
Kainal membuka matanya, karena istrinya terlalu banyak goyang.
"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Kainal melihat istrinya gelisa.
"Perut aku kram," jawab Fisha.
Kainal beranjak bangun dan keluar untuk menyiapkan air hangat untuk istrinya. Sesudahnya dia kembali ke kamar.
Calon abi itu menaikan daster milik Fisha sampai ke dada.
"Jangan rewel, kasian umi kamu gak bisa tidur," bujuk Kainal mengusap perut istrinya.
"Udah mendingan, sayang?" tanya Kainal. Fisha mengangguk. "Seharusnya dari tadi kamu bangunin aku. Tidurlah."
"Kamu nyenyak banget tidurnya, aku gak tega banguninnya," jawab Fisha mengusap bawah perutnya.
"Perut aku juga gatal, Nal."
"Jangan di garuk, aku usap aja? Nanti membekas garukannya."
Fisha mengangguk. Kainal pun mengusap dengan lembut bagian yang menurut Fisha gatal.
Si bumil berusaha memejamkan matanya. Namun, suara bel membuatnya membuka kembali menatapnya, dan menatap suaminya.
"Siapa tengah malam datang?" tanya Fisha.
"Sttt... Gak usah di bukain."
"Tapi, Nal?"
"Gak sayang, kalau orang dekat. Dia pasti menelfon kita."
Belum juga beberapa saat, ponsel salah satu di antara mereka berbunyi.
Kainal langsung meraih ponsel istrinya. "Nomor gak di kenal, gak usah di jawab."
"Jawab Kainal, siapa tahu penting," pinta Fisha.
Kainal ingin mengangkat telfon tersebut. Namun, ponsel miliknya berbunyi. Di sana ada tertarah nama Xaviel, Kainal semakin panik di buatnya.
Suara bel juga tak henti-hentinya berbunyi. Kainal beranjak dari sana, dan mengunci pintu kamar.
"Siapa sih yang datang malam-malam gini?" tanya Kainal furstasi. Dia menjawab telfon Xaviel dan keluar dari balkon kamar.
📱"Jangan bukain pintu," peringat Xaviel.
📱"Dia siapa sebenarnya?" tanya Kainal menatap ke dalam kamar, di mana istrinya berbaring di ranjang.
📱"Pokoknya jangan di buka, lo harus stay menjaga Fisha." Usai mengatakan itu, Xaviel mematikan telfonnya.
"Kainal," panggil Fisha, Kainal pun kembali masuk untuk menemui istrinya.
"Kainal, suara bunyi belnya terlalu berisik," ucap Fisha memegang punggung suaminya saat ini.
Kainal mencium pucuk kepala istrinya. Mencoba menenangkan sang istri.
__ADS_1
Dia merentangkan tangannya dan mencoba menghubungi ayahnya. Sudah empat kali, belum juga tersambung. Dan ke limanya akhirnya tersambung juga.
📱"Ayah, apa ayah bisa ke apartemen Kainal sekarang?" tanya Kainal dengan cemas, istrinya semakin ketakutan.
📱"Kenapa, Nal, apa ada terjadi sesuatu? Fisha baik-baik aja?" tanya Vier.
📱"Ayah cepatlah datang, nanti Kainal jelaskan. Saat ini ada yang meneror apartemen Kainal, entah siapa."
Mendengar itu, Akhirnya Vier buru-buru menurungi ranjang meninggalkan bunda Harumi yang masih terlelap dalam mimpinya.
Sebelum pergi, dia menghubungi ketiga temannya, yaitu Cakra, Evan dan Kendra.
Butuh waktu lama untuk sampai di sana, tapi Vier dan ketiga temannya membalap kendara mereka.
Bertepatan mereka ada di sana. Xaviel dan juga daddynya baru sampai di depan lobby apartemen.
"Ini ada apa?" tanya Vier.
"Nanti kita jelaskan, kita cepat ke atas dulu," ucap Xaviel. Mereka pun bersama menuju lift.
"Sial, liftnya di matikan. Terpaksa kita naik menggunakan tangga darurat."
Apartemen Kainal berada di lantai lima. Sehingga membuat mereka lama sampainya.
Di koridor apartemen. Terlihat dua bayangan seseorang tepat di depan pintu apartemen Kainal.
Entah merasa ada yang datang atau gaknya. Sesampainya mereka di pintu tersebut, bayangan seseorang itu menghilang.
"Sial, di mana mereka?" Mereka berlima murka. Vier menghubungi putranya untuk membuka'kan pintu apartemen.
