
Simon mengangkat jaket dan kaos yang tergeletak di atas pondok kecil peristirahatan. Aliran darahnya berpacu ketika mengonfirmasi bahwa itu adalah pakaian putranya. Cahaya senter menyinari seputaran tempat itu. Ia juga menemukan mantel dan rompi pelampung.
Jejak kaki di atas pasir membuat Simon mengikuti arahnya. Ia menyadari jejak kaki yang dominan ada di sana terlalu besar untuk kaki Anna ataupun Leon. Namun masih ada jejak keduanya yang masih tertinggal, memberi kepastian pada Simon bahwa Anna dan Leon pergi bersembunyi masuk ke dalam pulau. Apa yang dilihatnya di atas kapal Joaquin membuatnya menduga sudah terjadi perkelahian antara Anna dan pria penawannya. Potongan tali pengikat yang sudah terputus-putus bertebaran di atas dek. Simon tidak dapat menduga siapa yang sebelumnya diikat dan akhirnya bisa melepaskan tali tersebut.
Setelah lama berlari dan jauh memasuki pulau, Simon akhirnya melihat kilau cahaya di kejauhan antara pepohonan yang mulai rapat. Ia mematikan senter dan berlari mengejar, mendekat ke sumber cahaya. Kelebat bayangan seorang pria terlihat di mata Simon. Pria itu berjalan pelan, sangat santai, sesekali tawa kecil keluar dari bibirnya diselingi siulan pendek.
"Kita akan melakukan ini selama apapun kau mau, Em. Aku memberikan waktu untukmu bermain-main."
Ucapan pria itu terdengar lumayan jelas di telinga Simon. Ia bersembunyi di balik pepohonan, melangkah pelan dan menjaga jarak dari sumber suara dan cahaya yang ada di depannya. Matanya menatap di kejauhan, melihat apakah ada sosok lain yang berjalan di gelapnya malam di antara pepohonan. Tidak terlihat bayangan apapun yang bergerak.
"Aku tahu kau butuh sedikit hiburan sebelum melaksanakan rencana yang sudah kita susun bersama, Em. Aku sudah bilang pada Gery untuk bersikap baik, lembut dan jangan kasar padamu." Suara Martin kembali terdengar menggema.
Simon melangkah mengikuti, mendengarkan setiap patah kata yang diucapkan pria yang ia tebak adalah Martin, lalu tanpa sengaja kakinya menginjak sesuatu yang menimbulkan suara berderak. Cukup keras untuk terdengar oleh Martin. Simon merunduk tiarap, bergeser sampai tubuhnya tertutupi oleh sebuah pohon dan bayangan kegelapan di sekitarnya.
Dari tempatnya berdiri Martin menggerakkan senternya mengelilingi tempat itu. Ia mengira ia dan Anna sudah sangat dekat. Martin menduga suara yang tadi ia dengar pastilah Anna.
"Ah ... kau pintar bersembunyi. Apakah aku sudah melewatimu sejak tadi, Em? Tebakanku benar, kau tidak akan berani masuk terlalu jauh ke dalam pulau."
Simon mengintip dari atas tanah tempatnya telungkup. Ia melihat cahaya yang ada di antara pepohonan tampak berbalik arah, perlahan mendekat ke arah jalur tempatnya bersembunyi.
Ya, kemarilah, Pengecut! Hadapi aku! Simon meneriakkannya di dalam hati.
Ia makin merapat ke atas tanah yang terasa lembab di telapak tangannya, memilih beberapa pohon yang tumbuh sejajar sehingga menutupi pandangan pria yang sedang menuju ke arahnya itu.
"Emillia! Apa kau tidak kedinginan, Sayang!?" teriak Martin.
Simon melihat bayangan Martin makin mendekat, ia memutuskan menyergap pria itu dan melumpuhkannya. Ia bangkit, mendekati sebuah pohon besar dan bersembunyi, menunggu sosok Martin melewatinya.
"Kau suka anak kecil itu ya! Gery akan membuatnya bersamamu berapapun kau mau, Em!" Tawa Martin makin terdengar kencang di telinga Simon. Menandakan pria itu sudah semakin dekat. Simon mengepalkan tinjunya, ia sedikit menyesal tidak membawa senjata apapun ketika turun dari kapal.
__ADS_1
Suara langkah kaki semakin dekat. Simon mengintip dan melihat Martin mengambil jalur agak jauh ke arah kanannya. Ia harus mendekat jika ingin melumpuhkan pria itu.
Ketika bayangan sosok Martin terlihat berjalan membelakanginya, Simon mulai bergerak mendekati pria itu. Namun gerakan Martin yang sesekali memutar tubuh sambil menyinari daerah sekitar dengan senternya membuat Simon harus sesekali berhenti dan kembali bersembunyi di belakang pepohonan.
