Pengantin Simon

Pengantin Simon
74. Fell hunted


__ADS_3

Anna menundukkan kepala di depan sebuah nisan bertuliskan nama Nuella Barnes. Ia menyapa Nuella, meminta maaf karena baru sekarang bisa datang melihatnya dan mengucapkan doa-doa di dalam hati. Lama ia berdiri dengan seikat bunga warna-warni dalam genggaman.


Setelah lama memejamkan mata dan membayangkan sosok Nuella dalam bayangan, Anna akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia tersenyum, lalu berlutut sambil meletakkan buket bunga di atas makam Nuella.


"Kau pasti tidak mau melihatku menangis ... aku tidak menangis, Sayang. Aku sudah tersenyum sesuai permintaan di suratmu, aku bahagia, Nuella. Kuharap kau juga berbahagia dan tenang di sana. Jangan khawatirkan aku ... aku akan baik-baik saja. Kuharap kau juga tidak melupakan aku, meski kau sudah berbahagia di alam sana. Aku mencintaimu, Nuella ...."


Setelah membelai sekilas bagian atas nisan adiknya, Anna baru saja akan bangkit ketika mendengar langkah kaki mendekat. Ia menoleh, melihat seorang pria dengan rambut diselipi beberapa uban, tubuh pria itu berjalan tegap, karena silau oleh matahari Anna kesulitan melihat wajahnya.


Sebelah tangan pria itu terulur, memberi Anna bantuan untuk bangkit.


Anna segera berdiri sambil menepuk ujung roknya yang tadi terkena debu ketika berlutut.


"Tidak usah, tapi terima kasih," ucap Anna sambil mundur beberapa langkah. Ia terkejut ketika dapat melihat dengan jelas wajah pria tua itu.


"Halo, Emilia. Lama tidak bertemu."


"Kenapa kau ada di sini?"


"Kau? Aku masih ayahmu, Em. Meski hanya di atas dokumen. Sekarang, setelah suamimu tiada, nama Andreas tidak lagi tersemat pada dirimu. Kau masih seorang Barnes. Sama seperti adikmu." Mario Barnes menunjuk ke arah nama Nuella di nisan.


"Aku janda Andreas, kami tidak bercerai. Apapun nama belakangku, terserah padaku."


Barnes tersenyum kecil. "Aku hanya ingin bicara, Em. Tidak mengajakmu berdebat. Bisakah kita pergi ke suatu tempat? Untuk berbicara?"


Anna menggeleng. "Tidak."


"Sayang sekali ... padahal aku mau bicara tentang bengkel dan pemilikan rumah, serta semua benda peninggalan ibumu."


Anna mengerutkan kening.


"Ibumu sudah meninggal. Kanker hati ... hanya kau satu-satunya keluargaku sekarang."


Anna tidak mempercayai sedikitpun ucapan pria itu.


"Kau bisa memberikannya pada siapapun yang kau mau. Aku tidak berminat."


"Ayolah, Emilia. Aku tahu kau marah pada kami karena menerima uang dari Martin. Tapi kau tahu saat itu kami sangat kesulitan keuangan. Setidaknya kau ingat kamilah yang mengeluarkanmu dari tempat padat panti White Clouds."


Anna kembali mundur. "Maaf, Tuan Barnes. Aku harus pulang. Aku kemari hanya mau melihat makam Nuella. Sekarang aku mau pulang."


"Dimana kau tinggal, Em?"

__ADS_1


"Anda tidak perlu tahu."


"Semua warisan ibumu bisa menyokong hidupmu, Em."


Anna tertawa miris. "Aku tidak membutuhkannya, Tuan. Jika aku mau harta, peninggalan Martin sangatlah menggiurkan. Ibu Martin bersedia memberikannya jika aku mau kembali. Tapi tidak ... aku hanya mau mengatur sendiri hidupku. Aku punya pekerjaan, aku punya rumah, jadi, terima kasih. Maaf, Aku harus pergi sekarang."


Anna berbalik, melangkah cepat meninggalkan tanah pekuburan itu, ia menoleh dan mendapati Tuan Barnes masih berdiri di depan makam Nuella dengan kedua tangan masuk ke kantong celana dan mata mengawasi kepergiannya.


Belum jauh berjalan, ia melihat ke arah kanan, seorang pria tampak bersembunyi dengan cepat di balik sebuah pohon, rambut cepak dan memakai jaket denim. Anna melihat ke atas, matahari menyorot terang dan pria itu memakai jaket?


Anna berjalan makin cepat. Ia sudah merasakan perasaan tidak nyaman ketika meninggalkan penginapan. Seperti seseorang mengikutinya. Ia jadi merasa seperti sedang diburu. Namun Anna mengabaikannya dan tetap pergi ke pemakaman dan sekarang perasaan diburu itu menjadi semakin kuat.


Anna melirik kiri dan kanan setelah sampai di pinggir jalan. Ia merasa lega ketika sebuah taksi tampak mau melewatinya. Anna melambai dan menyetop taksi tersebut.


"Motel Barbara, Sir." ujar Anna.


Supir tersebut mengangguk, lalu segera membawa Anna berlalu dari tempat itu.


**********


Anna menusuk irisan daging di atas piringnya dengan garpu, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Sambil mengunyah pelan, ia melihat sekeliling dengan santai, seolah sedang menikmati pemandangan sekitar restoran tersebut. Hanya beberapa meja yang terisi, semua nampak normal. Namun entah kenapa perasaan diawasi tidak mau hilang dari pikirannya.


Mata Anna beralih ke pintu masuk restoran ketika seorang pria mendorong dan menahan pintu, menunggu seorang wanita dan seorang gadis kecil masuk ke dalam. Setelahnya barulah pria tersebut melepas pintu dan mengikuti masuk ke dalam.


