang basah untuk mengambilkan istrinya sarapan, tak mungkin Ara yang turun dengan bekas gigitan Ataar yang terpapang jelas di lehernya. Lagian wanita itu tak ingin kemana-mana. Biasanya dia semangat membantu mertuanya memasak, namun saat ini dia sedang malas. Entah kenapa.
"Istrimu mana, Taar?" tanya Altar.
Ataar yang fokus mengambilkan lauk di atas meja langsung saja menoleh ke arah uminya.
"Tidur, pah."
__ADS_1
"Tumben tidur cepat, dia gak sakit?" tanya Altar.
Ataar menggeleng. "Gak kok, pah."
Aisha menginjak kaki Altar agar peka. Dia mengode ke leher Altar yang nampak memerah.
Altar batuk-batuk di saat sudah sadar. Kalau begini dia tak akan bertanya-tanya yang membuat putranya susah mencari alasannya.
"Yaudah kamu makan di atas aja, lesbians istrimu kalau di tinggal sendiri." Aisha memberi lauk dan nasi ke piring Ataar lebih banyak.
Ataar tersenyum lalu mengangguk, dia beranjak dari sana kembali ke kamar.
Di kamar istrinya lagi di kasur sedang tidur. Dia tak bohong ke papanya kalau Ara tidur, karena Ara memang sedang tidur di saat dia pergi.
"Ara," panggil Ataar menepuk pipi Ara. Ara yang merasa tepukan Ataar langsung memuka mata.
"Ataar."
"Ayo bangun, kita makan dulu."
Ara seketika duduk di tempat, dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Ataar memberikan piring makanan itu ke Ara. Kalau kalian perpikir, Ataar yang akan menyuapi Ara, kalian salah besar. Ara yang selalu menyuapi Ataar seperti bocah.
Ara memotong daging yang di piring lalu mengulurkan sendong yang berisi makanan ke mulut Ataar.
Ataar mengunyahnya dan tersenyum manis ke Ara. Di mandingkan dengan Ezar, menurut Ara Ezar lebih dewasa sedikit dari pada suaminya.
Wanita itu juga menyuapi dirinya sendiri. Ataar yang melihat bibir istrinya penuh dengan kecap, dia pun melapnya dengan jari.
"Ataar, coba kamu makan sendiri. Dan kamu yang suapin aku, aku malas banget. Lemas." Ara menyimpan piring itu di paha suaminya yang sedang mengunyah makanan.
"Kok gitu?"
"Kamu makan aja sendiri dulu."
"Kamu gak papa?" tanya Ataar cemas.
Ara berdehem, sebenarnya dia mengantuk.
"Yaudah aku yang suapin."
Ara membuka mulutnya sedikit di saat Ataar memberinya suapan.
"Baru kali ini loh, aku rasain suapan kamu. Lagian sebenarnya emang gitu, seharusnya istri yang biasanya di suapin. Kamu lihat aja umi dan apah. Daddy aja sering menyuapin mommy."
Ataar terdiam, dan hanya mengangguk. "Besok-besok gue yang akan menyuapi lo makan!"
Ara terkekeh. "Setiap hari kamu janji-janji mulu."
__ADS_1
"Kali ini gak, Ara. Gue benaran deh."
Ara hanya bisa mengangguk pasrah, dari pada membujuk lelaki itu yang ngambek. Gitulah dulunya nolak mentah-mentah, kini bucin tak tertolok. Kata Author mah, makan ludah sendiri.