Pengantin Simon

Pengantin Simon
48. Take care of Leon


__ADS_3

"Bila dia mau makan dan minum, lalu tidak memuntahkan apa yang dia makan, kupikir ia bisa dirawat di rumah saja, Simon. Aku akan memberinya obat. Kau bisa mengambilnya dan memberikan pada Leon sesuai dosis anjuranku. Jangan lupa berikan dia larutan yang kuresepkan setiap ia selesai dari toilet. Untuk mengganti cairan yang telah keluar."


Simon mengangguk mendengar anjuran dokter keluarganya yang telah datang dijemput oleh Bruno.


"Kuharap setelah ini diarenya akan reda," ucap sang dokter sambil menepuk pelan kaki Leon yang terbaring di atas kasur.


"Sejak pulang tadi hingga saat ini, Leon hanya dua kali ke kamar mandi, Dokter. Terima kasih sudah mengizinkan Leon dirawat di rumah saja," ucap Leon.


"Oke, Leon. tapi itu karena kondisimu masih bisa di rawat di rumah. Bila memburuk, aku tetap akan memaksa ayahmu membawamu ke rumah sakit."


Leon menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, aku pulang dulu, oke?"


Leon kembali mengangguk dan mengucapkan terima kasih.


Setelah Simon dan dokter tersebut keluar dari kamar Leon, Anna yang sejak tadi duduk diam di sebuah kursi di sudut kamar tersebut bangkit dan mendekat ke arah ranjang.


"Apakah Leon merasa lebih baik?"


"Iya, Mam Ann. Rasa sakitnya sudah hilang, hanya terasa sedikit tidak enak saja di sini," ucap Leon sambil memutar telapak tangannya di atas perut.


"Syukurlah. Kau membuat khawatir saja," ucap Anna sambil mengulurkan tangan memegangi tangan Leon yang terus bergerak di atas perut.


Suara langkah kaki yang mendekat membuat Anna menoleh.


Simon muncul di pintu kamar. "Bisakah aku meminta bantuanmu untuk menjaganya sebentar? Aku akan pergi mengambil ini." Simon menunjukkan sebuah kertas di tangan kanannya. Anna tahu itu adalah resep obat yang telah dituliskan dokter yang memeriksa Leon tadi.


"Tentu saja," ucap Anna.


"Bisakah kau memberinya makan malam? Sudah disiapkan." Simon menunjuk ke arah luar, tempat ruang makan keluarganya.


"Dad ... bisakah Leon makan di kamar saja?"


Anna belum menjawab pertanyaan Simon. Ia menunggu pria itu menjawab pertanyaan Leon.


"Tentu."


Simon menatap Anna yang bangkit dan melangkah mendekat ke arahnya.


"Aku akan membawa makan malamnya ke sini."


Simon mengangguk, segera membawa Anna ke ruang makan. Menunjuk sebuah nampan berisi makanan dan minuman yang sudah disiapkan oleh koki dan pelayannya.


"Siapa yang menyiapkannya?" tanya Anna.


"Koki dan pelayanku."


"Dimana mereka semua?" tanya Anna. Ia memandang berkeliling, tapi tidak melihat seorang pun.


"Sudah pulang," jawab Simon. Tanpa menambahkan bahwa rumah bagi para pekerjanya ada di bagian belakang, terpisah dari rumah utama.


Anna segera mengangkat nampan. "Pergilah. Setelah makan, Leon harus segera minum obat."


"Baiklah. Aku titip Leon. Aku tidak akan lama," pamit Simon.


*********


Anna baru saja selesai mencuci peralatan makan ketika ia mendengar suara Leon yang berteriak memanggilnya. Segera ia datang ke kamar bocah itu.


"Ada apa? " tanya Anna.


"Bolehkah Leon tidur sekarang?"


"Tapi Leon belum minum obat. Tunggulah sebentar lagi. Daddymu sedang mengambil obatnya."

__ADS_1


"Leon ngantuk sekali ... Mam ... bisakah Mam tetap di sini malam ini?"


"Tentu. Mam tidak akan pulang sebelum Daddymu ada di sini."


"Maksud Leon ... Mam tetap di sini, menginap malam ini. Leon tidak mau sendirian."


"Daddymu kan ada, Leon."


Leon terlihat menggembungkan pipinya.


"Daddy seperti orang mati kalau sudah tertidur. Bagaimana kalau Leon sakit perut lagi? Dad pasti susah dibangunkan."


Anna terlihat berpikir. Tidak ada pelayan atau siapapun yang ia lihat lewat atau melintas di dalam rumah itu. Lea, pengasuh Leon pun tidak terlihat.


"Dimana Nanny Lea?"


"Dad memberi libur tambahan karena waktu Nanny Lea dengan Paman Seth terganggu oleh Leon yang terlalu banyak masalah. Terlalu banyak merepotkannya."


Anna mengembuskan napas panjang, mendekat dan duduk di ranjang. "Kita lihat saja nanti. Oke. Jangan terlalu banyak berpikir. Leon akan baik-baik saja."


"Tidak. Leon tidak akan baik-baik saja kalau Mam pulang. Mam tetap di sini ya ... please ...."


Anna bernapas lega ketika mendengar suara-suara dari arah depan rumah. Ia yakin itu Simon yang sudah pulang. Mengalihkannya dari kewajiban menjawab permintaan Leonard.


"Itu pasti ayahmu. Mam lihat dulu. Oke ...."


Anna bangkit dan meninggalkan Leon, ia bertemu dengan Simon yang baru saja akan mendatangi kamar putranya.


