
Anna membuka mata perlahan, cahaya lampu membuat matanya menyipit. Ia terbaring di atas sebuah ranjang. dikelilingi gorden plastik khas milik rumah sakit.
"Ah, kau akhirnya bangun."
Anna menoleh mendengar suara itu.
"Simon?"
Sebuah senyum lebar segera terkembang di wajah Simon.
"Benar. Nyonya Bernard. Ini aku," ucapnya sambil mengedipkan mata.
Sedetik kemudian Anna mengerti bahwa Simon menggodanya. Ia ingat betul kejadian terakhir sebelum ia pingsan. Mengira pria berkaos hitam yang ditabraknya adalah para suruhan Barnes, namun ketika ia mendongak wajah Simonlah yang ia lihat sebelum ia pingsan.
"Aku akan mencari dokter. Tunggu," ucap Simon sambil mencolek pipi Anna yang mulai memerah karena malu.
Simon melangkah pergi sambil tertawa kecil. Anna segera menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh dan kepalanya ketika Simon berlalu.
Ya Tuhan, tolong aku ... malunya tidak terkira ....Anna mengeluh dalam hati.
Suara gorden disibak tidak membuat Anna membuka selimut. Ia masih butuh waktu mengatur ekspresi jika yang datang itu adalah Simon.
"Pssttt! Pssttt! ... Mam! Mam!" suara itu setengah berbisik.
Anna segera menarik selimut dengan cepat.
"Leon!?"
"Sttttt ... jangan keras-keras, Mam. Nanti Leon ketahuan Bibi perawat. Leon tidak disuruh masuk. Leon menyelinap diam-diam."
Anna tersenyum, ia mencoba bangkit dan duduk.
"Jangan bergerak dulu, Mam. Apakah Mam tidak sakit lagi?"
"Tidak, Leon. Mam sudah baikan. Tadi Mam hanya kelelahan."
Leon mendekat ke sisi ranjang dan menggenggam tangan Anna.
"Syukurlah. Daddy khawatir, karena itu membawa Mam ke rumah sakit."
Gorden kemudian tersibak, seorang pria berpakaian jas putih mengangkat alisnya ketika melihat Leon. Ia datang bersama Simon.
"Leon? Kenapa ada di sini?" tanya Simon.
"Mmmmm ... Leon khawatir," bisiknya dengan wajah tertangkap basah.
__ADS_1
"Kau menyelinap ya?" tanya sang dokter sambil menyeringai.
Leon mengangguk mengiyakan.
"Ada sebabnya anak kecil tidak diperbolehkan berkunjung ke rumah sakit. Apa kau tahu kenapa?"
Leon menggeleng.
"Di sini tempat orang dengan berbagai macam penyakit. Bakteri dan juga virus mungkin menyerang para pasien itu, anak-anak sangat rentan. Karena itu anak-anak dilarang berkunjung," ucap sang dokter.
"Leon mengerti. Maafkan Leon, Dokter."
Dokter tersebut mengacak rambut Leon sambil tertawa. "Ibumu tidak apa-apa. Hasil pemeriksaannya sudah keluar. Dia Hanya kelelahan. Dia juga harus memperhatikan makannya. Jadi sekarang Ibumu sudah boleh dibawa pulang."
Anna membelalak mendengar penjelasan dokter tersebut. Ia terkejut mendengar sang dokter mengira dia adalah ibu Leon. Segera ia melirik ekspresi Simon. Pria itu biasa saja, seperti tidak mendengar sesuatu yang salah. Lalu Anna melirik Leon. Bocah itu malah tersenyum lebar.
"Benarkah? Terima kasih, Dokter. Leon senang, malam ini bisa tidur di dekat 'Mommy' " ucap Leon dengan penuh penekanan di akhir kalimat, lalu ia terkekeh jahil.
"Anda sudah boleh membawanya pulang, Mr. Bernard." Dokter tersebut berucap pada Simon.
"Baiklah. Terima kasih, Dok."
Anna merasa wajahnya memanas ketika dokter tersebut pergi meninggalkan mereka bertiga, lalu mata Leon dan ayahnya memandangnya dengan senyum geli.
"Apakah ... uhuk! hem!" Anna melancarkan ternggorokannya yang merasa kering, "kita bisa pergi sekarang?"
"Tentu." Simon menyeringai melihat wajah Anna yang merona, bahkan sudah merambat ke telinga.
"Ayo, Mam!" Leon menggandeng tangan Anna.
"Ayo, Dad!" Tangan Leon sebelah lagi menarik tangan Simon.
Bertiga mereka meninggalkan rumah sakit tersebut. Di luar, dua orang pria yang tadinya bertugas menjaga Leon segera menyambut.
