Pengantin Simon

Pengantin Simon
35. Wake up


__ADS_3

Leon terbangun, menoleh ke arah sofa yang ada di dalam kamar. Ia melihat Bibi Yoana yang tertidur di pelukan Paman Vincent. Keduanya terpejam dengan kedua kaki terjulur ke lantai.


Perlahan Leon bangkit. Ia ingin melihat ibu gurunya, namun setiap orang selalu mengatakan nanti. Beralasan ibu gurunya sedang membutuhkan istirahat dan jangan diganggu.


Dengan sangat hati-hati Leonard turun dari tempat tidur. Ia mencari sandal kamar dan memakainya. Kedua matanya sesekali melirik ke arah Paman dan Bibinya yang tertidur.


Leon melangkah tanpa suara, membuka pintu dengan sangat perlahan. Ia menyeringai ketika melirik dan mendapati paman dan Bibinya masih terlelap.


Tiba di lorong rumah sakit, Leon menyusuri jalan menuju tempat perawatan Mam Anna. Ia mendengar ketika tadi siang Mommy Catty dan Mommy Mary sedang membicarakan tentang ibu gurunya. Ia tahu ibu gurunya ternyata masih belum sadar.


Leon mengendap-endap ketika melewati konter perawat, bersembunyi dan berjalan cepat agar tidak terlihat. Ia tersenyum ketika tiba di lorong dan mendapati Paman Bruno yang duduk di kursi panjang di dekat sebuah pintu ruang perawatan. Mata pria pengawal ayahnya itu terpejam rapat, tangannya bersedekap dengan kaki terjulur di lantai.


Leon melewati Bruno, berhenti sebentar dan melambaikan tangannya di depan wajah pria itu. Ia menyeringai ketika tidak ada tanggapan.


Pelan-pelan Leon mendorong pintu ruang perawatan.


Bruno sebenarnya sudah melihat ketika Leon datang dari ujung lorong. Ia berjaga dan tidak tidur. Tuan Simon mengatakan padanya bahwa Leon sudah tidak sabar untuk melihat Anna. Entah sampai kapan mereka dapat menahan bocah itu. Bruno memutuskan berpura-pura tidur dan membiarkan Tuan kecil tersebut masuk ke ruangan perawatan ibu gurunya. Bila ia melarang dan mengantarkan kembali bocah itu ke kamarnya, Bruno yakin bocah kecil itu akan membuat keributan. Paling tidak ia akan menangis dan membangunkan ayahnya yang baru saja tertidur.


Leon yang sudah masuk berdiri di depan pintu sejenak. Memandang ke atas ranjang. Melihat Mam Anna yang tertidur dengan berbagai selang terhubung ke tubuhnya. Leon mengitari pandangannya ke seluruh ruangan. Di dekat ranjang, di atas sofa yang menempel di dinding, ayahnya tertidur di sebuah sofa panjang. Selimut yang digunakan ayahnya sudah melorot ke lantai.


Leon berjalan mendekat. Mengangkat selimut yang terjatuh ke lantai, lalu memasangkan kembali selimut tersebut ke tubuh ayahnya, menyelimuti hingga ke dada. Leon ingin mencium pipi ayahnya, namun tidak jadi, karena takut ayahnya terbangun.


Setelah itu ia mendekati ranjang Anna. Ia berdiri di samping ranjang, memegangi tangan ibu gurunya yang teraba hangat. Leon baru sadar tangannya sangat dingin. Berjalan-jalan di luar hanya dengan piyama tidur membuat kulitnya jadi dingin.


Melihat kasur di samping Anna masih bisa di tiduri, Leon naik pelan-pelan dan membaringkan tubuhnya dengan hati-hati di samping tubuh Mam Anna.


"Mam Ann hangat," bisik Leon. Ia memegangi lengan Anna.


"Kenapa Mam belum bangun? Leon sudah akan pulang dari sini ... Mam cepatlah sembuh, jadi kita bisa pulang sama-sama."


Leon mendongak, menatap wajah Anna dari atas kasur. Ia meraba kening dan pipi ibu gurunya. Merasa hangat berbaring di samping Anna membuat bocah itu menguap lebar.


"Leon boleh tidur di sini ya, Mam ...."

__ADS_1


Rasa kantuk akhirnya membuat Leonard tertidur nyenyak di samping Anna.


Simon terbangun ketika mendengar langkah kaki orang yang berlari dari lorong di luar kamar. Ia baru saja meregangkan tubuh, lalu duduk dan berniat bangkit ketika pintu kamar ruang rawat terbuka.