"Kau mendapatkannya?" tanya Anna.


Simon mengangguk, lalu mengulurkan plastik obat yang baru saja ia tebus di apotek.


"Ini."


Anna mengambilnya dan segera berbalik ke kamar Leon. Melihat Anna datang, Leon segera duduk, menunggu obat yang sedang disiapkan oleh Anna.


Leon menelan sesendok obat yang disuapkan oleh Anna, lalu kembali berbaring lagi sambil melirik ayahnya yang hanya berdiri menatap mereka.


"Boleh Leon tidur sekarang? Leon ngantuk sekali."


"Tentu."


"Mam berjanji menginap malam ini kan ...."


Setelah mengucapkan itu, kelopak mata Leon tampak mulai tertutup.


"Leon tidak mau minum ini dulu?" Anna mengulurkan botol minuman larutan pengganti cairan yang juga ada di dalam kantong obat yang tadi dibawa Simon.


"Baiklah ... sedikit saja," ucap Leon.


Setelah menelan hampir setengah botol, Leon kembali berbaring. Terlihat memejamkan mata.


"Ann ... kita belum makan malam. Ayo kita makan dulu," ajak Simon.


Anna menatap Leon, kelopak mata bocah itu sudah tertutup. Setelah menarik selimut dan menutupkannya hingga ke dada Leon, Anna melangkah ke arah Simon.


"Ayo," ucap Anna.


Mereka keluar dan membiarkan pintu kamar Leon tetap terbuka.


"Bisakah kau meminta Bruno mengantarkan aku pulang?" tanya Anna. Ia mengikuti Simon ke ruang makan.


"Bruno sudah pulang," jawab Simon sambil membuka pintu kulkas. "Bisakah kau memanaskan ini di microwave yang ada di sana," tunjuknya.


Anna mengerutkan kening, namun tetap mengambil sesuatu yang dikeluarkan Simon dari dalam lemari es.

__ADS_1


"Ini tinggal dihangatkan. Kuharap cukup untuk makan malam dadakan kita."


Setelahnya Simon mulai mengeluarkan beberapa bahan dari dalam kulkas dan tanpa bicara menyiapkan makan malam untuk dua orang.


"Sebenarnya sampai jam berapa kokimu bekerja?" tanya Anna.


Dua puluh empat jam ... dia sedang tidur di ranjangnya di belakang sana, Simon menjawab, tapi hanya di dalam hati.


"Dia pasti menyiapkan makan malam untukmu setiap hari kan?" tanya Anna lagi.


"Tentu saja. Tapi setiap pekerja butuh istirahat. Dia tidak mungkin selalu siap sedia setiap waktu kan ... lagipula waktu makan malam sudah lama lewat. Dia berbaik hati menyiapkan semua yang ada di dalam kulkas, hanya tinggal kuhangatkan."


Percakapan mereka berhenti karena bersama-sama menyiapkan makan malam. Anna mencuci tangannya dan menata semua yang disiapkan secara kilat itu ke atas meja. Ia ingin cepat pulang, tubuhnya terasa amat lengket. Ia perlu mandi, mengganti pakaian dengan baju terusan longgar miliknya ,lalu tidur nyenyak hingga pagi.


"Ini enak," puji Anna.


"Kurasa ya."


"Kokimu pasti luar biasa."


"Tentu. Aku juga lumayan kan, bisa menyiapkan ini semua," ucap Simon. Tersenyum melihat Anna yang mengangguk dan kembali menyuap makanan ke mulutnya.


Tidak kusangka, memberimu makan bisa terasa menyenangkan.


"Bisakah kau mengantarkanku pulang setelah ini?"


"Lalu siapa yang akan menjaga Leon?" tanya Simon.


"Tidak adakah staf atau pelayanmu yang bisa kau mintai tolong?"


"Tidak. Mereka semua sudah pulang. Mereka juga punya keluarga yang harus diurus."


Simon melihat Anna menarik napas panjang.


"Kalau begitu, aku harus naik bis."


"Tidak ada lagi bis ke arah rumahmu di jam ini."


"Kalau taksi? Bisa kan?"


"Bisakah kau menginap saja? Aku akan berterima kasih sekali jika kau mau membantuku menjaga Leon. Aku akan mengantarmu pulang besok pagi-pagi sekali, setelah Bruno tiba dan bisa menjaga Leon."


"Tapi aku tidak punya baju ganti. Lagi pula aku butuh mandi."


"Baju ganti hanya untuk tidur, aku bisa mengusahakan itu. Soal mandi, air di rumahku ada banyak."


Anna jadi tertawa mendengar ucapan Simon.


"Leon juga memintaku menginap, ia bilang kau tidur seperti orang mati ...."


"Begitu ... kurasa dia benar ...."


"Jadi aku benar-benar tidak bisa pulang?"


"Menginap saja. Tak ada yang perlu kau takuti. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk. Aku hanya meminta bantuanmu menjaga Leon. Kalau kau berkenan ...."


"Aku tahu kau tidak akan melakukan sesuatu yang buruk, Simon. Lagipula, aku akan memukul kepalamu kalau kau melakukan sesuatu yang aneh lagi."


Anna tertawa ketika Simon memegangi kepalanya.


"Sepakat! Aku akan memberimu sebuah tongkat baseball, untuk memukulku jika aku bertingkah aneh. Jadi? Kau akan menginap malam ini bukan?"


"Aku tak punya pilihan kan," jawab Anna sambil tersenyum.


NEXT >>>>>

__ADS_1


**********


__ADS_2