
"Leon, ayo. Larilah lebih cepat." Anna memelankan langkah kakinya ketika dirasakannya langkah Leon melambat. Ia menoleh, kegelapan di sekitarnya tidak memberikan penglihatan apapun, hanya warna hitam yang terlihat.
Mereka benar-benar berlari di dalam gelap. Entah sudah berapa banyak ranting yang menggores tubuh mereka.
Anna berjongkok, meraba tubuh Leonard. Hanya bisa mendengar napas memburu dari bocah tersebut.
"Mam ... Leon lelah," ucapnya terengah.
Anna memeluk Leon, merasakan tubuhnya yang gemetar.
"Kalau begitu diamlah. Jangan bersuara sedikitpun," bisik Anna di telinga Leon.
Ia menarik Leon ke ke bawah rerumpunan tanaman perdu yang ada di dekatnya. Merunduk sampai ke pangkal batang pohon, membawa Leon dalam pelukan. Terduduk di tanah, merunduk dan tidak bergerak sama sekali.
Anna mendengar langkah kaki mendekat, juga bunyi ranting dan sesemakan yang seolah tengah disibakkan oleh seseornag.
"Sttt ....pejamkan matamu, Sayang." Anna berbisik sangat pelan di telinga Leon.
Leon menurut. Ia mengeratkan pelukannya di sekeliling tubuh ibu gurunya tersebut, memejamkan mata dan memanggil daddy di dalam hati, berulang-ulang bagai mantra. Berdoa ayahnya segera datang.
Langkah kaki kian mendekat. Anna berharap dahan tanaman perdu tempatnya berlindung menutupi sosoknya dan Leon. Kegelapan di sekitar menutupi keberadaan mereka.
Ketika suara langkah kaki tiba di dekat mereka, Anna dan Leon serentak menahan napas. Diam tak bergerak sambil berpelukan erat.
"Ck! Pasti ke pondok sebelah!" rutuk Martin sambil terus berlari. Melewati buruannya yang meringkuk di tanah dalam kegelapan.
Anna menunggu, setelah sekian menit tidak lagi terdengar suara, ia baru bergerak lagi.
"Ayo, Sayang. Kita harus lari. kita kembali ke pondok dan menghubungi ayahmu," bisik Anna.
Leon menggangguk mendengar instruksi Anna. Perlahan keduanya bergerak bangkit, Awalnya melangkah hati-hati sambil mendengarkan suara-suara di dalam gelap, setelah memastikan hanya keheningan yang ada, dengan kode dari Anna keduanya bersama-sama mulai berlari lagi ke arah pondok.
Anna bernapas lega ketika cahaya pondoknya sudah terlihat. Ia bisa mengunci diri berdua dengan Leon sambil menunggu Simon atau kabur setelah menelpon ayah Leon itu. Yang pasti, ia harus segera mendapatkan ponsel dulu.
Anna terengah, genggamannya di tangan Leon mengerat.
"Ayo, Leon. Sedikit lagi," bisik Anna.
Hanya tinggal beberapa langkah lagi cahaya dari pondok akan menjangkau mereka ketika Anna merasakan pegangannya di tangan Leon terlepas. Ia menoleh dan mendapati Tubuh Leon yang baru saja ditarik oleh Martin sudah berada di belitan kedua lengan pria itu.
__ADS_1
Martin menyeringai dalam kegelapan.
"Usaha yang bagus, Em. Tapi percuma saja. Sekarang ikut aku, atau bocah ini akan terluka. Berdarah seperti tadi kau sudah membuat lenganku terkoyak!"
Anna mundur perlahan. Martin mengikutinya. Ia terus mundur sampai jangkauan cahaya mencapai tubuh mereka semua.
Dengan terbelalak Anna menyadari, sebuah patahan dahan yang tampak runcing dengan gerat kayu yang tidak teratur telah ditusukkan oleh Martin ke leher Leonard. Sekali lagi wajah bocah kecil itu sudah pucat pasi seperti kehabisan darah.
"Lepaskan dia, Martin. Kau membuatnya ketakutan!"
"Jangan membantah dan turuti perintahku! Itulah yang bisa membuat anak ini selamat!"
"Turunkan kayu itu, Martin!"
"Tidak. Kau mau melihat darahnya dulu baru mau menurut? Baiklah!'
Martin menusuk, dan tubuh Leon mengejang. Airmata sudah turun menuruni lereng pipi bocah itu. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya akan mengalami hal mengerikan seperti apa yang ia baca di buku cerita bergambar. Hanya saja di buku penjahatnya adalah penyihir, sedangkan ini adalah seorang manusia.
