Pengantin Simon

Pengantin Simon
26. Dad's voice


__ADS_3

"Aaaaaaaa!" Jeritan Leon melengking setinggi langit. Bocah kecil itu dengan panik berusaha melepaskan benda meliuk panjang yang jatuh melilit pundak dan lehernya sembari berteriak berulang kali.


"Leon, jangan bergerak, Sayang" Anna berusaha membantu, namun badan Leon yang terus menggeliat membuatnya kesulitan.


Leon kembali menjerit, bayangan ada ular yang meliliti tubuhnya membuat bocah itu panik luar biasa.


"Shhh ... Leon, ini hanya akar. Kau dengar Mam? Ini akar."


Leon berhenti bergerak ketika ucapan Anna terserap di pikirannya.


"Akar?"


"Huum, ini merambat dan Mam rasa jatuh dari atas karena Mam menghela dahan pohonnya."


Leon bernapas lega. "Leon kira ini ular, Mam."


Anna meraba-raba dan melepaskan benda merambat di pundak Leon. Saat itulah mereka mendengar suara yang terdengar menggema dari kejauhan itu.


"Jawablah!" Teriakan tersebut terdengar amat jauh.


Leon memegang erat tangan Anna. Ia meremas dengan sangat kuat.


"Dad? Daddy?" isakan kecil terdengar di akhir ucapan Leon, seolah seluruh harapannya kembali melambung karena suara yang tadi memasuki telinganya.


"Sttt ... diam dulu, Sayang. Kita dengarkan dulu. Itu benar-benar Daddy atau bukan," bisik Anna di telinga Leon.


Anna merasa Leon mengangguk.


Kembali terdengar lagi suara menggema. " Jawab Daddy, Leon!"


Anna dan Leon berpegangan semakin erat.


"Mam rasa itu memang suara ayahmu, Leon."


Leon mengangguk berulang kali.


"Tapi terlalu berbahaya bila kita bersuara. Martin bisa jadi ada di sekitar sini. Ia akan mudah menemukan kita kalau kita bersuara."


"Mam benar ...." Bisikan Leon terdengar lesu.


"Kita saja yang ke sana. Kita cari ayahmu. Mari berharap ia terus memanggil kita."


Leon mengangguk, lalu keduanya mulai berjalan mengikuti arah asal suara Simon.


Beberapa saat berjalan kaki, langkah Leon melambat. Anna berhenti, lalu berjongkok dan memeriksa Leon dengan meraba dan merasakan suhu tubuh bocah itu.


"Sayang, kenapa? Leon kedinginan?"

__ADS_1


"Mam ... Kaki Leon sakit sekali."


Anna segera meraba bagian kaki.


Isakan kecil terdengar, seolah bocah kecil itu sekarang berusaha menahan tangisnya.


"Padahal Dad sudah datang ... apakah tidak bisa kita panggil saja keras-keras? Kaki Leon sakit sekali," ucap Leon dengan suara serak.


Anna meraba pipi Leon yang dingin.


"Shhhh ... jangan menangis. Maafkan, Mam. Seharusnya Mam tidak membawamu terus berjalan sejauh ini. Kemarilah, naik ke punggung Mam saja. Kita akan mencari Daddymu."


Anna membelakangi Leon, memasang punggungnya agar Leon bisa naik.


"Tapi ... Leon berat, Mam ...."


Anna tertawa pelan. "Ayolah, Leon. Jangan meremehkan Mam Ann. Mam tersinggung kalau Leon mengira Mam tidak mampu menggendong Leon."


Leon masih berdiri ragu-ragu, lalu teriakan ayahnya kembali terdengar di kejauhan.


"Leon! Anna!" Kali ini menggema agak lebih kencang dibanding sebelumnya.


"Leon dengar? Itu benar-benar suara Daddy. Ayo, Sayang. Kita harus cepat mendekat ke arahnya."


Leon akhirnya menurut. Rasa sakit di telapak kakinya yang tidak beralas membuatnya merasa tidak sanggup lagi untuk melangkah. Ia naik ke punggung Anna, mengalungkan kedua lengan ke seputar leher ibu gurunya tersebut, lalu Anna berdiri sambil menyangga kedua tangan pada paha dan bokong Leon.


"Kita pergi," ucap Anna. Ia tetap memilih berjalan diantara pepohonan yang lumayan rapat agar sosok mereka tersembunyi dibalik bayang dan kegelapan. Berhati-hati Anna melangkah, mengatur napas dan menguatkan kedua kakinya.


Suara teriakan Simon terdengar semakin dekat. Anna merasa dadanya bergulung oleh harapan, ia melangkahkan kakinya lebih cepat.


Anna mendengar isakan Leon di pundak kanannya. Pipi bocah itu bersandar di atas bahu, kembali mendengar suara sang ayah membuat Leon tidak dapat menahan lagi airmata yang sudah berkumpul di kelopak matanya sejak tadi.


"Daddy ...," rintihnya pilu.


