Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 54 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Aisha sedang membereskan pakainnya, hari ini dia akan balik ke Indonesia hanya seorang diri.


"Mau abang temanin?" tanya Rigel.


"Gak usah bang, aku hanya sebentar di sana. Aku cuma menuruti kemauan anakku," jawab Aisha.


Ataar tersadar dari komanya, tapi dia ingin bertemu dengan sang Papa. Aisha mau tak mau harus pulang, dan menyuruh suaminya ikut bersamanya ke Australia. Walaupun nanti pria itu tak mau, Aisha akan melakukan berbagai cara.


Penerbangan Aisha ke Indonesia menepu 12 Jam. Sesampainya di bandara, dia di jemput oleh menantunya dan anaknya. Fisha dan Kainal, Aisha memang mengabari mereka berdua.


"Kenapa gak di pesanin taksi aja? Kainal pasti kerja, dan terpaksa menjemput umi."


"Gak kok umi, Ayah juga yang menyuruh Kainal untuk menjemput umi."


Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai di kediaman Altar.


Aisha menghela napas.


"Umi?" tanya Fisha, uminya mengangguk.


"Pulanglah, nak."


"Fisha mau temanin, umi," tolak Fisha geleng-geleng.


Mau tak mau, akhirnya mereka berjalan masuk ke dalam rumah tersebut.


Ting tong!


Suara bel berbunyi membuat pria paruh baya yang sedang bekerja di ruang kerja, lantas beranjak untuk membuka'kan pintu. Art di rumah sedang cuti, karena keluarganya di kampung sakit.


Ceklek!


"Siap- Aisha," ucap Altar langsung memeluk istrinya.


Aisha hanya diam membeku, tanpa membalas pelukan sang suami.


"Lepasin, kak," pinta Aisha, tapi bukannya melepaskan. Altar semakin memper-erat pelukannya.


Aisha mendorong badan Altar membuat badan pria itu hampir tersungkur kebelakang.


Altar menghapus air matanya, dan tersenyum. "Akhirnya kamu pulang, kamu dari mana aja sayang?" tanya Altar.


Aisha hanya memasang wajah datarnya di balik cadarnya.


"Talak aku," ucap Aisha tiba-tiba membuat Altar maupun Fisha dan Kainal terkejut.

__ADS_1


"Ap-a?" tanya Altar.


"Talak aku," ucap Aisha kembali. Altar buru-buru menggeleng.


"Apa yang kamu bicarakan, Aisha, kakak gak mau." Altar menggeleng keras.


"Talak aku, kak!" teriak Aisha.


Altar menjatuhkan lututnya di depan sang istri. "Kakak gak mau, Aisha." Altar menggeleng dengan air mata terus mengalir.


Altar memeluk pinggang Aisha dan terus menggeleng keras.


Altar mendongak. "Kakak gak mau Aisha, maafin kakak," ucap Altar.


Aisha membuang tatapan ke sembarangan arah. Tak sanggup memandang wajah suaminya.


"Kakak selalu seperti itu, meminta maaf, tapi sikap kejamnya sendiri tak bisa di hilangkan. Kakak boleh tidak menghilangkan sikap kejam kakak, tapi jangan kau berikan kejam mu itu pada anakku. Kamu tahu? Saat ini dia kritis kak. Dan apa kamu tahu, siapa yang pertama dia cari? Kamu kak, bukan yang lain. Dia tetap mengingatmu sebagai papanya, walaupun papanya sendiri memperlakukannya layaknya seorang hewan."


"Aku memberimu satu kesempatan, tapi ada satu syaratnya..."


"Apa?" tanya Altar.


"Ikut bersamaku ke Australia, sayangi anakku layaknya seorang anak."


Altar memejapkan matanya sesaat, dia terdiam membuat Fisha deg-dagan. Dia sangat takut, kalau kedua orang tuanya berpisah.


"Jangan siksa anakku lagi."


Altar mengangguk. "Maafin kakak," ucap Altar. Dia memandang ke arah Fisha. "Maafin, apah, Fisha."


Fisha tidak membalas ucapan papanya, Dia hanya membuang muka, dan pergi dari sana. Kainal pun berlari mengikuti istrinya.


"Yaudah, cepat-cepat siap-siap."


Altar beranjak dari sana, dan berlari menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya.