"Hentikan! Baiklah, Martin. Baik!" Anna jatuh terduduk. Tubuhnya lemas dan air mata frustrasi mengalir deras di pipinya. Membayangkan leher Leonard dilubangi dengan kayu tersebut membuat jantungnya seolah mau berhenti.
"Kau tidak pernah membunuh orang untuk mendapatkan kemauanmu, Martin," isak Anna. Memandang penuh kecemasan pada Leon.
"Lepaskan dia Martin. Aku akan mengikuti semua perintahmu."
"Semuanya!?'
"Ya. Semuanya!'
"Termasuk semua rencana yang sudah kususun dengan Gery?"
Anna memejamkan mata, jijik membayangkan sosok dari nama yang baru saja Martin sebutkan.
"Ya."
"Kau akan melakukannya sampai keinginanku terpenuhi?" tanyanya lagi.
"Ya."
"Kalau begitu berdirilah! Ikuti aku!"
__ADS_1
Anna bangkit sekuat tenaga, mengabaikan tubuhnya yang lemas. Ia menatap sejenak ke arah pondok.
"Jalan!" perintah Martin.
Anna jalan lebih dulu, di iringi Martin yang membekap Leonard.
Mereka tiba di lapangan tempat Martin memarkirkan mobilnya. Setelah mengunci Leon di bagian belakang mobil, pria itu mengambil tali dan mulai mengikat pergelangan tangan Anna di belakang punggung. Setelahnya ia menyuruh Anna masuk ke depan di samping kemudi. Setelah memasangkan sabuk pengaman di tubuh Anna, ia berjalan memutari mobil dan masuk ke belakang kemudi.
"Kita pergi. Pesawat pribadi Andreas sudah menunggu. Kita akan lebih cepat bila memutari pulau ini dengan kapal bermotor. Aku sudah menyewa satu. Empat puluh menit kita tiba di landasan pesawat. Kau tahu alasanku meminjam burung besi tersebut? Aku bilang akan mengajak istriku pergi berbulan madu untuk kesekian kalinya agar aku bisa cepat memberikan mereka cucu!" Martin tertawa penuh kepalsuan, tidak ada kesenangan atau kegembiraan sama sekali. Anna bergidik. Ia menoleh ke belakang, mendapati Leonard duduk meringkuk di bangku belakang ke arah pintu mobil yang terkunci.
Hati Anna mencelos. Putra satu-satunya dari Simon Bernard, dibesarkan dengan penuh kecukupan dan perlindungan. Hari ini karena Anna, mengalami hal paling mencekam dan mengerikan mungkin untuk pertama kali dalam hidupnya.
Anna berharap teror yang dirasakan Leonard segera berakhir ketika ia akhirnya pergi dengan Martin.
"Leon, kau dengar Mam, Sayang?"
Leon bergerak ketika mendengar suara Anna.
"Hu uh," jawabnya sambil mengangguk, mata birunya menatap tangan Anna yang menelikung ke belakang. Tahu bahwa ibu gurunya itu sudah diikat.
"Semuanya akan baik-baik saja. Mam berjanji. Sebentar lagi, Leon akan bertemu Daddy. Oke?"
"Ya ...," jawab Leon dengan suara serak.
Dengusan keras terdengar dari Martin.
"Salahmu memiliki guru yang satu ini, Bocah! Kau jadi ikut terlibat dengan urusannya!" ejek Martin sambil menambah laju kendaraan mereka menuju dermaga.
NEXT >>>>>
*********
From Author,
Cerita chapter selanjutnya tentang Leon dan Ann yang di bawa kabur dengan sebuah kapal bermotor. Bagi yang udah baca Embrace Love mungkin masih ingat bahwa ketika Yoana dan Catty datang ke pulau untuk mencari Mary, mereka diajak naik Yacht oleh Simon, karena lebih cepat mencapai rumah pantai dengan memutari pulau White Sand Bay ketimbang lewat jalur darat. Nah, Martin juga gitu nih😁
Otor pernah pergi ke sebuah pulau kecil. 45 menit dengan kapal dari pesisir pantai. Pengalaman yang menyeramkan bagi otor, karena di tengah laut yang gak keliatan dasarnya saking dalamnya itu, angin tiba-tiba kencang dan awan mulai mendung. Semoga perasaan mencekamnya terlukis oleh mata Anna dan Leonard nanti😂😂🤭🤭🤭
Like, love, bintang lima, komentar dan vote jangan lupa ya readers. Atas dukungannya author ucapin terimakasih banyakkkk.
__ADS_1
Salam hangat. DIANAZ.