Anna membiarkan Leonard menangis, ia mengerti, karena dirinya sendiri sekarang sudah hampir menangis. Harapan yang tidak pasti tentang kedatangan Simon yang mereka tunggu sejak pergi dari pondok sekarang sudah hampir nyata. Suara pria itu benar-benar nyata, ia hanya perlu mencari sosoknya.


Ketakutan, kengerian dan rasa mencekam yang membalut hati Anna seolah sedikit melonggar, mengetahui bahwa Simon sudah ada di pulau itu. Leonard akan selamat. Leon akan kembali pada ayahnya.


"Daddy ...," panggil Leon di kegelapan malam. Isakannya makin menjadi.


Anna berusaha menahan kesedihan yang membelit hati kecilnya mendengar kepiluan yang amat sangat di nada suara itu. Bocah yang dibesarkan dan terlindungi sejak bayi, tidak akan pernah mengira akan mengalami hal mengerikan seperti penculikan, berlari sampai kedua kakinya sakit di tengah malam buta. Anna berharap tidak akan ada trauma berkepanjangan pada Leonard. Jika hal itu terjadi, ia akan terus merasa bersalah sepanjang hidupnya.


"Anna!"


Teriakan Simon sudah sangat dekat. Spontan Anna menjawab, memberitahu kalau mereka sudah dekat dengan pria itu.


"Di sini! Simon! Di sini!"

__ADS_1


Anna ingin sekali berlari, namun dengan membawa Leon di punggungnya, ia hanya bisa berjalan secepat yang ia bisa.


"Simon! Kami di sini!" teriak Anna sekencang mungkin menggunakan sisa-sisa tenaganya. Napasnya sudah memburu. Airmatanya sudah jatuh, menangis, berteriak dan berjalan cepat membuat paru-parunya seolah diperas habis.


Anna melihat kelebat cahaya diantara pepohonan, semakin lama semakin mendekat. Namun bayangan yang datang itu berhenti bersuara. Membuat Anna berhenti berjalan.


"Mam?" isak Leon sambil bertanya-tanya kenapa ibu gurunya berhenti.


"Shhh ... kita tunggu di sini dulu, Leon." Anna memilih satu pohon besar. Berjongkok dan menurunkan Leon, setelahnya ia memeluk bocah itu sambil mengintip dari balik pohon.


Cahaya yang datang terlihat berhenti bergerak, seolah orang yang memegang sumber cahaya itu diam di tempat beberapa saat.


Anna memutuskan memanggil lagi. Berharap itu memang Simon. Memberitahu setidaknya arah mencari mereka. Namun jika itu memang bukan Simon, ia dan Leon tidak akan terlihat karena bersembunyi. Ketakutan membuatnya harus berhati-hati.


"Simon!" seru Anna.


Benar saja, cahaya itu kembali bergerak, meliuk menyinari jalan ke arah lokasi Anna. Ketika bayangan gelap dan suara langkah kaki makin kencang terdengar, Anna mengintip lagi, ia menahan tubuh Leon yang mau ikut mengintip agar tetap diam dibalik pohon.


"Shhh ... Leon diam di sini," perintah Anna. Ia memeluk muridnya itu erat-erat, membiasakan bola matanya melihat sumber cahaya yang semakin lama semakin mendekat.


"Leon! Ann!"


Sosok itu muncul di antara pepohonan. Meski gelap dan hanya bisa melihat siluet di balik tangan yang memegang senter tersebut, Anna dapat memastikan kalau itu Simon. Ia terduduk lemas, pelukannya pada Leonard melonggar, seolah kehilangan seluruh kekuatannya.


"Mam?" bisik Leon, matanya terbelalak. Mencari-cari jawaban siapa yang datang. Kebingungan karena hanya mendengar isakan dari ibu gurunya yang terduduk lemas.


"Daddy, itu Daddymu, Leon ...."


penjelasan itu membuat Leon keluar dari balik pohon sambil berteriak kencang.


"Daddy! Dad!"


Simon mencari-cari, mengarahkan cahaya senternya ke sumber suara.


"Dad ...." panggilan itu di bisikkan dengan amat pilu diiringi suara tangis yang pecah.


"Leon!" Simon berlari, bertepatan dengan Leon yang juga mengejar ayahnya. Tidak dihiraukannya kaki yang tadi sakit dan terluka. Leon menghambur ke arah sosok Simon yang segera menangkap dan memeluknya erat-erat.


"Ya Tuhan ...," bisik Simon. Suaranya serak menahan tangis, namun airmata yang ditahan itu tidak lagi bisa ia bendung. Ia terisak, diiringi tangisan Leon yang meraung menangis dengan kedua lengan memeluk ayahnya kuat-kuat.


NEXT >>>>>


*********


From Author,


Aku lega🤧🤧🤧setidaknya Leon udah ketemu Daddy🥺😢😢

__ADS_1


Jangan lupa dukung Leon dengan tekan like, love, bintang lima, komentar dan Vote hadiah ya para pembaca tersayangkuh. Atas bantuannya Author ucapkan terimakasih banyakkkk. Luvv youuu❤️❤️❤️🥰🥰🥰🥰


Salam hangat, DIANAZ.


__ADS_2