"Maafkan kami, Tuan. Tuan Leon berkeras mau masuk," ucap salah satu dari mereka.
"Tak apa. Kami sudah boleh pulang. Kurasa kalian juga bisa beristirahat. Kami akan ke hotel lagi."
Dua pria itu mengangguk. Anna menatap tak berkedip pada dua lelaki yang mengenakan pakaian serba hitam tersebut. Celana jeans hitam, kaos hitam, lalu ditutup dengan jaket yang juga berwarna hitam. Anna ingat, dua orang itu mirip dengan dua pria yang muncul di belakang Barnes saat tadi pria tua itu mengejarnya. Hanya saja, saat itu mereka tidak mengenakan jaket.
"Mereka orang-orangmu?" tanya Anna, menatap dengan mata bertanya-tanya pada Simon.
Simon hanya mengangkat bahu, Lalu menarik Anna dan juga Leon. "Ayo, Pergi," ucapnya tanpa bermaksud menjelaskan.
Anna berjalan mengikuti, namun sambil menoleh menatap salah satu pria tersebut, yang berambut cepak. Ia menyipit dan teringat tentang sosok yang ada di pemakaman Nuella.
__ADS_1
Pria yang dipandangi Anna hanya menatap datar, namun karena Anna terus menoleh bahkan ketika mereka telah sampai di dekat mobil. Pria itu tidak dapat menahan seringai kecil di bibirnya, tanda bahwa ia tahu bahwa Anna mengenali dan mengingatnya.
Anna mengerucutkan bibir. Merasa yakin setelah melihat seringai pria itu.
Jadi ... sejak awal kau sudah mengirim orang mengawasiku ... padahal kau tidak mau menghubungiku sama sekali. Bicara seperlunya dan bersikap dingin ketika aku menelepon.
Anna menoleh ke arah Simon yang duduk di ujung lain kursi mobil. Keningnya berkerut. Berpikir bahwa Simon dengan sengaja mengabaikannya selama beberapa hari kemarin. Namun pria itu tetap menjaganya dari jauh.
Supir sudah membawa mereka melaju meninggalkan pelataran parkir.
"Apa?" tanya Simon, menaikkan alis melihat Anna yang terus menatapnya.
Anna menggelengkan kepala. "Tidak ada."
Anna menunduk, memandangi Leon yang mulai bercerita tentang perjalanannya ke White Clouds. Leon memeluk sebelah lengannya, berceloteh, tampak sangat senang.
Anak yang tampan ... cerdas ... mengagumi dan juga menyayangimu."
Anna melepaskan lengannya dari rengkuhan Leon, lalu ganti memeluk bocah itu dengan kedua tangannya. Leon makin senang. Bocah itu bahkan spontan mencium pipi Anna.
"Teruskan ceritamu," ucap Anna.
Ketika Leon mulai lagi, dari puncak kepala Leon, Anna melirik ke arah Simon. Pria itu bersandar ke sudut, kedua kakinya terjulur santai memenuhi semua sisa dari sela kursi penumpang. Celana jeans dan kaos hitam pas badan yang dikenakannya mencetak jelas bentuk tubuh pria itu. Sebelah tangannya naik ke sandaran kursi, dan kedua matanya tak lepas menatap Anna. Tampak berkilat di tengah redupnya cahaya di dalam kabin mobil.
Anna sedikit bergidik, ia jadi merasa seperti mangsa yang sedang dipandangi oleh sepasang mata seekor macan kumbang.
Merasa tidak sanggup membalas pandangan mata itu, Anna menunduk, mengalihkan kegugupannya dengan melayani celotehan Leon.
Mengaku sebagai Nyonya Bernard, astaga ... memalukan sekali. Mau menghukumku? Terserah padamu saja ... lagipula aku tidak lagi berniat mengelak. Mau menikah? Ayo ... Mau berciuman sampai sesak napas? Mari ... Aku bahkan penasaran bagaimana kau di tempat tidur.
Uhuk! Uhuk!
Anna terbatuk, tercekik sendiri oleh pemikirannya. Ia menoleh ke arah kaca samping agar ekspresinya tidak terlihat. Seringai kecil muncul sendiri di bibir Anna. Ketika merasa Leon bersandar padanya, ia mengetatkan pelukan.
Mereka paket lengkap yang akan membuat hidupmu berwarna ... mungkin dia akan membatasi beberapa gerakmu, namun hidupmu akan aman, kau akan punya keluarga besar yang hangat dan juga saling mencintai.
NEXT >>>>>
*******
From Author,
Jangan lupa like bab ini, vote hadiahnya, love, komentar dan bintang lima ya. Atas dukungannya author mengucapkan terima kasih.
Salam. DIANAZ.
__ADS_1