
Simon menyeringai ketika ujung jemari Jean mulai mendarat ke otot-otot dadanya.
"Kenapa kulitmu basah?" tanya Jean sambil menggeserkan jari di atas kulit Simon.
"Jangan menggunakanku untuk memancingnya, Jean," ucap Simon.
"Memancing? Siapa yang kau maksud?" tanya Jean. Pura-pura tidak mengerti, ia dengan sengaja berpindah menyentuh abs Simon.
"Dia melihat kita."
Jean menatap Simon dengan senyum lebar.
"Kalian memang teman dekat bukan?"
"Ya ... karena itu, jangan melakukan hal aneh. Lagipula kenapa kau ada di sini? Kau mencarinya kan? Sebaiknya kau sapa dia, lalu katakan keperluanmu. Dia akan pergi dengan teman-temannya ke Bar."
Jean tertawa kecil. "Aku memang mencarinya ... dia menghindariku terus."
"Kau datangi saja rumahnya."
"Aku hanya bertemu Mindy."
Sekarang Simon yang tertawa. "Mindy, musuh masa remajamu yang sekarang jadi sekutumu?"
"Aku dan Mindy berteman baik. Kami sudah melupakan masa lalu. Lagipula, siapa yang tidak pernah melakukan kenakalan di masa lalu? Aku dan Mindy sudah melupakannya. Tapi sepertinya temanmu itu tidak ....dia bahkan tidak menjawab ketika aku bicara padanya."
Simon melihat sosok Jhon di kejauhan. Pria itu bangkit, mengucapkan sesuatu pada Charlie dan mulai melangkah ke arah tempat dimana ia dan Jean berbicara.
"Sepertinya niatmu terkabul ... dia kemari," ucap Simon.
Kedua mata Jean membulat, sebuah senyum merekah di bibirnya.
Simon menatap curiga. "Apapun yang ada dalam pikiranmu, hentikan. Jangan sertakan aku," ucap Simon.
__ADS_1
Namun, Jean sepertinya tidak peduli. Wanita itu mendekat sambil mengalungkan lengan ke leher Simon.
"Dia sudah sampai mana?" bisik Jean. Wanita itu berjinjit untuk mencapai telinga Simon. Bagian depan dadanya yang ditutupi kaos menempel di dada Simon.
"Sebentar lagi tiba ... wajahnya agak gusar."
Jean tertawa genit dengan sengaja. Mundur selangkah agar bisa memandang Simon tanpa melepas tangannya di leher pria itu.
Simon memegang lengan Jean, menariknya ke arah bawah. "Ayolah, lepaskan ... kau bisa membuatku kena masalah."
"Dia bahkan tidak bereaksi saat aku menjemput Mindy dalam boncengan seorang pria. Aku memeluk erat teman priaku di depannya dan dia berlalu seperti tidak melihatku. Dia membuatku kesal selama bertahun-tahun. Tapi kau temannya, tentu saja dia akan bereaksi ...."
"Astaga, Jean ... sebenarnya mau kau apakan Jhon?"
Jean tertawa geli, terdengar genit dan menggoda. "Bagaimana kalau kubilang mau kucium?"
Seketika lengan Jean ditarik sedikit keras oleh seseorang. Simon dan Jean menoleh, mendapati Jhon sudah berdiri di dekat mereka, juga mendengar kalimat Jean yang diucapkan terakhir kali.
Dari atas kapal, Anna memutuskan tidak melanjutkan melihat pemandangan yang membuat perasaannya tidak menentu tersebut.
Anna kembali ke kabin. Duduk dan menata hatinya yang merasa buruk. Memarahi dirinya sendiri karena perasaan cemburu yang ia rasakan.
Kau tidak berhak merasa keberatan. Jika Simon bisa bersikap manis dan menggoda padamu, dia juga bisa melakukannya pada semua wanita. Jean cantik, sexi ... dia berani dan juga percaya diri ... kau bukan siapa-siapa. Meski Simon melamarmu, itu tidak berarti apa-apa karena kau belum menerimanya ... dia masih pria bebas.
Anna mengembuskan napas, ia bersandar dengan tangan bersedekap. Memutuskan memejamkan mata sambil menunggu Simon kembali ke kapal.
Simon mengatur wajahnya datar dan menahan keinginan untuk menyeringai ketika melihat sinar mata Jean yang menari-nari gembira sambil menatap Jhon yang tadi menarik lengannya dari leher Simon.
"Ada apa denganmu?" tanya Jean santai.
"Kau yang ada apa? Malam-malam datang kemari sendirian! Hanya untuk menggoda pria!"
"Kalaupun ya, itu bukan urusanmu!"
__ADS_1
"Memang bukan! Tapi hentikan aksimu!"
"Kenapa? Marah?" Jean menyipit, memandang Jhon dengan ekspresi mengejek dengan sengaja.
"Kenapa kau yang jadi panas begini? Kau cemburu ya?"
"Bodoh! Aku tidak peduli kau mau melakukan apa! Tapi di dalam sana, ada seornag wanita yang saat ini sedang bersama Simon! Hentikan aksimu, sebelum ia muncul lalu salah paham."
Jean terdiam. Ia menoleh ke arah Simon. Meminta konfirmasi.
Simon mengangguk. "Anna ada di sana," tunjuk Simon ke arah belakangnya.
"Wanita yang kau angkat seperti sebuah boneka saat di restoran? Kekasihmu yang itu?" tanya Jean.
" Memangnya kau pikir kekasihnya ada berapa? tanya Jhon dengan nada gusar.
"Begitulah, Jean ... Anna yang itu," ucap Simon sambil tersenyum geli.
"Wahhhh, ma- ....." Jean belum sempat mengutarakan permintaan maaf ketika tangannya sudah ditarik paksa oleh Jhon menjauhi tempat itu.
"Sorry, Simon. Dia pembuat masalah dari dulu!" teriak Jhon.
Simon hanya melambai, menggelengkan kepala melihat Jean yang pura-pura menahan langkahnya agar Jhon kesulitan.
"Kalian seperti itu sejak remaja kan ...." ucap Simon sambil berbalik. Melangkah menuju kapal. Sudah saatnya ia melihat keadaan Anna. Lagipula, tubuhnya sudah merasa dingin. Ia perlu handuk, baju hangat, lalu tidur yang nyenyak malam ini.
NEXT >>>>>>>
**********
From author,
jangan lupa like bab ini, ketik komentar lalu vote hadiah untuk PS ya, biar otor e semangat up egen.
__ADS_1
Terima kasih semuanya.
Salam. DIANAZ.