Pengantin Simon

Pengantin Simon
70. Empty heart


__ADS_3

Anna meletakkan tasnya di kaki ranjang. Ia sudah memesan kamar di sebuah penginapan biasa yang terletak di jalan utama, agar memudahkan ia mencari transportasi dan juga keperluannya selama berada di White Clouds.


Setelah sempat ragu, lalu menimbang dalam waktu singkat saat berada di bandara White Sand Bay, Anna akhirnya memutuskan untuk meneruskan perjalanan sesuai rencana semula. Ia tidak tahu apa-apa tentang kediaman keluarga Bernard, dan di dalam hatinya, terselip sedikit rasa takut bagaimana kalau respon Simon menjadi dingin, karena situasi sebenarnya mereka masih bertengkar.


Anna melirik jam tangan, karena tadi ia berkeliling dulu melihat-lihat kondisi kota itu, ia tiba ketika hari sudah sore di penginapan.


Anna meraih tas, lalu tangannya mengambil ponsel yang ada di dalamnya. Apapun reaksi Simon, setidaknya ia tidak sedang berhadapan langsung dengan pria itu.


Anna menunggu setelah menekan tombol panggilan. Jantungnya berdebar ketika sedetik kemudian suara Simon terdengar.


"Halo?"


Suara Simon terdengar datar dan formal.


"Ha-halo, Simon? "


"Ya, ini aku. Maaf, ini siapa?"


Anna merasa tubuhnya seperti baru saja diguyur dengan air dingin. Ia terdiam dengan sebelah tangan masih memegang ponsel di telinga, sedang yang sebelah lagi memegangi dada. Bibir Anna merasa kelu. Apakah nomor ponselnya sudah di hapus dari daftar kontak pria itu? Apakah Simon begitu mudah melupakan suaranya?


"Halo? Apakah Anda masih di sana?" suara Simon terdengar lagi.


Tangan Anna meremass dadanya yang terasa nyeri, sesuatu di dalam sana terasa seperti sedang diiris-iris. Sambil tergagap, Anna menjawab dengan suara serak.


"In-ini aku, Simon. Anna ... aku menghubungimu tadi pagi, tapi ponselmu tidak aktif."


"Ah ... Mam Ann."


Hati Anna terasa jatuh ke dasar. Pria itu memanggilnya Mam Ann, panggilan formal sebagai guru dari Leonard.


Air mata Anna berkumpul dengan sendirinya. Ia menunduk dan menahan isakan. Mencoba menyuarakan kalimat dengan nada normal.


"Aku bertemu Jhon tadi pagi ... bagaimana keadaan Tuan Hamilton? Apakah beliau baik-baik saja?"


"Saat ini kondisinya bagus."

__ADS_1


Simon menjawab begitu pendek. Anna jadi merasa kalau ia mengganggu, Simon mungkin hanya memaksakan diri menjawab telponnya. Pria itu sepertinya masih marah, atau kecewa pada Ann.


Tentu saja, ia melihatmu seperti jalanng saat di bar. Ia sudah mengatakannya kan ....


Ann menghapus pipinya dengan punggung tangan. "Syukurlah ... semoga beliau bertambah baik dan segera pulih."


"Amin."


Anna menelan ludah, lalu terbatuk kecil untuk melancarkan tenggorokannya. Ia seharusnya menutup percakapan itu bila tidak ingin Simon tahu kalau ia sedang menangis. Tapi ada sesuatu yang harus ia sampaikan. Mrs. Sanders mengatakan salah satu harus mengalah, menjalin komunikasi dan meminta maaf.


"Simon, soal malam itu, di bar ... aku minta maaf. Sikapku berlebihan. Kau teman baikku, tentu saja teman baik akan mengingatkan jika kita melakukan kesalahan."


Tidak ada jawaban. Pria itu hanya menyimak.


"Aku sudah mengganggu waktumu. Tolong sampaikan salamku untuk Leon."