Hati Anna merasa hangat ketika keluarga kecil tersebut menempati meja tak jauh darinya. Celoteh si gadis kecil mengingatkannya pada Leonard. Perhatian sang ayah pada putri dan isterinya membuat Anna memikirkan tentang keluarga yang sesungguhnya.


Sang ayah memastikan keamanan dan kenyamanan keluarganya, membuka dan menahan pintu, lalu memeluk sang putri yang sangat aktif ketika melihat sang ibu kesulitan memeganginya. Tertawa bersama, lalu menangkap dengan sigap sebuah sendok yang tersenggol oleh lengan sang putri sebelum jatuh ke bawah meja.


Keluarga ...


Anna mendesah dalam hati. Sekarang, sendiri menikmati makan malam membuat Anna begitu merasakan arti kebersamaannya dengan Leon dan Simon.


Kebebasan? Apa artinya jika kau merasa hidupmu tidak aman. Sekarang contohnya, kau merasa diawasi, merasa waspada akan sekelilingmu. Seperti dulu ketika kau hidup dengan Martin.


Anna mengaduk sisa irisan daging di piringnya tanpa nafsu sama sekali untuk makan. Siang tadi ia makan sedikit dan malam ini ia tidak ada nafsu sama sekali.


Sebaliknya, ketika lepas dari Martin, menjalani hidupmu di White Sand Bay ... pernahkah kau merasa takut? Tidak ... Simon memastikan kau selalu aman. Penahkah kau kesusahan? Tidak, Simon memastikan semua masalahmu teratasi. Pernahkah kau kesepian? Tidak ketika bersama Leon, atau bersama Simon. Bahkan kau tidur nyenyak di pondok kecilmu, tahu bahwa esok hari, kau kembali akan bertemu mereka.


Anna meletakkan garpu dan pisau makannya. Ia bangkit berdiri tanpa menghabiskan makan malam.


Setelah sampai di luar, Anna berjalan pelan menikmati udara malam ke arah Motel tempatnya menginap.Ia memilih berjalan kaki ketika mencari tempat makan, tempat yang masih lumayan dekat dengan penginapannya. Walau hari sudah malam, beberapa orang masih terlihat berjalan di trotoar, melangkah menuju tujuan mereka masing-masing.

__ADS_1


Ketika mendengar langkah kaki tak jauh di belakangnya, Anna menoleh. Ia melihat Tuan Barnes.


"Emilia!" panggil pria itu.


Anna merapatkan gigi. "Pergilah. Urusan kita sudah selesai!" seru Anna, lalu ia segera berlari. Instingnya menyuruhnya segera kabur. Karena tak jauh dari Barnes, dua pria bertubuh besar, memakai kaos hitam muncul dan mulai bergerak.


Anna berlari sekuat tenaga, lampu-lampu jalan satu demi satu dilewati. Kadang seseorang menatapnya heran ketika ia melewati mereka saat berlari.


Saat ini, jika kau ada di sini, jika aku bersabar menunggumu kembali setelah Tuan Hamilton sembuh, kemudian pergi ke sini bersamamu, ini pasti tidak akan terjadi ... Simon? Apa kau begitu marah? Kenapa belum menghubungiku ... Setidaknya ijinkan aku bicara dengan Leonard.


Anna menghapus kasar airmata di pipinya. Antara ketakutan, kesedihan, juga rindu yang tidak tersampaikan, membuat ia merasa dirinya melemah.


Dua pria itu pasti suruhan Barnes. Aku tahu ia tidak mungkin menemuiku karena masih menganggapku anak. Dia pasti akan menjualku lagi. dulu ia gagal. Sekarang, karena Martin sudah tiada dan aku sendirian, ia kembali mencoba.


Isak tangis Anna semakin kencang, napasnya sesak, ia berhenti di bawah sebuah lampu jalan, kemudian menoleh dan tidak melihat siapapun di sana.


Apakah mereka berhenti mengejar?


Anna sedikit merasa lega, ia mengatur napasnya yang memburu, menyipit ketika lampu sebuah bus menyorot ke arahnya. Ia menelan ludah ketika bus itu melewatinya, lalu Anna berbalik, bermaksud kembali berjalan. Namun wajahnya membentur tubuh seseorang.


Anna membeku, suara bus yang lewat tadi membuatnya tidak mendengar langkah kaki orang yang mendekatinya itu.


Anna memejamkan mata. Wajahnya membentur dada seorang pria. Ukuran tubuh dan kaos hitam yang dipakai pria itu memberitahunya itu adalah orang Barnes.


Anna merasa lunglai, kakinya lemas, matanya berkunang-kunang. Ketika satu tangan pria itu memegang lengan atasnya Anna mencoba mengancam.


"Jangan coba-coba! atau kau akan berurusan dengan suamiku!Dia seorang Bernard! Dia akan mencariku jika aku hilang!"


Anna mencoba terdengar mengancam. Ia mendongak cepat dengan sorot mata dibuat seberani mungkin. Ia merasa akan pingsan, namun mencoba bertahan menggunakan seluruh kekuatannya.


Anna syok, ketakutan, lemah karena perutnya sejak siang hanya berisi sedikit makanan. Setelah melihat pria yang memburunya, Anna menyerah, ia lunglai, memejamkan mata dan pingsan.


NEXT >>>>>>>


**********


From Author,


Jangan lupa like bab ini, vote hadiah, komentar, love dan bintnag lima. Atas dukungannya author mengucapkan terima kasih banyak.


Salam. Dianaz.

__ADS_1


__ADS_2