Pengantin Simon

Pengantin Simon
43. Don't break it


__ADS_3

Anna melangkahkan kakinya di atas pasir, ia sudah membuka sepatu dan menapak dengan kaki telanjang. Senyum terkembang di bibirnya, merasakan riak ombak di telapak kaki juga pasir basah yang naik sampai ke ujung jari-jarinya.


"Kemarikan sepatumu," ucap Simon. Pria itu berjalan di samping Anna. Menarik sepasang sepatu yang dipegang oleh wanita itu.


"Di sini malam hari ternyata sangat indah," ucap Anna.


"Kau seharusnya lebih sering kemari."


Anna berhenti berjalan, menghadap ke arah lokasi hotel tempat tadi mereka makan malam.


"Keluargamu akan pulang besok?" tanya Anna


"Ya."


"Semuanya?"


"Ya. Ayo mengobrol di sana," tunjuk Simon. Sebuah pondok kecil yang tersebar di sepanjang pantai untuk orang-orang duduk dan bersantai.


Simon menarik tangan Anna, mengajaknya ke arah pondok dan duduk berdampingan.


"Kemarikan sepatuku," pinta Anna. Namun Simon malah menjauhkan benda itu dari jangkauan Anna.


"Kakimu penuh pasir. Sepatumu akan kotor jika kau kenakan sekarang."


Anna menatap ke arah ujung kakinya. Cahaya redup dari penerangan di salah satu sudut atap pondok memberikan pencahayaan hingga ia cukup jelas melihat punggung kakinya yang penuh pasir. Anna tertawa, memainkan pasir dengan melemparnya dengan ujung kaki ke arah udara.


"Kau terlihat gembira. Kau menyukai acaranya?" tanya Simon.


"Ya ... tapi kurasa aku agak mabuk ... aku terlalu banyak minum," ucap Anna.


"Kau suka minum?"


Anna menggeleng. "Sama sekali tidak ... aku terlalu gugup. Jadi aku butuh minum agar sedikit tenang." Anna mengakhiri kalimatnya dengan tertawa.


Simon selalu menatap Anna ketika bicara. Namun karena wajah Anna selalu menatap ke arah pantai, ia tidak dapat melihat ekspresi sebenarnya dari wanita itu.


"Kau? Gugup? Karena apa?"


Anna mengembuskan napas panjang. Meletakkan kedua tangan di sisi tubuh dengan telapak tangan bertumpu di tempat duduknya.


"Aku juga bingung karena apa ... keluargamu sangat baik ... sangat ramah dan penuh kehangatan. Mereka menyambut kami dengan sangat terbuka, seolah sudah lama mengenal kami. Mrs. Sanders dan Nyonya Luna pasti merasakan hal yang sama."


"Jadi apa yang membuatmu merasa tidak nyaman?"

__ADS_1


"Aku bukannya tidak nyaman ... hanya ...." Anna mengangkat kedua bahunya, sambil menyunggingkan senyum. Merasa lebih baik jika ia tidak menjabarkan bagaimana perasaannya, karena ia sendiri tidak mengerti apa yang tengah ia rasakan.


"Kau berbeda setelah kembali dari toilet. Setelah mendengar ocehan si kecil Valencia, juga mendengar lelucon Yoana."


Anna menoleh, sejujurnya ia sudah gugup sejak dijemput dari pondoknya. Melihat betapa tampan dan gagahnya Simon dengan setelan formal berwarna hitam yang ia kenakan. Sejak dicium oleh pria itu, sentuhannya seolah membekas, membuat Ann memandang pria itu dengan cara sedikit berbeda. Anna menyadari sesuatu bergeser di dalam hatinya, dari seorang teman, seorang ayah dari muridnya ... dan kini Anna sepenuhnya menyadari sisi laki-laki dari seorang Simon Bernard. Pria itu masih sendiri meski putranya sudah berumur enam tahu dan Anna sama sekali tidak tahu bagaimana kehidupan pribadi pria itu.


