
Fisha buru-buru melilitkan selimut di tubuhnya, karena ketukan pintu.
Kainal mengerutuk. "Gak usah dengar, kita lanjut main aja," jawab Kainal. Fisha menggeleng.
"Di buka aja, pake celana cepat," pinta Fisha.
Mau tak mau Kainal memakai celananya, dan beranjak berdiri untuk membuka'kan pintu kamar.
"Kenapa, yah?" tanya Kainal menongolkan kepalanya di balik pintu kamar.
"Lama banget buka pintunya, tolong suruh Fisha tidur bersama Kaira dulu."
"Emang kenapa sih, yah?" tanya Kainal.
"Adikmu demam Kainal."
"Bunda?" tanya Kainal.
"Bunda sama ayah akan pergi, tantemu di kampung sakit. Kami akan buru-buru pergi malam ini."
Kainal pun mengangguk. "Ok, akan ku bangunin," ucap Kainal menutup pintu kamar kembali.
"Sayang ayo ke kamar Kaira, kamu harus nemanin dia."
"Kaira kenapa?" tanya Fisha beranjak bangun.
"Dia demam, bunda dan ayah akan pulang kampung hari ini. Sodaranya bunda sakit."
Fisha mengangguk. Dia menyuruh suaminya mengambil baju tidurnya yang bersereka.
Usai memakai pakaian kembali. Mereka bersama keluar dari kamar, Fisha buru-buru ke kamar Kaira. Sedangakn Kainal mengantar kedua orang tuanya sampai depan rumah.
"Kalian hati-hati ya, kalau udah sampai di sana. Telfon Kainal," peringat Kainal pada kedua orang tuanya.
Vier berdehem. "Jaga adikmu, Kainal."
Kainal mengangguk. Di saat kedua orang tuanya sudah pergi, dia kembali masuk dan mengunci pintu.
"Panas banget," desis Fisha memegang kening adik iparnya. "Kainal bawain air hanget, dia menggigil."
"Kamu makan dulu ya?" tanya Kainal membangunkan adiknya, mengsandarkan kepalanya di kepala ranjang.
Kaira menggeleng.
"Nanti kalau gak makan, gak bisa minum obat," ucap Fisha. Dia mengambil piring berisi makanan yang di bawa suaminya.
"Kak, aku gak selera," ucap Kaira menggeleng.
"Dua sendok?" Fisha menyuapi Kaira. Kaira pun menerima suapan kakaknya. Usai makan Fisha menyuruhnya minum obat.
"Tidurlah!" perintah Kainal, menyelimuti adiknya.
__ADS_1
"Ke kamarlah, aku akan menemani Kaira di sini," sahut Fisha.
"Gak! Aku tidur di sofa aja."
"Yaudah," jawab Fisha. Kainal mengecup singkat kening Fisha lalu membawa bantal ke sofa.
Fisha ikut tidur di samping Kaira, seraya membelai rambut adik iparnya itu.
"Sini." Fisha merentangkan tangannya, Kaira pun memeluk Fisha.
Keesokan paginya. Fisha dan Kainal mau tak mau harus izin tak ke kampus, karena Kaira.
"Sayang hari ini jadwal kamu periksa ke dokter," ucap Kainal. Fisha menoleh lalu mengangguk.
"Kamu telfon Celi dan Saifara dulu, setelah pulang sekolah suruh mereka ke sini untuk menjaga Kaira sebentar."
Kainal mengangguk. Dia berdiri untuk menelfon kedua teman adiknya.
"Gak papa kak, kalian pergilah. Aku udah mulai membaik," ucap Kaira merasa merepotkan kedua pasangan itu.
"Baiknya di mana? Badan kamu masih panas gini," seru Fisha. "Gak papa, kakak periksa cuma memastikan perkembangan kandungan kakak. Gak serius kok."
"Benaran kak?" tanya Kaira. Fisha mengangguk.
Kaira bernapas lengah. Dia memeluk kakak iparnya, di antara mereka sudah tak ada kecanggungan. Kaira yang sudah nyaman, sudah menganggap Fisha itu sebagai kakaknya sendiri bukan sebagai kakak ipar, Fisha memperlakukannya dengan sangat baik.
"Kalau belajar jangan di ruang tamu lagi ya, di kamar aja. Kakak akan menyuruh kakakmu untuk memasangkan peredam suara, agar kamu tak terganggu dengan suara kami."
"Makasih kak Fisha."