"Aku tahu kau ada di sekitar sini, Em!"
Langkah kaki Martin berhenti ketika ia melihat daerah di depannya mulai menurun.
"Apa kau turun ke sana, Em!? Cuaca semakin dingin, apa kau tidak kasihan bocah kecil itu tambah kedinginan? "
Simon melihat Martin tegak dengan satu tangan di pinggang, satu tangan lagi menyinari daerah menurun di depannya. Seolah melihat sampai mana turunan tersebut berakhir.
Mengikuti instingnya, Simon keluar dari balik pohon, ia mendekat dan saat tiba di belakang Martin ia menyergap dengan mengalungkan lengannya ke leher pria tersebut.
Martin berontak, menendang udara kosong dengan kedua tangan memegangi lengan Simon yang menekan lehernya. Senter di tangan Martin jatuh menggelinding ke arah lembah menurun di depan kedua pria tersebut.
Karena kehabisan udara, Martin terduduk dengan leher tercekik, Namun Simon tidak mengendurkan tarikan lengannya di leher Martin.
Martin merogoh kantong mantelnya, mengeluarkan sebilah pisau yang ia dapatkan dengan cara beringsut di atas dek kapal. Dengan pisau itu ia memotong tali di kaki dan juga tangan. Ia beruntung Anna mengikat tangannya ke depan dan ikatan wanita itu tidaklah terlalu kuat. Ia terbangun dengan kepala berdenyut nyeri, sebuah benjolan besar di belakang kepalanya pastilah akibat hantaman papan yang dilakukan Anna saat merobohkannya. Martin tidak tahu berapa lama ia pingsan, namun segera setelah bangun dan tidak melihat tawanannya, ia segera turun ke daratan dan mengejar.
Dengan sisa napasnya yang makin sempit, Martin menghujamkan ujung pisau yang runcing tersebut ke lengan Simon yang menahan lehernya, Segera saja belenggu tersebut melonggar bersamaan dengan teriakan kesakitan dari mulut Simon. Reflek kaki Simon menerjang dan menendang punggung Martin dengan sangat kuat. Tubuh Martin terdorong dan jatuh ke daerah menurun di depan mereka, menggelinding ke bawah lembah yang terlihat gelap.
Simon memandangi lembah gelap di depannya. Tidak terlihat di mana tubuh Martin berakhir. Ia menekan luka tusukan di lengan dan memandangi daerah hutan yang gelap gulita tersebut. Ia baru saja mengeluarkan senter dari kantong ketika mendengar suara jeritan kencang. Keheningan malam membuat suara itu terdengar meski dari kejauhan. Suara anak kecil, yang menjerit berkali-kali.
"Leonard!"
Simon berlari, melupakan niatnya untuk memeriksa tubuh Martin di bawah sana. Ia berlari sambil berteriak, berharap Anna atau Leon mendengar panggilannya.
"Leon! Ann!
__ADS_1
Jeritan lagi, kali ini Simon memastikan dengan yakin kalau itu suara Leon. Simon mengikuti arah suara, berlari diantara pepohonan. Beberapa saat terus berlari, suara tersebut menghilang. Dengan napas memburu, Simon berhenti, berputar memandang berkeliling ke arah kegelapan.
"Leon! Leon! Ini Daddy!
Hanya gema suaranya sendiri yang terdengar. Simon mengatur napas, jika suara Leon datangnya dari tempat seperti ini, maka Anna dan Leon sudah jauh masuk ke dalam hutan.
"Leon! Ann! Jawablah!"
Memutuskan tetap memanggil agar Anna dan Leon mengenali suaranya, Simon kembali berteriak.
"Jawab Daddy, Leon! "
Hening ... sepi dan dingin. Dengan putus asa Simon menatap ke arah langit malam yang gelap. Sungguh ia berharap, melihat heli melayang di atas sana. Siapapun, Hamilton, Claude, Vincent ... bahkan Alric! Namun tak tampak apapun, atau siapapun.
Kali ini hanya ada dirimu, Simon Bernard. Kali ini putramu hanya bisa mengandalkanmu.
NEXT >>>>>
*********
From Author,
Halo semuanya, Mon maaf upnya ngadat ya😅
Semoga bisa sabar ngikutin kisah Leon dan Mam Ann.
Jangan lupa tekan like ,love, bintang lima dan Votenya untuk Leon ya, biar Leon bisa cepat pulang🤗🤗🤗
Terima kasih atas dukungannya. Luv youuu ....
__ADS_1
Salam hangat. DIANAZ.