Anna dapat menyembunyikan rasa gugupnya dengan baik hingga si kecil Valencia menyatakan di depan semua orang yang ada di meja bahwa ia akan menjadi Mommy yang keren untuk Leonard, lalu ia bertambah gugup ketika melihat Simon dan ternyata pria itu tidak menyanggah ucapan itu, tidak meluruskan pada semuanya dengan mengatakan bahwa mereka hanya berteman.


Kegugupan Anna bertambah ketika Yoana mengatakan bahwa Simon tidak pernah sama sekali membawa seorang wanita pun di acara makan malam keluarga mereka, lalu wanita itu menyuruh Simon agar mengajaknya berdansa. Kalimat yang diucapkan Yoana pada adiknya itu membuat wajah Anna memerah.


'Bagaimana kalau kau ajak Mommy Ann berdansa, Simon?' Begitulah ucapan Yoana tadi. Tentu saja wanita itu mengatakannya dengan nada bercanda, sambil mengedipkan mata dengan jahil ke arah Simon. Anna tahu, Yoana memanggilnya Mommy Ann karena ucapan Valencia, namun hal itu membuatnya jadi tidak nyaman.


Anna merasa tangan kanannya terangkat. Ia menoleh, menatap tangan Simon yang sekarang sudah menggenggam tangannya.


"Ann ... katakan padaku apa yang kau pikirkan ....."


"Aku ... apa benar kau tidak pernah mengajak wanita manapun ke acara makan malam keluargamu?"


Simon menatap wajah Anna yang sekarang menoleh ke arahnya. Ia dapat melihat jelas bagaimana wajah wanita itu. Simon tahu Anna merasa tidak nyaman sejak Yoana menyuruhnya mengajak Ann berdansa. Kakaknya itu dengan provokatif memanggil Ann dengan Mommy. Anna jadi tidak tenang setelah itu. Setelah berdansa dan kembali mengobrol sambil menikmati minuman, Simon memutuskan mengajak Anna berjalan-jalan. Ann seolah melarikan rasa gugupnya dengan gelas-gelas minuman.


"Tidak pernah," jawab Simon.


"Kami beruntung, aku, Mrs. Sanders dan Nyonya Luna. Kurasa kami sudah jadi teman akrabmu sehingga untuk pertama kalinya kau mengundang wanita," oceh Anna. Kepalanya terasa sedikit pusing.


"Apa yang berbeda?"


"Kau istimewa."


"Teman yang istimewa?"


Simon tidak menjawab. Ia hanya mengucapkan Ann istimewa tidak menggandengnya dengan kata teman.


"Kau istimewa ... bukan hanya sebagai temanku. Tapi juga ...."


Simon menatap mata berwarna hijau yang sekarang terlihat gelap karena cahaya yang temaram. Anna menatapnya, menunggu kalimat Simon yang menggantung. Diam tak bergerak.


"Ann ... aku menahan diri mengatakan apapun yang merusak hubungan kita. Aku menjaga perasaanmu ... karena itu aku tidak mengatakan apapun bahkan ketika aku menciummu."


"Tapi itu sedikit aneh ... kita berteman ... kau menciumku seolah ...." Anna menelan ludah. Ia harus mengucapkannya, agar ia tahu apa yang ada di pikiran laki-laki ini. "Seolah aku kekasihmu," ucap Anna. Menyiapkan dirinya bila mendengar Simon tertawa setelah mendengar ucapannya itu.


Namun, Simon sama sekali tidak tertawa. Genggaman tangannya di tangan Anna mengencang. Kedua matanya tampak berkilat meski cahaya sangat redup.


"Itu yang aku inginkan, Ann ... tapi aku tahu semuanya tidak akan mudah untukmu. Aku tidak mau kau mundur dan malah pergi ... karena itu aku tidak mengatakan apa-apa."