"Sayang," rengek Fisha. Kainal pun mengusap perut istrinya.
Hanya Vier yang memasuki kamar, karena mereka semua tahu kondisi Fisha saat ini.
"Ayah," lirih Kainal melihat ayahnya. Vier pun mendekat ke ranjang, melap kening menantunya yang bercucuran piluh.
"Sakit banget, yah," ucap Fisha pada ayah mertuanya. "Fisha takut." Dia beralih memeluk ayah suaminya.
"Udah, ya. Om Kendra dan Cakra sedang mencarinya. Ayah tidak akan mengampuni orang yang membuat menantu ayah seperti ini."
"Kainal telfon dokter."
"Tapi, Yah, apa dokt-"
Pintu terbuka, mereka semua menoleh. Ternyata mommynya Xaviel. Kebetulan, dia merengek meminta untuk ikut suami dan anaknya. Kini tak sia-sia Revandra membiarkan istrinya ikut.
"Tante Gracel," lirih Fisha. Mommy Gracel mendekati mereka.
Kainal dan Vier menyingkir, membiarkan mommynya Xaviel untuk memeriksa Fisha.
"Tante, sakit." Fisha meremas sperai.
"Gak usah khawatir, dia terlalu panik, dan hal kram di bagian perut juga sudah biasa di rasakan bagi bumil yang usia kandungan seperti ini. Gatal-gatal yang di rasakan Fisha, karena tumbuhnya rambut bayi."
"Kamu minum vitamin ini saja, ini tidak berbahaya untuk kandunganmu. Ini hanya pereda kram pada perut," jelas mommy Gracel.
__ADS_1
Kainal dengan antusias menyiapkan air untuk istrinya.
"Dokter, apa boleh dokter menamani istri Kainal sebentar?" tanya Kainal.
Gracel mengangguk. Kainal dan Vier pun keluar dari kamar.
Di ruang tamu mereka berbincangkan masalah penororan bersama.
"Sebaiknya, kamu kembali tinggal di rumah ayah dulu. Sampai keadaan membaik," saran Vier pada putranya.
Kainal mengangguk. Dia ngikut saja keputusan para orang tua, ini tentang kesalamatan istrinya. Jangan sampai dia mengambil keputasan sendiri, yang membuatnya nanti menyesal sendiri.
Kendra dan Cakra memasuki apartemen. Mereka ikut duduk di sofa.
"Gimana?"
"CCTV mati. Mereka bukan lawan yang muda, mereka sudah merencanakannya dengan rapi sebelum bertindak."
"Entahlah. Bahkan para bawahanku, tak mengetahui seseorang itu siapa, dia sangat mesterius."
"Kenapa dia harus mengincar Fisha?" tanya Kainal, kenapa harus istrinya?
"Mungkin ada saingan antar bisnis?" tanya Revandra.
"Tidak, kami bersaing sehat."
"Alya?" tanya Kainal dan Xaviel secara bersamaan membuat para orang tua menatap mereka berdua tak terkecuali.
"Alya? Siapa Alya?" tanya Vier.
"Alya teman kampus kami. Dia dulunya sering membully Fisha sebelum aku kuliah di sana," jawab Kainal.
"Kenapa bisa kalian mencurigainya?" tanya Evan.
"Dia pernah mengancam kami, untuk menghancurkan Fisha, entah di mana sekarang dia berada. Kami sudah mencari keberadaanya, tapi hasilnya nihil," jelas Xaviel.
"Sebenarnya, kalian berdua sudah mengetahui ini semua?" tanya Cakra.
Mereka mengangguk.
"Astt, kenapa kalian tak memberitahu kami sebelummnya? Ini bukan masalah sepele, nyawa Fisha dan bayinya saat ini sedang dalam bahaya."
"Kami minta maaf," ucap mereka berdua.
"Lagian, kami pikir Alya hanya seorang wanita. Kami gampang untuk mengatasinya."
"Dia seorang wanita, tapi saya yakin ada yang membantunya. Dia tak sendiri," sahut Kendra.
"Benar, pokoknya sekarang kita waspada. Kainal, jangan lalai menjaga istrimu, kita akan mengetatkan pengawasan. Dan juga mencari tahu masalah ini."
Kainal mengangguk.
Di saat sedang asik-asiknya berbincang tentang masalah ini. Teriakan dari dalam kamar membuat mereka terperajat kaget.
"Arkkk," teriak kedua wanita itu dari dalam kamar. Bahkan terdengar benda jatuh.
__ADS_1