Sekitar, 10 menit, dia kembali sudah rapi. Aisha masih memperlihat wajah datarnya.


Saat ini, Aisha sedang memasak untuk mengisi perutnya dan sang suami sebelum kembali ke Australia. Badan Aisha seakan remuk, pulang balik, tapi ini semua dia lakukan demi sang anak.


"Umi," panggil Fisha berlari ke arah dapur. Kainal terus mengekor di belakang bumil.


"Kenapa? Jangan lari-lari, nanti jatuh," peringat Aisha.


"Umi, Fisha ikut ya ke Australia," pinta Fisha pada uminya.

__ADS_1


Kainal dari belakang menggeleng. Bukan tidak ingin istrinya itu pergi, tapi bukannya bumil tak boleh bepergian terlalu jauh?


"Gak! Kamu gak boleh ikut, nanti umi kasih kabar saja, kasihan suami kamu harus pulang balik. Apalagi saat ini dia kerjakan? Masa mau cuti terus, walaupun ayah mertua kamu ceonya."


Fisha cemberut, padahal dia ingin ikut ke Australia. "Kainal gak usah ikut, aku aja," sahut Fisha.


"He... Jadi yang ngurus suami kamu di sini siapa? Kamu ingin suami kamu di urus orang lain?"


Fisha menggeleng. Dia berbalik. "Sayang, kamu bisa urus diri sendirikan?" tanya Fisha.


Kainal menggeleng. "Gak bisa."


Fisha mengerutkan keningnya, ternyata sama saja. Suaminya tidak asik di ajak kerja sama.


"Yaudah ini, tiket umi dan papah." Fisha menyimpan tiket itu di atas meja, dan pergi dari sana dengan keadaan ngambek.


"Astaga." Kainal menepuk jidatnya, dan berlari mengikuti sang istri. Dia sangat kelelahan menghadapi sikap istrinya ini.


💚💚💚💚💚💚


Kini Aisha dan Altar sudah berada di Australia. Altar hanya menunduk melihat iparnya.


Altar memakai baju steril dan mulai memasuki ruangan di mana anaknya terbaling dengan alat medis di tubuhnya.


Mendengar langkah seseorang membuat Ataar yang menutup matanya seketika terbuka. Dia menoleh dan melihat papanya.


Hanya bibirnya yang berucap tanpa bersuara, karena dia di pasangkan alat pernapasan.


Air mata Ataar lolos jatuh di sudut matanya, ingin rasanya dia berucap.


Altar mencegah putranya yang ingin melepaskan alat pernapasannya.


"Jangan,"tolak Papa Altar. "Kamu harus sembuh, maafin Papa," ucap Altar.


Ataar menggeleng. Dia menunjuk kertas di atas meja. Altar menolehkan badannya dan beranjak untuk mengambil kertas itu.


"Peluk Ataar sekali aja, pah. Sudah itu tolong panggil Ataar Anak papa, Ataar pengen. Kalau papah udah melakukannya, anak pembawa sialmu ini akan pergi, tidak ada ada lagi anak pembawa sial ini. Dia akan pergi, tolong sekali saja. Ataar ingin mencapai semua apa yang Ataar tulis di list."


Altar merasakan sesak di dadanya. Dia memundurkan langkahnya membuat anaknya menatapnya senduh.


"P-apa, tidak akan pernah memelukmu. Kalau kau ingin di peluk olehku, sembuhlah. Kau ingin aku memanggilmu anak? Maka berjuanglah untuk sembuh. Setelah itu kamu akan mendapatkan apapun yang kamu mau. Kamu boleh membenciku."


Butir mening membasahi pipi Ataar. Dia berusaha merentangkan tangannya ke arah sang Papa.


Altar pun memeluk anaknya. "Sembuhlah, maafin Papa. Aku yang membuatmu seperti ini, dan aku juga yang berharap kamu sembuh. Maafin Papa, mungkin untuk meminta maaf sudah terlambat. Kamu boleh membenci Papa. Kamu boleh membalas perbuatan Papa, tapi kamu harus sembuh, ya?"

__ADS_1


Altar melepaskan pelukannya dan menghapus air mata putranya. "Kamu sayang kakak dan umi'kan? Kalau kamu pergi, mereka akan hancur."


__ADS_2