__ADS_1


Anna tiba-tiba berdiri, ia menarik tangannya dari genggaman Simon.


"Kau tahu kalau aku menghargaimu sebagai teman. Kau sahabat terbaikku. Di pulau ini, hanya kau dan Mrs. Sanders, orang dewasa yang sangat dekat denganku ... aku juga menyayangi Leon ... jangan membuat semuanya berubah, Simon."


Simon menahan tangan Anna, berjaga-jaga agar wanita itu jangan pergi.


"Kalau begitu duduklah. Kita bicara ... aku tidak akan memaksakan kau menerima apapun perasaanku. Tapi jangan pernah pergi atau menghindariku, Ann."


Anna akhirnya duduk kembali. Tangannya masih belum dilepas oleh Simon. Anna berusaha menariknya, namun pria itu tidak mau melepaskannya.


"Kau bilang tidak akan memaksa, jadi tolong lepaskan tanganku," ucap Anna.


Simon mengembuskan napas panjang, beringsut mendekat, lalu menarik tubuh Anna, memeluk wanita itu.


"Maafkan aku, aku bilang tidak akan memaksakan perasaanku ... tapi jangan melarangku untuk tidak menyentuhmu, Ann. Aku tidak akan menyanggupinya ... kau akan terus menganggapku sebagai teman? Aku akan menerimanya ... tapi jangan suruh aku untuk berhenti berusaha mendapatkanmu. Karena aku menginginkan lebih ... sejak awal bertemu denganmu, aku sudah menginginkan lebih."


Anna mendorong Simon, memberi jarak pada tubuh mereka agar ia dapat memandang wajah Simon. Apa yang ia lihat membuat hatinya bergetar, pria itu begitu tampan, dengan mata berkilat memandang dirinya, seolah pria itu sangat menginginkannya.


"Tidak. Aku tidak membutuhkan kekasih. Jika kau masih mau bertemu denganku, maka berhenti di sini dan jangan mengubah apapun!" Setelah mengucapkannya, Anna bangkit dengan cepat, namun ia kurang cepat, Simon sudah bangkit dan menahan pinggangnya, memeluknya dari belakang.


"Ann ... jangan membuatku merasa jadi pria hidung belang yang merayumu agar bisa jadi kekasihmu. Aku tidak memungkiri aku menginginkanmu ... tapi aku melakukannya karena aku men-"


Ucapan Simon terputus, karena Anna telah berbalik secepat kilat dan menutup mulut pria itu dengan telapak tangannya.


"Tidak. Jangan mengatakan apa-apa. Jangan membuat hubungan pertemanan kita hancur, Simon."


Mereka saling bertatapan. Simon merasa sangat kecewa, karena jangankan menerima perasaannya, mendengarkan saja Anna menolak.


Mata Anna melebar dengan wajah terkejut ketika merasakan lengan Simon mengetat, sampai tubuhnya tertarik ke depan dan menempel dengan pria itu. Anna mendongak, menatap ke sepasang bola mata hitam yang menatapnya dengan tatapan keras. Tatapan yang sebelumnya tidak pernah Anna lihat dilayangkan Simon untuknya.


NEXT >>>>>>


**********


From Author,


Daddy Simon mo ngapain kira-kira ya? Marah? Sedikit memaksa? Atau malah membujuk?


Nantikan chapter selanjutnya ya.


Otor mon maaf update tidak tentu, menjelang akhir ramadhan kegiatan rada padat, kerja juga gak ada liburnya, hehhehe ... dinikmati ajalah ya. Berdoa sehat selalu, juga buat semua readers selamat berpuasa bagi yang menjalankan, semangat terus ya, bahagia banget Idul Fitri bentar lagi nih.


Jangan lupa tekan like, love, bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya otor ucapkan terima kasih banyak.

__ADS_1


Salam. DIANAZ.


__ADS_2