"Ayo cepat makan sarapannya, terus minum obat lagi," pinta Fisha. Kaira mengangguk dia pun melahap sarapannya.
Suara bel berbunyi membuat Kainal berlari menurungi anak tangga untuk membuka pintu.
Di saat Kainal membukanya, di luar ternyata ada Ataar.
"Kak Fisha mana?" tanya Ataar. Kainal mengantar adiknya ke atas kamar.
Sebelum menyuruh Ataar menemui Fisha. Kainal meminta adiknya memakai cadar dan kerudungnya.
"Kenapa hem? Tumben datang," ucap Fisha.
"Kebetulan lewat aja," jawab Ataar. Padahal ke sini dia ingin bercerita banyak hal pada kakaknya. "Kak boleh ngomong berdua aja?" tanya Ataar.
Fisha menoleh ke arah Kainal. Kainal hanya mengangguk, Fisha pun menarik tangan adiknya ke halaman belakang rumah.
"Kenapa?" tanya Fisha. Ataar membuka hoodienya, lengannya sudah banyak luka cambokan.
"Tunggu sebentar, kakak ambilin kotak p3k," ucap Fisha.
Ataar duduk di tepi kolam sambil menunggu kakaknya. Gak butuh waktu lama, dia pun kembali.
__ADS_1
Fisha menarik tangan adiknya.
"Pelan-pelan, kak," pinta Ataar memejamkan mata, menahan rasa sakitnya.
"Gini aja baru ngerasa sakit," ketus Fisha. "Lain kali gak usah datang kesini, obati luka kamu sendiri!"
Ataar menatap kakaknya intens. Anak itu hanya diam, memandang ke depan.
"Kak," panggil Ataar. Fisha hanya berdehem.
"Gue mau kuliah di luar negri, kakak boleh tolong bilangin ke papa?"
"Kamu mau kuliah di mana?" tanya Fisha.
"LN," jawab Ataar. Fisha menaikan pandangannya, menatap adiknya dalam.
"Kamu ke sana hanya niat kuliah'kan? Gak ada niat yang lain?" tanya Fisha.
Ataar diam sesaat lalu mengangguk.
Fisha menghela napas, dia memperbaiki rambut adiknya yang terkena angin. "Nanti aku bilangin ke apah," ucap Fisha.
"Makasih, kak," jawab Ataar tersenyum tipis.
"Baru kali ini aku melihat kulkas tujuh ratus pintu tersenyum. Walaupun senyumnya cuma sedikit."
Ataar tertawa kecil, dan menatap ke depan. "kak."
"Apa?"
"Kalau ada yang mengejar kita, orang itu udah effort. Apa kita harus membalas perasaanya?"
"Ha?"
"Teman gue di sukai sama seorang gadis. Teman gue sering nolak pemberian gadis itu, dari perasaannya. Kejutan-kejutan yang di berikan, teman gue selalu membuangnya dengan terang-terangan."
"Gadis itu baik, kenapa temanmu tak ingin membuka hati untuknya?"
"Dia bukan tak ingin membuka hati, tapi teman gue takut gadis itu sakit hati di saat mereka bersama. Teman gue takut, masalah hidupnya membuat gadis itu terlibat."
"Gimana kalau temanmu suruh jujur aja?"
"Jujur apa?" tanya Ataar balik.
"Suruh dia jujur ke gadis itu, kalau masalahnya hidupnya banyak. Biar gadis itu memutuskan hubungan mereka, kalau gadis itu benar-benar mencintai temanmu. Pasti gadis itu menerimanya, tapi kalau gadis itu hanya penasaran akan kakak pastikan gadis itu akan pergi darinya," jelas Fisha. "Gak perlu menolaknya dengan terang-terangan. Kasihan hatinya sakit, dia merendahkan harga dirinya untuk temanmu, tapi temanmu tak menghargainya. Setidaknya kalau dia tidak ingin mmebalas perasaan gadisnya, kejutan yang di berikan jangan di buang di depan matanya atau di tolak. Ambil kejutan itu simpan, atau berikan ke siapapun asalkan bukan orang yang dia kenal. Agar menghargai perasaan si gadis."
Ataar manggut-manggut mendengar saran yang di berikan kakaknya itu.
Fisha memicingkan matanya ke arah sang adik. Ataar yang heran menaikan dagunya.
"Teman kamu apa kamu?" tanya Fisha. Ataar langsung menelan ludahnya susah payah.
__ADS_1