Karena masih tidak ada jawaban dari Simon, Anna akhirnya mematikan sambungan. Senyum pahit tersungging di bibir Anna. Pipinya basah oleh air mata, hatinya merasa nyeri dan juga kosong, tubuhnya yang sudah lelah seharian diajak berkeliling makin lesu dan tidak bertenaga. Anna mengempaskan tubuhnya ke atas kasur.


Kau kehilangan satu orang yang begitu peduli padamu .....


Simon memandangi ponselnya, membayangkan wajah Ann yang tadi menelepon. Suara Anna terdengar agak berbeda di akhir percakapan. Seperti suara orang menahan tangis. Apakah ia sudah berhasil?


Simon sengaja tidak pernah menghubungi wanita itu sejak mereka bertengkar. Ia ingin tahu bagaimana sikap Anna ketika Leon dan dirinya menghilang dari kehidupan wanita itu.


Kekhawatiran pada kondisi Paman Hamilton, membuat Simon bisa mengalihkan rasa rindu dan keinginannya bicara dengan Anna. Namun pengawasannya pada wanita itu tidak pernah lepas. Ia meminta Jhon mengawasi Ann ketika ia pergi.


Sekarang, saat Jhon memberi tahu kalau Anna telah pergi ke White Clouds, Simon sudah meminta Vincent mengirimkan orangnya. Ia belum bisa meninggalkan Paman Hamilton. Tapi ingin Anna tetap ada yang mengawasi.


"Kau sengaja kan?" tanya Vincent. Mereka berdua duduk di bangku panjang yang ada di luar ruang perawatan Hamilton.


"Sengaja apanya?"


"Menjawab dengan nada datar, formal ...seolah kau tidak sedang merindukan wanita itu. Fiuh ..." Vincent mengejek.


Simon hanya tertawa. Tawa lepas pertama yang Vincent lihat sejak si bungsu Bernard itu pulang. Keadaan Hamilton membuat Simon begitu ketakutan.

__ADS_1


Vincent mengetahui kalau tiga bersaudara Bernard sudah menganggap Hamilton seperti ayah mereka sendiri. Namun, dengan Simon, hubungan Hamilton sangatlah dekat. Pria itu yang mendampingi si bocah Bernard sejak remaja, mengarahkan kedua kakak Simon dan mengurus mereka semua sejak ditinggal oleh ibu kemudian oleh ayah mereka.


"Aku ingin ia merasa aku mengabaikannya." Simon memasukkan ponsel ke dalam kantong kemeja.


"Apanya yang mengabaikan? Kau terburu-buru menyuruhku mengirim orang ke sana. Kau mengawasinya meski tidak secara langsung."


Simon kembali tertawa.


"Syukurlah Paman Hamilton sudah sadar. Kau sepertinya harus pulang, Simon. Biarkan aku dan Claude yang di sini malam ini. Kau pulanglah. Temui Leon."


Simon mengembuskan napas panjang. "Tidak. Sebelum seluruh hasil pemeriksaan ulangnya keluar."


Baru saja ia selesai bicara, pintu ruang perawatan terbuka. Claude keluar bersama dokter dan juga perawat.


"Semua baik-baik saja," ucap sang dokter sambil tersenyum pada Simon dan Vincent.


Setelah semua petugas medis itu berlalu, Claude menepuk bahu adiknya.


"Kau, temui Paman, lalu pulanglah. Malam ini tidurlah di rumah!" perintah Claude.


"Tapi ...."


"Tidak ada tapi! Temui Leon, Catty bilang anakmu itu sangat lesu! Tidak bersemangat sama sekali! Ia puasa bicara, makanpun hanya sedikit!"


"Baik. Baiklah. Aku pulang sebentar lagi."


Simon mengucapkannya sambil melangkah masuk ke ruang perawatan. Meninggalkan Vincent dan Claude yang saling berpandangan di luar pintu.


NEXT >>>>>


********


From Author,


Halo semua, jangan lupa like ya, love, bintang lima dan komentar. Berikan juga vote kalian sebagai dukungan untuk karya ini. Terima kasih banyak sebelumnya.

__ADS_1


Salam. DIANAZ.


__ADS_2