Kemunculan Yoana di pintu membuat keningnya berkerut.


Mulut Simon baru saja terbuka untuk bertanya kenapa Yoana datang, ketika dengan jarinya Yoana memberi tanda agar Simon tetap diam. Kakaknya itu meletakkan jari telunjuknya di bibir, dengan tangan yang lain ia menunjuk ke arah ranjang.


Simon menoleh, mendapati pemandangan Leon yang tidur di samping Anna. Setengah dari tubuh bocah itu menutupi sisi tubuh Anna.


"Astaga ... kapan ia masuk ke sini?" desis Simon.


Yoana menutup pintu, membiarkan Vincent berbicara dengan Bruno di luar. Ia mendekat ke sofa Simon, lalu duduk di bagian ujung sofa dengan mata menatap ke arah ranjang.


"Kami terbangun dan terkejut melihat tempat tidurnya kosong ... rupanya ia kemari," ucap Yoana pelan.


"Leon memang sudah meminta sejak kemarin untuk melihat Ann ...."


Saat itu, Simon dan Yoan melihat tangan Anna bergerak, lalu kelopak mata wanita itu juga bergerak. Simon dan Yoan segera bangkit, mendekat ke samping ranjang.


Ketika kedua kelopak mata Anna membuka, lalu mengerjap berulang kali. Simon dan Yoana mengembuskan napas lega.


Yoana menepuk bahu Simon. "Aku akan memanggil dokter," ucapnya sambil tersenyum.


Simon mengangguk. Membiarkan Yoana pergi, lalu ia menunggu mata Anna yang nampak kebingungan menatap ke arahnya.


"Hei ... akhirnya kau bangun," ucap Simon.


Anna menelan ludah, bibirnya terasa kering. Tubuhnya terasa amat sakit. Namun sebelah tubuhnya terasa terhimpit. Ia menunduk dan mendapati Leon ada di sebelahnya.


Mulut Anna membuka, ingin memanggil nama Leon. Namun tidak ada suara yang keluar, tenggorokannya terasa amat kering dan perih.


"Dia pindah sendiri kemari. Tunggu, aku akan memindahkannya."

__ADS_1


Baru saja Simon bergerak untuk memindahkan putranya. Leon membuka mata, melihat wajah ayahnya yang menunduk dengan kedua tangan memegangi tubuhnya.


"Dad ... "


"Leon pindah dulu, Oke. Mam Ann sudah bangun. Jadi harus diperiksa dulu."


Leon langsung menoleh, melihat kedua mata berwarna hijau lembut milik ibu gurunya memang sudah terbuka.


Satu senyum lebar yang hadir di wajah Leon sepertinya menular pada Anna. Simon melihat wanita itu balas tersenyum, keduanya saling berpandangan sampai pintu terbuka dan Yoana masuk bersama perawat jaga dan juga dokter.


"Oke, kita keluar dulu?" ajak Simon pada Leon.


Leon mengangguk, namun sebelumnya ia mendekat ke arah Anna dan menunduk ke arah wajah ibu gurunya itu. Leon mencium pipi Anna sebelum mengulurkan kedua tangan ke arah ayahnya untuk minta digendong.


Yoana merasa sedikit heran ketika Leon mencium pipi ibu gurunya dan Simon menunggu di sisi ranjang dengan wajah lembut menatap ke arah keduanya. Sudah lama ia tidak melihat pancaran sinar mata seperti itu di mata adiknya. Ia jadi merasa sedang melihat sebuah keluarga kecil ...


Apa-apaan tatapan itu? Ck ck ck ... Simon Bernard ... sudah bertahun-tahun tidak pernah menatap wanita dengan tatapan itu lagi. Ada yang bergerak di dasar hatimu sekarang, Bocah?


Yoana menatap lekat ke wajah Simon yang tersenyum, kedua lengannya menggendong Leon. Lalu ia menyeringai dalam hati ketika kedua bocah ayah dan anak itu menatap serentak ke arah Anna. Kalau boleh ia mengira-ngira, tatapan itu adalah rasa lega melihat Anna akhirnya bangun, namun juga tatapan penuh kasih ... dan untuk Simon, Yoana bertaruh ada kilau memuja yang melintas.


Sejak kapan? Yoana sungguh-sungguh ingin tahu jawabannya.


NEXT >>>>>


**********


From Author,


Pantau terus Yoan wkwkkwkw


Jangan lupa like, love, bintang lima, komentar dan vote hadiahnya untuk Leon ya readers. Atas dukungannya author ucapin terimakasih banyak.


Salam. DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2